Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Doctor's Diagnosis


__ADS_3

"Kudengar kau menikahi pria buta. Apa benar? Kau menikah dengan lelaki seperti itu? Apa kau tidak bisa memilih pria? Apa kau mencari seseorang yang mirip dengan ayahmu? Kenapa kau tidak bisa mencari laki-laki yang lebih baik?"


Kana terdiam sejenak. Apa-apaan ini, pertanyaan macam apa yang ia dapatkan dari Ibunya, tak satupun terdengar mengenakkan di telinganya.


"Apa yang seorang Ibu harapkan pada anaknya? Menantu yang kaya raya?"


"Setidaknya kau mendapatkan yang lebih baik dari seorang pria buta. Aku malu pada Inna saat dia mengatakan kau menikah dengan lelaki buta. Kupikir dia hanya bercanda karena menghinaku. Ternyata benar."


Kana tertawa lebar. Rasanya lucu saat Ibunya sendiri lari dari sang ayah, tidak pernah tahu kabarnya, saat bertemu pun tidak mengakui dirinya. Lalu sekarang merasa malu karena mempunyai menantu buta.


"Bukankah anda menganggapku tidak ada?"


Inka melebarkan matanya. "Kau bisa mengakuiku sebagai Ibu jika kau menemukan lelaki yang mapan dan baik untukmu."


"Dengar, Nonya Inka. Aku tidak akan mengakuimu sebagai Ibu saat aku menemukan lelaki yang seperti itu." Tukas Kana dengan tegas, lalu pergi meninggalkan Ibunya yang tak bisa berkata-kata dengan jawaban anaknya.


"Jia! Kau berani padaku?? Apa Anthony telah mengajarimu seperti ini padaku??"


Kana menghentikan langkahnya dan berbalik badan. "Ayahku mengajariku dengan sangat baik, Nyonya Inka. Aku juga tidak kekurangan kasih sayang seorang Ibu. Yang jelas, aku tumbuh menjadi perempuan yang tidak akan sanggup menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain."


Inka dan Kana terdiam cukup lama. Kana memandangnya dengan tatapan Kesal, sementara Inka menatapnya dengan terkejut karena tidak menyangka anaknya sampai tahu apa yang ia lakukan.


"Kau tidak tahu apa-apa, Jia. Kau tidak tahu betapa dunia ini tidak berpihak padaku. Dunia ini sangat berat bahkan.."


"Aku tahu! Aku sangat tahu. Aku tahu dunia ini berat bahkan saat aku anak-anak. Aku menjalani hidupku sendiri dari aku kecil!" Mata Kana mulai berkaca-kaca. "Aku merasakan kerasnya dunia ini padaku, seorang anak-anak yang menumpang di rumah orang untuk makan. Aku mencari uang, kerja ini itu demi menyambung hidup yang seharusnya masih dicukupi oleh orang tuaku." Kana menghapus air matanya yang mengalir tanpa ia kehendaki. "Aku hanya mengalah pada dunia yang sedang dikejar oleh Ibuku. Dunia yang dia puja-puja karena sebuah gengsi dan harta."


Inka terdiam. Dia sangat tahu saat Inna mengabarkan kematian Anthony.


"Jia, aku sebenarnya ingin membawamu. Tetapi suamiku melarangku."


"Untunglah aku tidak ikut denganmu. Aku lebih bangga pada diriku yang banting tulang dari pada hidup mewah bersamamu yang menjadi simpanan suami orang."


"Jika waktu diputar, aku tidak akan mau dilahirkan dari rahimmu, Nyonya Inka. Tidak akan mau." Kana menghapus air matanya.


Inka menundukkan pandangannya, menghalangi air mata yang hampir keluar.


"Kirim nomor rekening anda pada Alana. Aku akan transfer uang setiap bulan sebagai bentuk terima kasih karena sudah melahirkanku bersama seorang ayah yang hebat."


Kana melangkah pergi, dia sudah lupa dengan tujuannya keluar rumah setelah bertemu Ibunya. Walau begitu, sebenarnya dia merasa bersalah telah mengatakan hal seperti tadi. Tetapi mengingat betapa teganya Inka padanya, dia menjadi marah lagi.


Sedangkan Inka, menatap kepergian Kana dengan derai air mata. Dia tahu dan sangat sadar akan kesalahannya. Sakit hati atas ucapan Kana, tidak akan ada apa-apanya dibanding perbuatannya pada Kana.


"Sebenarnya aku hanya ingin kau menemukan laki-laki yang baik untukmu, Jia. Supaya kau tidak sepertiku." Gumamnya sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


...♡♥︎♡♥︎...


"Tuan.." Sean berlari kencang menemui Krishan yang berdiri di depan jendela.


"Tuan, Nona Kana menggunakan kartunya di sebuah butik."


Krishan berbalik badan. "Kapan?"


"Satu jam yang lalu, tuan."


"Kenapa kau baru mengabariku sekarang?" Bentak Krishan.


