
Krishan menarik pinggang Kana, merapatkan tubuh istrinya yang sudah terlelap duluan. Dia merasa bersyukur sebab istrinya itu tetap mau dipeluk dari belakang seperti biasa, walau beberapa kali ia kena semprot oleh Kana.
Krishan melengketkan hidungnya di tengkuk istrinya itu. Dia belum bisa tertidur walau sudah mencoba memejamkan mata sedari tadi. Krishan terus terpikir soal tato di dadanya.
Tadi dia sempat bilang pada Kana bahwa dia akan menghapus inisial itu atau diubah ke huruf lain, tapi dengan cepat Kana menolak inisial namanya ditulis disana.
"Jangan coba-coba tulis namaku di dadamu! Aku tidak suka namaku diletak di bekas nama perempuan itu!"
Lalu akhirnya Krishan tidak jadi mengubahnya. Tetapi Kana masih saja mengoceh tentang itu.
"Kenapa tidak kau bolongi saja dadamu, itu? Bikin kesal saja." Tukas Kana tadi dan berhasil membuat Krishan murung.
Sebenarnya Krishan lebih memilih Kana mengamuk saja, atau melempar vas bunga ke wajahnya dari pada Kana pura-pura memaklumi tetapi sering menyindir-nyindir dirinya.
Dia bingung, bagaimana caranya supaya Kana tidak marah-marah lagi. Hal yang paling Krishan tidak suka adalah dicereweti, direpeti, apalagi oleh Kana. Ah, untunglah dia cinta. Sebab Krishan pasti langsung mencekik orang yang berani merepetinya. Tapi karena ini Kana, dia pasrah saja dan harus menemukan solusi sebelum Kana menyemprotnya lagi.
Tadi awalnya, Kana tidur sambil memeluk Krishan dari depan. Lalu saat Kana memendamkan wajahnya di dada suaminya, perempuan itu tiba-tiba memukul dada Krishan, entah mengapa. Lalu dia membelakangi tubuh suaminya.
Krishan sampai memekik akibat pukulan yang tiba-tiba itu. Tapi tidak apalah. Toh, istrinya masih mau dipeluk dari belakang.
"Jia.." Krishan mencoba memanggil istrinya, namun nampaknya Kana memang sudah tertidur. Dia bisa mendengar napas teratur Kana.
"Aku sangat mencintaimu." Bisiknya lalu mengecup tengkuk Kana, tempat favoritnya.
...♡♥︎♡♥︎...
Krishan berencana mengajak istrinya makan malam romantis untuk menghilangkan suasana hatinya yang masih buruk. Tetapi Kana menolak karena dia pulang terlambat.
Suara pintu terbuka membuat Krishan menoleh. Dia merasa sepi sejak tadi menunggu istrinya pulang.
"Baru pulang, Jia?"
"Hm, ada acara teman kantor yang berulang tahun." Kana langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
"Tapi suaramu terdengar tidak enak." Ucap Krishan sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Iyaaaaaa!"
Krishan terkaget, Kana tiba-tiba berteriak.
"Aku benci sekali pada mantanmu itu!!! Aaaaaahh!!"
Krishan menahan napas, kira-kira apa lagi yang terjadi hari ini? Padahal yang kemarin saja belum selesai, malah menambah masalah lagi.
Kenapa Sherly suka sekali mengganggu Kana? Nampaknya Krishan perlu melakukan sesuatu supaya istrinya itu tidak bertemu dengan Sherly lagi di kantor.
"Krishh!! Kau masih berhubungan ya, dengan wanita gila itu??"
Wanita gila? Maksudnya Sherly?
"Mana mungkin, Jia. Kau hanya dikerjai olehnya, supaya kita bertengkar." Jawab Krishan dengan tenang.
"Aku juga menebaknya begitu! Tapi yang diucapkannya selalu berhasil membuatku berpikir!" Kana duduk bersandar di tempat tidur.
"Ada apa? Apalagi yang dia katakan?" Krishan bergeser, mendekat ke istrinya.
"Katanya dia akan menolong perusahaanmu bangkit kembali!"
__ADS_1
"Jia, itu tidak mungkin. Dia takkan bisa." Ucap Krishan sambil menggenggam tangan Kana.
Kana melepaskan genggaman Krishan dengan kesal. "Dengar ya, Krish. Aku tidak suka kalau kau berhubungan apapun dengan wanita itu. A-PA-PUN!" Intonasi ketus Kana sangat jelas. Dia benar-benar akan membatasi Krishan pada Sherly.
"Kalau sampai aku dengar kau mengobrol iseng atau apalah itu, aku tidak akan diam! Aku tidak ingin lagi melihatmu."
"Jia, aku tidak ada hubungan apapun lagi." Krishan terdetak mendengar ucapan Kana yang sepertinya tidak main-main.
"Dia masih menemuimu, kan, di tokomu. Dia kesana, kan?" Kana terisak, rasanya sesak setiap kali Sherly bercerita tentang Krishan yang dulu dan segala macam. Seolah-olah hanya dialah yang paling tahu Krishan.
"Jia.. maafkan aku. Yang bisa kulakukan hanya tidak memperdulikannya saat dia datang. Aku tidak bisa melakukan hal lain." Krishan merasa bersalah.
"Aku sangat kesal setiap melihatnya. Aku benci!" Kana menghapus air mata yang mengalir di pipinya.
Krishan menggeser duduknya, mendekat ke Kana. Namun Kana menahan tubuh Krishan dengan tangannya.
"Krish, jawablah dengan jujur. Apa kau akan operasi mata karena mendapat donor dari dia?"
"Dia memang menawarkan, Jia. Tapi aku menolaknya."
