Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Depressed


__ADS_3

...PoV Author...


Kana berlari menyusuri lorong rumah sakit. Perasaannya sungguh tidak bisa digambarkan, betapa ia merasa sesak dan khayalan tentang hal buruk terus mengikutinya.


Kana membuka pintu dan sejenak mematung melihat Krishan berbaring dengan selang oksigen di hidungnya. Pipi Kana sudah basah, air mata tak bisa berhenti mengalir apalagi kini dia melihat suaminya dengan banyak goresan luka di wajah dan tangannya. Lalu yang membuat hati Kana patah, adalah perban yang menutupi kedua mata suaminya.


Kana duduk disebelah ranjang Krishan. Pria ini belum siuman. Lalu bagaimana jika ia tahu kalau matanya sedang bermasalah lagi? Kana tak bisa membayangkan betapa remuknya hati Krishan. Kana menggenggam tangan yang banyak tergores luka serpihan kaca. Dia terus menangis, perasaannya sangat hancur. Padahal perjalanan sulit sudah mereka lalui. Tapi sepertinya belum juga berakhir. Kini, Krishan harus menerima lagi kenyataan pahit yang ia kira sudah berakhir.


"Nona Kana, apa bisa bicara sebentar?"


Kana menoleh kebelakang, dimana dokter, Sean, Daniel, dan David berdiri tak jauh darinya. Kana yang sangat ingin tahu kondisi Krishan pun segera bangkit dan mengikuti dokter itu menuju ruangannya. Kana duduk di hadapan dokter dan yang lain berdiri didekatnya.


"Nona, maafkan jika saya harus terus terang memberitahu ini pada anda." Dokter melirik Sean sebentar lalu melanjutkan penjelasannya.


"Sebenarnya, penglihatan tuan Yohan belum begitu pulih 100%. Tuan Yohan harus minum obat dan melakukan tetes mata untuk benar-benar mendapatkan penglihatan yang bagus. Sayangnya, tuan Yohan tidak melakukan itu. Dia jarang sekali minum obat bahkan hampir tidak pernah melakukan tetes mata. Saya juga mewanti-wanti agar tuan Yohan memakai kacamata supaya menghindari debu atau kotoran yang masuk ke dalam mata. Tapi, sejak pertama perban dibuka, tuan Yohan sudah pergi tanpa memperdulikan matanya."


Kana langsung menatap Sean, meminta penjelasan pada laki-laki yang selalu mendampingi suaminya itu.


"Maafkan saya, Nona. Tuan Yohan melarang saya menceritakan itu."


"Kecelakaan ini mengakibatkan serpihan kaca masuk ke dalam mata, juga benturan keras di kepala tuan Yohan membuat lapisan matanya memburuk."


Kana terisak, dia menunduk dalam. Kana menyalahkan dirinya sendiri. Pada hari pertama Krishan melihat, dia malah tidak ada disana. Krishan mencarinya tanpa memikirkan kesehatan matanya sendiri.


"La-lalu.. apa dia.. buta lagi?" Tanya Kana ditengah isakannya.


"Saya belum tahu pasti, Nona. Kita bisa tahu setelah tuan Yohan sadar. Tetapi jika dilihat dari kondisinya, kornea mata tuan Yohan mengalami kerusakan fatal. Jika saja dari Awal tuan Yohan benar-benar menjaga kesehatan matanya, benturan semacam ini tidak akan mengakibatkan kerusakan fatal."


"Apa kau tengah menyalahkan Yohan?" Kata Daniel geram.


"Maafkan saya, tuan." Balasnya sembari menunduk.


Kana menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Sesakitnya dia mendengar ini semua, Krishan pasti jauh lebih terpuruk. Tugasnya sekarang hanyalah menjaga Krishan. Kana berjanji dalam hatinya untuk terus berada disisi lelaki itu supaya dia tidak down karena kondisinya.


Setelah mendengar semua penjelasan dokter, giliran Kana mendengar cerita dari Sean, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi.


Menurut rekaman dashboard mobil yang dikendarai Krishan, beberapa motor mengikutinya sekitar satu kilometer dari toko perhiasannya. Motor-motor itu melempari batu yang cukup besar ke kaca mobil. Sean memperkirakan kalau target mereka memang membuat mata Krishan bermasalah lagi.

__ADS_1


Mendengar itu, Kana tak kuasa menahan air mata. Dia duduk lemas sambil membayangkan betapa terpukulnya Krishan nanti.


"Kau tahu siapa pelakunya?"


Sean menggelengkan kepalanya dengan lambat, ikut menyesal dan kecewa karena mereka belum juga menemukan siapa orang dibalik semua ini.


"Arex, siapa lagi?" Tukas David.


"Aku juga berpikir begitu. Kau ingat, dia masih mempunyai adik yang berkeliaran disekitar sini." Sambung Daniel.


"Sialnya, kita benar-benar tidak punya petunjuk apapun soal adiknya."


"Kenapa begitu?" Tanya Kana penasaran.


