Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Starting the Game (2)


__ADS_3

Krishan bukan tak tahu selama ini Kana dan para pengawalnya menyembunyikan sesuatu. Hanya saja, Krishan tak begitu peduli karena kondisinya tak membuat dirinya hirau akan sekitar.


Malam itu, Kana mengeluh lelah dan pegal. Dia meminta Krishan memijit tubuhnya yang katanya, tulang-tulangnya terasa mau patah. Hal itu tentu membuat Krishan khawatir.


Esoknya saat Kana sudah pergi, Krishan menelepon David dan memintanya tak memberikan pekerjaan berat, atau memecat saja siapapun yang berani membuat Kana selelah itu.


Mendengar komplain si pemilik perusahaan, David ikut penasaran, apa yang terjadi? Sebab Kana sudah hampir 2 minggu tak masuk ke kantor. Tentu, itu membuat Krishan terkaget sebab Kana setiap pagi pamit pergi ke kantor.


Krishan pun tak bertanya, karena dia mencium gelagat Sean yang membantu Kana menutupi sesuatu. Awalnya, Krishan tak begitu ambil pusing. Menurutnya, Sean adalah orang yang teliti. Jika pemuda itu saja berani menutupi, artinya rencana apapun yang dilakukan istrinya bisa dipertanggung jawabkan dengan baik.


Namun tak berlangsung lama, setelah Kana mengatakan bahwa ia mendapatkan donor dan Krishan mencium bau darah, membuat lelaki itu khawatir. Apakah Kana yang akan mengorbankan matanya?


"T-tuan.."


Tak mau berkomentar banyak, Krishan diam menunggu jawaban Sean.


"Tuan, nona Jia melakukan ini supaya tuan bisa melihat."


Krishan menutup matanya cukup lama. Kalimat Sean cukup membuatnya berpikir bahwa Kana..


"Apa dia yang mendonorkan matanya padaku?"


"Tidak, tuan." Jawab Sean dengan cepat. "Nona, tidak mengizinkan saya bercerita ini pada tuan. Tapi percayalah, rencana nona sangat baik menurut pandangan saya."


Krishan diam lagi. Entah apa yang bisa dilakukan istrinya itu sampai Sean malah menurut padanya dan benar-benar tak mau bercerita sedikitpun.


"Semua demi tuan Yohan. Kami melakukannya demi tuan. Supaya tuan kembali bersemangat dan bisa beraktifitas seperti dulu lagi. Kami janji, akan menjaga nona Jia."


Mendengar ucapan Sean membuat Krishan membuang napasnya dengan berat. Apa sebenarnya yang terjadi? Dia tak tahu sebab Sean pun tak berani bicara.


"Tuan, mari ikut saya ke rumah sakit."


Krishan pun menurut, dia mengikuti Sean menuju rumah sakit.


~


"Dokter, bagaimana?" Tanya Kana pada sang dokter yang biasa merawat Krishan.


"No-nona.." Dokter itu telihat kaget saat Kana menyeret Bastian dengan brankar dan mengikat tangan dan kaki lelaki itu di besi brankar.


"Cepat periksa. Kau tak boleh banyak bicara!" Sentak Kana pada si dokter.


Dia dengan gemetar mencoba mendekati Bastian yang sejak tadi memberontak.


"Bangsat! Cepat lepaskan aku!!" Berang Bastian yang mencoba melepaskan diri.

__ADS_1


"Hei, tenanglah. Atau kau mau aku memotong tangan dan kakimu sekalian?" Kata Kana dan berhasil membuat Bastian diam sesaat, juga dokter yang ikut menegang.


"Sa-saya harus memeriksa kedua mata pasien, nona. Sa-saya akan siapkan alatnya."


"Ya, kalau cocok langsung copot saja matanya dan lakukan operasi pada Yohan secepatnya."


Wajah si dokter tampak panik dan buru-buru mengangguk saja dengan ucapan Kana, walau sebenarnya operasi mata bukan bola matanya yang dicopot. Tapi demi keamanan diri, dokterpun manggut lalu memilih keluar dari ruangan, meninggalkan Kana dan Bastian di ruangan itu.


Kana menarik kursi, dia duduk disebelah Bastian yang dadanya naik turun karena emosional dalam dirinya begejolak terlebih saat tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirnya bisa melihat.


"Bagaimana, Bas. Kau sudah siap?"


Bastian terus menarik tangannya yang terikat besi. Tak ada waktu baginya melayani ucapan Kana. Jika saja dia berhasil lolos, maka dia akan langsung membunuh wanita itu.


