Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Spesial Bab 2


__ADS_3

"Hai, pimpinan Yohan, senang melihat anda datang ke rumah kami." Sapa Adam yang baru saja muncul.


Krishan langsung memberikan si bayi pada Alana. "Panggil saja Krishan jika diluar."


"Ah, baiklah. Bagaimana kalau kita makan malam dulu." Tawar Adam.


"Terima kasih, tapi aku sudah menyiapkan makan malam dengan istriku."


Kana menoleh pada Krishan. Padahal tidak ada rencana seperti itu. 'Bilang saja kau malas bertemu banyak orang disini.' Batin Kana yang tahu suaminya tak begitu betah berkumpul dengan banyak orang.


"Begitu, ya. Keluarga kami sangat ingin kalian ikut menikmati hidangan malam."


Krishan melirik istrinya, berharap mendapat dukungan untuk menolak.


"Kami sangat ingin, tapi malam ini kami sudah membuat janji. Lain kali ya, Adam." Sambung Kana yang mendapat senyum puas dari Krishan.


"Baiklah kalau begitu. Kami sangat memakluminya."


"Kalau begitu, kami pamit." Krishan merangkul pinggang istrinya dan membawanya keluar pintu.


Di depannya, beberapa orang berkumpul seperti tengah menunggu.


"Ah, tuan Yohan. Suatu kehormatan bagi kami kedatangan anda ke rumah ini."


Dia adalah tante Alana. Orang yang hampir sama perilakunya dengan ibu Alana. Biasanya dia tak menghiraukan kehadiran Kana, namun sekarang matanya tampak berbinar.


"Kana dulu sering main-main ke rumah kami. Iya kan, Kana?" Sambung yang lain, masih keluarga Alana yang Kana ingat wajahnya. Dulu dia sering menyuruh Kana ini itu bagai pembantu.


Kana tersenyum tipis. Dia sangat enggan menanggapi terlalu ramah.


"Kana adalah anak yang rajin dan pekerja keras. Jika tidak ada uang, dia sering makan disini dan kami sangat senang dengan Kana."


"Benarkah, sweetheart?" Krishan melirik istrinya, ingin memperjelas pernyataan orang itu. Tapi Kana tak melihat Krishan. Dia hanya terus tersenyum tipis pada orang-orang di depannya dan Krishan jelas tahu artinya.


"Terima kasih atas kebaikan kalian. Istriku memang pekerja keras. Bahkan sampai sekarang, walau aku memberinya apapun yang dia mau, dia tetap ingin bekerja." Tukas Krishan, membuat Kana menatapnya. Tumben pria itu banyak bicara.


"Ah, Kana memang seperti itu. Iya, kan?" Tukas tante Alana lagi pada keluarganya yang lain.


Inna hanya tersenyum tipis. Dia sangat menyadari ketidak nyamanan Kana.


"Istriku biasanya akan memberi hadiah istimewa pada orang yang ia kenal."


"Wah, benarkah?" Mereka kegirangan.


"Ya, jika orang itu baik padanya. Iya kan, sweetheart? Apa kau juga akan memberi hadiah saat ini?"


Lama Kana terdiam sampai dia menoleh pada suaminya. "Entahlah, sayang. Aku sedang tidak mood untuk memberi apapun sekarang." Tukas Kana dan berhasil membuat wajah-wajah bahagia tadi berubah muram.


"Ah, begitu rupanya." Krishan merapatkan pelukannya. "Kalau begitu, kami permisi dulu."


Tanpa menunggu respon, Krishan menarik pinggang istrinya untuk keluar dari rumah itu.


Mereka mengantar Kana dan Krishan sampai di depan rumah. Tak lupa orang-orang itu bersalaman pada Kana dan mendoakan yang baik-baik padanya.

__ADS_1


"Kana, tante dulu pernah membelikanmu eskrim, kau ingat? Ah, begini. Anak tante si Erwin, kau masih ingat, kan? Dia saat ini butuh pekerjaan. Tante dengar kau yang memasukkan Adam ke Shanprise."


