
Kana duduk di atas tempat tidur. Dia masih terisak memikirkan kejadian tadi. Bagaimana mungkin Krishan itu adalah Yohan. Bandit besar yang paling ditakuti orang-orang pasar.
Kana juga mulai menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa dia terlalu percaya dengan Krishan yang terlihat baik dan lugu. Padahal seharusnya dia bisa mencari tahu dulu sebelum mengakhirkannya dengan pernikahan. Lalu, Kenapa Krishan selama ini menipunya? Kenapa dia mengubah namanya dan menjadi orang lain? Pantas saja dia selalu berat jika Kana bertanya tentang kehidupannya dahulu.
Kana menutup dadanya dengan tangan karena Felix tadi berhasil meremassnya, menjijikkan sekali rasanya. Semua karena Yohan. Sudah dua kali ia diculik juga karena dirinya adalah istri Yohan. Bagaimana bisa dia menyandang status sebagai istri penjahat terbesar itu? Kana mulai bergidik, bisa saja Krishan juga akan membunuhnya jika ia sudah bosan. Bagaimana ini? Kana bingung sebab dia ingin sekali lari. Dia tidak ingin bertemu Krishan lagi. Entah mengapa mengerikan rasanya satu ruangan dengan orang seperti Yohan.
...~...
Setelah membersihkan luka-lukanya, Krishan langsung pulang ke hotel. Dia sudah tidak sabar untuk menceritakan banyak hal kepada Kana dan berharap wanita itu mau mengerti dengan kondisinya. Dia juga akan menjelaskan tentang dirinya yang akan menerima donor dari Sherly dengan beberapa alasan agar tidak terjadi kesalah pahaman nantinya.
Baru membuka pintu, Krishan sudah merasakan hawa tak enak dari ruangan itu. Terdengar isakan Kana dari arah tempat tidur.
"Jia.." Krishan memanggil sambil perlahan berjalan.
"Jia, tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya. Kumohon.." Krishan duduk di tepi tempat tidur. Dia tahu Kana menangis disudut lain tempat tidur.
"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu." Ucapnya dengan suara parau.
"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu salah paham padaku, Jia."
"Salah paham katamu?" Punggung Kana langsung tegak dari sandarannya.
"Jia, tapi kau perlu mendengarkanku."
"Kau membohongiku, Krish. Kau berpura-pura menjadi orang lain. Kau melakukan banyak hal diluar tanpa sepengetahuanku. Kau membunuh, merampas hak-hak orang diluar sana, kau penyalur narkoba, apa lagi? Kau seorang yang namanya terkenal karena keburukan dan aku? Menikahi orang sepertimu??" Kana setengah berteriak. Dia terus sesegukan karena sakit hati atas bohongnya Krishan.
"Kau pikir bagaimana caranya aku menerima orang sepertimu? Aku takut, jika aku bersalah mungkin kau juga akan membunuhku."
"Jia, aku tidak mungkin melakukan itu."
"Kenapa? Bukannya kau juga membunuh para bawahanmu jika bekerja tidak sesuai keinginanmu?"
Krishan terdiam. Mendengar suara Kana yang parau dan nada yang marah namun terdengar ketakutan itu membuat Krishan sedih.
"Apa yang harus aku lakukan, Jia. Aku harus apa supaya kau menerimaku?" Tanya Krishan dengan kesedihan dalam hatinya, dia tidak bisa menerima jika Kana memilih pergi.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bersama pembunuh sepertimu."
Kata-kata yang keluar dari mulut Kana, membuat Krishan semakin membuat hatinya perih. Dia tidak bisa membayangkan jika istri yang sangat ia cintai itu meninggalkannya.
Krishan mencoba mendekati istrinya. "Jia, aku..."
"Jangan dekat! Kau mengerikan, menjauh dariku!"
Krishan membeku di tempatnya. Kini istrinya pun takut kepadanya.
"Jia, aku akan meninggalkan itu semua demi dirimu, jika kau memang tidak suka. Aku akan meninggalkannya demi dirimu, Jia."
Kana hanya menangis. Dia memeluk lutut sambil menunduk lemah.
"Jia, bisakah aku meminta supaya kau tetap disini. Aku mencintaimu, Jia. Apa kau tidak bisa merasakan itu?"
Kana diam, dia menyadari itu. Dia bisa merasakan kasih sayang yang Krishan berikan padanya selama ini.
