Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Affirmation


__ADS_3

"Dokter, bagaimana keadaan Yohan?" Tanyaku langsung setelah dipersilakan duduk oleh dokter.


"Seperti yang sudah nona lihat. Tuan Yohan mengalami kebutaan, namun masih bisa diselamatkan karena menurut analisis saya, tuan Yohan masih bisa melihat pergerakan walau sedikit."


"Apa?"


"Ya, ini sama dengan yang dialami tuan Yohan di kejadian sebelumnya. Namanya Riddoch phenomenon. Jarang terjadi tapi sebenarnya ini suatu keuntungan. Riddoch Phenomenon adalah kebutaan yang masih menangkap bayangan dan pergerakan hitam dari seseorang. Jadi, dia akan tahu jika seseorang itu tengah menyisir rambutnya, berjalan, atau aktifitas lainnya. Tapi sayangnya, ini tidak selalu muncul."


Aku menganga. Jadi, itu kenapa Krishan dulu bisa mengelak dan meninju seseorang padahal dia buta adalah karena jenis kebutaan yang dia alami.


"Lalu, bagaimana dengan matanya? Apa masih bisa disembuhkan?" Pertanyaan yang sejak tadi ingin kuucapkan tetapi aku takut mendengar jawabannya.


"Ah.. soal itu.." Dokter melepas kacamatanya dan itu membuatku seperti patah semangat.


"Tuan Yohan baru saja menjalani operasi, tentu membutuhkan waktu untuk mengoperasinya lagi. Kemudian, kerusakan pada kornea kali ini cukup serius. Saya menyarankan untuk sementara, tuan Yohan harus sering-sering memberikan tetes mata. Begini, nona. Dalam dunia medis, baru saja ditemukan obat tetes mata yang mampu memperbaiki kornea mata yang rusak. Jika kerusakan masih bisa diperbaiki, maka tanpa operasi kornea mata tuan Yohan bisa sembuh dan dia bisa melihat kembali."


Lagi, aku membulatkan mata mendengar berita baik ini. "Yang benar??"


"Tapi, obat ini sangat mahal."


"Tidak masalah asal bisa menyembuhkan mata Yohan." Jawabku dengan semangat.


"Tapi.. begini, Nona. Obat tetes itu namanya Nanodrop dan dia masih sangat baru. Untuk saat ini, belum pernah diuji coba kepada manusia."


"Hah?" Sungguh membuatku tercengang. Apa-apan dokter ini.


"Nanodrop baru diuji pada babi dan hasilnya sangat memuaskan. Jadi, jika tuan Yohan ingin..."


Dasar sialan, dokter gila. Berani-beraninya dia ingin menjadikan Krishan kelinci percobaan. Aku melotot tajam pada dokter sialan itu dan tentu saja dia bungkam dan mulai ketakutan.


"Nona, maafkan saya. Saya melihat nona sangat ingin tuan Yohan sembuh. Jadi-"


"Yohan akan memutuskan hubungan kerja sama Kgroup dengan rumah sakitmu." Aku memotong ucapan dokter sialan itu dan dengan geram aku mengancamnya. Padahal aku juga tidak bisa memutuskan itu semauku. Untungnya dia sudah ketakutan.


"Nona, maafkan saya. Maafkan kelancangan saya." Dia sampai berdiri dan berjongkok di depanku.


"Kau tahu, kau telah menyinggung perasaanku. Apalagi jika Yohan sampai tahu."


"Ampuni saya, Nona. Ampuni saya. Tolong jangan putuskan hubungan dengan rumah sakit saya. Saya akan menghukum diri saya sendiri."


Yah, kasihan juga. "Aku akan mempertimbangkan ini. Kau harus mencari cara supaya Yohan bisa melihat lagi. Kalau perlu, kau yang mencari kornea mata untuk Yohan. Aku tunggu secepatnya!" Ancamku lalu aku berdiri menunggalkannya. Sebenarnya aku ingin sekali menghajarnya. Tapi aku tahu tenagaku sangat payah.


Aku keluar ruangan dengan emosi yang masih memuncak. Sial sekali, dokter seperti itu bisa-bisanya bekerja dengan Krishan.


"Kenapa kau?"


Aku melihat Alana mendekat bersama Bastian. Ah, thanks God teman-temanku ini ada di saat yang tepat.


"Aaaaak. Pelukk." Aku memeluk Alana dengan erat lalu tanpa sadar mengalirkan air mata. Pura-pura tegar di depan Krishan ternyata melelahkan.

__ADS_1


"Maaf, aku baru datang." Ucapnya sambil mengelus punggungku. "Sepertinya Krishan tidak baik-baik saja."


"Dia kembali buta." Jawabku dengan suara parau dan mendengar itu, mereka terkaget. Terlebih Alana.


"Astaga, Kana. Padahal baru saja dia bisa melihat."


Kini gantian Bastian yang memberiku bucket bunga dan memelukku. "Aku tahu kau wanita kuat."


Ah, Bastian. Dia selalu menjadi lelaki hangat. Rasanya dia sangat cocok bersama Alana. Tapi Alana sialan itu malah naksir Adam.


"Terima kasih, Bas. Aku minta maaf, tapi kalian belum bisa melihat Krishan."


"Tidak apa. Kami hanya ingin menenangkanmu." Kata Bastian lagi.


"Aku sudah lebih baik sekarang. Lalu soal ini, tolong jangan beritahu siapapun. Krishan akan berhenti sementara dengan alasan keluar negeri."


"Aku paham, aku paham." Kata Alana sambil mengelus bahuku. "Kau sudah makan? Aku bawakan kau kari."


"Aah. Kau selalu tahu kesukaanku." Aku mencium pipi Alana lalu memeluknya lagi. "Aku masih ingin bersama kalian, tapi aku harus pergi."