Kana tersenyum kecut. Ada saja mau orang-orang padanya.


"Silakan mendaftar, tante. Jika Erwin mumpuni, dia pasti akan diterima. Jika tidak, mohon maaf. Shanprise hanya untuk pekerja cerdas."


Kana tersenyum tipis lalu masuk ke dalam mobil yang pintunya dibukakan oleh Felix. Mobil pun berjalan meninggalkan orang-orang yang berhati kotor itu.


"Sombong sekali." Gerutu tante Alana.


"Wajar dong, tante. Apa yang kalian lakukan dulu sangat keterlaluan. Sekarang saat dia ada di puncak, kalian malah mencoba menjilatnya. Coba saja dari dulu tante baik padanya. Hihihi." Tawa Alana sambil meninggalkan tantenya diluar rumah. Dia sangat puas dengan respon Krishan dan Kana pada keluarganya yang licik itu.


Kana menghembuskan napas berat setelah berhasil masuk ke dalam mobil. Suaminya itu langsung merangkul dan membawa Kana kepelukannya. Kana semakin melingkarkan tangannya di pinggang Krishan, rasanya lelah menghinggapi dirinya.


"Krish." Kana melepas pelukannya dan mencondongkan tubuhnya ke belakang. "Kau bau sekali."


"Bau apa, Jia." Krishan langsung mengendus tubuhnya. "Ah, ini bau parfum para pejabat tadi, sweetheart. Mereka memelukku padahal aku tidak suka." Oceh Krishan kembali menarik tangan istrinya untuk mendekat.


"Tidak mau. Aku tidak suka baumu." Kana menjauh, dia bersandar menghadap jendela.


"Jia, kau pasti masih marah padaku, kan? Maafkan aku, sweetheart. Aku akan menurut saja padamu. Aku setuju punya anak asal dia tidak mengambilmu dariku."


Mendengar ucapan Krishan justru membuat Kana semakin malas mendekatinya. Dia tidak bergerak dan terus menatap keluar jendela.


"Oke, oke, baiklah. Aku setuju punya anak. Menurutku itu tidak buruk setelah melihat bayi tadi. Yah, jika dia laki-laki dan menjadi musuhku, jangan salahkan aku."


"Krish!"


"Iya, iya, baikk! Aku bercanda, sweetheart." Krishan membalikkan tubuh Kana menghadapnya. "Baiklah, kita akan ke dokter besok."


"Krish, kenapa kita ke pantai malam-malam begini?" Tanya Kana heran.


"Ayo, aku ingin menunjukkanmu sesuatu."


Krishan menggandeng tangan Kana keluar dari mobil. Mereka berjalan menuju ke sebuah dermaga dimana kapal besar berwarna putih ada disana.


"Kita mau kemana dengan kapal ini? Ini kapal siapa, Krish. Apa kau menaikinya tanpa izin?" Tanya Kana yang dibantu Krishan naik ke atasnya.


"Tanpa izin, eh? Ini kapal kita, sweetheart."


"Apa? Kenapa kau membeli kapal? Untuk apa? Memangnya rumah kita ditepi laut?"


"Aku membelinya karena ingin. Lagi pula aku sudah katakan padamu, kan?"


Kana mengerutkan alis. "Kapan?"


Terdengar helaan napas dari Krishan. "Dua hari lalu, sweetheart. Aku bilang, kalau aku ingin beli kapal. Dan kau bilang 'terserah padamu, Krish. Itu uangmu.' " ucap Krishan menirukan apa yang Kana katakan padanya waktu itu.


Kana mencoba mengingat lagi. Memang benar dia bilang begitu, tapi dia mengira Krishan hanya asal bicara saja. Dia lupa, suaminya itu orang terkaya yang perkataannya bukan angin lalu.


