Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Met Inka


__ADS_3

"Kau sudah merasa lebih baik?" Tanya Noah.


Kana mengangguk. Mereka berjalan santai di sepanjang jembatan. Keduanya sudah meluapkan perasaan. Baik Kana maupun Noah, sudah saling paham posisi masing-masing. Apalagi Noah yang sudah mengetahui bahwa Kana telah mempunyai suami, membuatnya menyadari dirinya memang hanya seorang mantan yang tak bisa kembali.


Baginya, Kana adalah perempuan baik yang sangat wajib bahagia. Jika bersamanya tidak bisa membuat Kana bahagia, dia merelakan wanita itu bersama pria lain yang jauh lebih baik dan bisa membuat Kana bahagia.


"Kana, kau bahagia, kan?"


Kana diam saja.


"Aku akan sangat sedih jika kau tidak bahagia dengan suamimu. Apa aku perlu menghajarnya?"


Kana tertawa pelan. Dia saja dipecat dan tidak bisa apa-apa sekarang.


"Noah, tangisan itu.. bukan tangisan karena kesedihan." Ucapnya bohong.


Noah bisa melihat kebohongan itu, tetapi dia memilih diam lantaran Kana juga menutupinya.


"Syukurlah. Aku tidak pernah berpikir kau akan jatuh cinta pada orang lain secepat ini.."


Kana menatap kakinya yang melangkah lambat. Dia memang sudah sangat mencintai Krishan, melebihi perasaannya pada Noah dulu. Tetapi, hubungan mereka pun sudah selesai.


"Kau bisa menghubungiku jika butuh teman cerita." Tutur Noah.


"Aku sangat sulit dihubungi sekarang."


"Ponselmu rusak?" Tanya Noah.


"Tidak. Hanya saja, sedang tidak ingin kuaktifkan. Lagi pula ada Alana."


Noah tersenyum. Ya, Alana. Sahabat Kana yang selalu membela Kana paling depan.


"Aaah.." Kana memegang perutnya yang terasa sakit.


"Kenapa? Sakit perut?" Tanya Noah mulai panik. Biasanya Kana memang sering sakit perut apalagi saat sedang menstruasi.


"Sa-sakit.."


"Kau sedang menstruasi, ya? Mau kubelikan pembalut?"


Kana menggeleng. "Sudah lewat."


"Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." Noah mulai mencari taksi.


"Tidak, aku pulang saja."


Noah menghentikan taksi dan Kana masuk ke dalamnya.


"Jangan lupa kompres dengan air hangat."


Kana tersenyum lalu mengangguk. Noah sudah seperti kakak baginya.


"Terima kasih." Kana melambaikan tangan lalu menutup kaca pintu.


Taksi berjalan, meninggalkan Noah yang masih diam di tempatnya. Sungguh, hari yang sangat membuatnya terheran-heran. Bagaimana ia bisa bertemu Kana di tempat yang dulu sangat Noah tidak sukai jika Kana berada disana. Sekarang, malah dia yang datang kesana karena kesedihannya.


Noah menghubungi Evelin. Perempuan yang belakangan sering bersamanya.

__ADS_1


"Evelin, kau sedang apa?"


"Aku sibuk, Noah. Nanti aku hubungi lagi."


Noah menatap layar ponselnya. Evelin memang tidak ada mengucapkan kata-kata perpisahan. Tetapi dia sulit ditemui.


Noah menghela napas. Dia sedikit kepikiran dengan perkataan Kana yang menyarankannya mencari perempuan lain.


"Apa ada hal yang aku tidak tahu?" Gumamnya lalu melanjutkan langkahnya.


...◇◆◇◆...


"BRENGSEKKKK!!" Arex membanting vas bunga ke meja kaca hingga pecah berantakan. Dadanya naik turun akibat emosi dari amarah yang ia tahan sejak tadi.


Dia baru saja mendapat kabar bahwa beberapa perusahaan memutuskan hubungan kerja sama dengan perusahaannya. Hal itu membuatnya mengalami kerugian besar.


"Ini semua gara-gara Felix sialan itu! Karena rencananya gagal, perusahaanku hampir jatuh!!" Pekiknya dengan geram. Sementara asisten disebelahnya hanya menunduk takut.


"Aku harus memberinya pelajaran. Aku tahu, ini semua ulahnya."


"T-tuan, jika saya boleh memberi saran, sebaiknya kita.. tidak mengganggu tuan Yohan."


Arex hanya diam. Dia tahu, langkahnya sudah salah sejak awal saat menculik istri Yohan.


"SIALAN!! Aku tidak punya jalan lain.."


"Tuan, apa kita tidak menjemput tuan Felix?"


"Kau mau aku mati, ha!!" Pekiknya. "Mungkin saja Felix sudah mati. Biarkan saja dia. Lagi pula ini rencananya sendiri!"


Arex menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.


Arex mengepalkan tangannya, dia akan memulai rencananya lagi untuk menghancurkan Yohan.


