Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Deliverance


__ADS_3

Mereka berdua saling pandang sambil tersenyum. Mungkin mereka menahan tawa karena ketidak sabaranku.


Lalu Evan masuk dan memberi salam padaku.


"Nona, bagaimana, apakah nona menyukainya?"


"Ya, mereka sangat cantik dan baik." Jawabku sejujurnya.


"Baik? Kurasa tidak, Nona. Apalagi dia." Evan menunjuk yang berambut panjang. "Dia terlihat manis tapi sebenarnya sudah banyak menghabisi orang."


Aku membelalakkan mata sementara gadis itu tersenyum kecil.


"Be-begitu, ya." Ah, ternyata gadis itu juga mengerikan. Dapat dimana Evan teman-teman seperti ini?


"Tidak usah didengarkan, Nona. Kami memang bukan gadis polos, tapi kami cukup pintar membela diri." Balas Clair.


"Kau benar. Aku juga harus terbiasa dengan hal semacam ini." Jawabku.


"Kau keluar, sana. Ini urusan perempuan." Tukas Clair lagi dan Evan tertawa lalu keluar ruangan.


"Boleh aku tahu berapa lama kalian belajar seperti ini? Apa sejak menjadi anggota militer?" Tanyaku mulai penasaran. Melihat tembakan Richi Darrel membuatku takjub dan sangat ingin sepertinya.


Kedua gadis itu tertawa kecil.


"Kami belajar sejak kecil. Aku sendiri belajar sejak usia 7 tahun dan dia, sekitar 9 tahun kurasa." Katanya sambil melirik Richi Darrel dan gadis itu mengangguk membenarkan ucapan Clair.


"Apa? Sekecil itu?" Gila, seusia itu aku masih main masak-masakan. Kenapa mereka malah memegang senjata asli. Siapa mereka sebenarnya?


"Begitulah, Nona." Sambung Clair lagi. Richi Darrel tak banyak cerita, dia hanya tersenyum dan mengangguk-angguk jika diperlukan pendapatnya.


"Jadi, berapa lama aku bisa seperti kalian?"


"Kalau nona rajin berlatih, aku rasa tiga bulan sudah bisa, iya kan, Rel?"


Gadis itu tampak berpikir. "Emm, aku rasa kurang dari itu. Satu bulan, jika berlatih fokus dan kecepatan, satu bulan sudah bisa."


"Hah? Bukannya kau terlalu berlebihan." Clair malah tidak setuju.


"Tidak." Richi Darrel menatapku. "Yang membuat kita bisa melakukannya dengan cepat adalah karena tekad. Semakin kuat usaha dan tekad kita, maka semakin cepat kita meraihnya."


"Aku sangat serius dan akan berusaha untuk bisa menembak dengan benar!" Tukasku dengan sangat semangat. Mendengar itu Richi Darrel tersenyum manis.


"Kalau begitu.." TRAK!

__ADS_1


Aku melongo, Richi Darrel malah membongkar dan melepaskan semua rangka pistol itu dengan sangat cepat.


"Mari kita belajar mengenal senjata ini lalu menyusunnya terlebih dahulu." Katanya dengan wajah cerah.


Ya ampun, haruskah? Aku pikir kita akan langsung belajar menembak. Kalau ingin jago dalam satu bulan, kenapa tidak terus menembak saja. Batinku.


...♡♡♥︎♥︎...


Aku masuk ke dalam kamar dengan lesu. Ah, padahal hanya latihan menghapal jenis dan rangka, juga bongkar pasang senjata saja tapi aku sudah sangat lelah terlebih kedua tanganku.


Aku melihat Krishan duduk di taman


tengah, dia mengadahkan wajahnya menatap cahaya matahari. Krishan, wajahnya masih saja murung. Dia menyembunyikan itu saat aku ada. Rasanya dia menjadi orang lain saat bersamaku dan bisa menjadi dirinya sendiri saat tak ada aku.


Sabar ya, Krish. Aku akan berusaha mengembalikan senyumanmu itu. Aku berjanji akan mengurus ini semua, aku masih menyuruh orang untuk mencari siapa Sanders itu.


"HAAHH.."


Aku melepaskan napas panjang setelah berhasil mendaratkan tubuhku di atas sofa tepat disebelah Krishan.


"Jia, sudah pulang?"