Terdengar ******* napas Kana yang melihat usaha Bastian. "Padahal kalau kau terlihat menyesal saja, aku akan mempertimbangkan ini."


Lagi, Bastian tak mendengarkannya. Dia terus berusaha menarik tangannya dari besi yang mengikat.


"Kau merusak pertemanan, membuat suamiku buta untuk yang kedua kalinya, lalu tanpa menyesal kau malah mengancam ingin membunuhku." Kana bersandar sambil terus melihat usaha Bastian untuk lepas.


"Maafkan aku, Bas."


Mendengar itu, Bastian menghentikan usahanya. Perlahan dia menatap Kana.


"Lepaskan saja aku, bangsat!"


"Inginnya sih, begitu. Tapi, orang sepertimu takkan bisa mengerti arti terima kasih."


"Nona!"


Sean membuka pintu dengan wajah yang panik.


"Nona, tuan Daniel menghilang. Mobilnya terparkir dipinggir jalan dalam keadaan mesin hidup."


"Wah, aksi kakakku ternyata sudah dimulai." Bastian tersenyum miring.


Kana melirik Bastian sekilas, lalu menatap Sean meminta penjelasan lagi.


"Mereka meminta untuk bertukar. Kita harus membawa Bastian dan menukarnya dengan tuan Daniel. Bastian harus dalam keadaan baik tanpa kekurangan apapun."


"Hah." Terdengar helaan napas dari Kana. Ia kira, jalan yang ia ambil akan berjalan mulus. Ternyata...


"Sangat merepotkan." Kana berdiri dari tempatnya. Dia memandang wajah Bastian yang mulai tertawa lebar.


"Aah, lega sekali." Bastian memandang wajah Kana dengan sedikit ejekan.

__ADS_1


Kana menatapnya cukup lama. Sampai akhirnya ia pergi dari sana tanpa sepatah katapun.


~


"Sweetheart."


Kana meraih tangan Krishan yang mengulur. Baru saja pemeriksaannya selesai dan Kana malah mendapat kabar tak enak perihal pertukaran Daniel sialan itu dengan Bastian.


Mengingat Daniel yang cerewet dan tak suka padanya, ingin sekali ia membiarkannya saja. Tapi tak bisa, sebab Daniel adalah sahabat suaminya. Dan tentu saja, David sudah mulai merecokinya dan mengancam akan mengadu pada Yohan jika Kana tak segera mencari jalan. Tapi saat ini, otaknya tengah buntu.


Kana diam, dia tengah berpikir, bagaimana cara agar operasi mata itu berjalan tetapi Daniel juga bisa kembali dalam keadaan selamat.


"Jia, ada masalah?"


Pertanyaam Krishan membuat Kana tersadar.


"Ah, tidak. Bagaimana? Apa kau senang?" tanya Kana yang sebenarnya sudah bingung. Dia sudah mengatakannya pada Krishan, bagaimana jika ternyata operasinya tidak jadi dilakukan? Itu pasti akan membuat Krishan kecewa lagi, sebab sekarang wajah Krishan sangat bahagia.


"Jangan tanya, aku sangat senang."


Kana mengelus lembut rahang kokoh suaminya. "Besok kau akan operasi jika hasilnya cocok. Berdoalah. Aku akan terus disampingmu."


Krishan mengecup tangan Kana. Dia mengelus lembut tangan itu tanpa mau bertanya apa-apa sebab dia akan membiarkan saja apapun yang istrinya rencanakan untuknya.


...☆★☆...


"Jia, ini karena rencanamu itu!" Tukas David yang berdiri disamping mobil yang kacanya terbuka. Kana yang berada di dalam mobil hanya menatap ke depannya. Dia melihat dari jauh Bastian yang sudah mereka letakkan di atas bukit yang cukup tinggi.


"Salah sendiri, kenapa tidak bisa menjaga diri."


"Ck! Kau ini, merencanakan apa, sih?"


"Kau lihat sajalah." Tukasnya tanpa mau panjang lebar menjelaskan. Sementara David langsung berdiri menatap Bastian dari jauh.


"Semua siap?" Tanya Kana melalui HT yang ia genggam.


"Sebelah selatan, siap, nona."


"Timur, siap, nona."


"Barat, siap."


"Utara, siap."


Kana menghela napas. Baiklah, ini saatnya. Krishan tengah menjalankan operasi dan Kana harus cepat menyelesaikan ini. Entah apa yang akan terjadi nantinya, Kana hanya mempercayakan dirinya dan tim untuk menyelamatkan Daniel apapun ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2