
Krishan benar-benar! Aku mengutuknya sekarang. Bisa-bisanya dia menyelipkan satu kamar di dalam gedung ini. Apa dia memang memikirkan hal semacam ini selalunya??
Aku berjalan perlahan sambil sesekali menoleh kesana kemari, memastikan seseorang tidak melihatku.
Aku membuka pintu yang bertuliskan 'Pemilik' diatasnya.
Aku mendongak ke dalam. Wuaah. Aku tercengang. Kamarnya sangat luas dan bagus. Lengkap dengan televisi besar dan juga sofa yang nampaknya sangat nyaman. Tempat tidurpun sangat besar dan tinggi. Benar-benar dipikirkan oleh Krishan. Apa dia memiliki kamar disetiap kantor?
Aku mendapati Krishan berdiri menghadap jendela dengan kedua tangan di dalam saku celana.
Aku masuk dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Aku ingin mengagetinya.
Saat aku hendak berbalik, aku malah terkaget dengan tangan kekar yang tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Berani-beraninya kau merayuku di depan banyak orang."
Aku terkekeh pelan kemudian memutar tubuh menghadap ke arahnya. "Tapi kau kuat juga, ya." Kataku sambil menggulung ujung dasinya dengan jariku.
"Aku tidak tahan lagi, aku berusaha mengakhiri pidato karenamu. Sekarang, kau harus membayarnya."
Aku melingkarkan tangan di leher priaku itu. Lalu dia menunduk untuk mellumat bibir yang sengaja kubuka sedikit untuk memberikan akses lebih liar padanya.
Ciuman itu sangat lama hingga itu saja sudah cukup membuat napas kami memburu. Perlahan Krishan membuka kancing kemejaku dan akupun langsung membuka tali pinggangnya.
Krishan mendorong dan mengungkungku di tembok. Ciumannya perlahan turun dari dagu, leher, hingga dadaku. Dia membukanya dengan paksa, kemudian..
Tok..tok..
Krishan tak memperdulikan ketukan pintu. Dia langsung mengullum lembut gundukan indah milikku.
Aku meremass lembut rambut Krishan, menikmati sentuhan yang membuat seluruh tubuhku terasa panas. Ah.. Krishan, aku hampir gila karena permainannya.
Tok..tok..
Krishan beralih lagi ke bibirku sambil meremass..
Tok..tok..
"Ahshit!" Umpatnya kesal lalu membuka pintu tanpa merapikan bajunya.
"Apa?!" Tanya Krishan ketus sementara aku bersembunyi dibalik pintu sambil menahan tawa. Lihatlah, bajunya berantakan, tali pinggangnya terbuka, rambutnya pula acak-acakan. Menggemaskan.
"M-maaf, tuan.. A-ada tuan Fredy di luar. Beliau-"
"Sudah kubilang jangan ganggu aku sekarang!"
"M-maafkan saya, Tuan. Tuan Fredy memaksa, dia sengaja datang dari Jerman untuk menghadiri pembukaan cabang baru. Jadi, d-dia minta bertemu k-karena akan langsung pulang setelah berbicara d-dengan tuan." Jelas Sean tergagap.
Krishan melirikku yang berdiri disebelahnya. Wajahnya amat terlihat seperti anak bayi yang belum siap menyusui tapi harus disudahi. Hihihi..
__ADS_1
"Aku segera kesana!" Tukasnya dan langsung menutup pintu.
Krishan menjatuhkan kepalanya di pundakku. Dia merapatkan pinggangku lalu menciumi bahuku.
"Aku ingin sekali.." ucapnya manja.
"Sabar, sayang. Setelah ini, kita selesaikan di rumah. Kau lakukan saja sampai puas." Aku mengelus lembut rambut pria yang seperti durian ini. Tajam diluar namun sangat lembut di dalam.
"Tidak. Jangan di rumah. Setelah ini kita ke hotel Foldcury. Aku akan menyiapkan kamar istimewa untuk kita."
Aku mengangguk cepat. Kejutan lagi, aku sangat suka.
Aku membantu Krishan merapikan rambut juga pakaiannya yang sudah tak beraturan itu.
"Sudah rapi. Sana, temui rekan bisnismu."
"Segera ke mobilku setelah 15 menit." Krishan mengecup kedua pipi, kening, lalu bibirku sedikit lebih lama. Dia dengan langkah berat keluar dari kamar kami.
Setelah beberapa menit, aku menyusul keluar dengan senyum karena masih mengingat Krishan yang bersikap seimut tadi. Lalu langkahku terhenti. Aku melihat Adam tengah menelepon di ujung lorong.
