Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Istri Bos


__ADS_3

Sementara di tempat lain, Danny mengoyak kertas dari majalah yang memberitakan kemunculan Yohan dan informasi mengenai pimpinan besar itu yang ternyata sudah menikah.


Sherly memutuskan pertunangan sebelah pihak, lalu memberikan donor mata pada Krishan dan menikah dengannya. Sudah pasti, pasangan yang dikatakan Krishan di pidatonya adalah Sherly.


"Sherly sialan. Kau pikir, kau bisa bahagia dengan membuatku malu pada keluarga besarku?" Berangnya sambil meremas kuat kertas majalah itu.


...○●○●...


Kana berjalan sendirian menuju lokasi dirinya dan Alana bertemu. Dia menolak diantar sebab ingin berjalan sambil menenangkan pikiran.


Dia mengira Sherly sudah menghilang dan menyerah terhadap Krishan. Ternyata dia bersembunyi entah dimana, membuat pernyataan palsu yang melibatkan pimpinan utama KGroup. Sampai sekarang bahkan Sherly belum juga ditemukan keberadaannya.


Kana menghentikan langkahnya saat ia merasa ada seseorang yang berjalan perlahan dibelakangnya.


Kana menoleh, tetapi tidak ada orang disana. Hari mulai gelap dan jalanan tidak begitu ramai. Kana pun mempercepat langkahnya. Dia berani berjalan sendirian lantaran laporan dari David bahwa Arex sudah kabur ke luar negeri. Lalu, siapa yang mengikutinya? Dia masih merasa seseorang berjalan di belakangnya.


Kana berhenti lagi, memberanikan diri menoleh. Tetapi tidak ada siapapun di belakangnya. Kana memilih berbelok di persimpangan dan berdiri disana.


Dia memberanikan diri mengintip saat seseorang itu mulai menunjukkan dirinya. Mata Kana membulat, saat seseorang itu berjalan cepat karena kehilangan Kana.


"Kau rupanya."


Langkah orang itu terhenti. Dia sedikit kaget karena Kana sudah berdiri dengan tangan yang melipat di dada.


"Ah. Maaf."


Kana melengos. Melihat Adam saja sudah membuatnya kesal, ditambah lelaki itu malah membuatnya takut dengan aksi membuntut seperti tadi.


"Kenapa kau membuntutiku seperti itu??" Tanya Kana dengan nada tak suka.


"Maaf, Kana. Aku hanya ingin pergi bersama." Jawabnya gugup.


"Pergi bersama? Kau pikir aku kemana?"


"Ke Citytown Club. Aku diundang Alana kesana."


Kana memaki Alana dalam hatinya. Seenaknya saja mengundang Adam padahal jelas Alana tahu, dia tidak menyukai Adam.


"Kau pergi dulu sana. Aku masih ada urusan." Jawab Kana ketus.


Adam diam sebentar, melihat wajah kesal Kana padanya. Dia pun melanjutkan langkahnya saat tahu Kana benar-benar tak ingin pergi bersamanya.


"Kejam sekali."


Kana menoleh ke belakangnya. Danny sudah berdiri disana.


Lelaki itu berjalan mendekat, "Kenapa ketus sekali pada laki-laki yang menyukaimu?" Tanyanya sambil memajukan wajahnya mendekat, sementara Kana memundurkan kepalanya.


"Kau.. terlihat sedang bersedih."


Kana mundur beberapa langkah, "aku tidak sedang sedih dan berhentilah menatapku."


"Haha. Ah, tidak sedih, ya. Bukankah kekasihmu akhirnya menikahi mantan tunangannya?"


Kana mengerutkan dahi. Rasanya Kana memang belum bilang pada Danny bahwa dialah yang sudah menikah dengan Krishan.


"Tidak perlu menyembunyikan kesedihan. Aku tahu betapa berat bagimu kehilangan kekasih yang ternyata memilih perempuan lain."