"Maaf, tuan. Dan Nona Kana menghabiskan ratusan juta."


"Bahkan jika dia menghabiskan hartaku pun tidak masalah bagiku. Antar aku kesana!"


"Tunggu, Tuan. Nona Kana juga menggunakan kartu untuk rumah sakit."


Krishan mengerutkan alisnya. "Dia sakit?"


"Nona Kana menggunakannya untuk dokter kandungan."


Krishan membulatkan matanya. "Antar aku kesana sekarang!" Ucapnya lalu dengan cepat menuju mobilnya.


Jia, apa dia hamil? Jantung Krishan berdetak hebat. Bukankah dia akan menjadi orang yang paling bahagia jika Jia hamil? Dia harus cepat supaya bisa bertemu Kana disana.


"Maaf, tuan. Anda harus menunggu antre." Ucap seorang perawat yang menghalanginya masuk.


Krishan menatap Sean dan seketika pemuda itu cepat bergerak.


Tak lama, Krishan sudah bisa masuk menemui dokter Margy, dokter kandungan yang ditemui Kana.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya sang dokter yang agak terkejut sebab kepala rumah sakit meminta lelaki itu masuk duluan dan memotong antrean.


"Begini, tadi istri saya datang kemari untuk cek kandungan."


Dokter Margy berdehem. Rasanya terlalu banyak perempuan yang mengecek kandungannya hari ini. Yang mana satu?


"Boleh saya tahu nama istri tuan?"


"Jia."


"Maaf, tidak ada yang bernama Jia disini."

__ADS_1


Krishan mengerutkan alisnya. "Dia kemari, saya yakin. Coba cek lagi."


Dokter dibantu perawat disebelahnya mengecek daftar nama pasien.


"Tidak ada yang bernama Jia, tuan."


"Namanya Kanazya, dokter." Sahut Sean dari belakang Krishan, membuat Krishan menoleh padanya. Seolah bertanya, bagaimana kau bisa tahu??


"Maaf, tuan. Saya ingat saat tuan mengucapkan janji pernikahan dulu." Bisik Sean dan itu cukup membuat Krishan tak menyahut lagi. Bisa-bisanya dia melupakan nama istrinya.


"Ya, ada." Jawab dokter Margy.


"A-apa dia hamil??" Tanya Krishan tak sabar sementara raut wajah dokter berubah masam.


Sebenarnya, dia enggan memberitahu. Apalagi ini melanggar peraturan. Tetapi, karena kepala rumah sakit yang bertanggung jawab, dia pun dengan berat hati memberitahunya. Toh, lelaki itu suaminya.


"Maaf, tuan. Dia tidak hamil. Tetapi ada penyakit di dalamnya. Nona Kana terkena miom pada rahimnya."


Bagai ada petir yang menyambar, Krishan menegang ditempatnya. Mendengar ucapan dokter Margy tubuhnya seketika melemas. Lidahnya bahkan sudah tidak sanggup berkata-kata.


"Maaf, dokter. Apa itu penyakit berbahaya?" Tanya Sean seperti tahu Krishan syok berat dengan pernyataan dokter Margy.


"Sebenarnya miom pada Nona Kana belum termasuk yang berat sehingga masih bisa disembuhkan dengan obat-obatan." Jelas dokter Margy.


"Apa saya bisa lihat alamat yang diberikan istri saya?" Tanya Krishan.


Dokter Margy menyerahkan selembar kertas yang diisi oleh Kana tadi. Namun, Kana menulis alamat rumahnya bersama Krishan dulu.


"Nona Kana mengatakan, kalau dia sering minum alkohol, itu adalah salah satu penyebabnya. Saya meminta tuan untuk membantu Nona Kana mengurangi alkoholnya. Karena itu bisa menyulitkan kalian untuk mendapatkan keturunan."


Krishan mengangguk lambat. Bagaimana bisa dia membantu Kana jika dirinya tidak bertemu dengan wanita itu.


"Apa ada janji temu lagi, dokter?" Tanya Sean dan langsung dianggukkan oleh Krishan.


"Ada. Dua minggu lagi."


Krishan langsung pergi setelah mendengar penjelasan dari dokter Margy. Dia berjalan cepat sekali, dadanya terasa sesak sebab ia tidak bisa menemukan Kana sama sekali bahkan disaat perempuan itu tengah sakit. Krishan sangat frustrasi. Namun begitu, dia tidak putus asa.


Krishan melangkah menyusuri jalan sendirian. Dia ingin mencoba mencari Kana lagi sampai langkahnya terhenti saat hidungnya berhasil mencium aroma istrinya.


"Jia.. Ada disini.." Gumamnya sambil menoleh kesana kemari, lalu matanya menangkap perempuan berambut panjang bergelombang, duduk sendirian di sebuah kursi taman.


krishan langsung berlari menghampiri perempuan itu. Dia menyentuh bahunya dengan gemetar.

__ADS_1


"Jia.."


Panggilnya dengan suara gemetar dan perempuan itu menoleh padanya.


__ADS_2