
Hari ini Aisyah beserta sang suami dan Kikan beserta sang suami mengistirahatkan diri mereka selama 2 hari. mereka akan melakukan perjalanan ke negara Singapura untuk liburan, Kikan begitu bahagia. ingin sekali dia mengajak kedua anaknya, Namun sayang sekali Dokter Syah tidak mengijinkan kedua cucunya dibawa oleh orang tuanya. apalagi Dokter Syah tahu bagaimana sifat dari menantunya itu.
Tempat wisata dan pusat perbelanjaan yang ada di Singapura memang bisa dikatakan sangat indah. apalagi pusat jajanan tradisional di tempat itu membuat Kikan sampai gelap mata.
"Suamiku, ajak aku jalan-jalan ke tempat wahana permainan dong." pinta Kikan kepada sang Suami.
"Kau itu sudah dewasa, bahkan kau sudah tua. Kalau kau ingin melakukan hal itu bisa-bisa kau dibilang anak kecil." jawab Firdaus yang membuat Kikan langsung melengos.
"Dasar pelit!" seru Kikan yang kemudian meninggalkan sang suami dari hotel tempat mereka berada.
"Mengapa lidah istrimu itu begitu lentur, bahkan lebih lentur daripada karet." ucap Mahfud yang membuat Firdaus menggerakkan kedua tangannya.
"Aku saja sampai kebingungan karena tingkah laku Istriku itu." jawab Firdaus yang membuat Mahfud seolah ingin tertawa.
Oh ya sayang kamu mau kemana tanya Mahfud kepada Aisyah ke mana saja kau membawaku jam Aisyah sambil memakan makanan yang barusan mereka beli dari hotel.
"Apakah kau ingin ke pusat perbelanjaan yang ada di negara ini?" tanya Mahfud. Aisyah menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian dia menatap sang suami.
"Lebih baik beli di Indonesia saja deh, nanti susah bawahnya. Aku ribet kalau belanja dari sini, ribet bawanya Mas." jawab Aisyah yang membuat Mahfud mengelus pucuk kepala sang istri.
"Kau benar sayang, daripada kita berat-berat membawa ke pesawat lebih baik kita beli di Indonesia saja." Jawab Mahfud yang kemudian mengajak sang istri untuk bersantai Ria di restoran hotel.
"Kau tidak jalan-jalan, Aisyah?" tanya Kikan kepada Aisyah.
"Enggak Mbak, aku ingin disini saja. kakiku capek." jawab Aisyah dasar tulangmu itu tulang terbuat dari tanah liat, mudah banget retaknya." jawab Kikan yang kemudian mengajak sang Suami pergi dari hotel tempat mereka menginap.
__ADS_1
"Pasti kalau habis jalan-jalan nanti Firdaus akan mendumel tidak karuan, karena terus mengekor istrinya itu." ucap Firdaus.
"Biarin aja Mas, lebih baik Mas Firdaus yang dikorbankan. dia kan suaminya, daripada aku..." ucap Aisyah yang membuat Mahfud menganggukkan kepalanya
"Kau benar istriku, daripada kita berdua." jawab Mahfud yang kemudian tertawa terbahak-bahak karena melihat saudara angkat istrinya itu.
"Mas jaga kesehatan baik-baik ya, jangan sampai apa yang dikatakan oleh Papa Syah membuat kesehatan emmas semakin memburuk, Aku tidak mau Mas meninggalkanku secepat itu." ucap Aisyah kepada sang suami.
"Tenang saja, insya Allah kita akan mendapatkan donor jantung itu. karena mas tidak akan meninggalkanmu, bagaimanapun mas akan selalu bersamamu." jawab Mahfud.
"Kalau mas sampai meninggalkanku, akan ku kejar kau dan ku suruh tanggung jawab. enak banget langsung ninggalin aku." jawab Aisyah sambil tersenyum. sepasang suami istri itu akhirnya berjalan-jalan di sekitar Hotel tempat mereka menginap, apalagi hotel tersebut termasuk hotel yang begitu romantis dengan kemewahan yang ada di dalamnya.
"Hari ini Mas mau ke mana?" tanya Aisyah kepada sang suami.
"Hari ini ikut Mas ke rumah sakit Papa Syah yang ada di Singapura ya." ajak Mahfud kepada sang istri. wanita itu menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian wanita itu bersandar di pundak sang suami.
"Tentu saja kita akan seperti ini selalu." jawab Mahfud.
"Aku berdoa kepada Allah supaya kita tetap selalu bersama, dan Mas akan mendapatkan donor jantung itu." ucap Aisyah kepada sang suami.
Sekitar satu jam kemudian.
Mahfud dan Aisyah sudah berada di Rumah sakit Dokter Syah.
"Selamat sore Dokter Mahfud!' seru salah satu dokter yang ada di rumah sakit Dokter Syah yang ada di Singapura.
__ADS_1
"Selamat sore!" jawab Mahfud.
"Senang sekali Dokter kembali ke sini!" seru seorang Dokter yang bernama Dokter Hilma. seorang Dokter wanita yang usianya sudah 45 tahun. begitu baik kepada Mahfud seperti seorang kakak, Dokter wanita itu selalu membantu Mahfud bahkan untuk mencari donor jantung pun dia telah mencari hingga ke tempat suaminya yang ada di Australia.
"Perkenalkan Dokter, dia adalah istri saya, Aisyah." ucap Mahfud yang memperkenalkan Aisyah kepada Dokter wanita itu. Dokter Hilma menatap Aisyah, wanita itu tersenyum sembari memegang pipi Aisyah.
"Cantik, aku yakin dialah wanita beruntung yang akan selalu menemanimu dalam suka dan duka." ucap Dokter Hilma yang kemudian mengajak Mahfud dan Aisyah keruangan mereka.
"Apakah ada kabar mengenai donor jantung itu?" tanya mahfud kepada Dokter Hilma.
"Suamiku sudah memberi kabar, berdoalah kepada Allah supaya kita mendapatkan jalan yang paling baik." jawab dokter Hilma.
"Memangnya ada apa?" tanya Mahfud.
"Apakah kau sudah mendengar kabar mengenai saudara kembar mu itu?" tanya Dokter Hilma kepada Mahfud.
Pria itu menggelengkan kepalanya sembari menatap wajah Dokter Hilma.
"Memangnya ada apa?" tanya Mahfud.
"Menurut suamiku, pria itu sudah berada di Indonesia." jawab Dokter Hilma.
"Lalu, Apa hubungannya dengan ku?" tanya Mahfud kepada Dokter Hilma.
"Menurut menurut kabar yang diselidiki oleh suamiku, kalau orang yang telah membuatmu gagal dalam mencari donor itu adalah saudara kembarmu itu." jawab Dokter Hilma.
__ADS_1
** bersambung **