Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Special Bab 5


__ADS_3

"Felix, kenapa masih disini?" Tanya Kana pada lelaki yang sekarang sudah menjadi kepercayaannya. Felix disuruh olehnya untuk membeli keperluan dapur bersama Marry.


"Tuan menyuruh saya untuk menemani nona saja."


"Kau itu bawahanku. Bukan bawahan Krishan. Kenapa kau malah menuruti permintaannya??" Kana berusaha bangkit dari duduknya. Dia sedikit kesulitan karena perutnya yang sudah sangat membesar.


Felix dengan sigap membantu Kana berdiri, meletakkan sendal Kana pada posisinya supaya majikannya itu tidak repot-repot mengambil sendal lagi.


Ah, begitu rupanya. Dia sudah sangat sulit melakukan apa-apa. Itu sebabnya Krishan meminta Felix terus disisi istrinya sementara dia tengah ada pekerjaan.


"Kalau begitu, ambilkan tasku di dalam." Titahnya dan Felix langsung masuk ke dalam rumah. Hari ini Kana ingin pergi menemui ibunya. Ada hal yang dia ingin bicarakan.


"Aaah.." Kana memegang perutnya. Tiba-tiba saja terasa sakit dan mengencang.


"Nona, ini tasnya."


Kana menggenggam lengan Felix dengan kuat, berusaha menahan rasa sakitnya.


"Nona, ada apa?"


"Pe-perutku.."


"Apa nona mau melahirkan?? Maryyy..!!" Teriak Felix tanpa diskusi, membuat beberapa pengawal di depan dan Marry ikut berlari ke sumber suara.


"Nona, apa sudah terasa sakit??" Tanga Marry mulai panik.


Kana tak menjawab. Hanya ekspresi wajahnya yang menahan sakit membuat Marry mengerti. Terlebih Felix yang ikut menahan sakit lantaran tangannya digenggam sangat kuat.


Marry langsung berlari masuk ke dalam rumah. "Tuaan.. tuaaan.. nona mau melahirkaaannn.." teriak Marry dari luar ruangan kerja Krishan.


BRAK! Pintu terbuka lebar, Krishan langsung lari menemui istrinya.


Terjadilah kehebohan pagi itu. Para pengawal yang langsung menyiapkan mobil dan menghubungi pihak dokter, Marry yang menyusuni baju-baju untuk dibawa ke rumah sakit, juga Felix yang ikut menahan rasa sakit di lengannya.


"Jia, sudah mulai sakit? Yang mana yang sakit? Apa tanda-tanda mau melahirkannya sudah keluar?"


Krishan menatap istrinya. Dia mengelus lembut kepala Kana. "Sweetheart, kita ke rumah sakit sekarang, ya?"


"Cepat, mana mobil!?" Teriak Krishan panik, saat Kana sudah tidak lagi bisa menjawab segala pertanyaannya.


Krishan menggendong istrinya, langsung masuk ke dalam mobil dan melaju cepat menuju rumah sakit.


Sesampainya disana, Kana yang sudah mulai merintih, dibawa dengan kursi roda menuju ruang persalinan.


Krishan ikut masuk sementara para pengawal dan yang lainnya menunggu diluar. Mereka ikut khawatir dan berjaga-jaga siapa tahu tuan mereka membutuhkan bantuan.

__ADS_1


"Jia, jia, yang kuat, sweetheart." Krishan terus menggenggam tangan Kana dengan erat. Matanya tak lepas dari wajah Kana yang terus merintih. Dia tak tega, tetapi itu pula proses yang harus dilalui, jelas dokter Margy waktu itu.


Sebelum dokter Margy mengatakan pada Kana bahwa istrinya itu hamil, dokter Margy sudah menjelaskan panjang lebar tentang kehamilan, hormon perempuan, dan posisi suami pada istrinya yang hamil. Itu sebabnya Krishan langsung yang menjaga Kana dan lebih memilih bekerja dari rumah ketimbang pergi ke kantor.


"Nona, ini masih pembukaan 6. Harap nona bersabar sedikit lagi, ya." Kata dokter Margy. Dia meminta Krishan mengelus-elus belakang Kana yang terasa nyeri, supaya menciptakan sedikit kenyamanan pada wanita itu.


Krishan membantu Kana duduk. Dia berdiri di depan dan memeluk Kana sembari mengelus belakangnya dengan lembut.


"Jia, aku tidak bisa melihatmu seperti ini.."


Kana mengeratkan pelukannya saat sakit itu datang lagi. Krishan bisa merasakan itu walau sedikit. Kana benar-benar kesakitan karena tekanan perempuan itu di tubuh Krishan sangat kuat.


"Krish.."


"Iya, sweeheart. Katakan, apa yang kau inginkan?" Tanya Krishan dengan lembut.


"Sakit.." rintih Kana.


