Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
All Feelings Unite


__ADS_3

"Jadi, kau sudah menemukan jawabannya?" Tanya Kana saat di dalam mobil.


Krishan mencium tangan Kana yang ia genggam. "Aku mengerti, sweetheart. Terima kasih sudah memberikan nama kecilmu padaku."


Kana tersenyum, walau awalnya memang dia memberikan nama kecilnya supaya lelaki buta itu tidak mengetahui banyak hal tentangnya. Namun nyatanya sekarang, mereka saling jatuh cinta hingga hidup sebahagia sekarang.


"Krish, aku mentansfer uang banyak pada ibuku."


Krishan tersenyum, dia sudah mengetahuinya karena notif saldo yang keluar bahkan muncul di ponselnya.


"Bukan hal besar. Uang segitu kudapatkan setiap satu jam."


"Baiklah, tuan Yohan." Ledek Kana lalu menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


...☆★☆...


Inka turun dari mobil yang menjemputnya. Dia mendongak untuk melihat gedung hotel yang megah di hadapannya. Dulu ia sering kemari saat masih menjalani masa romantis bersama suaminya yang sekarang bahkan sudah tidak memperdulikannya lagi. Dia harus menelan kenyataan bahwa suaminya lebih memilih istri pertama karena dirinya yang sudah menua dan mungkin tidak menarik perhatiannya lagi.


"Ibu."


Kana baru keluar dari mobil yang dibukakan pintunya oleh seorang pengawal.


"Ayo, masuk bersama."


"Mana suamimu?" Tanya Inka yang melihat putrinya datang sendirian.


"Krishan sedang ada pekerjaan tadi. Nanti dia akan datang." Ucap Kana sambil melangkah masuk.


Inka terheran melihat deretan pengawal yang membungkuk pada Kana saat lewat. Gadis itu hanya melangkah saja.


"Jia, apa ini semua pengawalmu?" Tanya Inka penasaran.


"Bukan. Mereka anak buah Yohan."


"Maksudmu Yohan pengusaha besar itu?"


Kana mengangguk lalu masuk ke dalam lift. Inka menoleh ke orang yang ikut masuk lalu berdiri di belakang mereka.


"Kenapa mereka mengikuti kita?" Bisik Inka pada anaknya.


"Karena mereka pengawal kita." Jawab Kana dengan santai.

__ADS_1


Inka masih belum mengerti. Entah mengapa dia merasa Kana berlebihan menyewa pengawal hanya untuk masuk ke dalam hotel. Padahal menurutnya, hotel itu sudah pasti aman.


"Nona Kana." Seorang wanita membungkukkan badan, menyambut mereka di lantai paling atas.


"Sebelah sini." Katanya lalu berjalan mengarahkan tempat yang sudah dipesan oleh Krishan.


Wanita itu membukakan pintu, lalu Kana masuk ke dalamnya.


Kana melihat ibunya yang membulatkan mata. Dia takjub sampai tubuhnya memutar untuk melihat sekitarnya.


"Tempat ini.. apakah dari kaca??" Tanya Inka dengan mulut yang masih menganga.


"Iya, tenang saja ini aman." Ucap Kana sembari duduk.


"Ibu, duduklah." Kana menahan tawa. Melihat reaksi ibunya, dia teringat dengan dirinya saat pertama kali Krishan membawanya ke ruang ini.


"Ibu, pesanlah dulu. Sebentar lagi Krishan akan sampai."


"Mana menunya?" Tanya Inka.


"Pesan saja apapun yang Ibu mau. Mereka menyediakan semuanya."


Seorang pelayan masuk, lalu mencatat makanan yang mereka pesan. Tak lama, Krishan pun datang.


"Selamat malam, sayang." Krishan mengecup puncak kepala Kana lalu duduk disebelahnya.


"Aku memesankanmu steak, apa tidak masalah?" Tanya Kana.


"Tidak masalah, sweetheart."


Pintu diketuk, lalu dua orang masuk ke dalam. Melihat siapa yang masuk, Inka langsung membelalakkan mata.


"Jia, kau mengundangnya?" Tanya Inka dengan nada pelan.


"Selamat malam, tuan Yohan. Maaf kami terlambat." Raymon membungkukkan badan, begitu pula istrinya.


Inka lagi-lagi menganga, menatap ke arah menantunya. 'Tuan Yohan, katanya?' Batinnya bertanya.


Raymon melihat ke arah Kana dan ibunya yang duduk di meja itu. Dia terheran, mengapa mereka juga ada disana.


Raymon dan istrinya duduk di bangku yang tersedia.

__ADS_1


"Terima kasih. Sebuah kehormatan bagi saya dan istri telah diundang makan malam bersama tuan Yohan." Ucap Raymon pada Krishan yang hanya tersenyum.


