
Wati sengaja menyalakan televisi dengan suara yang dikeras kan,bermaksud untuk membangunkan Toni,Dan benar saja beberapa saat kemudian Toni langsung merasa terganggu dengan suara layar tv yang ada didepannya.
Toni menatap Wati yang saat itu duduk tak jauh darinya.
...''Dek,bisa gk suaranya dikecilkan sedikit,itu terlalu kuat.''Protes Toni....
Namun Wati seolah tuli, jangankan memelani suara tv, ucapan Toni saja tidak ia hiraukan.
Toni menghela nafas berat,kamudian beranjak menuju kamar mandi,Wati melirik suaminya dari ekor matanya.
Setelah selesai mencuci muka Toni langsung melangkah menuju dapur,bermaksud hendak sarapan karna perutnya sudah keroncongan karna belum diisi sejak tadi malam.Toni membuka tudung saji yang ada diatas meja makan,berharap ada sesuatu yang bisa ia makan,namun naas didalam tidak ada apapun yang bisa dimakan alias kosong.
Toni mendengus,dengan sedikit kekesalan ia kembali berjalan menuju dimana saat ini istrinya berada.
''Dek kenapa kamu belum membuat sarapan? sebentar lagi abang masuk kerja loh.'' protes Toni.
Namun Wati lagi-lagi tak menghiraukan ucapan Toni.
''Wati,kamu dengar kan yang abang katakan!" tanya Toni geram.
Wati meletakkan remot tv dengan kasar,lalu menatap tajam kearah suaminya,membuat Toni menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering.
''Kalau mau makan,minta aja sama si jala*ng itu.'' jawab Wati dingin.
''Dek tolonglah kalau pagi-pagi itu gk usah ribut,malu didengar orang.'' ucap Toni
''Malu?? sejak tadi malam kau selalu bilang malu,memangnya rasa malu mu itu masih ada?iya?'' tanya Wati dengan mata melotot
''Sudahlah abang gk mau ribut pagi-pagi.'' ucap Toni sambil melangkah menuju pintu depan bermaksud ingin mencari sarapan dirumah ibunya.Namun saat Toni membuka pintu matanya melotot melihat siapa yang sedang berdiri didepannya saat ini.
''Ngapain kamu kesini?'' ucap Toni pelan,bahkan sangat pelan.
''Abang kenapa sih?lagi pula ponsel abang itu gk bisa dihubungi makanya aku kesini,lagian kan memang sudah lama aku gk main kerumah kalian.'' ucap Fitri
Wati yang melihat suaminya berdiri mematung menjadi penasaran,dan akhirnya memutuskan untuk melihat apa yang terjadi.Matanya juga melotot saat melihat siapa yang saat ini ada didepannya, yang ternyata adalah Fitri.
Darah Wati kembali mendidih,tangannya terkepal saat melihat Fitri tersenyum manis pada suaminya.Ingin sekali dirinya menarik rabut panjang Fitri saat ini.
Fitri yang menyadari keberadaan Wati langsung tersenyum dan menyapanya.
''Kita lihat,seberapa lama lagi kau akan mempertahankan senyummu itu, dasar ******.
Batin,Wati sambil menatap tajam pada sahabatnya itu yang sebentar lagi akan menjadi mantan sahabat.
''Heeii Wati,maaf baru sempat kerumahmu,soalnya belakangan ini aku sibuk sekali.'' ucap Fitri
''Sibuk? sibuk ngurusin laki orang ,iya?'' tanya Wati sarkas.
''Ma-maksudmu apa Wat?'' tanya Fitri sedikit gugup
''Tidak ada,kau ingin bertamukan?masuklah!" ucap Fitri dengan wajah datar.
Toni yang tadinya berniat ingin kerumah orang tuanya kini mengurungkan niatnya,ia takut kalau Wati berbuat nekat pada Fitri.
Wati memberikan jalan agar Fitri dapat masuk, setelah itu ia menyusul dari belakang, namun langkahnya terhenti saat Toni juga ternyata mengikutinya dari belakang.
"Kenapa? apa kau takut kalau sampai aku mencelakai selingkuhanmu itu? ucap Wati geram, tangannya mengepal menahan amarah.
" Bu-kan begitu maksud abang dek, abang hanya tidak ingin kamu melakukan hal yang nantinya akan merugikan dirimu sendiri." ucap Toni mencoba menasehati Wati.
"Gk usah sok pake acara nasehati aku, kamu liat aja apa yang akan aku lakukan pada pelakor itu." sambungnya lagi.
Setelah mengatakan itu Wati segera melanjutkan langkahnya menuju dimana saat ini Fitri berada.Toni yang tak ingin terjadi sesuatu akhirnya ikut dari belakang.
"Kau mau minum sesuatu?" tanya Wati datar dan terkesan dingin.
"Boleh." jawab nya.
Fitri merasakan bulu kuduknya berdiri, tiba-tiba ia merasakan hawa disekitar berubah menjadi begitu dingin dan mencekam.Fitri mengusap kedua lengannya berharap bisa menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin.
