Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Playing with CEO


__ADS_3

Kana memiringkan tubuh. Karena seperti biasa, Krishan memeluknya dari belakang. Dia memegang pergelangan tangannya yang agak sakit karena ikatan tali pinggang tadi. Tetapi kenikmatannya yang luar biasa tidak membuatnya mengeluh.


"Krish.."


"Hm.."


"Bagaimana perasaanmu setelah melihat wajahku?" Tanya Kana.


Krishan tak menjawab, dia melengketkan bibir dan hidungnya di tengkuk Kana yang harumnya sudah kembali seperti dulu.


"Krishan.." Suara Kana meninggi.


"Apa, sayang."


"Kau lagi-lagi tidak menjawabku." Protes Kana.


"Apa pertanyaannya?" Tanya Krishan dengan malas. Dia tengah menikmati tengkuk istrinya itu.


Kana membuang napas kasar dan langsung membalikkan tubuh menghadap Krishan dan lelaki itu membuka mata, tampak ingin protes tetapi Kana langsung membungkam mulut suaminya dengan bibirnya.


"Kau selalu begitu, susah sekali menjawab pertanyaanku."


"Bukan begitu, Baby. Aku sedang menikmati dirimu." Ucapnya lalu menarik Kana ke pelukannya, menutupkan selimut yang menyingkapkan bagian atas tubuh istrinya.


"Jawab dulu, bagaimana perasaanmu setelah melihatku?"


Krishan menatapnya cukup lama, "Aku sudah jatuh cinta dengan suara dan harummu, Jia. Kupikir akupun akan suka dengan apapun bentuk wajahmu."


Ucapan Krishan membuat Kana menahan napas, apakah maksudnya Krishan tidak suka dengan wajahnya?


"Tapi aku salah. Ternyata aku bukan suka, tetapi jatuh cinta sejak awal mengetahui bahwa inilah wajah istriku selama ini. Melihat wajahmu, aku semakin mencintaimu."


Kana berdebar mendengarnya. Jantungnya serasa ingin melompat keluar apalagi Krishan menatapnya seperti itu, terlihat kesungguhan dari ucapannya.


Krishan mengusap lembut pipi Kana. "Bagaimana caramu menyihirku, Jia. Aku tidak bisa memikirkan hal lain setelah kau meninggalkanku seperti kemarin. Aku akan menukarkan semua yang ada pada diriku asal kau kembali, walau mataku lagi. Asal kau bersamaku. Asal kau tetap mencintaiku seperti sekarang ini."


Suara lembut dan tatapan mata Krishan membuat Kana membeku. Kesungguhan cinta yang selama ini sering ia dengarkan pada cerita dongeng putri, kini bisa ia rasakan sendiri. Seorang pria tampan seperti Krishan, dengan jiwa dan cintanya, menyerahkan dunia hanya untuk mendapatkan Kana. Bukan sebuah kebohongan, karena kesungguhan itu sangat bisa ia rasakan.


"Aku juga mencintaimu, Krish. Aku tidak bisa membayangkanmu bersama wanita itu." Kana meneteskan air mata tanpa sadar. Pengakuan cinta dari Krishan membuatnya bahagia hingga air mata itu keluar dengan sendirinya.


"Kebahagiaanku ada padamu. Bukan orang lain." Tutur Krishan sambil menghapus air mata istrinya.

__ADS_1


Kana merapatkan tubuhnya, memendamkan wajahnya di dada suaminya yang kini ia rasakan getarannya. Ah.. akhirnya dia kembali merasakan betapa hangat dan nyamannya pelukan Krishan.


"Krish.." Kana mendongak.


"Hm."


"Jangan peluk siapapun. Hanya aku yang boleh memelukmu. Kau harus tahu itu. Kalau kau berani memeluk orang lain, aku akan.." Kana tak bisa melanjutkan ucapannya karena Krishan mencium bibirnya, menyesap dan menyalurkan cinta melalui sentuhan itu. Krishan tahu, Kana akan mengancamnya dengan kalimat yang ia tidak mau dengar lagi. Apalagi ancaman itu memang benar dilakukan Kana saat Krishan berkaitan dengan Sherly.


"Hm. Kenapa berhenti?" Protes Kana saat Krishan tiba-tiba teringat sesuatu.


"Jia, kemana kau selama ini?" Tanya Krishan sambil mengelus lembut bibir Kana yang basah.


"Di rumah Alana."


"Apa?!" Wajah Krishan mulai tampak bertekuk.


"Aku.. bersembunyi di dalam lemari kamar. Aku sebenarnya sudah takut saat kau hampir membuka lemari waktu itu. Hehehee."


