Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Subsided Emotion


__ADS_3

Aku berjalan perlahan menuju ruangan Krishan. Kata David, Krishan sudah mulai tenang dan ruangannya juga sudah dibersihkan. Tetapi belum ada yang berani masuk ke dalam karena mereka belum berani.


Mendengar itu, aku juga jadi goyah padahal langkahku lebar ingin menemui Krishan dengan segera. Bagaimanapun, Krishan mengerikan jika sudah marah. Tapi apa daya, keinginanku untuk menemuinya lebih besar.


Aku melihat pintunya sedikit terbuka dan mendapati dokter berdiri sedangkan Krishan duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Nampaknya perban di mata Krishan sudah dibuka dan dia benar-benar menjadi buta lagi sekarang. Ah, tak apa. Aku akan mengusahakan kornea lagi untuknya. Itupun jika Krishan tidak divonis buta seumur hidupnya.


Kulebarkan perlahan pintu tanpa menimbulkan suara, namun nyatanya Krishan mengetahui kehadiranku. Dia menoleh ke arah pintu dimana aku berdiri menatapnya. Apakah penciumannya tajam kembali, sehingga dia bisa merasakan kehadiranku?


Dokter langsung menoleh kemana kepala Krishan mengarah. "Nona Jia, tuan Yohan mencari anda sejak tadi." Wajah yang menegang itu menjadi tenang saat melihatku. "Tuan Yohan, saya permisi dulu."


Aku masuk sementara dokter itu keluar. Kulihati wajah Krishan yang sama persis seperti saat dia mengeluh karena merasa tidak mampu menjagaku.


Cup! Aku mengecup kening, kedua mata, lalu bibirnya cukup lama. Dia diam saja seperti patung. Entah apa yang kini dia pikirkan, aku ingin tahu. Jika itu tentang hal-hal buruk, aku akan segera menepiskannya.


"Bagaimana kabarmu?" Aku duduk di tepi ranjang sambil menggenggam kedua tangannya.


Krishan tak menjawab. Aku hanya mendengar napas beratnya yang teratur.


"Kita pulang sekarang?"


Krishan mengangguk dan akupun tersenyum. Syukurlah, setidaknya dia meresponku.


"Jia.."


"Hm.."


"Aku buta lagi sekarang." Wajah Krishan terlihat amat sendu. Dia juga meremas erat jari-jariku.


"Lalu?"


Krishan bergeming. Mungkin dia heran mendengar jawabanku. Tidak, aku berharap jawabanku adalah sesuai yang ia harapkan. Aku tahu, dia menyadari betapa aku mencintainya dan pasti tak ingin kehilangannya.


"Aku.. sudah kembali seperti dulu lagi."


Aku menariknya kepelukanku. Menundukkan kepalanya di bahu yang kini harus tegak dan kuat demi Krishan.

__ADS_1


Suamiku, dia menangis karena aku bisa merasakan rembesan air di bahuku. Aku membelainya dengan penuh kasih sayang. Aku turut bersedih dengan apa yang menimpa suamiku. Aku bisa merasakan betapa hancurnya dia.


"Aku menikahimu juga saat kau buta, kan? Lalu aku jatuh cinta saat kau buta. Ingat saat pertama kali kita bercinta, Krish? Itu juga saat kau buta. Lalu, bukan masalah bagiku apapun kondisimu. Kau mendengarkanku, kan?"


Krishan melingkarkan kedua tangannya di pinggangku. Dia memelukku dengan sangat erat.


"Walau begitu, aku tetap mengharapkan sesuatu darimu. Apa kau mau melakukannya?"


"Apa?" Tanyanya dengan suara parau. Terdengar imut sebenarnya. Aku ingin melibat wajah manjanya itu tapi sayang, wajahnya bersembunyi dibelakangku.


"Kau harus menjadi Krishan yang biasa. Yang tampan, lucu, percaya diri, sombong, keras, dingin pada orang lain, kadang imut, pokoknya semua yang ada pada dirimu, jangan hilangkan itu."


Krishan langsung mengangkat wajahnya. "Apa aku seperti itu?"


"Hm, benar." Lucu sekali wajahnya itu walau sisa air mata masih ada disana. Ah.. untunglah emosinya sudah mereda.


"Kapan aku lucu, sombong, lalu apa lagi tadi. Imut?"


