
Dua hari kemudian Jonathan memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada Iqbal, karena benar kata Aisyah.. sebuah kesalahan bisa di maafkan jika orang yang melakukannya sudah bertobat.
Hari ini Aisyah datang ke ruangan Iqbal, wanita itu membawa beberapa makanan untuk diberikan Iqbal.
"Kau sudah bangun?" tanya Aisyah. Iqbal menganggukkan kepalanya Pria itu ingin menarik salah satu tangan Aisyah.
"Aku benar-benar minta maaf padamu Aisyah, atas segala kesalahan yang telah aku lakukan padamu, kesalahan yang begitu membuatmu menderita." ucap Iqbal. Aisyah menganggukkan kepalanya.
"Kau bebas kapan?" tanya Aisyah.
"Aku sudah bebas 2 tahun yang lalu, aku mendapatkan remisi dari pemerintah karena kelakuanku baik." jawab Iqbal.
"Selama 2 tahun ini kau berada di mana?" tanya Aisyah.
"Aku berada di salah satu pondok pesantren yang ada di Jakarta." jawab Iqbal.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Aisyah.
"Aku ingin memperdalam ilmu agama, bertobat dan merenungi semua kesalahanku yang telah kuperbuat padamu." jawab Iqbal.
Aisyah menganggukkan kepalanya.
"Apa Yang Kau dapatkan?" tanya Aisyah.
"Banyak sekali, aku mendapatkan pelajaran begitu banyak di pondok pesantren itu. aku mendapatkan kasih sayang pencerahan hati. bahkan aku mendapatkan sebuah jalan kehidupan yang begitu bercahaya." jawab Iqbal.
"Apakah kau tinggal di pondok pesantren?" tanya Aisyah.
Iqbal menganggukkan kepalanya.
"Kenapa tidak kembali ke rumahmu?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Aku tidak mau kembali ke tempat yang penuh dengan penderitaan dan kegelapan masa laluku." jawab Iqbal.
Aisyah tersenyum, wanita itu menyodorkan sendok yang berisi nasi padang.
"Makanlah dahulu, aku yakin kau lapar." ucap Aisyah yang kemudian menyuapi Iqbal.
Iqbaal benar-benar tidak percaya, kalau Aisyah akan memaafkannya. seorang wanita yang seringkali dia sakiti sekarang dengan lapang dada merawatnya dan memberikan kasih sayang. seorang pemuda masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Hai Mam," sapa Malik kepada Mamanya.
"Ada apa Sayang?" tanya Aisyah.
"Nanti pinjam mobil ya Mam." pinta Malik kepada mamanya.
"Minta Paman Bimo untuk mengantar kalian, kalian kan tidak punya Surat izin mengemudi. jika kalian punya SIM maka Mama akan mengijinkan kalian untuk membawa mobil kalian sendiri, kalian ini masih berusia 16 tahun loh tidak seharusnya kalian melakukan hal itu." ucap Aisyah.
Malik menganggukkan kepalanya, sedangkan Iqbal pria itu menatap seorang pemuda yang wajahnya mirip antara Mahfud dan Aisyah.
"Apakah dia putramu?" tanya Iqbal.
Aisyah menganggukkan kepalanya.
"Kenalkan dia adalah mas Iqbal, salah satu keponakannya Paman Jonathan." jawab Aisyah.
"Kalau salah satu saudara Paman Nathan, berarti dia pamanku dong." ucap Maliq.
"Dia itu keponakan pamanmu, Malik. jadi dia adalah saudaramu." jawab Aisyah.
Salah satu tangan Malik terulur untuk menjabat tangan Iqbal.
"Aku sebentar lagi akan menjadi seorang Dokter!" seru Malik dengan percaya diri.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Iqbal.
"Tentu saja kak, aku ingin bersaing dengan papa karena aku akan menjadi seorang pria yang begitu luar biasa." jawab Malik yang membuat Iqbal tersenyum.
Tak berselang lama akhirnya Mahfud datang untuk memeriksa Iqbal.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Mahfud kepada Iqbal. pria itu menganggukkan kepalanya.
"Putramu sangat hebat." ucap Iqbal.
"Tentu saja dia, adalah adikmu." juga Jawab Mahfud.
Bahagia itulah kata pertama yang ingin dikatakan oleh Iqbal ketika dirinya diakui keluarga oleh orang lain.
"Oh ya apakah kau mempunyai rumah?" tanya Mahfud. Iqbal menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kau tinggal di vila salah satu paviliun yang ada di salah satu tempat kami di Bandung." jawab Mahfud.
"Aku tidak mau, rumah itu terlalu besar." jawab Iqbal.
"Lalu kamu tinggal di mana?" tanya Mahfud.
"Aku ingin tinggal di rumah kecil, sederhana tanpa ada kemewahan." jawab Iqbal. Mahfud menganggukkan kepalanya, pria itu benar-benar melihat Iqbal telah berubah.
"Apakah kau mau menjadi di salah satu pengajar di rumah sakit ini?" tanya Iqbal.
"Sekolahmu kan lulusan dari sekolah yang begitu terkenal, lalu Mengapa kau tidak menggunakan ijazah mu untuk mengabadikan dirimu pada murid-muridnya." ucap Mahfud yang membuat Iqbal menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih karena kalian memberikan aku kesempatan kedua yang tidak pernah aku dapatkan di tempat lain." jawab Iqbal.
terlihat Iqbal kemudian memegang tangan Mahfud.
__ADS_1
"Kau adalah keluarga, Jadi kami akan selalu membantumu." jawab Mahfud.
** bersambung **