"Kami tahu kau sibuk. Pergilah, yang penting kami sudah melihatmu." Tutur Bastian.


"Thank you so much, guys. Nanti aku akan mengundang kalian ke rumah. Oke?"


Mereka mengangguk dan kami berpisah disana. Lega rasanya, kehadiran mereka benar-benar menghiburku.


Akupun bergegas ke kamar Krishan. Lelaki itu duduk di sofa menghadap jendela yang terbuka. Sesuatu yang sudah tak pernah lagi kulihat semenjak Krishan tak lagi buta dan sibuk bekerja. Kini, pemandangan itu terlihat lagi. Tapi, aku melihat raut murungnya dari samping. Begitu jelas terlihat kesedihannya, walau angin menyibak rambutnya dengan lembut, hal itu tak juga membuatnya tenang. Padahal Krishan menyukai angin yang menerpa lembut wajahnya.


Aku tersenyum karena dia bisa mengenaliku.


"Kita sudah bisa pulang sekarang." Aku duduk disebelahnya. Dia meraba, mencari letak tanganku. Setelah itu, dia menggenggamnya.


"Jia, maafkan aku."


"Kenapa meminta maaf?"


"Aku akan merepotkanmu lagi."


"Krish, sejak kapan kau merepotkanku?" Aku menangkup kedua pipinya dengan tanganku. "Aku tak pernah sekalipun merasa kau merepotkan. Aku sangat menyayangimu, Krish. Aku malah ingin kau terus bersamaku."


Krishan memeluk tubuhku, meletakkan dagunya di atas bahu kananku. Biasanya aku yang suka bersandar di dadanya. Sekarang, dia teramat manja.


"Jia, kau menguatkanku."


Aku mengelus lembut rambut suamiku. Membiarkannya menuangkan apa yang dia rasakan saat ini.


"Kekecewaan dalam diriku lebih besar dari saat pertama kali aku buta. Kali ini rasanya lebih sakit. Karena aku memiliki wanita yang harus kujaga. Aku membangun cita-cita yang tinggi, membuat rencana indah bersamamu. Tapi semua itu harus musnah karena hal seperti ini. Aku sangat terpuruk dan takut kau kecewa lalu meninggalkanku."


Heh, aku langsung melepas pelukannya dengan kesal. "Nampaknya kau belum mrngenalku dengan baik, ha?"

__ADS_1


"Aku mengenalmu dengan sangat baik. Aku tahu kau takkan meninggalkanku. Tapi saat harapanku hancur karena kebutaan ini, aku juga takut kalau apa yang kuharapkan darimu untuk terus bersamaki ikut hancur."


"Krish, kau bicara apa? Aku tidak meninggalkanmu, tidak pernah dan tidak akan. Sudah kubilang kan, kau harus menjadi Krishan yang seperti biasa, kau ingat?"


Krishan mengangguk lalu memelukku lagi. "Entahlah. Jika bukan karenamu, aku tidak bisa membayangkan semua ini."


"Jangan membayangkan yang tidak-tidak. Aku akan bekerja setengah hari supaya bisa menjagamu." Kataku sembari mengeratkan dekapannya.


Maafkan aku, Krish. Aku harus menyembunyikan ini. Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena aku tahu kau akan melarangku ikut-ikutan dalam hal ini. Tapi aku harus, aku tidak bisa diam saja karena mereka sudah melakukannya dua kali. Jika mereka tidak bisa ditemukan, itu akan membuatku semakin menderita setiap kali melihatmu~


...○●○●...


Aku berjalan menuju ruang tembak Foldcury. Sean bilang, perempuan yang akan mengajariku sudah ada di dalam. Jadi aku dengan tidak sabar masuk ke dalamnya.


Kulihat ada dua orang perempuan di dalamnya.


Yang satu, memakai celana panjang militer dan kaos hitam. Rambutnya panjang dikuncir kuda. Dia tengah membidik tanpa memakai penutup telinga. Kuperhatikan wajahnya. Dia sangat cantik dan tubuhnya juga tinggi langsing. Aku sangat menyukai postur tubuhnya itu. Sangat bagus. Aku jadi merasa malu karena pendek.


Berbeda dengan yang di sebelahnya, perempuan memakai celana pendek bermotif sama dan kaos putih. Rambutnya dikepang satu dan dia memegang senjata panjang.


Tunggu, apa mereka berdua adalah anggota militer?


DOR!


Aku terlonjak kaget, tetapi kedua perempuan itu malah kegirangan tanpa merasa terganggu dengan suara bising dari senjata api itu.


Tapi bidikannya tepat sekali. Aku jadi semakin kagum. Selain cantik, dia benar-benar hebat.


"Wah, kau semakin mahir!" Kata perempuan yang bercelana pendek.


"Tak ku sangka, ada tempat sebagus ini untuk latihan." Sahut yang bercelana panjang.


"Tapi sayang, tidak dibuka untuk umum." Balasku dan mereka langsung menoleh kaget.


"Ah, maafkan kami tidak menyadari kedatangan anda, Nona." Kata si rambut panjang.


"Tidak apa. Kalian yang akan mengajariku?"


"Benar. Kami teman Evan, Nona." Jawab yang bercelana pendek.


"Panggil saja Kana." Aku mengulurkan tanganku.


"Richi Darrel." Balas yang berambut panjang.


"Clair." Kata yang bercelana pendek.


"Baiklah, apa bisa kita mulai sekarang?" Tanyaku tanpa berbasa-basi lagi karena aku sudah tak sabar.


TBC

__ADS_1


** Richi dan Clair hadir disini sebentar untuk membantu Jia. (Novel Sang Penakluk yang Takluk)**


__ADS_2