Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Realize Something


__ADS_3

Hari ini dengan semangat membara aku menuju markas. Baru saja aku tiba, Darrel dan Clair juga sampai.


Aku menganga melihat kedua perempuan itu. Sungguh membuatku takjub. Bisa-bisanya Darrel mengendarai motor besar seperti itu. Dia membuka helm dan rambut panjangnya jatuh kebawah. Indah sekali. Dia memang gadis yang di mataku sangat sempurna. Aku yang perempuan saja sangat terpesona, bagaimana laki-laki? Ah, apa dia punya kekasih?


Clair apa lagi. Rambut hitam bercampur ungu di bagian depannya membuat gadis itu sangat menarik. Belum lagi tindik di hidungnya dan gaya berpakaiannya. Dia gadis yang menggoda.


"Apa kami terlambat?" Tanya Clair yang mengunyah permen karet.


"Tidak, aku juga baru sampai." Aku melihat Darrel membawa tas ransel besar. "Apa ini waktu yang tepat? Kalian tidak sibuk?"


"Tidak, Darrel hanya akan langsung kuliah setelah satu jam melatih nona dan aku yang akan melanjutkannya." Jawab Clair.


"Oh, ya? Lalu, bagaimana kau berangkat kuliah? Kalian hanya bawa satu motor."


"Dia akan dijemput pacarnya." Jawab Clair lagi dan kami berjalan perlahan menuju ruang tembak.


"Wah, sudah punya pacar. Hebat." Tentu saja dia punya. Pasti pacarnya juga lebih hebat darinya.


"Nona, kalau boleh saya tahu, kenapa tiba-tiba ingin belajar tembak? Bukankah tuan Yohan juga bisa mengajari anda?" Clair bertanya dengan wajah serius. Artinya Evan tidak mengatakan apa-apa pada mereka.


"Ada masalah internal. Suamiku sedang sakit. Jadi, aku ingin membereskannya." Jawabku singkat. Darrel tak merespon. Dia mulai mengambil senjata dan memeriksanya. Sementara Clair, wajahnya masih dengan raut penasaran.


"Masalah internal apa yang sampai membuat nona harus berlatih senjata begini?"


"Clair.." tegur Darrel sambil membidik ke arah target.


"Ah, maafkan saya."


Aku tersenyum melihat kedua gadis cantik itu. Kekagumanku semakin bertambah karena Darrel ternyata perempuan yang tidak ingin tahu masalah orang lain.


Aku pikir mereka ini bukan orang sembarang. "Suamiku dicelakakan oleh sekelompok orang yang belum kuketahui sampai sekarang. Aku ingin menangkap mereka dengan tanganku sendiri."


"Waaah.." Clair bertepuk tangan. "Saya akan mendukung penuh atas keputusan nona."


"Haha, terima kasih, Clair."


DOR! Aku terlonjak mendengar suara tembakan yang dilepaskan Darrel. Luar biasa, lagi-lagi tepat sasaran.


"Kalian teman Evan sekolah, ya?" Tanyaku penasaran.


"Evan dan Darrel satu kampus. Kalau aku hanya membuka usaha kecil-kecilan." Jelas Clair.


Ah, begitu rupanya. "Tapi, jika dilihat-lihat, sepertinya kalian anggota khusus."

__ADS_1


Clair tertawa ringan. "Bukan, Nona. Kami hanya kelompok kecil di tengah kota. Tapi kami bekerja sama dengan pasukan khusus militer."


"Wah, hebat sekali. Aku juga bisa menebak karena kalian sangat hebat."


"Nona, mari kita mulai." Kini Darrel mulai berbicara. Dia menyerahkan senjata kecil padaku, tetapi mataku malah fokus ke cincin di jari manisnya.


"Manis sekali, apa dari kekasihmu?" Ah, aku sebenarnya melihat Darrel adalah gadis yang tertutup. Apa dia merasa terganggu dengan pertanyaanku?


"Iya, ini darinya." Jawabnya dengan senyum kecil. Oh, syukurlah dia tidak merasa aku terlalu banyak bertanya. Entah kenapa merasa ingin tahu banyak tentang mereka.


"Kurasa, dia pasti laki-laki yang sempurna. Pasti dia lebih hebat lagi, kan."


Clair malah tertawa lebar sambil memegangi perutnya. Sementara Richi menahan tawanya.


"Anggap saja begitu, nona. Nanti dia kemari, nona lihat saja sendiri." Kata Clair ditengah tawanya.


