
Kana berdiri diambang pintu sembari melipat tangan di dada.
"Hahahhaa." Tawa Daniel dan David pecah, apalagi saat melihat wajah Krishan yang tak berkutik.
"Kau sudah siap, Krish? Aku akan kebawah sebentar lagi."
"Sudah, sayang. Kalau kau lelah, minta Sean mengantarmu pulang."
Kana mengangguk dan berlalu meninggalkan ruangan Krishan. Dia menuju pintu belakang supaya tidak kelihatan orang-orang.
"Kana!"
Bastian dan Alana sudah menunggu di depan gedung.
"Hai." Napas Kana sedikit terengah karena dia terburu-buru keluar dari belakang.
"Hei, kenapa kau tidak mendampingi suamimu?" Bisik Alana.
"Aku tidak suka jadi pusat perhatian. Kita masuk saja, yuk." Kana menggandeng tangan Alana dan Bastian mengikuti di belakangnya.
"Loh, kenapa kau ikut kesini??"
Inna datang dan menegur Kana yang hendak memasuki gedung.
"Ibu, ibu sendiri kenapa datang?" Tanya Alana.
"Tentu saja aku datang. Aku akan bertemu dengan tuan Yohan dan memperkenalkan diri sebagai istri orang penting di kantornya."
Alana melirik Kana yang hanya tersenyum kecil.
"Kau sendiri, ada perlu apa kau kemari??"
"Ibu, Kana itu karyawan di Shanprise." Jelas Alana.
"Apa? Tidak salah?"
"Sudahlah, Bu. Sebaiknya kita masuk." Ayah Alana menarik tangan istrinya.
"Menyebalkan. Di acara penting, kenapa harus ada kau!" Tukasnya dan langsung berjalan.
"Kau kenapa diam saja, Kana?" Bastian yang dari kemarin diam, mulai bersuara.
"Biarkan saja. Yuk, masuk."
Kana berjalan melewati Inna yang tengah asyik bercengkrama dengan orang yang baru ia temui. Lalu saat akan berjalan masuk, para pengawal yang berjejer langsung membungkukkan badan saat melihat Kana.
__ADS_1
'Astaga, Krishan. Apa dia tidak mengatakan hal itu pada para pengawalnya?' Batin Kana.
"Minggir. Kau tidak lihat mereka menghormatiku?" Inna langsung jalan sambil menyenggol bahu Kana. Sementara Kana, hanya menarik napas panjang sebelum melangkah lagi.
Di dalam, Kana bertemu dengan Bianna.
"Kana!" Bianna menghampiri Kana yang baru saja masuk.
"Bi, kenalkan. Ini Alana dan Bastian." Tukas Kana langsung mengenalkan kedua sahabatnya itu.
Mereka saling berkenalan dan bercerita sedikit. Sudah Kana duga, Bianna dan Alana langsung cocok dan bercerita panjang lebar tentang diri mereka.
"Sesekali, mainlah bersama kami." Ajak Kana.
"Ya, benar. Kau bergabung saja jika ada waktu luang." Sambung Alana dan Bianna langsung kegirangan mendengar ajakan kedua orang itu.
Tak lama, David naik ke atas panggung. Dia membuka acara dan memperkenalkan secara singkat perusahaan yang dibangun Yohan sejak ia berusia 25 tahun.
"KGroup berdiri sekitar 7 tahun yang lalu. Kemudian tuan Yohan kita, berhasil membuka anak cabang diberbagai bidang. Sekitar 6 anak cabang dari KGroup telah berhasil di dalam maupun diluar negeri. Kini, saya persembahkan cabang baru dari KGroup. Perusahaan yang akan bergerak dibagian perhiasan." David menunjuk ke arah layar yang besar, menampilkan sebuah gedung dan banyaknya perhiasan mewah.
Suara kagum terdengar dari banyak orang di dalamnya tak terkecuali Kana. Dia melongo, apa yang Krishan katakan kemarin malam itu benar adanya??
"Dan nama yang diberikan oleh tuan Yohan untuk cabang barunya adalah.. Kanazya Jewels."
"Eh, bukankah itu namamu, Kana?" Bianna mengerutkan dahi. "Weeh, bisa-bisanya nama perusahaan baru itu mirip dengan namamu. Sial, kenapa tidak pakai namaku saja, hei!" Teriakan Bianna tak masuk ke telinga orang-orang karena tepuk tangan yang meriuhkan acara.
"Mari kita sambut, tokoh yang paling kita tunggu-tunggu. Tuan Yohaan.."