"Arex tak mendaftarkan saudara kandungnya. Tak ada info apapun soal siapa adik Arex karena di negara, Arex tercatat sebagai anak tunggal." Jelas David.


"Aku yakin Arex mendaftarkan identitas adiknya dikeluarga orang lain." Sambung Daniel lagi.


Kana menunduk, jika sekelas mereka saja tidak bisa mendapatkan info apapun, apalagi dia. Padahal, Kana sudah bertekat ingin membantu menemukan siapa dalang dibalik semua ini.


"Nona, sebaiknya anda ke kamar tuan Yohan." Saran Sean.


Baru saja Kana duduk, tangan Krishan bergerak dan dia sepertinya sudah siuman. Kepalanya juga miring ke kanan kiri, seperti menyadari bahwa ada yang tak beres dibagian indera penglihatannya.


"Krish.." Kana bangkit dari duduknya, dia menggenggam tangan pria yang tengah gelisah itu.


Krishan langsung membuka selang oksigen yang menutup hidungnya. Dia duduk dan meraba area matanya yang diperban. Melihat itu, Kana mulai panik dan cemas.


"Ke-kenapa mataku?"


"Krish, tenang dulu, ya." Kana duduk lalu mencoba menggenggam tangan Krishan. Lelaki itu melepas tangan Kana dan terus meraba perban di matanya.


"Jia, apa ini?" Suara Krishan memberat, seperti menahan emosi dalam dirinya.


"Krish, tenang sebentar." Kana memeluk Krishan lalu mengusap-usap punggung lelaki itu. "Krish, katakan padaku. Apa yang kau rasakan? Apa matamu terasa sakit?"


Kana melepas pelukannya saat Krishan mulai tak bergeming. Sepertinya dia sudah menyadari sesuatu.

__ADS_1


"Krish.."


"Mataku perih dan sedikit berdenyut." Jawabnya dengan wajah yang menunduk. Dia mendengar nada parau dari suara istrinya dan dia tahu betul apa yang tengah menimpanya.


"Begitu, ya." Kana mengalirkan air mata. Dia menghapusnya dengan cepat. Sudah ketahuan, dia tak bisa membuat suaranya terdengar baik-baik saja.


"Kita akan pulang malam ini, sayang. Aku akan terus disampingmu. Kau harus tahu itu. Ya?" Ucapnya sambil terus mengelus lembut pipi Krishan.


Pria itu tak menyahut. Dia hanya merasa, tajamnya pendengaran kini mulai meningkat lagi.


"Jia.."


"Iya, sayang." Suara Kana parau. Dia benar-benar tidak bisa menyembunyikannya lagi.


"Bisa keluar sebentar?"


Kana tercengung. Kenapa Krishan memintanya keluar?


"Bisakah?" Pintanya lagi.


Kana yang mulai mengerti hanya mengangguk. Dia menghapus air matanya yang tak berhenti mengalir. Krishan tak berkata apa-apa soal penglihatannya karena dia cukup menyadari itu. Tapi perlakuan Krishan justru membuat Kana takut.


Kana mencium lama puncak kepala Krishan. Tak bisa ia tahan tangisannya, dia sangat tahu kerapuhan Krishan saat ini dan dia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Aku akan keluar. Tolong secepatnya memanggilku." Kata Kana lalu melangkah keluar. Dia menutup pintu dan masih bersandar disana.


"AAAAAKHH!! PRANG!!"


Kana mendengar Krishan berteriak dan menjatuhkan barang-barang seperti orang depresi. Dia meluapkan emosinya di dalam sana dan tak ingin Kana melihatnya. Dia sangat terpukul dengan kenyataan yang ia kira sudah berakhir.


Krishan tak sanggup membayangkan bagaimana dia bisa menjalani hari-hari lagi padahal hatinya sudah bersemi indah bersama dengan istrinya. Menjalani hari dengan sangat bahagia. Betapa ia selalu bersyukur dengan kehidupannya yang sangat sempurna beberapa jam yang lalu. Namun kini dia harus menjalani hari seperti dulu. Tidak, bahkan lebih buruk. Saat matanya bisa melihat, Krishan mulai menata kehidupannya lagi. Dia membangun harapan dan mimpi baru lalu kini semua itu sudah hancur berantakan.


Kana tak bisa menahan isakannya. Amukan Krishan dengan barang-barang yang ia banting masih terdengar dari dalam. Dia menangis sesegukan karena hancurnya hati melihat Krishan yang seperti itu.


David, Daniel, dan Sean hanya berdiri mematung mendengar keributan dari dalam kamar Krishan.


Kana tak tahan melihat lelaki yang sangat ia cintai, yang selalu memanjakannya, harus mengalami hal pahit seperti ini lagi. Dia akan melakukan sesuatu. Ia lalu berdiri menghadap Sean.

__ADS_1


"Antar aku menemui Felix." Ucapnya lalu pergi keluar dari rumah sakit.


Tbc


__ADS_2