"Bisa kita mulai, nona?" Darrel mengambil pistol satu lagi lalu memberikan contoh padaku cara memegangnya dengan benar. Lalu posisi kaki supaya aku tidak terlalu terlonjak kebelakang saat pelatuk dilepaskan.


Setelah menjelaskan panjang lebar, lalu memberikan contoh, Darrel menyuruhku melepaskan tembakan.


Aku memejamkan mata, lalu saat akan menembak, Darrel menahan tanganku.


"Jangan menutup mata. Anda harus fokus pada target." Darrel memberiku penutup telinga supaya aku tidak terkejut dengan suara tembakannya.


DOR!


"Ini tidak akan sulit jika sudah terbiasa. Silakan, tembak beberapa kali ke arah target."


Darrel mundur beberapa langkah, membiarkanku menembaki berulang kali ke arah target dan mataku terbelalak saat salah satu dari peluruku mengenai ujung target.


"Astaga, lihatlah. Aku bisa mengenainya!" Aku melompat kegirangan tetapi kedua perempuan itu malah terlihat kaget sambil menahan tanganku.


"Nona,, nona,, tahan dulu. Tangan anda masih memegang pistol." Kata Clair sambil takut-takut menurunkan tanganku.


"Kenapa?"


"Ah,, saya khawatir nona melepaskan tembakan sakin senangnya."


Oh.. aku melihati pistol di tanganku. Benar juga, bisa gawat kalau aku salah tembak.


~


Ah, hari ini sungguh menyenangkan. Tak disangka aku bisa juga menembak. Apalagi Clair mengajariku bela diri. Hah, sungguh tak sabar untuk menjadi sehebat mereka.

__ADS_1


Aku berjalan ke arah tengah kota. Ada barang yang ingin kubeli. Lagi, aku menyuruh para pengawal menunggu saja di mobil karena aku tak suka dibuntuti apalagi jalanan tidak sepi.


Setelah berjalan beberapa langkah, aku merasa seseorang mengikutiku dari belakang. Saat kulihat, tak ada yang terlihat mencurigakan.


Aku memutuskan untuk berjalan ke belakang, mencari siapa yang mengikutiku tadi. Karena tempat ramai, aku jadi berani.


Lalu aku masuk ke salah satu jalanan kecil yang menurutku, orang itu kemungkinan bersembunyi disana. Tapi aku malah dikejutkan oleh dua orang yang sangat kukenali wajahnya. Salah satunya tengah mencengkram kerah baju lawannya sambil menyudutkan ke tembok. Matanya sangat tajam dan dia seperti ingin menerkam.


"Adam, hentikan!" Pekikku pada Adam yang sepertinya ingin melukai Bastian.


Adam yang terkejut langsung melepaskan cengkramannya dan Bastian terbatuk-batuk sambil membungkuk. Aku dengan cepat mendekati Bastian.


"Bas, kau baik-baik saja?"


Bastian mengangguk-angguk dengan napas yang terengah.


"Apa yang kau lakukan, hah??" Tanyaku dengan nada yang tinggi. Aku tidak menyukainya sejak awal. Lalu setelah melihat ini, aku semakin membencinya.


"Ini..ini tak seperti yang kau pikirkan."


Hah, aku sudah duga. Bahkan saat sudah di depan mataku pun dia masih menyangkal.


"Hei, dengar, ya. Kau jangan pernah lagi dekati aku ataupun Alana. Kau pikir aku tidak tahu, kemarin kau mengikutiku, kan? Lalu kau juga berada di lorong ruanganku saat di toko perhiasan. Sekarang lihatlah yang kau lakukan pada Bastian!" Aku benar-benar beremosi jiwa. Melihat wajahnya saja aku sudah kesal.


Adam melirik tajam pada Bastian lalu pergi begitu saja.


"Hei! Kau harus minta maaf, sialan!"


"Kan, sudahlah. Aku tidak apa-apa." Bastian menahan lenganku yang ingin mengejar Adam.


"Kau benar tidak apa-apa?" Tanyaku lagi memastikan. Wajah Bastian tampak kaget tapi dia berusaha tenang.


"Ya, aku tidak apa-apa." Jawabnya.


"Tapi, ada apa sebenarnya? Kenapa kalian bisa ada disini? Lalu, kenapa dia seperti itu padamu?" aku benar-benar penasaran sekarang.


Bastian tidak langsung menjawab. Dia tampak bingung sendiri.


"A-aku memergokinya mengikutimu."


Ah, begitu, ya. Jadi, Adam sudah dua kali mengikutiku? Apa yang dia inginkan dariku? Apa jangan-jangan.. Adam, apa dia anak buah Arex?


TBC

__ADS_1


__ADS_2