
Aku menatapnya dari atas sampai bawah. Sherly, aku hampir tak mengenalinya. Matanya cekung, rambutnya berantakan, wajahnya pula terlihat sangat lelah. Tetapi sorot matanya menunjukkan betapa dia tersiksa dengan hidupnya, ditambah dengan kehadiranku. Sherly yang kulihat sekarang, sangat berbeda dari biasanya. Benarkah dia mencintai Krishan sampai seperti itu?
Aku melihat Krishan. Pria itu juga menatapku dengan perasaan cemas. Dia pasti mengira kalau aku akan termakan oleh kata-kata Sherly.
"Hei, sialan. Beraninya kau unjuk wajah dihadapanku! Aku tahu, kaulah yang mempengaruhi Krishan dan menipuku! Pasti kau yang selama ini menghalang-halangi aku bertemu dengan Krishan!" Sherly mengotot, dia terus berusaha melepaskan ikatan tangan di belakang bangkunya.
"Jia, sebaiknya kita pulang saja. Biar Sean yang mengurusnya."
Aku tak mendengarkan ucapan Krishan. Mataku terus tertuju pada Sherly lalu aku berdiri di hadapannya.
"Aku akan membayar harga yang sudah kau keluarkan untuk suamiku."
"Cih!" Sherly tersenyum sinis. "Kau takkan mampu membayarnya. Usahaku untuk mendapatkan kornea bukan hal kecil. Lalu kalian membalasku dengan seperti ini. Sungguh dunia harus tahu siapa dirimu sebenarnya!"
"Krish, bisa tinggalkan aku berdua dengannya?"
Krishan tak langsung menjawab sampai aku memandang lurus padanya, menatapnya dengan yakin kalau aku bisa mengatasi ini dengan baik.
Krishan keluar dan diikuti oleh pengawalnya. Tinggallah aku dan Sherly di ruangan itu.
Aku duduk di depannya. Bagaimanapun aku dan dia adalah perempuan. Rasa cinta Sherly, aku sangat memahaminya saat ini. Hanya saja, itu semua sudah lama berakhir dan harus dihentikan sekarang juga.
"Sherly, mari bicarakan ini baik-baik."
"Baik-baik, katamu? Kalian menipuku dan kau minta bicara baik-baik?"
Aku sangat bisa melihat betapa Sherly tidak menyukaiku. Apakah aku bisa merubah sedikit saja cara berpikirnya itu..
"Kau sendiri yang melapor padaku soal operasi mata itu. Aku benar-benar tidak tahu dan meninggalkan Krishan saat dia melakukan operasi atas bantuanmu. Lama aku pergi hingga beberapa minggu. Krishan menunda untuk mengatakannya padaku karena dia takut aku menolak, tapi memang aku pergi meninggalkannya."
Sherly tak menyangkal, karena mungkin dia tahu itu.
__ADS_1
"Lalu dia mencariku sampai seperti orang gila, karena dia tidak tahu wajahku, tetapi dia mencintaiku. Kau tahu bagaimana itu bisa terjadi, Sherly?"
Sherly membuang wajahnya. Dia enggan menatap ke arahku.
"Sebab itulah aku kembali padanya. Karena aku bisa merasakan cinta tulus itu dari Krishan. Kau sendiri pasti bisa melihat itu. Aku yakin."
"Lalu perasaanmu, aku minta maaf soal itu. Tidak mungkin aku meminta Krishan menerimamu. Jelas dia akan menolak itu." Sherly langsung menoleh dan menatapku dengan tajam. "Kau sudah pernah punya kesempatan itu dan kau membuangnya dengan kejam."
"Itu sebabnya aku ingin memperbaikinya lagi! Semua gara-gara kau! Kalau saja kau tidak datang, aku pasti bisa bersama Krishan lagi!"
Sherly belum juga mengerti ternyata. Susah sekali meyakinkan seseorang yang hawa napsunya sudah diujung. Sherly, dia pasti akan terus berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Kau tidak bisa meraihnya kan, Sherly. Kau pasti tidak bertemu Krishan sejak dia mulai operasi itu. Kau merasakannya, kan, betapa besarnya usaha Krishan menolak untuk bertemu denganmu. Kau pasti selalu dihadang pengawalnya. Dia.. sampai seperti itu karena tidak ingin bertemu denganmu. Bukankah sesuatu yang dipaksakan itu.. tidak akan baik ujungnya?"
Lagi, Sherly membuang wajahnya dengan kesal.
"Kita sama-sama perempuan. Aku ingin kau mendapatkan cinta yang pantas. Bukankah menyenangkan bisa mencintai dan dicintai, Sherly?"
"Menjauhlah dari kami sebelum hidupmu semakin berantakan, Sherly. Kau masih bisa memperbaikinya sekarang."
