Menikahi Lelaki Tunanetra

Menikahi Lelaki Tunanetra
Dinner with Coach


__ADS_3

Kana menemui Alana dengan syarat dari Krishan hanya sebentar saja. Sebab dia baru saja bisa melihat tapi Kana malah ingin pergi darinya. Lalu dengan sedikit rayuan dan janji manis pada Krishan untuk melayaninya lebih panas lagi, Kana pun mendapat izin.


"Ada apa, Alan. Kau terlihat sangat khawatir." Tanya Kana saat baru tiba di rumah Alana, sudah ada Adam disana. Kana pula sudah didampingi Felix dan Sean, tentu saja. Takkan ia biarkan Felix melayani Kana sendirian. Sean belum percaya padanya.


"Kana, Bastian tidak bisa dihubungi. Dia juga tidak ada di apartemennya."


Kana malah mengerutkan dahinya. "Kau tahu apartemennya?"


"Ya, aku pernah kesana."


Kana mengangguk lambat.


"Lalu, bagaimana? Tidak biasanya dia seperti ini." Alana terlihat sangat khawatir. Sesekali ia menggigit kuku jempolnya karena tak bisa menemukan jawaban.


"Mungkin dia sedang tak ingin diganggu. Bisa saja, kan?" Kana memberi jawaban untuk membuat Alana berhenti khawatir. Dia tak berniat menceritakannya pada Alana.


"Ah, mana mungkin dia begitu!"


"Apa yang dibilang Kana ada benarnya, sayang. Bisa saja kan, dia memang sedang tak ingin diganggu."


Kana membulatkan matanya. Tunggu dulu, Kana menggosok-gosokkan telinga dengan tangannya. Apa dia tidak salah dengar. Sayang, katanya?


"T-tunggu dulu. Kalian..."


"Ah, maaf. Aku bukan bermaksud tak memberimu kabar. Tapi, kami memang menunggu waktu yang tepat. Aku dan Adam, kami memutuskan untuk tunangan."


"APAA!!" Bukan berpacaran, tapi tunangan. Secepat itu? Alana, apa dia gila??


"Sudah kubilang, kan. Kana pasti tidak menyetujui kita." Bisik Adam yang masih di dengar oleh Kana.


"B-bukan begitu, hanya sajaa.. apa tidak terlalu terburu-buru? Kalian kan, baru saling kenal." Tukas Kana dengan jelas supaya membuka pikiran Alana yang bisa saja otaknya tengah tersumbat.


"Kau juga dengan Krishan dulu begitu, kan? Tiga hari malah."


Ah, ucapan Alana tidak bisa ditentang. Dia benar, dan sekarang Kana malah sangat mencintai suaminya itu.

__ADS_1


Kana menghela napas perlahan. Dia paham, dia tak bisa terlalu mengurusi urusan Alana. Terlebih Alana-lah yang nampaknya sangat menyukai Adam. Mungkin saja, karena kesan pertama yang buruk pada Adam, membuat Kana agak sulit menerimanya dengan Alana.


"Kami akan bertunangan minggu depan."


Lagi, pernyataan Alana barusan membuat kepala Kana terasa pusing.


"Kuharap kau dan Krishan bisa datang." Sambung Alana lagi.


"Benar. Kami akan merasa sangat terhormat apabila kau dan pimpinan Yohan bisa hadir di acara kami." Lanjut Adam.


Kana mencoba mengatur napasnya. Ya, baiklah. Adam juga bukan laki-laki brengsek, sepertinya. Jika dilihat dari biografinya waktu itu, dia memang tak mempunyai catatan buruk. Tapi, tidak ada salahnya Kana mencari tahu lagi lebih dalam tentang Adam demi kehidupan sahabatnya itu.


"Baiklah. Aku akan sampaikan pada Krishan." Jawab Kana mengalah.


"Terima kasih, Kana." Alana memeluk sahabatnya itu.


"Ah, iya. Bastian bagaimana??" Tanya Alana lagi.


"Kau tenang saja. Aku akan mencarinya. Aku akan menghubungimu nanti."


Tak lama setelah itu, Kana pamit pulang. Saat di dalam mobil, dia meminta Sean menyelidiki lagi tentang Adam dan juga Bastian. Kabar pria itu memang meredup, nampaknya dia tengah depresi karena kehidupannya yang sekarang sangat hitam. Entahlah. Semoga saja Sean bisa mendapatkan kabar baik sampai malam ini.


Makan malam pun tiba. Sean sudah mengundang Richi dan Clair ke acara makan malam bersama Kana dan Krishan.