__ADS_1


Kana membuang wajah sambil tersenyum sinis. "Aku bisa melihat dengan jelas wajah kecewamu itu, tuan Danny. Sekarang jawablah pertanyaanku, bagaimana perasaanmu saat menyadari dirimu telah gagal dalam menyerobot kekasih sahabatmu? Maksudku, mantan sahabat."


Danny diam sebentar, melihati Kana yang menertawakannya. Dia lalu mengeluarkan rokok dari sakunya.


"Aku akan membalaskan dendamku pada Sherly. Kau mau ikut?" Ajaknya lalu menyalakan rokok dan menghembuskan asapnya dengan perlahan.


"Balas dendam? Kenapa repot-repot seperti itu. Bukannya Sherly hanya kembali pada tempatnya?" Kana tersenyum, mengangkat kedua alisnya saat Danny yang mulai terlihat geram.


"Kau sudah baca berita terbaru? Bukankah Krishan tidak memperlihatkan istrinya di media karena diduga berselingkuh?"


"Apa?" Danny mengeluarkan ponselnya untuk membaca berita terbaru.


"Kau pikir siapa selingkuhannya?" Tanya Kana dengan tersenyum cerah.


"Kau.. tidak memutuskan hubungan dengan Krishan??"


"Aku? Justru Krishan yang tidak ingin pisah dariku." Kana mengedipkan mata, lalu pergi meninggalkan Danny dengan pikiran yang mulai melilit di otaknya.


Jika Sherly sudah menikah dengan Krishan, lalu dia tidak memutuskan hubungan dengan wanita itu, artinya Sherly ditipu, bukan? Menyadari itu, Danny malah tertawa lebar. Dia mulai mengasihani Sherly.


"Tunggulah, aku akan menambah bebanmu, kekasihku." Tukasnya lalu tergelak lagi, ia tak menghiraukan orang yang lewat menatap heran padanya.


Kana masuk ke dalam club, walau begitu dia tidak benar-benar fokus pada langkahnya. Dia masih mengingat raut bingung Danny dengan ucapannya. Rasanya lucu jika Danny akan balas dendam dengan Sherly. Apa benar dia tidak tahu apa-apa? Biarkan saja dia balas dendam. Kana juga tidak akan mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Krishan. Kana akan membiarkan dia terus salah paham.


"Kanaa!!" Bianna melambaikan tangan. Dia sudah sampai duluan. Ah, ternyata Kana orang terakhir datang. Disana sudah ada Bastian, Alana, Adam, dan Bianna.


"Kau lama sekali!" Alana memeluk dan mencium pipi Kana.


"Aku terlambat apa?" Tanya Kana yang langsung duduk diantara Bian dan Alan.


"Kana, kami sudah memesan. Kau mau menambah?" Tanya Bastian.


"Hei, kau tidak boleh minum." Tukas Alana.


"Aku sudah sehat, tahu!"


"Tetap tidak boleh!"


"Aku hanya harus mengurangi, bukan dilarang!"


"No, no, no. Demi kesehatanmu. Bukannya kau sedang program hamil?"


"Apaa??" Bianna membelalakkan mata mendengar ucapan Alana. "Siapa yang menjalani program hamil??"


"Tentu saja dia." Tunjuk Alana ke Kana.


"Kau sudah menikah??" Tanya Adam yang ikut terkejut.


"Aku sudah bilang padamu, kan??"


"Tapi kulihat, datamu masih single." Bianna mencondongkan wajah. "Kau benar-benar sudah menikah??"


Kana mengangguk cepat dan menunjukkan jari manisnya.


"Astaga! Kau menyembunyikannya dariku." Ucap Bianna sambil bersedih.


"Cup..cup.. aku akan menunjukkannya padamu hari ini. Sekaraang.." Kana mengangkat botol bir. "Cheerrssss untuk perkumpulan teman baru malam iniii."