"Jangan buang-buang waktumu untuk sesuatu yang kau sadar, kau tidak bisa mendapatkannya. Sayangi dirimu, dan waktu yang tersisa. Jalani apa yang sudah kau mulai, aku tahu dia sangat mencintaimu."
Sherly mengerutkan dahinya. Aku yakin dia paham yang kumaksud adalah tunangannya.
"Jia, apa sudah selesai. Lama sekali." Krishan tiba-tiba masuk dan mengusap kepalaku. Dia sedang mengecek keadaanku dengan sorot matanya yang menatapku dari atas sampai kebawah.
"Krish, lepaskan dia."
"Apa? Jia, kau tahu apa yang dia lakukan pada kita?"
Aku mendongak pada Krishan yang berdiri disebelahku. "Aku sudah bicara dengannya secara baik-baik. Jika dia tidak juga berubah, maka aku sendiri yang akan turun tangan untuk menindaknya dengan kekerasan. Tapi aku tahu itu takkan terjadi." Ucapku sembari menatap ke arahnya.
__ADS_1
Krishan melihat Sherly dengan tatapan menyelidik. Kurasa dia belum rela melepaskan Sherly tanpa memberinya pelajaran. Tapi dari kemarin Krishan tak juga menitahkan sesuatu pada anggotanya karena kuyakin, dia bingung harus melakukan apa pada seorang wanita.
"Lepaskan dia, Krish."
Krishan menghela napas berat tapi dia menurutiku. "Sebagai gantinya, kau harus pergi dengan pengawal kemanapun itu." Tukasnya sambil memegang daguku dan aku mengangguk cepat.
Krishan menaikkan dagunya sebagai perintah pada para anggotanya. Mereka dengan cepat membawa Sherly keluar, mungkin membebaskan dan mengantar pulang wanita itu.
Aku meraih tangan Krishan yang mengulur padaku. Lalu aku memeluk pinggangnya sambil berjalan keluar.
"Kau bicara apa padanya, sayang?"
"Bicara masalah perempuan. Laki-laki tak perlu tahu."
Krishan tersenyum lalu meletakkan benda kecil yang ia ambil dari telinganya dan menaruhnya di atas meja dengan sembarang. Apa itu? Apa sejak tadi Krishan tengah menelepon? Entahlah. Kamipun pulang ke rumah setelah hari lelah ini. Besok adalah hari peresmian toko perhiasanku. Kami harus bersiap untuk itu.
...****...
Hari itu tiba. Dimana kini kami berdiri menyaksikan orang nomor satu di KGroup berdiri dengan pidato yang tak kudengarkan isinya. Mataku hanya fokus mengunci wajah Krishan yang lagi-lagi membuatku terpesona. Ingin rasanya kumenyeretnya saja ke dalam ruangan yang hanya muat kami berdua di dalamnya, bercinta saja daripada dia harus berdiri menjadi pajangan mata perempuan-perempuan disini. Untunglah, pria luar biasa itu adalah milikku.
Mata Krishan beberapa kali menatap ke arahku sambil bibirnya berbicara entah apa. Aku menatapnya seperti ingin memangsa. Tersenyum nakal sambil menggigit bibir. Aku tahu, aku tahu. Dia tak berkedip ke arahku lalu dia diam sejenak. Kau terkena jeratku, Krish. Dia tersentak saat Sean menyenggol pelan lengannya.
"Ah, maaf." Ucapnya lalu melanjutkan pidatonya lagi. Aku tertawa tanpa suara, penuh kemenangan. Aku hanya tinggal menunggu nasibku saja, aku tahu setelah ini dia akan menghukumku karena aku berani mengusiknya. Ah, Krish.. apa sesuatu telah mengeras dibawah sana? Tanyaku hanya dengan lirikan mata ke bawahnya, lalu menatapnya lagi dengan senyuman mengejek. Dia melihatku dengan tatapan seolah aku ini mangsa yang sulit ditemukan. Aku menunduk sambil tertawa pelan karena takut orang-orang menyadari tatapan Krishan yang mengarah padaku.
Krishan menggunting pita, disambut meriah tepuk tangan para tamu yang hadir. Mereka semua dipersilakan masuk ke dalam gedung untuk melihat-lihat perhiasan yang sudah dipajang sesuai dengan urutannya yang termahal. Para tamu wanita sangat antusias, apalagi mereka yang menggandeng pria kaya di acara itu.
"Nona, tuan memanggil anda ke ruangan khusus." bisik Sean padaku.
Aah. Benar, kan? Ini salahku karena aku yang memulai padahal aku bersama Alana dan Bianna, juga Bastian sedang asyik mengobrol.
"Apakah harus?" bisikku lagi dan Sean mengangguk.
__ADS_1
Aku menarik napas panjang. Rasakan balasanmu, Kana. Ini karena kau sendiri. Gumamku dalam hati.