Krishan langsung duduk, dia menatap ke depannya. Rasanya kesal luar biasa. Padahal jika dia langsung membuka saja pintu lemari itu, pasti dia tak akan menderita berkepanjangan.


"Krish.." Kana ikut duduk. "Kau marah?"


Krishan menggelengkan kepala. Dia memang tidak marah. Hanya kesal pada dirinya sendiri. Mau marah bagaimana, toh Kana sudah ada disisinya sekarang.


"Apa? Jangan begitu, Krish. Kau harus bekerja. Jangan batalkan janji seenaknya." Protes Kana.


"Aku ingin menikmati hari bersamamu, Jia. Ingin terus menatap wajahmu. Ayo, kita main satu kali lagi."


Kana langsung menggelengkan kepala. "Tidak, aku juga ingin bekerja lagi. Mereka bisa mencurigaiku berlama-lama di ruang CEO baru."


Krishan mengecup bibir Kana. "Masih ada yang tegak dibawah sini, Baby."


Kana membalas ciuman Krishan lalu tangannya bergerak mengelus pusat tubuh Krishan itu hingga ia mengerang.


"Aku akan memuaskanmu malam nanti." Bisik Kana lalu mengecup bibir Krishan dan bangkit.


"Aku akan menyiapkan kamar panas untuk kita." Kata Krishan yang memperhatikan Kana memakai pakaian di depannya.


Melihat Kana memakai kemeja, mengancingkannya satu persatu, lalu memakai celana dan rok pendeknya. Wanita itu merapikan rambut dan lipstiknya. Krishan tersenyum, kini dia bisa menikmati apa yang istrinya lakukan.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" Tanya Kana yang melihat mata Krishan tak berkedip padanya.

__ADS_1


Krishan menarik Kana duduk di pangkuannya. "Aku senang sekali, selama ini pikiranku hanya bisa menggambarkan seperti apa dirimu. Aku hanya mendengar kau mengancingkan baju, berjalan, tertawa. Walau di telingaku hal semacam itu sudah sangat membahagiakan. Tetapi bisa melihatmu seperti ini, jauh lebih membahagiakanku, Jia. Rasanya aku ingin kau di rumah saja bersamaku." Ucapnya kemudian memendamkan wajahnya di dada Kana.


Kana mengelus lembut rambut Krishan yang kini sudah acak-acakan. "Aku menyenangkanmu, Krish?"


Krishan langsung mengangkat kepalanya. "Sangat, Baby. Melihat wajahmu saja, aku sangat bahagia."


Kana tersenyum senang lalu mengecup bibir Krishan.


"Aku pergi dulu." Kana bangkit tapi Krishan menarik tangannya dan mendudukkannya lagi.


"Krish!"


"Sebentaaarr saja, Jia." Krishan memeluk Kana, melingkarkan dengan erat kedua tangannya.


"Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang. Aku pasti akan menyiapkan tempat yang paling baik untukmu." Ucap Krishan. "Lalu, darimana kau tahu aku disana, Jia?"


"Aku harus berpikir panjang untuk itu sebelum memutuskan. Lalu, David yang memberitahuku."


Krishan langsung mengangkat kepalanya. "Apa? David?"


Kana mengangguk. "Dia tidak cerita?"


Mata Krishan menyipit. "Kurang ajar dia."


Kana tergelak lalu bangkit. "Aku akan kembali." Kana mengecup Krishan lalu keluar dari kamar itu.


Sementara Krishan masih tersenyum di tempatnya. Entah mengapa rasanya sangat menyenangkan memiliki wanita seperti Kana. Sangat membahagiakannya. Ingin rasanya menarik Kana terus dalam pelukan, sayangnya itu mustahil karena istrinya itu sangat suka bekerja.


~


"Kana, kau lama sekali!" Protes Bianna sementara yang lain ikut melirik padanya.


"Aku ada pekerjaan berat." Jawabnya asal lalu duduk di mejanya.


"Kau diapain sama bos baru?" Bisik Bianna yang wajahnya sudah tak terkontrol penasarannya.


"Kau mengharapkan apa, Bi.."


"Apa lagi, kau ada main dengan bos dan melakukannya di atas meja!"


Kana melotot sebab Bianna berbicara seolah satu divisi itu harus mendengarnya. Dan benar saja, semua mata melirik pada mereka berdua. Kana menghela napas, rasanya dia kini punya teman yang satu tipe dengan Alana.

__ADS_1


"Ya, aku melakukannya." Bisik Kana dan langsung pergi dari tempatnya. Sementara Bianna terkikik karena tahu itu hanya candaan Kana saja.


TBC


__ADS_2