Kana sangat anggun dengan gaun hitamnya. Begitu juga Krishan dengan setelan jas hitam senada dengan istrinya.


Richi, tampak sangat menawan dengan dress pendek dan rambut yang tergerai dengan indah menutup pinggangnya. Hal yang membuat Kana tercengang. Selama ini, dia melihat gadis itu menggulung atau mengikat asal rambutnya. Malam ini, gadis itu benar-benar sangat cantik.


Tak kalah dari itu, Clair juga sangat mempesona dengan dress mini merah miliknya. Sesuai dengan karakter Clair yang pemberani dan sedikit centil.


"Terima kasih sudah datang ke undangan kami." Krishan menyambut kedua gadis itu.


"Terima kasih, tuan, sudah mengundang kami." Sahut Clair.


"Silakan duduk." Ucap Kana kemudian.

__ADS_1


Mereka duduk dan mulai menyantap hidangan yang ada di hadapan mereka.


"Aku sangat berterima kasih kalian telah mengajari istriku dengan sangat baik. Aku bisa melihat hasilnya." Ucap Krishan sembari mengelus lembut tangan Kana.


"Nona Kana yang cepat belajar, tuan. Kami hanya sebagai perantara." Jawab Richi.


"Benar, tuan. Nona Kana sangat berusaha keras." Sambung Clair dan Krishan tertawa kecil.


"Intinya, kalian luar biasa. Aku pikir, kalian pasti bukan orang sembarang. Tapi Kana sudah menjelaskannya padaku. Jika suatu hari kelompok kalian memerlukan bantuan, Foldcury siap membantu."


"Terima kasih, tuan." Jawab Richi dengan senyuman lebar. Tentu saja dia senang. Dia sudah tahu siapa Yohan dan Foldcury, perusahaan besar yang juga melahirkan bodyguard yang super hebat di negara ini, pasti sangat menguntungkan jika Valiant bekerja sama dengan Foldcury.


Krishan sendiri juga sudah menyelidiki kedua perempuan itu. Salah satunya adalah anak jenderal besar. Kelompok milik perempuan itu juga bukan sembarang. Dan tentu saja, kelompok itu bertolak belakang dengan Foldcury. Dimana kelompok Valiant selalu menghancurkan kelompok seperti Foldcury, yang penuh dengan usaha ilegal dan perjudian. Hanya saja, perempuan itu pasti tidak tahu inti yang ada di dalam Foldcury.


Setelah makan malam bersama, Kana menerima panggilan dari Felix.


"Ada apa?" Tanya Kana.


"Nona, segeralah ke jembatan besar di tengah kota. Bastian sedang berada disana."


Kana menutup ponselnya. Dia berpikir sebentar. Bastian, sedang apa dia di jembatan itu?


"Krish, pulanglah duluan. Aku ada urusan sebentar."


Tanpa menunggu jawaban suaminya, Kana berlari menuju mobil. Dia membawa mobil itu dengan cepat, membuat Krishan mengernyitkan dahi. Kenapa Kana begitu terburu-buru dan pergi tanpa Sean.


Kana menduga Bastian akan mengakhiri hidupnya. Itu tidak seperti yang Kana inginkan. Dia hanya ingin Bastian berpikir tentang kesalahannya, supaya dia sadar. Jika saja Bastian datang dan meminta maaf, Kana pasti akan memaafkannya dan membantu Bastian mencari pendonor mata. Bagaimanapun, Kana masih sangat mengingat semua perlakuan Baik Bastian, yang di mata Kana terlihat tulus bahkan saat ia tahu maksud dari lelaki itu.


Kana menghentikan mobilnya saat melihat seorang yang ia kenali sebagai Bastian. Dia langsung keluar dan menahan rasa dingin karena tiupan angin di malam itu.


Jembatan yang Kana selalu datangi saat ia sedih. Hal itu pernah ia ceritakan pada Bastian. Apakah itu sebabnya lelaki itu kini sekarang berdiri mematung di depan besi pembatas.


Bastian memakai kemeja lengan panjang. Tongkatnya terjatuh dibawah kakinya. Kana mendekat, dia bisa melihat wajah sendu milik Bastian dengan bulu halus yang sudah tumbuh di rahangnya. Bastian benar-benar seperti tak terawat. Atau mungkin dia sendiri yang tak mau dirawat.


Kakinya bersiap naik ke satu tingkat pagar besi, namun ia terhenti saat merasa sebuah tangan menahan lengannya.

__ADS_1


"Jangan, Bas."


Bastian menoleh. Dia sama sekali tak berekspresi bahkan saat menyadari orang itu adalah Kana.


__ADS_2