"Oke, baiklah. Jadi ini punyamu. Lalu, kita kau kemana.." Kana mengekori Krishan yang menarik tangannya menuju satu ruang di dalam kapal.


Dia memposisikan tubuh Kana di depan pintu, membuat istrinya kebingungan. Krishan membuka pintu lebar-lebar. Pintu yang ternyata adalah sebuah kamar yang sudah di dekor dengan indah.

__ADS_1


Kana menutup mulutnya yang ternganga, sungguh indah. Apalagi kamar itu bertembok bening hingga memperlihatkan


Bentangan air laut yang memercik.


Di dalam, Krishan sudah menyiapkan tempat tidur yang dihiasi banyak kelopak mawar biru. Ada dua jubah tidur di sudut tembok tergantung rapi.


Krishan memeluknya dari belakang. "Happy birthday, sweetheart." Bisik Krishan pada istrinya. Kana masih mematung dengan tangan yang menutup mulutnya.


"Hei.." Krishan membalikkan tubuh Kana. Wanita itu ternyata tengah menangis. "Jia, sweetheart..." panggil Krishan yang mengelus lembut rambut Kana.


Wanita itu langsung memendamkan wajahnya di dada Krishan. Menangis, itu yang ia lakukan sebab Kana terharu.


"Kau suka?" Tanya Krishan lagi dan Kana mengangguk dalam pelukannya.


"Aku membelikan kapal ini untukmu."


Kana langsung mendongak dengan mata yang basah. "Untukku?"


Krishan mengecup kening Kana. "Iya, sweetheart. Sekarang, ayo ke atas."


Kana menurut, Krishan menggenggam erat tangan itu dan menuntunnya menaiki tangga kecil. Di atas, sudah tersedia dua kursi yang saling berhadapan dengan meja. Di atasnya terhidang makanan dan anggur tentunya.


"Krish, ini..." baru Kana menghadap kebelakang, Krishan sudah memegang bucket bunga lili putih.


"Jia, aku tidak bisa merangkai kata-kata manis, sebenarnya."


Kana tergelak. Suaminya memang bukan tipe yang banyak bicara, apalagi saat bersama banyak orang. Krishan hanya lebih banyak diam. Tetapi jika bersama Kana, dia berbeda.


"Tapi, ada kata yang harus kuucapkan padamu, walau sudah pernah kau dengar. Aku akan terus menulangnya." Lanjut Krishan.


"satu hal yang paling aku syukuri dalam hidupku adalah bertemu dan jatuh cinta padamu. Ada di atas ataupun dibawah, kau tetap menemaniku. Aku mencintaimu, Jia. Aku sangat-sangat mencintaimu." Ucap Krishan dengan nada yang sangat lembut di telinga Kana.


Wanita itu tak bisa berkata-kata. Dia menangis lagi dan langsung memeluk Krishan. Lelaki itupun melingkarkan tangannya di pundak Kana, lalu mengecup puncak kepala istrinya. Sementara Kana mengeratkan pelukannya.


"Aku juga sangat beruntung telah dicintai olehmu, Krish."


Mereka berpelukan cukup lama. Masing-masing sibuk dengan kebahagiaan di hati mereka. Kana masih merasa terharu, begitu juga Krishan yang bersyukur dengan kehidupannya.


Tapi tiba-tiba, Kana melepas pelukan dan merasa mual.


"Ueeekkk.."


"J-jia.." Krishan langsung mencampakkan bunga di tangannya dan mendekati istrinya.


"K-krish, bisa kita turun saja. Aku mabuk laut."


Krishan tertawa tanpa suara, lalu segera merangkul istrinya turun dari kapal. Dia masih merasa lucu, 'kenapa aku membeli kapal kalau istriku mabuk laut? Apa kujual lagi saja?' Batin Krishan.


TBC


**


__ADS_1


** bagaimana? Ada yang udah baca karya aku yang ini? Jangan lupa kasih Rate ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️ Ya, Pen. **


__ADS_2