
...Flashback...
Sudah pukul 12 malam. Kana berada di ruangan lain saat ini. Tadi, dia meninggalkan Krishan saat menyadari suaminya itu sudah terlelap dalam.
Kana memeriksa rekaman cctv siang tadi, saat teman-temannya datang. Tetapi tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan dari orang itu.
Kana menggenggam erat kertas usang yang tersusunkan bahasa asing. Dia memeriksa lagi cctv dashboard mobil saat Krishan kecelakaan. Kali ini, Kana lebih meneliti dibagian akhir sebelum kamera dashboard dihancurkan oleh para berandal itu.
Kana membesarkan volume-nya. Dia menatap layar laptop dengan seksama. Suara pecahan kaca terdengar keras. Rintihan Krishan yang mulai tak sadarkan diripun masuk ke telinga Kana, membuat dadanya nyeri kembali.
BRAK! Layar laptop menghitam saat kamera cctv itu berhasil dihancurkan oleh mereka.
Kana memejamkan mata, mengepalkan tangannya dengan erat. Tidak ada yang bisa ia jadikan bukti dari video itu. Kana berdiri menghadap jendela yang terbuka. Menampilkan taman samping rumah yang dihiasi lampu kecil.
Dia menghirup udara malam yang dingin. Kini, dia terus memikirkan satu nama. Tapi Kana menepisnya karena itu takkan mungkin. Tak mungkin nama yang muncul di pikirannya adalah dalang dari semua ini. Mustahil.
Drrt.. Bbzztt
Kana menoleh ke layar laptop yang masih menghitam. Namun suara berisik terdengar dari sana.
"Kau sudah mati?"
Kana menegang. Suara itu muncul dari laptopnya. Dengan cepat Kana menekan tombol yang menampilkan video cctv yang ternyata belum berakhir.
"Hei. Jangan mati dulu. Penderitaanmu belum berakhir."
Rasanya ingin jatuh. Lutut Kana terasa sangat lemas. Dia menjatuhkan diri di kursinya. Tangan Kana yang bergetar dengan cepat memencet tombol panah kiri untuk mengulang suara tadi.
"Kau sudah mati?"
Suara itu terdengar lagi, membuat Kana menahan napasnya.
"Hei. Jangan mati dulu. Penderitaanmu belum berakhir."
Lagi-lagi Kana mematung. Dia kenal betul pemilik suara itu. Lagi, Kana menekan tombol panah kiri. Dia mengulang lagi suara itu berkali-kali, sampai tiada keraguan lagi dalam dirinya bahwa itu adalah suara Bastian.
__ADS_1
"Tidak..tidak.. itu bukan Bastian. Itu bukan Bastian."
Kana mundur dari tempatnya. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sungguh, ia masih sulit sekali percaya. Tapi suara itu benar-benar milik Bastian.
Tanpa sadar, air mata Kana menetes. Tega sekali, rasanya ia ingin menjerit. Kenapa? Dia Bastian, laki-laki yang selalu menolongnya dimanapun. Ada apa dengan Bastian?
Kana menatap kertas di tangannya. Kertas itu berbahasa Yunani. Tempat dimana Bastian tinggal selama 7 tahun disana. Kertas itulah yang membuat Kana mencurigai Bastian. Tapi dia menunggu, dia berharap kalau kecurigaannya salah. Tetapi ternyata, temannya yang bersekongkol dengan Danny adalah Bastian.
Kana menangisi dirinya. Tak bisa ia pungkiri, bahwa yang dibilang Sherly tentangnya adalah benar. Ia merasa semua orang yang dekat dengannya adalah orang baik, sehingga ia tak sedikitpun mencurigai Bastian. Apalagi Bastian dekat dengannya sudah berbulan-bulan lamanya. Lelaki yang hangat itu, ternyata mengincarnya.
Kana mengulang lagi suara itu. Nampaknya, kamera cctv itu memang sudah pecah tetapi ia masih menyala hingga suara Bastian pun bisa terekam. Kana mengirim potongan video itu pada Sean. Supaya lelaki itu bisa menyelidikinya lebih dalam.
...◇◆◇◆...
Kana duduk di meja kafe tak jauh dari rumahnya. Dia menatap keluar kaca. Matanya memang mengarah ke beberapa pengawal yang menunggunya diluar, tapi sebenarnya pikiran Kana berlari-lari memikirkan Bastian yang sampai mendekatinya demi menjalankan misinya.
