
Kana terisak di dada Krishan. Lelaki itu terus menciumi puncak kepala Kana. Rasa bersalah kini menyelimuti perasaannya. Krishan tak sangka Kana sampai berpikir untuk menyerahkan penglihatan padanya.
"Aku tidak bermaksud begitu, Jia. Aku hanya.. merasa.." Krishan tak bisa menahan air matanya. Kenapa sungguh menyedihkan rasanya. Krishan merasa dirinya menjadi pengecut.
"Jia, aku akan berusaha. Aku.."
"Tidak apa, Krish.." Kana duduk tegak dan menghapus air matanya.
"Tidak perlu mengusahakan sesuatu yang berat untukmu." Ucapnya dengan suara yang serak. "Lakukanlah apa yang hatimu ingin lakukan. Tapi, tolong jangan lama-lama. Karena aku masih sangat membutuhkanmu."
Krishan menghapus air mata Kana. Dia juga tidak mengerti kenapa rasa sakit hati dan kecewanya tidak juga meluruh. Tetapi mendengar ucapan bahwa Kana masih sangat membutuhkannya, membuat Krishan tertegun.
Awalnya dia mengira, istrinya akan membantunya segera pulih. Namun nyatanya, Kana-lah yang membuatnya semakin tak berkutik. Karena rasa ingin melindungi wanita itu kuat, sehingga kondisinya yang sekarang membuatnya seperti terhimpit dan sulit bernapas.
Krishan melengketkan dahinya ke dahi Kana "Jia, aku juga sangat membutuhkanmu. Tolong tetaplah disampingku."
"Tanpa kau minta pun aku akan terus disisimu, Krish. Kau pasti tahu itu. Aku akan memberikan mataku jika kau membutuhkannya. Aku rela memberikannya asal kau kembali semangat seperti dulu lagi." Isak Kana pada Krishan. Apa yang dia ucapkan adalah kesungguhan. Baginya, Krishan adalah segalanya.
Krisha menegakkan tubuhnya. "Tidak. Aku tidak ingin itu. Aku akan berusaha kembali seperti dulu demi dirimu. Aku sudah berjanji padamu. Aku akan menepatinya sekarang. Maafkan aku, Jia. Tolong, maafkan kebodohanku."
Kana mengangguk cepat. "Aku senang kau berusaha untukku. Aku akan mencari cara supaya kau segera sembuh."
Krishan tersenyum tipis sambil menggenggam erat tangan Kana dengan kedua tangannya.
Kana menghapus air matanya, "Ayo, kita harus segera ke dokter."
Kana menggenggam tangan Krishan dan berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan Sean.
Sepanjang jalan terasa hening. Tidak ada suara dari orang-orang di dalam mobil. Baik Kana maupun Krishan hanya diam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Kana yang memeluk lengan Krishan pun hanya memikirkan bagaimana cara supaya suaminya bisa bahagia seperti dulu. Sedangkan Krishan, mengelus lembut rambut istrinya sembari berusaha membuat hatinya menjadi lebih baik demi Kana yang masih membutuhkannya.
Setelah sampai, Kana membiarkan Krishan sendiri di dalam ruang pemeriksaan. Mungkin saja ada hal yang Krishan ingin tanyakan dengan bebas bersama dokternya.
Kana hanya memandangi wajah Krishan dari celah kecil pintu ruangan. Dia melihat wajah Krishan yang terasa tenang.
"Kau berusaha membuat wajahmu tenang begitu. Aku tahu." Gumamnya yang berdiri di depan pintu ruang pemeriksaan.
"Aku akan berkompromi setelah ini. Jika mataku cocok, aku akan memberikannya padamu." Ucapnya sembari menghapus air yang jatuh dari sudut matanya.
__ADS_1
"Lemah sekali."
Kana langsung menoleh pada suara yang ia kenali.
Seorang wanita berdiri tak jauh darinya. Dia berjalan mendekat dengan langkah anggun dan terlihat lebih cantik dari terakhir kali Kana melihatnya.
"Sebegitu cintanya kah, kau? Sampai mau memberikan matamu padanya?"
Kana mengalihkan pandangan ke arah celah pintu lagi. Saat ini dia tak ingin berdebat dengan siapapun.
"Harus kuakui, rasa cintamu itu sungguh luar biasa. Tapi, hanya orang bodoh yang mau berkorban seperti itu pada orang lain."
Kana mendesah pelan. Rasanya ingin mengusir perempuan itu karena dia berceramah disaat yang tidak tepat.