"Tuan, apa sebaiknya kita meminta maaf saja."


"Dasar gila. Pergi kau dari sini!" Pekiknya, lalu asistennya langsung berlari keluar.


"Bagaimanapun, aku harus menyelamatkan perusahaanku. Yohan, kau terlalu congkak padahal kebutaanmu seharusnya membuatmu frustrasi. Kita lihat saja. Kau pikir, kau bisa menghancurkanku." Ucapnya dengan geram lalu mulai menelepon seseorang untuk merancang rencana baru.


...◇◆◇◆...


"Kana, kau kenapa?" Tanya Alana panik saat melihat Kana merintih memegang perutnya.


"Perutku terasa nyeri."


"Apa kau sedang menstruasi??"


Kana menggelengkan kepala. "Sudah lewat beberapa minggu. Tapi, tadi ada bercak darah."


"Hanya bercak?"


Kana mengangguk. "Aku perlu istirahat saja. Tapi..." Kana memegang perutnya.


"Kenapa?"


"Perutku kenapa terasa membesar."

__ADS_1


"Hah? Kau hamil??" Mata Alana membulat melihat perut Kana.


"Hamil? Tidak. Aku yakin tidak. Baru haid bulan lalu. Kalaupun hamil rasanya tidak mungkin, baru tiga bulan menikah."


"Anak Noah, kali."


Kana mendelik kesal pada Alana yang tertawa lebar.


"Sudahlah, sana pergi." Kana mengusir Alana yang sebenarnya sudah siap-siap berangkat kerja.


"Kau tadi malam minum alkohol?" Tanya Alana lagi.


"Cuma dua gelas." Jawabnya.


"Kau yakin tidak melakukan apa-apa sama Noah?" Tanya Alana lagi dan berhasil keluar sambil berlari kencang dan tertawa saat Kana hampir saja melemparkan gelas kosong pada Alana.


Sepeninggal Alana, Kana bersiap-siap ingin ke rumah sakit. Dia penasaran juga, sebab belakangan bagian bawah perutnya terasa nyeri dan mengetat. Membuatnya sedikit tidak nyaman.


Dia sudah lengkap memakai jeket hoodi dan masker. Dia menyetop taksi dan menoleh ke arah jendela selama perjalanan. Lalu matanya menatap seorang wanita yang ia sangat kenali parasnya.


"Pak, berhenti disini."


Kana keluar dan memandangi wanita itu dari jauh.


Dia adalah Inka Laurels, Ibunda Kana yang selama ini meninggalkannya.


"Lain kali jangan berani masuk kalau tidak ingin membeli!!" Bentak seorang pramuniaga pada Ibunya yang sudah tertunduk malu karena di tatapi orang-orang yang melewatinya.


"Gayamu saja yang kelihatan berkelas! Aslinya tidak punya duit! Dasar gembel!"


"Hei, jaga bicaramu." Ucap Kana tiba-tiba.


Inka menoleh, dia tidak mengenali perempuan bermasker itu.


"Jangan ikut campur! Memangnya kau tahu apa perbuatannya? Dia mencoba baju ini dan itu selama berjam-jam dan ternyata tidak membeli satupun!"


Kana menyerahkan sebuah kartu pada pramuniaga itu. "Kubeli semua yang sudah dicobanya."


Inka melotot tak percaya, seorang yang tak ia kenali membantunya sampai seperti itu.


"Ti-tidak perlu. Saya akan pergi saja."


Kana tidak memperdulikannya. Dia menyerahkan kartu itu lalu dibawa oleh pramuniaga tadi.


"Maaf, apa saya mengenal anda?" Tanya Inka dengan raut penasaran.


"Mungkin." Jawab Kana asal. Setelah beberapa bulan lalu Inka berpura-pura tidak mengenalnya, membuatnya sakit hati. Seharusnya, dialah yang melakukan itu karena kecewa atas kepergian ibunya. Tetapi Inka malah malu mengakuinya sebagai anak di depan orang banyak. Tetap saja, Kana tidak sanggup melihat Ibunya diolok-olok di depan orang banyak seperti sekarang.


"Ini belanjaannya. Terima kasih." Pramuniaga itu memberikan beberapa kantong belanjaan pada Inka, dan menyerahkan kartunya pada Kana.


"Sa-saya tidak bisa menerima ini.." Inka menyerahkan belanjaan itu pada Kana.


"Anggap saja itu baktiku pada orang tua yang telah meninggalkanku saat kecil."


Inka membelalakkan matanya. Dia terpaku sampai Kana meninggalkannya disana.


"Jiaa, Jiaa tunggu..!" Inka mengejar dan menghadang langkahnya.

__ADS_1


"Kau.. kau bagaimana bisa membayar baju-baju semahal ini??"


Kana melengos. Ibunya malah bertanya hal semacam itu saat menyadari Kana di depannya. Bukankah seharusnya dia bertanya kabar atau keadaan Kana selama ini?


__ADS_2