
"Kau sudah GILA, Hah??!"
Raymon berang, dia sudah tidak bisa menahan rasa malunya pada Kana dan juga atasannya. Dia bukan tak tahu apa yang dilakukan istrinya selama ini. Hanya saja dia diam karena tak mau terlalu mengurusi hal yang menurutnya tidak begitu penting.
Lagi pula, selama ini dia sudah sangat sering menasehati istrinya. Lama-lama ia muak sendiri karena Inna tidak mau mendengarkannya. Sekarang, dia merasa kesal, karena perbuatan istrinya itulah karirnya terhambat.
"Kau selama ini melakukan APA!!?" Teriak Raymon pada istrinya yang hanya menunduk di atas sofa.
"A-aku tidak tahu ka-kalau itu suaminyaa.. diaa, dia memang butaa. A-aku melihatnya,, dia memakai tongkaat.." Jerit Inna sambil menangis. Dalam hatinya terasa kesal, tetapi dia juga malu. Apalagi dihadapan Inka. Dia benar-benar tidak bisa berkutik sekarang.
Raymon tidak bisa berkata-kata lagi. Dia menjadi frustrasi sekarang.
"Lalu.. lalu aku harus bagaimana.." Tanya Inna disela isak tangisnya.
"Kau harus minta maaf pada Kana. Kau pasti tahu kan, aku gagal promosi karena perlakuanmu padanya!?"
"A-apaa.." Mata Inna membulat. Dia tidak bisa melakukan itu. Harga dirinya sungguh akan terjatuh.
"Apa kau menolak??"
"A-aku tidak bisa.. anak itu juga tidak memintaku melakukan itu!" Jawabnya lagi.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kau harus meminta maaf dan bersujud padanya!" Pekik Raymon dan langsung meninggalkan istrinya yang semakin terpuruk dengan permintaannya itu. Betapa gengsi telah menggerogoti dirinya walau secara sadar Inna benar-benar tahu kesalahannya.
...◇◆◇◆...
Kana berjalan santai menuju kantor. Langkahnya dihadang Bianna yang sama-sama baru datang dari halte bis.
"Cerah sekali wajahmu. Padahal pagi ini saja matahari sudah menyengat." Bianna berjalan sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Pagi-pagi harus semangat, dong." Jawab Kana. Lalu dia menyikut pinggang Bianna. "Kami akan berkumpul nanti malam. Mau ikut?"
"Hah, serius? Mauuu.." Bianna memeluk lengan Kana sambil bergelayut manja. "jam berapa? Dimana??" Tanya Bianna antusias.
"Aku akan mengabarimu nanti. Luangkan saja waktumu."
"Passtii!!" Jawabnya cepat.
Langkah mereka terhenti saat melihat segerombolan orang berada di depan kantor. Mereka memegang kamera dan microphone, tengah berdiri dan ada juga yang duduk. Nampaknya, mereka adalah awak media.
"Kenapa ada media pagi-pagi begini?" Tanya Kana penasaran.
__ADS_1
Para awak media itu langsung mendekat saat menandai mobil pemilik perusahaan muncul.
"Tuan Yohan, apa benar gosip yang tengah beredar?"
"Gosip?" Krishan nampak bingung.
"Tengah malam tadi, seorang wanita mengklaim bahwa dia istri anda."
Deg! Tubuh Kana yang mendengar itu dari jauh langsung terasa lemas. Berita apa yang dia lewatkan?
"Katanya, anda dulunya buta. Apa benar demikian?"
"Tuan Yohan, istri anda itu mengatakan bahwa dia bersedih karena anda yang menolak menampilkan dirinya.."
Krishan tampak menepis rasa kagetnya dan berjalan lurus saat para pengawalnya mengamankan awak media yang menghalangi langkah Krishan.
"Tuan Yohan, apa benar anda berselingkuh dari istri anda?"
"Tuan, apakah memang benar wanita di video itu memang istri anda?"
"Tuan Yohan, bagaimana tanggapan anda soal video pernyataan itu?"
Awak media terus melemparkan pertanyaan pada Krishan yang berjalan tanpa memperdulikannya. Otaknya tengah berpikir dan memperkirakan apa yang kini menimpanya.
"Ada apa, sih. Aku kok, tidak tahu." Bianna membuka ponselnya, mencoba mencari tahu berita terkini.
"Aaah.. ini rupanya."
Kana ikut melihat ke arah ponsel Bianna. Tertulis disana. 'Seorang wanita mengaku istri tuan Yohan yang diabaikan karena perselingkuhan.'