Kini aku tertawa melihat kening Krishan berkerut. Dia seperti tak terima dibilang imut. Laki-laki sepertinya? Pimpinan KGroup dan Foldcury berparas imut?


"Kau akan terus disampingku, kan?"


"Pasti, sayang." Jawabku cepat kemudian mencium bibir Krishan. Kurasakan dia membalas ciumanku dengan lembut seperti biasa.


"Kalau begitu, aku menemui dokter dulu. Istirahat, ya." Aku beranjak dan meninggalkan Krishan yang membaringkan dirinya.


Sebelum menutup pintu, aku melihat Krishan lagi. Aku tahu dia berusaha keras menyembunyikan wajah murungnya dihadapanku. Lihatlah, sekarang dia diam dengan raut murung dan itu membuatku agak sesak. Untuk apa dia menyembunyikannya. Itu terlihat kalau aku belum mampu mengubah suasana hatinya. Baiklah, mungkin memang terlalu cepat. Setidaknya dia tersenyum tipis tadi.


Aku menutup pintu perlahan lalu mendapati seorang pemuda membawa bunga krisan putih berdiri bersama Sean, David, dan Daniel.


"Kau ingin masuk?" Tanyaku pada pemuda yang kutahu adalah Evan.


Krishan sempat menceritakannya. Dia yang termuda diantara yang lain, dia pula orang terakhir yang Krishan tarik sebelum ia membuka Foldcury dan membebaskan orang-orang yang merasa dibuang untuk masuk dan berlatih disana.


Lalu, Evan juga pemuda yang sanggup mengimbangi Sean dan apapun yang Krishan perintahkan, dia akan menjalankannya demi rasa cintanya pada Krishan. Ah satu lagi, kini Evan yang menjaga toko bunga Krishan dan tentu saja dia juga digoda para wanita disana.

__ADS_1


"Aku tidak berani masuk." Ucapnya dengan sedikit kaku. Ya, kami belum pernah mengobrol sebelumnya.


"Kenapa? Aku akan menemanimu. Dia sudah sedikit lebih baik sekarang."


"Hei, tidak ada yang berani berhadapan dengan Yohan saat dia marah kecuali dirimu." Suara David meninggi, membuat bibirku mengerucut. Bagus, kan. Toh aku istrinya.


Evan menyerahkan bunga yang sedari tadi di pelukannya. "Ini bunga krisan. Bunga yang melambangkan kesetian, kebahagiaan, persahabatan, kepercayaan, optimisme, dan umur panjang."


"Apa kau menghapalnya?" Tanyaku meledek karena nada dan wajah kaku Evan.


"Apa? Tidak.."


"Kau menghapalnya. Jelas-jelas aku melihatmu membaca dan menghapal semua jenis dan simbol bunga pada buku tebal yang sengaja kau beli demi menjaga toko Yohan." Tukas David lagi dan kini Evan diam seribu bahasa.


"Terima kasih ya, Evan. Kau sungguh pemuda yang baik." Aku bisa melihat itu. Evan pemuda yang tulus. Wajahnya terlihat kalau dia anak yang baik walau setelah mendengar cerita Krishan kalau Evan ternyata sadis dan bengis saat melawan musuh, tentu aku mengubah pikiranku tentang pemuda yang nampak polos itu.


Evan mengangguk kecil. "Lalu, saya juga sudah menemukan satu pelatih nona."


"Pelatih?"


"Ah, maaf, Nona. Saya meminta Evan mencari pelatih perempuan untuk nona karena saya merasa kurang pantas mengajari nona secara langsung." Jelas Sean.


"Baiklah. Apa besok bisa dimulai?" Tanyaku bersemangat.


"Tentu, Nona. Sangat bisa. Dia juga sangat senang bisa mengajari nona. Besok jam 9 pagi, di markas." sahut Evan dan Kana mengangguk mantap.


"Tolong rahasiakan ini dari Krishan."


"Untuk apa kau latihan segala macam?" tanya Daniel.


"Untuk apalagi, tentu saja pertahanan diri." Entah kenapa aku malas berbicara dengan Daniel. Aku juga bisa merasakan kalau dia kurang suka padaku.


"Kalau kau kenapa-napa, kami yang dalam bahaya!" Tukasnya lagi.


"Makanya, kau tutup mulut sampai akhir." Balasku kesal lalu pergi menuju ruangan dokter.

__ADS_1


__ADS_2