"Silakan pesan makanan kalian." Ucap Krishan pada dua orang yang baru datang itu.


"Jangan sungkan. Disini saya bukan atasan anda. Anggap saya menantu." Lanjut Krishan lagi.


Raymon menganga dengan ucapan pimpinannya itu. Menantu katanya?


"Kemarin ayah memintaku untuk memperkenalkan suamiku pada Ayah. Itu sebabnya aku mengundang ayah makan malam saat ini. Ini Krishan, suamiku." Jelas Kana.


Krishan menggenggam tangan Kana sembari tersenyum pada orang yang sudah dianggap ayah oleh istrinya.


Lidah Raymon kelu. Suami, katanya? Bagaimana bisa Kana menikah dengan pimpinan tertinggi perusahaannya? Dia lalu menatap istrinya yang tak berani mengangkat wajah, dia ingat betul cerita istrinya bahwa Kana menikahi lelaki buta. Apanya yang buta? Apakah matamu yang buta, Inna? Batinnya.


"Ja-jadi..." Inka ikut terkejut. Dia baru mengetahui bahwa menantunya adalah seorang Yohan yang namanya sering disebut-sebut tetapi tidak pernah tahu rupanya.


Kana pula tidak bisa menahan senyumnya. Dia sengaja mengundang ibu Alana. Kana menyuruh Krishan yang mengundang, sebab jika Kana, dia tak yakin Inna mau datang.


"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku?" Bisik Raymon pada istrinya. Dia juga menahan amarah. Kini dia paham apa yang telah terjadi. Kenapa akhir-akhir ini istrinya menjadi pendiam, ternyata karena hal ini.


Acara makan malam berlangsung dengan hawa canggung. Walau Kana berusaha membuat suara, namun nampaknya Raymon, Inna dan ibunya tak banyak bicara. Mereka bertiga tengah syok dengan apa yang terjadi sekarang.


"Terima kasih atas undangan makan malamnya, tuan Yohan. Kami pamit." Raymon membungkukkan badan, lalu melangkah pergi bersama istrinya.


"Apa ibu puas?" Kana menatap Ibunya dengan senyum lebar.


"A-apa maksudmu?"


"Pertama, aku mengenalkan ibu dengan menantu yang jauh diatas kriteria yang ibu inginkan. Kedua, musuh ibu kalah telak sampai tak berani mengangkat kepalanya. Bukankah selama ini ibu ingin membalas penghinaan darinya?"


Inka menunduk. Putrinya benar. Selama ini dia menahan penghinaan yang sering dilempar Inna padanya, bahkan didepan teman-teman sosialitanya. Dia harus terus merasa malu, walau dia menyadari yang dikatakan Inna selalu benar adanya. Hanya saja, dia tidak bisa membalas dan itu sangat menjengkelkannya.


Tetapi dia juga merasa malu. Kana sendiri bilang jika pun anaknya itu menemukan menantu seperti yang ia pernah ucapkan, Kana takkan mau mengenalkannya. Tetapi sekarang, Kana malah membuatnya seperti berada di atas awan.


"Jia.." Kerongkongan Inka terasa tercekat. Dia mulai mengeluarkan air mata yang sejak kemarin ia tahan saat bertemu anaknya.


"Ji-jia.. maafkan aku.." Inka menutup wajah dengan kedua tangannya. Rasanya sedih, senang, dan malu bercampur menjadi satu.


Kana memeluk ibunya. Dia mengelus lembut punggung yang sudah sekuat tenaga memberi makan dirinya sendiri tanpa memikirkan anaknya. Kana membenci ibunya, bahkan setelah Inka terang-terangan tidak mengakui dirinya. Tetapi setelah menikah dan memikirkan untuk punya anak, perasaan itu perlahan meluruh.


Perasaan benci itu tidak sepenuhnya hilang. Hanya saja rasa kasihan lebih dominan saat ini. Dia mengasihani perempuan yang membuang kasih sayang untuknya hanya demi mengejar harta dan popularitas. Dia mengasihani perempuan tua yang saat ini tengah bertahan hidup. Kana bukan tidak sakit hati. Jelas ibunya sangat menyakiti perasaannya. Namun rasa itu seperti memudar setelah ia melihat kamar Ibunya yang penuh dengan fotonya, membuat Kana semakin ingin mengubur rasa bencinya. Biarlah, dia akan membantu ibunya mulai sekarang. Dia akan mencoba memaafkan ibunya dan memulai semuanya dari awal lagi. Tanpa ia sadari, air mata ikut mengalir di pipinya..

__ADS_1


__ADS_2