"Pergilah, aku sedang tidak ingin berbicara padamu."
Sherly tiba-tiba berdiri di hadapan Kana, membelakanginya, melihat ke arah celah yang memperlihatkan Krishan yang tengah diperiksa bagian matanya.
Kana berdecak. Apa-apaan perempuan gila ini.
"Menyingkir. Atau aku akan menyeretmu keluar."
Kana menaikkan pandangannya ke wajah Sherly dengan geram. Tangannya mengepal mendengar ucapan wanita itu. Apakah ini saatnya Kana mempraktikkan seni bela diri yang sudah diajarkan padanya?
"Aku jadi penasaran, siapa yang merencanakan kecelakaan sampain menargetkan matanya-"
BUK!
"Argh..." Sherly mengerang tertahan saat Kana menghentakkan tubuhnya ke tembok belakangnya. Kini Sherly terdiam diantara kedua tangan Kana yang menguncinya di tembok.
"Mataku terbuka sekarang. Ternyata kau pelakunya!"
Sherly memutar bola matanya. "Akh, bukan aku."
Elakan Sherly justru mengarah ke satu orang lagi. Kalau tidak, dari mana dia tahu Krishan kecelakaan dan pelakunya menargetkan mata Krishan?
"Apa bedanya kau dan tunanganmu?"
Sherly malah tertawa. "Jelas beda. Aku, ya aku. Dia, ya dia." Sherly mencengkram kedua pipi Kana dan merapatkan wajahnya ke wajah Kana. "Kau ternyata tak secerdas yang kukira. Kau tahu, gadis polos sepertimu sangat gampang ditipu bahkan oleh temanmu sekalipun!" Sherly mendorong tubuh Kana dan langsung pergi tanpa penjelasan lain. Dia membiarkan Kana mematung di tempatnya.
__ADS_1
Teman, katanya? Apa Danny bekerja sama dengan Adam?
Kana segera merogoh ponselnya dan menekan nama Sean disana.
"Sean, cepat tangkap Danny sekarang!
"Nona, sebentar. Ada sesuatu yang saya harus berikan pada nona sekarang. Saya akan ke tempat nona segera."
Kana menggenggam kuat ponselnya. Dia mengutuk diri, sebodoh itukah dirinya sampai tak bisa mengira bahwa Danny pelakunya? Bukankah dia bertemu Danny dan Adam di waktu bersamaan, disaat Danny mengajaknya bekerja sama untuk balas dendam? Sial sekali, Kana merasa dirinya terlalu banyak mengulur waktu.
Tak menunggu lama, Sean sudah berjalan ke arahnya dengan membawa beberapa lembar kertas.
"Nona, saya membawakan hasil terjemahan bahasa itu." Kata Sean sembari menyerahkan kertas itu pada Kana.
Kana dengan cepat menerima kertas itu. Dia melihat potongan-potongan kertas yang kini sudah tertempel dan menyatu, membentuk satu kata yang Kana sendiri tidak pernah tahu bahasanya.
Kana menggenggam kertas itu dengan erat. Bahasa apa ini, artinya juga sangat mengerikan.
"Buta atau mati.." Kana bergumam membacakan terjemahan tulisan itu. Namun, dia dengan cepat teringat dengan seseorang.
"Sean.."
"Iya, nona."
"A-apa kau memikirkan.. apa yang kupikirkan?" Tanya Kana dengan tangan yang bergetar.
Sean menghela napasnya. "Saya tahu apa yang nona pikirkan." Jawab Sean.
Kana menelan ludah. Dia menggenggam erat kertas itu. Tanpa terasa air sudah menggenang di matanya.
Sean pamit pergi sementara Kana langsung merogoh ponselnya yang ada di dalam kantong celananya. Dia mencari kontak Adam dan meneleponnya.
Dia teringat ucapan Richi. Jika sudah begini, dia memang harus memancing dirinya sendiri supaya inti dari masalah ini cepat tertangkap dan dia bisa bernapas dengan lega seperti sedia kala.
"Bisakah aku bertemu denganmu besok? Berdua."
Kana menurunkan ponselnya. Kini dadanya terasa sesak. Tetapi dia harus bersiap, karena besok akan banyak hal yang akan lebih mengejutkan dirinya lagi.
TBC
__ADS_1
** Athor sedih nih, kalau diliat views-nya bahkan mencapai 5ratusan. Tapi yang like dan komen dikit banget:( Aneh, yaa**