Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Get Caught by Krish


__ADS_3

Kana pulang ke rumah setelah mengobati hidungnya. Dia membuka pintu dan langsung merapatkan jari telunjuknya ke bibir saat melihat Marry menganga hampir mengeluarkan suara saat melihat hidung Kana.


Krishan yang menyadari Kana datang, langsung menoleh ke arah pintu.


"Jia, kau sudah pulang?"


Kana langsung berlari kecil ke arah Krishan dan duduk dipangkuan pria itu.


"Krish, ada berita baik." Ujarnya lalu mengecup pipi Krishan, melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya.


"Aku menemukan donor mata!"


"Benarkah?"


Kana mengangguk cepat lalu mennyentuh kedua pipi Krishan. "Kau akan segera bisa melihat." Katanya dengan nada yang amat gembira.


"Tapi, Jia.."


"Hm?"


"Kenapa kau bau darah."


Kana langsung menutup hidungnya. Dia juga melihat bercak darah di beberapa bagian bajunya.


"Ah, itu. Aku tadi terjatuh."


Krishan menyipitkan matanya. Lelaki itu terlihat curiga.


"Iya. Aku terjatuh tetapi sudah kuobati. Kau jangan khawatir." Tukas Kana kemudian berdiri. "Aku mandi dulu. Setelah ini, kita makan malam di luar, ya?"


Tanpa menunggu jawaban, Kana langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu. Sementara Krishan, dia mencium keanehan dari istrinya beberapa hari belakangan ini. Nampaknya, Kana memang menyembunyikan sesuatu darinya. Batin Krishan.


...◇◆◇...


Seperti biasa, pagi itu Kana mulai berlari dari rumahnya diikuti beberapa pengawal. Kali ini, Kana memasang earphone di telinganya, yang menghubungkan dengan rekaman percakapan langsung antar para tahanannya di ruang bawah markas Foldcury.


Kana berhenti sebentar, mengatur napas dan menenggak minumannya. Sejak tadi, tak ada percakapan diantara para tahanannya.


"Kalian tidak minum?" Tanya Kana pada pengawal-pengawalnya.


"Tidak, nona." Jawab salah satu dari mereka.


Kana diam beberapa saat ketika mendengar suara dari earphone-nya.


"Kau dalam bahaya."


"Pikirkanlah nasibmu sendiri."

__ADS_1


Kana mendengarkan seksama percakapan antara Danny dan Bastian.


"Aku tak sangka, ternyata kau adik Arex." Suara Felix kini terdengar.


"Lalu, apa rencanamu?"


"Aku harus berusaha menghubungi kak Arex."


"Hahaha. Usaha terbodoh. Kau pikir kau bisa melakukan itu sekarang?"


"Aku tahu, aku akan diselamatkan."


Terdengar gelak tawa Felix yang membuat Kana mengecilkan volume earphone-nya. Sangat mengganggunya.


"Kau bisa melakukannya. Jebak saja perempuan itu." Suara Danny kembali muncul. "Dia perempuan yang gampang dipengaruhi. Kau pasti tahu itu."


Kana menghela napas. Ternyata, seperti itu pandangan orang-orang padanya. Yah, baiklah. Mari kita lihat. Batin Kana. Dia melanjutkan larinya yang hampir sampai ke markas Foldcury.


~


Kana mengelap keringat dan duduk di sofa lobi. Matanya menangkap David dan Daniel yang berjalan ke arahnya. Mereka duduk dengan wajah yang tak bisa ditebak. David, dia hendak membuka mulut tapi Daniel langsung menyembur Kana dengan banyak pertanyaan.


"Apa yang kau lakukan, hah? Untuk apa kau menangkap Danny begitu? Aku sudah punya rencana sendiri untuk menghancurkannya! Lalu, Kau tahu siapa yang kau tangkap? Berapa orang yang terluka parah karena rencanamu itu? Kau hanya menangkap seseorang tapi mengorbankan banyak anggota! Kau gila? Seharusnya kau berkompromi padaku atau David sebelum melakukan tindakan itu. Jangan pikir, karena kau istri Yohan, kau bisa sesukamu!"


Kana mengelap keringatnya secara perlahan. Dengan malas dia mendengarkan ocehan Daniel yang nampaknya tak tahu apa-apa.


"Jia, apa kau tidak mengatakan ini pada Yohan?" Tanya David yang nada bicaranya lebih halus ketimbang Daniel.


"Dia Bastian. Adik Arex."


David menganga, sedangkan Daniel yang nampaknya tidak percaya malah tergelak kecil.


"Adik Arex? Kau bercanda? Kau tahu siapa dia? Dia itu seorang IT terkenal! Kau menculik orang sesukamu. Kau tidak lihat, dia bahkan tak punya catatan buruk." Sanggah Daniel.