"Maaf, aku terlambat."
Kana tersenyum tipis pada Adam yang baru saja tiba dan langsung duduk di depannya.
Adam menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Kau yakin?" Tanya Kana lagi memastikan.
"Ya, aku sudah berjanji padamu, kan?" Jawab Adam sembari melepas jasnya.
Kana menghela napas. Rasanya ia benar-benar bersalah karena telah menuduh Adam. Bahkan kemarin ia sangat yakin, Adam-lah orangnya.
"Adam, aku.. ingin meminta maaf padamu."
"Kau sudah meminta maaf padaku kemarin." Potong Adam.
"Tidak, ini sungguhan."
Adam mengerutkan dahinya. "Apa maksudmu kemarin tidak sungguhan?"
__ADS_1
Kana terlihat gugup. Dia merapatkan bibirnya. "Eng.. sejujurnya, tidak. Kemarin aku melakukannya karena Alana." Terangnya sambil menjalin jari jemari diatas meja.
"Tapi sekarang, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku sudah menuduhmu." Tukas Kana.
Adam tertawa kecil. "Tidak apa. Kemarin aku benar-benar sudah memaafkanmu."
Kana tertunduk malu. "Terima kasih."
"Lalu, ada hal yang kau ingin tahu?" Tanya Adam yang nampaknya tahu tujuan Kana.
"Ya. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Adam mulai menceritakan saat pertama kali dia tak sengaja mendapati Bastian menatap Kana dari dalam mobilnya. Hal itu Adam sadari saat ia melihat mobil yang berjalan perlahan mengikuti Kana. Adam yang berusaha melindungi, mengikuti Kana yang kebetulan mereka ada pertemuan di Bar malam itu. Adam juga mengatakan, setelah dirinya pergi, dia sempat melihat Kana berbicara dengan seseorang yang Kana tahu adalah Danny. Lalu, Danny pun dihampiri oleh Bastian. Setelah itu, Adam mengaku tak tahu lagi karena langsung pergi begitu saja.
Kemudian, yang terakhir kali, saat ia mendapati Bastian mengikuti Kana. Adam bilang, dia memang mencurigai Bastian. Tetapi ia tak berani mengatakannya karena Bastian sangat akrab dengan Alana dan Kana.
Adam menahan Bastian yang membuntuti Kana. Dari sanalah, Adam mengancam Bastian untuk tidak mengikuti Kana lagi. Namun sayangnya, hal itu justru didapati Kana saat Adam mencengkram leher Bastian.
Kana memijit-mijit jarinya. Rasa menyesalpun sekarang tak berguna. Tapi, ia merasa berterima kasih pada Adam.
"Memangnya, ada masalah apa?" Tanya Adam. Ternyata sifat penasarannya tak juga hilang. Tetapi Kana tak menjawabnya dengan jelas. Dia hanya meminta Adam merahasiakan itu dari Alana untuk sementara waktu.
~
Beberapa minggu setelahnya, Kana yang baru menyelesaikan olahraganya menemui Danny kembali. Dia sudah mengancam Danny sebelumnya, juga menyangkutkan nyawa Felix supaya lelaki itu membantu membujuk Danny untuk terus terang pada Kana.
Nyatanya, hal itu benar-benar terjadi. Dari rekaman yang didengarkan oleh Sean, Felix melakukan persuasi pada Danny hingga akhirnya pria itu mau membuka mulutnya.
Kini, Kana berdiri diantara Sean, Evan, dan beberapa pengawal yang selalu bersama Kana. Dia sudah menyusun rencana.
Sesuai yang Richi katakan, dia hanya perlu mengorbankan dirinya untuk mendapatkan dalangnya.
Danny membocorkan rencana Bastian yang ingin menculiknya untuk menghancurkan Krishan. Sesuai dengan apa yang ia ucapkan dalam rekaman cctv mobil waktu itu.
"Aku akan memancing Bastian. Kalian hanya perlu melakukan apa yang sudah kuperintahkan." Ucap Kana yang melipat tangan di dada. Dia akan memulai aksinya dan harus berhasil. Karena dia tidak ingin Krishan tahu kalau dia tengah mengorbankan dirinya.
__ADS_1
Tbc