"Wah, padahal baru saja tuan Yohan menjadi trending topik karena kemunculannya yang tiba-tiba. Juga parasnya yang tampan itu benar-benar membuat hati kaum hawa bergetar. Tapi, jika berita ini benar, Waakhh.." Bianna tak melanjutkan kata-katanya.
Senyum cerah Kana memudar. Kini masalah baru mulai datang, padahal dia mengira kehidupannya akan berlangsung bahagia. Tetapi baru berjalan mulus sebentar, kerikil yang menghalangi mulai terlihat.
"Ayo, Kana. Kenapa bengong." Bianna melangkah duluan, diikuti Kana dibelakangnya.
Kantor menjadi ramai. Semua orang membicarakan gosip yang beredar. Para karyawan sibuk memegang ponsel, menonton video pernyataan seorang wanita yang wajahnya ditutupi. Entah kapan video itu muncul, tiba-tiba saja meledak seperti ini.
"Kau duluan saja. Aku ada urusan." Ucap Kana pada Bian saat pintu lift terbuka di lantai divisi tempat mereka bekerja.
Bianna keluar, lalu menatap lampu lift yang menunjukkan angka ke lantai paling atas.
__ADS_1
Dia mengerutkan dahi. "Ngapain Kana ke ruang CEO?" Gumamnya.
Sementara Krishan, tengah menahan emosinya saat mendengar laporan bahwa wanita itu adalah Sherly. Setelah lama membungkam wanita itu, entah bagaimana dia bisa memiliki ide buruk untuk menghancurkan dirinya.
"Putuskan hubungan kerja dengan media yang ikut memberitakan gosip ini." Tegas Krishan pada orang diseberang telepon.
"Baik, tuan."
"Satu lagi. Temukan Sherly segera!" Titahnya dan langsung menutup ponselnya.
Kana masuk ke ruangan Krishan. Lelaki itu langsung menyerbu Kana, memeluk istrinya dengan perasaan gundah. Ia takut istrinya itu salah paham lagi.
"Jia, aku bersumpah ini adalah fitnah." Ucapnya dengan jantung yang berdetak lebih cepat dan Kana bisa mendengar itu di telinganya.
"Aku percaya padamu, Krish." Kana melepaskan pelukannya. "Apa wanita itu Sherly?"
"Ya, itu dia. Aku tidak sangka dia melakukan itu. Kau tenang saja, aku akan mengurusnya dengan cepat."
Kana mengangguk, lalu duduk di sofa. "Apa orang akan percaya dengan berita itu?"
Krishan ikut duduk disebelah istrinya. "Entahlah, aku tidak peduli. Yang terpenting kau percaya padaku."
"Lalu bagaimana, Krish. Reputasimu akan memburuk, apalagi dia mengatakan kau berselingkuh."
"Aku tidak peduli tentang itu. Yang aku khawatirkan adalah dirimu." Ucap Krishan sambil mengelus lembut rambut Kana.
"Kenapa aku?"
"Aku takut dia menyebarkan fotomu sebagai bukti perselingkuhan. Aku tak ingin itu terjadi. Aku akan segera menemukan wanita itu."
Kana mengangguk. Dia mulai mengkhawatirkan dirinya saat Krishan memperkirakan hal yang mungkin terjadi. Jika benar Sherly akan mengunggah fotonya sebagai orang yang dianggap selingkuhan Krishan, hal itu juga akan sangat berpengaruh buruk pada dirinya.
Sementara di tempat lain, seorang wanita tengah tersenyum melihat berita di ponselnya. Dengan rokok yang mengapit di jari, dia mengeluarkan asap dari mulutnya lalu mulai tertawa.
"Aku akan mendapatkan tempatku, Krish. Walau kau tidak ingin bersamaku, setidaknya orang-orang akan tahu siapa dirimu."
Sherly mengesap rokoknya lagi. Lalu memandang foto Kana yang tergeletak di atas meja.
"Bisa-bisanya kau membodohiku. Tunggulah saat dimana kau dan istrimu akan hancur."
Sherly meletakkan ujung rokoknya pada kertas majalah yang sudah ia remas. Kertas itu menjelaskan bahwa Yohan telah memiliki istri. Sherly tersenyum miring saat kertas itu berhasil terbakar.
__ADS_1
"Istri, eh? Tunggu giliranmu." Ucapnya sambil mencampakkan kertas yang sudah terbakar itu.