
"Ibu, Cukup!!" Pekik Alana.
"Apa!" Inna menatap anaknya, sementara Kana sudah memohon dengan matanya, supaya Alana tidak cerita apapun pada Ibunya.
"Aku hanya ingin bilang, kalau kau sebaiknya menemui ibumu dan perkenalkan suamimu yang buta itu padanya. Itu saja!"
"Saya akan perkenalkannya nanti, Bu."
"Sudah kubilang jangan panggil aku Ibu!" Pekiknya pada Kana.
Kana tertunduk, dibentak Inna di depan Alana sudah biasa. Tapi di depan Bastian, lain ceritanya.
"Hah, setiap melihatmu pasti amarahku memuncak. Sialan."
"Ibu! Berhentilah. Keluar saja jika ingin mengacau!" Tukas Alana dengan tegas pada Ibunya.
"Kau selalu membelanya! Apa kau tidak sadar, kau selalu melawanku karena dia!"
Alana membuang napasnya dengan kasar. "Jangan ganggu kami, bu. Kumohon." Ucapnya dengan nada yang mulai melembut.
Inna tampak tak peduli. Dia menatap lagi ke arah Kana. Tidak puas rasanya jika tidak menghujat wanita itu.
"Aku sebenarnya prihatin dengan hidupmu. Ibumu melacur, sekarang kulihat dia sudah mulai hidup susah. Kudengar dia diusir dari butik karena tidak mampu beli. Hahah. Hidupnya penuh derita. Lalu kau.." Inna menatap Kana dari atas sampai bawah. "Kau juga menikah dengan lelaki buta. Mengenaskan."
"Ibu, berhentilah. Ibu tidak tahu bicara pada siapa!" Pekik Alana.
"Jelas aku tahu. Aku saangat tahu." Inna memandang Kana dengan tatapan jijik, lalu mulai berjalan keluar. Namun ia balik lagi saat merasa ada ucapan yang belum ia sampaikan.
"Aah, aku akan memberikan hadiah pernikahan yang belum jadi kuberi. Aku selalu lupa hahah, maafkan aku, ya." Ucapnya sembari pergi, namun dia terkejut saat di depannya seorang lelaki tinggi menghalangi pintu.
"Sudah kubilang, aku tidak butuh hadiah darimu."
"Krish.." Kana menelan ludah. Ia takut Krishan akan berbuat hal yang aneh-aneh pada Ibu Alana.
"Ah, kau rupanya. Jangan terlalu sombong. Aku rasa uang 250ribu sudah cukup banyak untuk kalian."
"Lebih baik anda pikirkan nasib anda kedepannya." Ujar Krishan dengan nada berat. Sesaat dia tahu yang dihadapinya adalah ibunda Alana dan itu cukup sulit karena Kana pasti tidak akan membiarkannya untuk memberikan pelajaran pada wanita tua itu.
"Krish.."
Krishan memandang istrinya yang tampak memohon dari wajahnya.
"Wah, apa kau sudah bisa melihat? Haha luar biasa. Apa dana operasimu cukup untuk membayar iuran rumah sakit perbulan? Aku tahu kalian mengutang. Haha. Hei, Kana. Cepat kau bilang pada ibumu kalau suamimu sudah tidak buta lagi. Supaya dia tidak stres berat memikirkan itu. Hahaha."
Inna keluar dengan tertawa lebar, sementara Kana langsung berhambur kepelukan suaminya. Menangis disana.
"Jia, apa yang harus kulakukan?" Krishan mengusap lembut kepala istrinya.
Kana menggelengkan kepalanya, lalu mendongak, menatap suaminya yang wajahnya terlihat ikut bersedih. "Jangan lakukan apa-apa. Kumohon." Bisiknya pada Krishan dan laki-laki itu mengangguk, mengecup puncak kepala Kana.
__ADS_1
"Krish, kumohon. Maafkanlah ibuku." Pinta Alana dengan memelas.
"Aku mengerti." Ucapnya pada Alana. "Kita pulang, sayang?"
"Tidak, Krish. Aku mau disini sebentar lagi."
"Aku akan menjemputmu dua jam lagi." Krishan mengecup kening Kana lagi dan langsung keluar dari rumah itu.
"Kau lihat perempuan tadi?" Tanya Krishan pada Sean.
"Ya, tuan."
"Apa sudah kau laksanakan tugasmu?"
"Sudah, tuan. Tidak ada promosi jabatan dan pengurangan gaji 40%."
Krishan mengangguk. Belum kapok rupanya.
"Adakan acara besar untuk seluruh perusahaan dibawah KGroup. Katakan, Yohan akan datang kesana."
"Baik, tuan."
Krishan memakai kacamata hitamnya, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan oleh Sean. Mobilpun berjalan meninggalkan rumah Alana.