"Dia bilang kau menerimanya!!" Bentak Kana.
"Tidak, sumpah. Aku memang berencana untuk membeli saja darinya tapi dia menolak tawaranku."
"Kenapa dia menolak??" Tanya Kana dengan suara parau.
"Dia.. menginginkan hal lain, sayang." Ah, rasanya Krishan salah bicara.
"Apa? Apa hal lain itu?"
"Dia minta kembali padaku. Tapi aku menolaknya. Aku hanya ingin membelinya tapi dia tidak mau jadi .."
"Jia, aku tidak menerima itu."
Kana terisak lagi. "Terserah padamu, Krish."
"Hei, apa yang kau katakan, Jia?" Krishan menggeser lagi duduknya.
"Jia, sumpah, aku tidak menerimanya." Krishan menggenggam tangan Kana dengan erat. Dia mulai takut dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut istrinya.
Krishan menarik Kana kepelukannya. Dia dengan kuat mendekap istrinya saat wanita itu memberontak. "Dengar Jia, dengarkan aku dulu."
Kana diam, dia membiarkan Krishan mendekap tubuhnya serapat mungkin hingga ia bisa mendengar detak jantung Krishan yang sangat kencang.
"Aku berjanji padamu, aku tidak akan menerima bantuan apapun dari wanita itu. Aku melakukannya karena aku mencintaimu. Kau dengar aku kan, Jia?"
Kana mengangguk di dadanya. "Kalau kau ingkar?"
"Aku akan terima konsekuensinya. Apapun itu, aku menerima hukuman darimu."
Kana diam, begitu juga Krishan. Hanya desah napas berat Krishan yang terdengar. Sejenak dia menikmati dekapan suaminya sampai ia menyadari sesuatu.
Kana melepas dekapan lalu memukul dada Krishan sampai lelaki itu terkejut karena serangan tiba-tiba. Lagi-lagi Kana kesal dengan tato itu.
Kana berdiri dari tempatnya. "Sudah kubilang, kan. Ceritakan semuanya padaku. Tapi kau lebih suka kalau aku salah paham."
Kana pergi tanpa mendengar jawaban Krishan. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
__ADS_1
Krishan menghela napas panjang. Mana mungkin dia cerita soal itu, bisa-bisa mereka akan perang dunia. Tapi memang jika tidak cerita, maka Kana akan mendengarnya dari orang lain.
Krishan akan membereskan Sherly terlebih dahulu supaya wanita itu tidak mengganggu istrinya. Lalu, Krishan berencana untuk menghapus tatonya di bagian dada.
~
Kana melenguh saat merasakan sesuatu bergerak di atas tubuhnya. Entah mengapa tubuhnya langsung meremang saat ia mulai sadar ada sesuatu yang nikmat terasa di kedua gundukan indahnya.
Dia membuka mata dan mendapati Krishan mengungkungnya. Tanpa Kana sadari piyama tidurnya sudah tersingkap ke atas dadanya dan celana kecilnya sudah terlepas dari pinggangnya.
"Krish.. hh.." Kana mengerang.
"Morning, Baby." Bisik Krishan lalu melanjutkan lagi aktifitasnya.
Kana memejamkan mata sambil menikmatinya. Dia meremass rambut belakang Krishan.
Pria itu mengangkangkan kaki Kana dengan kakinya. Lalu, saat dia akan memulai, Kana malah mendorong tubuh Krishan.
"Ada apa, sayang?" Tanya Krishan yang merasa kenikmatannya dihentikan.
"Minggir."
Kana menggeser tubuh Krishan dari hadapannya sampai tubuhnya terjatuh ke sebelah Kana.
Wanita itu langsung duduk di tepi tidur dan mengikat rambutnya.
"Jia.. ada apa??" Suara Krishan terdengar kebingungan.
"Tatomu merusak pemandangan." Ucapnya sambil berjalan ke kamar mandi, bersiap untuk pergi bekerja.
"Aaaarrghhh.." Krishan berteriak sambil memendamkan wajahnya di tempat tidur. Dia menggenggam kuat sprei putih itu.
Krishan benar-benar kesal karena gairahnya sudah di ujung tetapi wanita itu malah menyingkirkan tubuhnya karena tato??
"Hei, cepat antar aku ke studio tato, SEKARANG!!" Teriak Krishan dengan keras pada orang yang ia telepon. Krishan benar-benar akan menghapus Tato sialannya itu.
TBC
...○●○●○...
Karya Baru Author niihhh...
"Tanda tangani kontrak itu. Jika kau setuju, aku akan membantu seluruh biaya rumah sakit nenekmu."
Aku meremas ujung rokku dengan geram. Ibuku memang seorang wanita malam, tapi bukan berarti aku akan melakukan hal yang sama! Pekikku dalam hati namun sialnya aku malah menandatangi surat itu.
Persetan! Aku tidak peduli yang penting nenekku, keluargaku satu-satunya yang tersisa, bisa hidup dan melanjutkan hidup bersamaku.
Dia Arga Alexander, lelaki blasteran yang kaya raya dan populer di kampus tengah 'menolongku' dan aku harus menjadi teman tidurnya selama 2 tahun.
Walau begitu, dia tidak melarangku berhubungan dengan Aditya Wicaksana, kekasihku yang sudah 7 tahun berpacaran denganku.
Lalu Bagaimana Syahdu dan Arga menjalani kehidupan mereka selama dua tahun? Bagaimana pula hubungan Syahdu dengan Wicak, lelaki yang amat dia cintai itu?
(Visual Tokoh dalam Cerita)
__ADS_1
Terima Kasih banyak kepada pembaca setia🤍🥺