Krishan menciumi kening istrinya. Dia bingung, tidak bisa melakukan apa-apa sementara dia ikut merasa tersiksa melihat istrinya.


"Dokterrr!" Teriak Krishan dan dokter Margy segera datang.


"Bagaimana kalau operasi?? Istriku tidak sanggup lagi!"


"Tapi istriku sudah tidak kuat!"


"Krish.. aku tidak apa-apa.." Kana memeluk pinggang Krishan saat sakitnya tidak begitu terasa.


"Krish, tidak apa, kau bisa menunggu diluar jika tidak kuat." Kata Kana dengan lemas.


"Tidak mungkin. Aku akan terus menemanimu."


"Aarghh.." Kana tanpa sadar mencakar punggung Krishan. Membuat laki-laki itu menahan rasa perih di belakang tubuhnya. Dia merasa, apa yang Kana rasakan tidak sebanding dengan perih di punggungnya.


Krishan meneteskan air mata, dia benar-benar tidak tega melihat kesakitan yang dirasakan Kana. Dia mengelap keringat istrinya yang menetes di dahi. Rasanya, ingin sekali dia memindahkan rasa sakit itu. Biar dia saja yang merasakan sakit sebab dia sudah terbiasa dengan itu.


Dokter Margy membantu Kana berbaring, mengecek pembukaan dan dia mulai tersenyum.


"Sudah sempurna. Mari kita lakukan." Kata dokter Margy bersama beberapa perawat lain.


"Nona, atur napas."


Krishan menggenggam tangan dan menatap istrinya dengan mata yang berkaca. Kana mengejan, beberapa kali ia melihat wajah penuh perjuangan itu.


Tak berlangsung lama, suara tangis bayi memecahkan suasana tegang di dalam ruangan. Begitu pula diluar, sorak sorai para pengawal membuat berisik sekitar. Ada anggota baru di rumah membuat para pengawal bersemangat.

__ADS_1


Begitu juga Kana, dia sudah bisa tersenyum lebar.


"Kau luar biasa, Jia.." lirih Krishan mengecup kening Kana dengan lembut dan lama. Kana menghapus air mata suaminya. Dia juga menangis, merasa haru bahagia berdampingan kelahiran anak dan melihat untuk pertama kali, Krishan menangis.


"Selamat, nona dan tuan Krishan. Ini anak kalian."


Kana menggendong anaknya. Air mata Kana mengalir melihat putri kecilnya yang tengah tertidur itu.


"Dia mirip sekali denganmu, Krish."


Krishan mencium puncak kepala Kana. Menatap lama bayi ditangan istrinya, tak sangka akhirnya dia bisa melihat bayi mungil yang merupakan darah dagingnya.


"Siapa namanya?" Tanya Kana, sesuai janji Krishan yang akan memberikan nama anak perempuan mereka.


"Aku memberinya nama Zeline. Perempuan kuat dan cerdas seperti ibunya. Bagaimana menurutmu, sweetheart?"


Kana mengangguk. "Nama yang bagus, Krish. Dia akan menjadi Zeline Harcourt Laurels."


Krishan menatap istrinya. Kana meletakkan nama belakangnya pada anak mereka. Menggabungkan dua nama di dalamnya. Seperti ingin bertanya, dari mana Kana tahu nama panjangnya karena dia tidak pernah memberitahunya soal itu.


"Mau menggendong, Krish?"


"A-aku.. tidak berani."


Kana langsung meletakkan anak itu di tangan Krishan yang langsung mendekapnya dengan kaku. Krishan menatap wajah putri kecilnya itu dengan haru.


"Jia, bagaimana dia bisa sangat mirip denganku?"


Pertanyaan Krishan membuat Kana tergelak. Krishan pasti sangat bahagia sekarang. Dia pasti sangat senang...


"Zeline, ini Daddy.." bisik Krishan, tak membuat bayinya bergerak.


"Selamat menjadi ayah, Krish. Aku tahu kau akan menjadi Daddy yang paling hebat untuknya nanti."


Krishan meletakkan bayinya di dalam tabung bayi, kemudian duduk di tepi ranjang, menatapi wajah lelah istrinya. "Terima kasih, Jia. Kau benar-benar melengkapi kehidupanku."


"Aku akan melakukan apapun yang membuatmu bahagia. Aku janji." Ucap Krishan lagi, mengecup bibir istrinya dengan lembut. Rasa terima kasih saja tidak cukup, Krishan sangat tahu itu. Itulah dalam hatinya, Krishan akan membuat Kana bahagia, akan terus ada disaat istrinya itu membutuhkannya.


TBC



(Visual Baby Zeline H. Laurels)


** selamat ya, untuk pasangan double K, akhirnya punya putri yang plek ketiplek Krishan. Akankah menjadi saingan Kana nanti? Hehe **

__ADS_1


__ADS_2