"Maaf, Bas. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu." Kana tertunduk, dia malu pada Bastian tentang kejadian tadi. Dia juga merasa bersalah karena sudah menyembunyikan sesuatu dari Bastian. Padahal Kana juga merasa, kalau lelaki itu menyukainya.
"Benar. Aku menikah dengan lelaki buta yang kemarin bertemu denganmu. Dia suamiku, tapi dia menyuruhku untuk menutupinya dari siapapun."
"Kenapa begitu?"
Kana menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak paham pada awalnya, walau dia mulai mengerti tetapi dia takkan bercerita pada Bastian.
"Aku juga tidak paham."
Bastian menundukkan pandangan. Ada rasa sedikit kecewa dalam hatinya karena ia menyukai gadis itu.
"Aku juga minta maaf soal kejadian tadi. Ibuku.. memang sedikit emosional dan kasar." Suara Alana mengecil, dia sangat menyadari perilaku buruk ibunya.
"Kana, jika suamimu ingin menghukum ibuku, aku tidak masalah. Tapi, kumohon jangan melukai fisiknya."
"Apa yang kau katakan, Alana. Itu tidak mungkin. Krishan tadi hanya emosi sesaat. Aku akan mengatakan padanya lagi nanti." Tukas Kana lalu memeluk Alana.
"Bukan begitu, Kanaaa.." Alana melepas pelukan sahabatnya. "Apa kau tidak mengerti? Timbercoperation, tempat ayahku bekerja, adalah perusahaan suamimu."
"Apa?" Kana membulatkan matanya.
"Astaga, sudah kuduga kau tidak tahu. Aku sudah menduganya saat pertama kali mendengar ceritamu. Aku berpikir, mungkin kenapa promosi ayahku dibatalkan dan gajinya dipotong adalah karena Ibuku yang menyinggung perasaanmu."
Kana menganga, dia tidak pernah menyangkakan hal itu.
__ADS_1
"K-kau.. serius?"
"Itu hanya prasangkaku saja." Jawab Alana lagi.
"Tunggu dulu. Siapa sebenarnya suamimu, Kana?" Tanya Bastian yang sejak tadi belum begitu memahami percakapan dua orang itu.
"Kau kenal Yohan? Pemilik K-Group."
"Ya, tentu saja aku kenal."
Alana menunjuk Kana. "Yohan itu suaminya. Laki-laki yang baru saja datang kesini."
"A-apa?" Kini, Bastian yang menganga kaget.
"Hmp. Kau juga sama saja." Desis Alana sambil menopang dagunya.
...◇◆◇◆...
"Hei, Inka. Aku baru bertemu anakmu. Apa kau sudah melihat menantumu itu?"
Inka duduk setelah membuatkan teh untuk orang yang ia tahu, sengaja datang untuk menghina dan merendahkannya sepuas hatinya.
"Sudah kuduga, pasti belum." Ucapnya sinis setelah melihat Inka yang hanya diam.
"Suaminya sudah tidak buta lagi."
"Benarkah?"
"Bersenanglah kau, suaminya sudah tidak buta lagi. Kau tahu kan, suaminya memang tampan dan gagah. Tak kusangka kau dan anakmu itu sama persis, memilih laki-laki yang seperti itu. Satu selera." Ucapnya sambil menyeruput teh yang disediakan Inka.
"Aku sudah memberi alamatmu padanya. Kau tunggu saja. Dia akan datang kemari menemuimu."
Inka tidak menjawab. Dia tahu anaknya tidak mungkin mengunjunginya karena perdebatan kecil waktu itu.
"Ah, satu lagi. Anakmu terkena miom di rahimnya."
"A-apa kau bilang?"
"Aku mendengar itu dari Alana. Sebaiknya kau menemui anakmu sebelum kau menyesal di akhir hidupnya. Yah, kau tahu kan, itu juga penyakit berbahaya." Ucapnya sambil berdiri.
"Aku prihatin. Hidupmu dan anakmu, sama saja. Sama-sama menyedihkan." Ucapnya lalu pergi.
Inka tak lagi memperdulikan ucapan Inna yang ucapan buruknya sudah kebal di hatinya. Hanya setelah mendengar bahwa anaknya sakit, adalah hal yang membuatnya menyesal. Benarkah? Jia tengah mengidap penyakit rahim?
Inka menangis. Selama ini, mendengar Jia menikah dengan lelaki buta memang membuatnya bersedih, tetapi mendengar Jia sakit parah, membuat seluruh tulangnya serasa patah. Jantungnya berdegub sangat kencang. Akankah anaknya juga akan menyusul suaminya?
Ah, Jia. Padahal baru saja mereka bertemu, walau bertengkar kecil tidaklah masalah asal dia melihat anak satu-satunya itu tetap hidup.
Bersambung...
__ADS_1