"Iya." Jawabku sambil mengibas-kibaskan tangan karena pegal sekali. Berapa kali aku harus membongkar pasang pistol dengan waktu yang mereka tentukan, yaitu 10 detik. Anehnya, kedua perempuan itu memang sangat hebat. Apalagi si Clair yang lebih jago menurutku. Hal itu wajar sebab kata Richi Darrel, ayah Clair yang mengajarinya dan Clair lebih dulu bisa memegang pistol.


"Tidak apa-apa. Aku hanya lelah."


"Lelah? Apa pekerjaanmu sangat berat?"


"Sedikit, tapi aku menyukainya." Aku melingkarkan tanganku di pinggang Krishan. "Apa sudah minum obat?"


"Sudah."


"Yang benar?" Aku tidak percaya karena Krishan malas minum obat. "Bii, apa Krishan sudah minum obat??" Teriakku pada Marry yang tengah berada di taman tengah ruang.


"Sudah, Nona."


Krishan tersenyum tipis dan itu membuatku curiga.


"Bibi tidak diancam Krishan, kan?" Tanyaku lagi.


"Tidak, Nona. Tuan benar-benar meminumnya."


Hm, baiklah. Aku percaya. "Krish, bisa tidak, kau urut tanganku." Aku meletakkan tangan Krishan diatas telapak tanganku dan dia langsung menggenggam dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan sampai seperti ini?" Tanya krishan sambil memijit-mijit tanganku dengan lembut. Wah, enak..


"Aku.. memindahkan barang-barang." Jawabku berbohong.


"Lain kali, suruh saja pengawal itu. Jangan lelah-lelah, nanti kau bisa sakit. Mengerti?"


Aku tersenyum mendengarnya. Bisa-bisanya kau mengkhawatirkan orang lain saat dirimu sendiripun masih terpuruk begitu.


"Apa David masuk lagi?"


"Ya, sekarang dia yang mengisi ruanganmu. Aku mengunci kamar kita."


"Kenapa begitu?"


"Jelas aku tidak ingin berbagi kamar! Dia pasti akan membawa wanita masuk ke dalam kamar itu." Gerutuku jika mengingat bahwa David bisa melakukan 'itu' kapan dan dimana saja.


"Banyak yang menanyakan kenapa David kembali dan kemana tuan Yohan? Kantor sangat berisik soal itu."


Krishan tak menyahut. Dia tersenyum tipis sambil terus memijit telapak tanganku.


Aku memandangi wajahnya. Rambut halus disekitar rahangnya sudah mulai tumbuh. Setelah bisa melihat kemarin, Krishan terus menjaga agar rahang itu mulus. Kini, dia tidak bisa melakukannya sendiri.


"Kenapa diam, Jia? Teruslah mengomel supaya aku bisa mendengar suaramu."


Aku terkekeh. Memang pria ini berbeda sekali dengan saat dirinya bisa melihat. Kalau aku mengoceh, dia akan membungkam bibirku dengan bibirnya. Tapi sekarang, dia akan kembali menjadi Krishan si pendengar budiman.


"Ayo, ke kamar. Aku akan mencukur kumismu."


Krishan mengangguk dan aku menggandengnya menuju kamar mandi. Membersihkan rambut-rambut halus di wajahnya dan memberikan sedikit love-service untuknya.


Saat terakhir bertemu sebelum kecelakaan, Krishan bilang sudah tak kuat menahan hasratnya padaku. Kami gagal melakukannya karena Sean memanggilnya. Jadi kini, aku yang akan melakukan itu untuknya. Kusuruh dia diam saja menikmatinya, aku akan memuaskannya, membuatnya melepaskan stress yang sejak kemarin menyangkut di tubuhnya. Aku akan membuat saraf-sarafnya melemah sebentar supaya mood-nya meningkat. Begitu, kan? Kami melakukannya di dalam bath-up. Aku duduk di atas tubuhnya dan dengan jelas melihat wajah yang puas itu dengan keringat mengucur di dahinya. Untunglah, wajah itu sedikit berubah lebih baik.


"Kau tidak turun?" Tanya Krishan yang masih merasakan beban di tubuhnya.


"Aku tengah menikmati wajahmu."


Krishan tersenyum. Wah, senyuman itu. Untunglah senyum itu muncul lagi.


"Terima kasih, sweetheart." Krishan meraba tubuhku lalu menarikku ke dekapannya. Krishan mengeratkan dekapannya dan akupun memejamkan mata, berbaring di dada bidangnya yang selalu saja membuatku merasa tidak akan ada tempat yang ternyaman lagi selain tubuh suamiku ini~


TBC


**Jangan lupa baca SYAHDU (Teman Tidur Kontrak) Update 3bab hari ini**

__ADS_1


__ADS_2