"Adam."
Pria itu terkejut dan langsung berbalik ke arahku.
"Astaga, aku pikir siapa." Katanya lalu menyimpan ponsel.
"Ah, aku hanya mencari tempat untuk menelepon. Disana terlalu bising."
Aku menoleh kesana kemari. Gedung ini memang sedang sangat ramai sekarang. Ya sudahlah, untuk apa aku curiga padanya.
"Kana, astaga darimana saja kau." Alana dan Bastian datang menemuiku.
"Mana Bianna?"
"Dia sudah pulang. Katanya perhiasan disini terlalu mengguncang jiwanya."
Aku mendelik. "Maksudnya?"
"Sudahlah, ayo pulang."
"Aku akan pulang bersama Krishan." Jawabku.
"Mobilnya tepat disebelah mobilku. Ayo, sekalian aku mengantar Alana pulang." Ucap Bastian dan kamipun berjalan meninggalkan gedungku. Walau sebenarnya aku masih ingin berlama-lama. Tapi Krishan yang harus diutamakan sekarang.
Aku berpisah dengan kedua temanku. Mereka pergi duluan karena aku harus menunggu Krishan dahulu.
"Nona." Sean masuk ke dalam mobil. "Tuan bilang, Nona tunggu saja di hotel. Dia akan menyusul sebentar lagi."
Aku menurut kemudian mobilpun dikendarai Sean menuju hotel.
__ADS_1
Sesampainya disana, aku melihat dekorasi yang cantik sekali di kamar itu. Kolam renang dan kamar kami penuh kelopak mawar, juga satu bucket besar lili putih di atas tempat tidur. Aku tersenyum menatap bunga yang sangat indah itu. Karena bunga Lili inilah saksi saat pertama kali kami bertemu.
"Sayang sekali, padahal kalau ada dia disini, pasti jadi sangat romantis." Aku berbaring sambil merobek-robek kelopak mawar merah dan putih itu sambil melamun, sampai tak kusadari ternyata aku tertidur karena harum ruangan yang sangat menenangkanku.
Tok..tok..tok..tok..
"Nona.. Nona, buka pintu."
Aku mengerjap. Suara dari luar terlalu berisik.
"Ah, astaga. Sudah gelap." Aku terlonjak saat gedoran pintu terdengar lagi.
"Sean. Ada apa??" Tukasku sedikit geram karena Sean terlalu berlebihan.
"Nona, maafkan saya. Tuan Krishan, sedang di rumah sakit."
"Kenapa dia kesana?" Tanyaku heran. Lagipula ini sudah malam. Kenapa dia tidak menepati janji, sih.
"Nona, bersiaplah. Kita menuju rumah sakit sekarang. Tuan Krishan kecelakaan."
Sebentar. Apa tadi katanya? Kecelakaan? Siapa? Krishan??
Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya diam menatap Sean tanpa berkedip. Entah mengapa jantungku terasa berdetak lebih cepat. Lututku terasa sangat lemas.
"K-krishan.. kecelakaan??" Tanyaku lagi, memastikan dan sangat berharap kalau pendengaranku tengah terganggu.
"Nona, maafkan saya. Tuan mengendarai mobil sendirian. Tuan kecelakaan tunggal. Nona, mari ke rumah sakit."
Air mataku mengalir tanpa permisi. Mataku perih, jantungku sakit, tubuhku bergetar dan napasku mulai sesak. Apa ini? Aku seperti kekurangan oksigen. Aku terduduk di tempatku karena kakiku sudah tak sanggup berpijak.
"Tidak.. Ini tidak benar.."
"Nona, mari saya bantu berdiri."
Aku tak mengerti kenapa telingaku berisik. Dia berdengung.
"Krishan, dimana dia.."
"Tuan di rumah sakit, Nona. Saya akan mengantar Nona kesana sekarang."
Krishan hanya kecelakaan biasa, kan? Tapi.. Bagaimana kalau ternyata kecelakaan besar dan merenggut nyawanya?
"Krishan.. Apa dia.. Baik-baik saja?"
Aku melihat wajah Sean yang berjongkok dihadapanku. Wajahnya terlihat bingung. Bibirnya pun tak mengeluarkan sepatah katapun.
Jadi Krishan tidak baik-baik saja? Ah, apa ini. Kepalaku pusing dan pandanganku mulai gelap. Tidak, jangan sekarang. Aku ingin bertemu suamiku. Aku ingin memastikan kalau dia baik-baik saja. Lalu.. Lalu.. Bagaimana kalau dia mati..
"Nona, nona.. Nona Kanaa.."
__ADS_1