"Itu kenapa kau tak bisa menyelesaikan masalah kecil dalam Foldcury. Pikiranmu cetek."


Ucapan Kana membuat mata Daniel terbelalak. "Apa kau bilang!"


"Hei, sudahlah. Dia pasti punya alasan kuat kenapa menangkap mereka." Kata David melerai kegaduhan diantara Kana dan Daniel.


"Aku tidak ada waktu untuk bercerita. Sean yang akan menjelaskannya."


Kana berdiri, dia melangkah menuju ruang bawah untuk menemui para tahanannya.


Kana melihat Bastian yang tangannya diikat ke atas dengan rantai. Kakinya berjinjit karena ikatan yang tinggi membuat kakinya tidak sampai menyentuh lantai.


"Tidak letih, Bas?" Tanya Kana yang memperhatikannya dari atas sampai bawah. Tangan dan kakinya pasti sangat lelah menopang tubuhnya.

__ADS_1


Mata Bastian menajam pada Kana. Dia bahkan tak tampak menyesal atas tindakannya.


"Kau sedang memperhatikanku dengan seksama, kenapa? Apa karena matamu akan buta sebentar lagi?"


Ucapan Kana membuat Danny dan Felix terkejut.


"Kana, kau gila?!" Pekik Danny.


"Kenapa? Apa mau matamu saja yang menggantikannya?"


Mendengar itu, Danny langsung membungkam mulutnya.


"Pikirkanlah nasibmu sendiri. Perusahaanmu sudah diambang kebangkrutan."


Danny menunduk, dia tahu saat ini, dia tak punya kuasa apa-apa bahkan atas dirinya sendiri.


"Aku akan mempertemukan kau dan kakakmu. Kau merindukannya, kan? Ku dengar dia sudah dalam perjalanan menuju kota ini. Jadi, bersiaplah." Ucap Kana yang tersenyum miring pada Bastian, sebelum akhirnya ia membalikkan badan untuk memulai latihannya.


"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Bastian dengan suara beratnya. Terdengar mengerikan tapi tidak bagi Kana.


"Ini kejutan untukmu yang terpisah lama dengan kakakmu. Nanti, kau akan menangis haru." Kana melambaikan tangan dengan senyum manisnya. Ia keluar dari ruangan itu, meninggalkan Bastian dengan wajah geram yang tak bisa ia lampiaskan.


"Sudah kubilang, kau takkan bisa melakukan apa-apa." Tukas Felix dengan tersenyum miring.


"Aku yakin, anak buahku pasti sudah menceritakan ini pada kakakku."


"Ya, ya. Berharap saja kau bisa hidup disini sampai mati." Kata Felix menutup pembicaraan mereka. Sudah dua bulan Felix di tempat itu. Sebagai tangan kanan dan pemberi informasi, tak membuat Felix dicari oleh Arex, orang yang sudah ia abdikan dirinya, tak membalas setetespun keringat yang sudah Felix berikan padanya. Sekarang, Felix sendiri sudah mulai pasrah. Jikapun ia dibunuh, maka dia tak bisa berbuat apa-apa lagi.


...●○●○...


"Tuan, mari ikut saya." Sean berdiri di hadapan Krishan. Lelaki itu menatap bayangan Sean dalam pandangannya. Dibawah terik matahari, Krishan yang tengah merawat tanamannya harus menghentikan aktifitas saat Sean muncul dan mengajaknya entah kemana.


Krishan berdiri perlahan. Dia melepas topinya. "Darimana saja kau?"


"Saya ada beberapa tugas dari nona Jia, tuan. Nona menyuruh saya membawa tuan ke rumah sakit untuk pemeriksaan mata pada pendonor."


Krishan diam sebentar, sebelum akhirnya dia berjalan ke teras depan. Dia duduk sementara Sean berdiri tak jauh di depannya.


"Dimana Jia?"


"Nona sedang di kantor, tuan. Nanti akan menyusul tuan ke rumah sakit."


Krishan memicingkan matanya. "Kau benar-benar mengatur emosimu, Sean. Aku tahu kau menutupi sesuatu."


Sean mengangkat pandangannya naik melihat Krishan yang tak berekspresi. Sean tahu, jika seperti itu, Krishan membutuhkan penjelasan.


Sean menelan ludahnya. Apa yang harus ia katakan? Bagaimana jika ia ketahuan berbohong? Lalu, bagaimana pula rencana nona Jia yang sudah matang? Sean memilih diam sebelum akhirnya Krishan berdecak.

__ADS_1


"Jika kau tak menjawab, maka aku akan mengeluarkanmu." Ancam Krishan dengan dagu yang mulai terangkat.


Tbc


__ADS_2