Yohan keluar dari balik layar, dia memakai setelan jas hitam. Tampak menawan dan gagah. Semua memberikan tepuk tangan yang meriah pada sosok yang baru saja muncul.
Krishan berdiri di depan mimbar. Matanya mencari sosok istri tercinta yang ternyata berada di tengah ruang.
Dia tersenyum kecil pada Kana sebelum memulai pidatonya.
"Hai, apa kabar?" Sapa Krishan pada seluruh tamu yang hadir. Mereka terpana dengan ketampanan Krishan. Tak terkecuali Kana. Krishan tampak sangat gagah di atas sana.
Alana melirik ibunya sambil menahan tawa. Bagaimana tidak, jelas sekali Inna memasang wajah yang tak bisa digambarkan. Mulutnya menganga lebar, matanya tak berkedip melihat siapa sosok di depannya.
Krishan memberikan pidatonya dan membahas secara singkat tentang anak cabang baru yang baru ia bangun.
"Wwaaahh, tampan sekaliii." Beberapa wanita di depan Kana mulai memotret Krishan termasuk Bianna.
"Sudah boleh memotret?? Aseeek. Kemarin-kemarin aku belum berani. Hehehe."
Kana hanya tersenyum melihat reaksi Bianna.
__ADS_1
"Kau tidak cemburu?" Bisik Alana. Kana hanya mengangkat bahu sambil tersenyum.
Untuk saat ini, dia tidak cemburu. Melihat Krishan berada di atas dan berpidato membuat kharisma lelaki itu muncul. Bahkan dia yang sebagai istri Krishan saja sangat kagum pada lelaki itu, apalagi yang lain.
Beberapa pertanyaan mulai mencuat dari media. Pertanyaan yang sudah ditebak Krishan, dia menjawabnya dengan santai.
"Apakah anda sudah memiliki pasangan, tuan?" Tanya salah satu media.
"Haha, tentu." Krishan tertawa renyah, matanya menangkap ke arah Kana. Lalu dia semakin tersenyum saat melihat mata Kana yang membulat padanya.
"Tapi, saya belum diizinkan oleh istri saya untuk membawanya kemari."
"Astaga sudah beristri."
"Duh, sudah ada istri rupanya."
"Aku rela walau jadi istri simpanannya."
Mendengar jawaban Krishan, banyak perempuan bersedih dan banyak pula yang mulai mempertanyakan siapa istri Yohan.
"Saya sangat menghargai apa yang istri saya inginkan. Maka saya berharap, tidak ada satupun dari media yang berani mengikuti saya ataupun mencari tahu siapa sosok istri yang selalu menemani saya. Jika kalian tertangkap memberitakan itu, kalian tahu apa yang akan terjadi, kan?" Seringai Krishan membuat orang seketika bergidik.
"Wahahaa, terima kasih, tuan Yohan. Anda luar biasa sekali pada istri anda." Sambung David langsung saat menyadari ancaman Yohan sangat serius hingga beberapa detik hawa ruangan itu menjadi amat kelam.
Pertanyaan satu demi satu dari media Krishan jawab dengan santai, hingga hampir di penutup acara, Inna, tak berani menatap Kana.
Alana mendekati sang Ibu yang sejak tadi tampak tak tenang.
"Ibu, kenapa gemetar?" Tanya Alana dengan santai, sementara Inna menatapnya dengan kalut.
"Sudah aku bilang, ibu tidak tahu dengan siapa ibu bicara."
"Kau! Kenapa tidak katakan dari awal pada ibumu!" Suara Inna menekan, dia tidak bisa berteriak padahal ia sangat ingin.
"Kalau aku bilang juga, ibu tidak akan percaya. Jadi, ibu tahu kan, kenapa ayah batal promosi dan gajinya diturunkan? Bersiaplah ibu, ini belum berakhir."
Alana menertawakan Ibunya dari belakang, lalu ia berkumpul lagi bersama Kana, melihat ketakutan ibunya dari jauh membuatnya sedikit tergelak.
Alana lalu memandang Kana. Wanita itu tengah fokus menatap dengan berbinar pada suaminya yang sedang menjawab beberapa pertanyaan media. Kana tersenyum, hal itu ditangkap Alana dengan senyuman pula. Dia sangat senang melihat sahabatnya itu bahagia.
Cup
Alana mencium pipi Kana.
"Kau bahagia, kan? Aku sangat senang kau bahagia." Ucap Alana dan Kana membalas pelukannya dengan sangat hangat.
__ADS_1
"Thank you, my best friend." Bisiknya pada Alana.