"Kau bahkan menipu tentang hal besar, bagaimana bisa aku percaya dengan perasaanmu? Bukankah mudah bagimu mengelabuhiku?"
"Enggak, kau berbohong dan Sherly benar. Bagaimana mungkin seseorang yang tidak bisa melihat mencintai seseorang?" Kana terisak lagi, memikirkan beberapa bulan belakang dipenuhi kebohongan membuatnya frustrasi.
"Kau menipuku, Krish. Kau menipu banyak hal padaku. Apa itu yang kau sebut cinta? Apakah aku terlalu mudah bagimu?" Kana terisak, bahunya naik turun karena perasaan yang semakin menyesakkannya.
Krishan tidak bisa berkata-kata lagi. Dia memang tidak pandai merangkai kalimat untuk merayu dan membujuk Kana. Apalagi saat ini Kana sangat sedih atas kebohongan yang ia lakukan.
"Aku akan terus menjadi incaran orang-orang, kan? Aku pasti akan dibunuh karena aku istrimu. Aku bahkan hampir diperkosa Felix sialan itu! Aku benci padamu, Krish. Semua gara-gara kau, aku tidak pernah dilecehkan seperti ini." Kana tersedu-sedu.
Krishan tidak bisa menahan kesedihannya saat mendengar kata benci yang keluar dari mulut istrinya.
"Jia, aku sangat mencintaimu. Aku benar-benar tidak sanggup jika kehilanganmu." Suara Krishan bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
"Jia, aku memang memimpin Foldcury, tetapi itu dulu. Sekarang Daniel-lah sebenarnya yang memimpin. Aku sudah hidup lebih baik, Jia. Semua karena dirimu. Aku ingin berhenti dari semua ini juga karena dirimu. Aku ingin membentuk keluarga yang damai bersamamu. Percayalah, hanya orang-orang seperti Felix yang mengetahui identitas asliku. Diluar, aku dikenal karena seorang pengusaha."
Tidak ada jawaban, hanya suara isakan yang terdengar.
__ADS_1
"Aku akan memberimu waktu, Jia. Aku akan meninggalkanmu untuk berpikir. Tapi kumohon, pikirkanlah aku juga. Pikirkan kebersamaan kita selama ini. Apa yang kulakukan padamu adalah ketulusan. Aku tidak pernah membohongi perasaanku padamu. Aku benar-benar mencintaimu, Jia. Dan aku ingin kau percaya itu."
Setelah beberapa saat saling diam, Krishan memilih pergi. Dia tidak bisa membuat Kana percaya jika wanita itu masih sangat tertekan dengan status barunya.
Setelah Krishan keluar, Kana memilih membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia masih saja menangis sampai akhirnya Kana tertidur di tempatnya.
...○●○●...
"Sudah kusiapkan. Katanya dia ingin bicara padamu. Bagaimana?" Tanya Daniel saat Krishan sudah tiba di markasnya.
"Jam berapa?" Tanya Krishan.
"Pagi ini. Ah, Satu jam lagi."
Krishan mengangguk dan Daniel membawa Krishan menemui Sherly sesuai dengan janji.
Sesampainya di tempat, Krishan duduk berhadapan dengan Sherly sementara Daniel dan Sean berdiri di belakang lelaki itu.
"Krish, aku tidak menyangka kau akan setuju." Senyum Sherly mengembang sembari menggenggam tangan Krishan.
Krishan menarik tangannya. "Aku perlu tahu isi surat perjanjianmu itu."
"Iya, ini suratnya sudah aku siapkan. Kau hanya perlu tanda tangan saja."
Sean mengambil surat yang diserahkan Sherly. Dia membaca beberapa poin penting di dalam surat itu.
"Kami akan diskusikan dulu, Nona. Jika sudah sepakat maka tuan Krishan akan menandatanganinya." Tutur Sean pada Sherly.
"Ya, baiklah. Kalau begitu, aku tunggu siang ini."
Krishan bangkit dan langsung berbalik badan. Wajahnya tidak menampilkan senyuman sedikitpun. Tetapi Sherly tidak peduli, yang terpenting adalah Krishan yang akan kembali padanya.
"Dadah, Krish." Sherly melambaikan tangan dengan bahagia, melihat ke arah Krishan dan yang lainnya masuk ke dalam mobil.
"One step closer , Yeaayy !" Jeritnya sambil melompat kegirangan. "Lihat, sudah kubilang kan, aku pasti bisa membuatnya kembali padaku." Ujarnya dengan senyum yang tidak memudar.
__ADS_1