__ADS_1


"Chheerrrss" semua mengangkat botol bir walau Alana menghela napas panjang melihat Kana yang bandel itu.


Setelah lama bercengkrama, sampai tanpa terasa Kana sudah berada di puncaknya. Dia mulai mabuk.


"Kana, kau pulang saja, ya?" ucap Alana.


"Tidak, aku masih mau disini." Kana menuang alkohol dalam botol.


"Astaga, sudahlah." Alana menarik gelas Kana dan mulai menelepon Krishan.


"Alan, aku belum mabuk. Aku masih sadar."


"Iya, tapi kau sudah berbeda dengan tubuhmu yang dulu." Alana menaruh ponselnya di telinga. "Halo, Krish. Maaf menghubungimu. Bisa kau jemput istrimu ini? dia sudah mabuk."


"Alan, sudah kubilang aku tidak mabuk." Sanggah Kana.


"Iyaa, iya." Alana ingin sekali menanyakan Kana tentang gosip yang baru beredar. Tetapi dia tidak bisa karena ada Adam dan Bianna, orang baru yang belum tahu tentang Kana.


Tak Lama, Krishan datang dengan pakaian santai. Dia memakai kaos lengan panjang dan celana jeans. Matanya dengan cepat menangkap Kana yang duduk membelakanginya.


"Jia."


"Ah, Krish. Tolong gendong istrimu ini."


Bianna menganga saat melihat siapa orang yang baru datang. Dia langsung berdiri dan membungkukkan badan.


"T-tuan.."


"Tidak perlu seperti itu jika diluar." Ucap Krishan lalu duduk disebelah istrinya. "Bisa kita pulang, sweetheart?"


Kana mengangguk. "Baiklah, aku pulang, yaa. Hei, Bian. Awas kalau kau mengatakannya pada orang-orang kantor. Kau juga, Adam." Mata Kana tajam menatap laki-laki itu.


Kana berdiri dibantu Krishan karena sedikit sempoyong.


"Krish, gendoongg.." Kana merengek seperti anak kecil. Melihat itu, Bianna membelalakkan mata. Berani betul Kana pada tuan Krishan. Bagaimana jika tuan Krishan mengamuk?


Tidak seperti dugaan Bianna, Krishan berjongkok dan Kana dengan senang hati langsung menaiki punggung Krishan, melingkarkan tangannya di leher pria itu.


"Astaga, yang benar saja, Kana." Omel Alana yang tidak dihiraukan Kana. Wanita itu dengan bahagia melambaikan tangannya.


"Dadaah, besok kita bertemu lagi, yaa.." Katanya dan langung merebahkan kepalanya di punggung lebar Krishan.


Bianna masih menganga sambil melihati dua orang yang perlahan menghilang dari pandangannya.


"I-itu.. Serius??" Tanya Bianna masih tak bercaya.


"Memangnya atasanmu terlihat sedang bercanda?" Tanya balik Bastian.


"Jadi, Toko baru bernama Kanazya Jewels itu benar-benar Kanazya yang itu??"


Alana dan Bastian mengangguk serentak. Terdengar helaan napas Bianna.


"J-jadi aku berteman dengan Nyonya Yohan?? Astaga! Apa saja yang sudah kulakukan pada Nyonya Yohan selama ini? Apa aku pernah menyakiti hatinya?" Bianna mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri.


"Responmu inilah yang membuat Kana tak ingin mengatakannya pada siapapun. Kau dengar katanya tadi? Jangan bilang pada siapa-siapa, lalu bersikaplah seperti biasa." Jelas Alana yang menahan tawa melihat Bianna.


"Aaah.. Apa aku bisa bersikap biasa pada istri bosku??" Tanyanya sambil menyandarkan tubuhnya. Sementara Alana menertawakan Bianna yang terlihat mulai gelisah.

__ADS_1


Kegelisahan Bianna tak digubris lagi oleh yang lain. Mereka melanjutkan percakapan mereka sampai larut malam.


__ADS_2