Wati meletakan secangkir teh diatas meja, kemudian duduk dihadapannya, Wati terus memindai penampilan Fitri dari atas hingga bawah.
"Wat, kamu kenapa kok aneh banget, kamu lagi sakit ya? tanya Fitri sambil menyeruput teh miliknya.
"Kok rasanya agak aneh ya."
Batin Fitri
__ADS_1
"Kenapa??" tanya Wati, matanya terus menatap kearah peremempuan itu.
"Ah tidak, perasaan kok rasa tehnya agak aneh ya Wat?"
Toni yang sejak tadi hanya memperhatikan keduanya dari jauh, langsung mendekat saat ia mendengar kalau Fitri mengatakan teh yang ia minum rasanya aneh, Toni takut kalau istrinya itu akan benar-benar mencelakai Fitri.
Wati tersenyum miring saat melihat Toni melangkah kearah mereka.
"Ternyata setakut itukah kamu bang? kalau aku mencelakai selingkuhanmu ini.
Gumam batin Wati, tiba-tiba saja matanya memanas menahan tangis, saat menyadari sebegitu pentingnya selingkuhannya itu dibandingkan dirinya.
"Ya tentu saja aneh, itu kan RACUN." ucap Wati sambil menatap serius wajah Fitri.
A-apa? racun??" ucap Fitri terkejut.
''Apa dia sedang bercanda, tapi wajahnya terlihat serius, atau jangan-jangan dia sudah mengetahui tentang perselingkuhan kami.
Batin Fitri, dengan hati yang sedikit gelisah, tenggorokannya tiba- tiba terasa kering.
"Wati, kenapa kau beri racun pada Fitri, kalau dia celaka bagai mana??" ucap Toni panik
"Apa yang kamu rasakan Fit? apa nafasmu sesak?" tanya Toni panik.
" Nafasku yang terasa sesak bang, saat kau memilih lebih memperhatikan ****** sialan itu.
''Wah-wah-wah,,, perhatian sekali abang sama si ****** ini, tidak kusangka suamiku yang katanya sangat mencintaiku, ternyata bermain dibelakangku dengan sahabatku sendiri.''
''Wati, sebaiknya kamu terima saja, jika dihati bang Toni sekarang ada aku.'' ucap Fitri lembut, namun mengandung nada ejekan, membuat Wati menggeram.
''Sudahlah Fitri, jangan diperpanjang lagi abang mohon ok!" ucap Toni lembut.
''Tapi bang,aku gk terima diginiin tenggorokanku juga rasanya sakit.'' jawab Fitri dengan suara yang dibuat terbata,seolah dirinya sudah dianiaya, membuat Wati yang mendengarnya ingin memuntahkan semua isi perutnya.
''Dasar ******, aku benar-benar muak melihat wajahmu itu.''
''Tapi sayangnya suamimu sangat menyukai wajahku ini, apa lagi yang lainnya.'' ucap Fitri yang sengaja memancing kemarahan Wati.
Wati yang sudah tersulut emosi langsung menyerang Fitri.
"AAAAAAaaaa...." dasar PELAKOR murahan,,teriak Wati histeris.
"Aaww.." ringis nya sambil mengelus boko*ngnya yang terasa sakit akibat membentur lantai.Begitu juga Toni, kemudian ia pun langsung bangkit dan memaki Wati.
"Dasar istri kurang ajar, berani sekali kamu bersikap kurang ajar pada suami mu dan kau juga berniat mencelakai Fitri." ucap Toni emosi
"Apa kau lihat dia mati sekarang? hah? tidak kan? aku hanya memberi pelakor itu pelajaran agar dia tidak seenaknya merebut suami orang lain." ucap Wati geram.
"Dan kau Fitri, tega sekali kau menghianatiku? aku ini salah apa sama kamu hingga kau merebut suamiku?!" ucap Wati sambil berlinang air mata.
Tidak pernah sama sekali terpikirkan oleh Wati, teman yang selama ini sudah dianggapnya sebagai saudara tega merebut suaminya.
" Kau kan sudah tau,, sekarang apa maumu? kalau kau menyuruhku untuk meninggalkan bang Toni, maaf aku gk bisa, aku akan memperjuangkannya.'' ucap Fitri tanpa ada rasa penyesalan dihatinya.
Wati mengepalkan tangannya.
''Berani sekali kau!!!
"Sejak kapan kau menyukai suamiku? bukannya kau menyukai Aldi? kenapa sekarang kauu??" Wati tak lagi dapat melanjut ucapannya, rasanya percuma jika ia terus bicara tidak akan ada gunanya.
"Dulu aku memang suka bang Aldi, tapi sekarang tidak,, dan mengenai bang Toni, awalnya aku hanya penasaran, karna kau selalu bicara tentang hubungan suami istri padaku, kau juga sering bilang kalau kau sangat puas karna keperkasaan suamimu, dari situ aku tertantang untuk merasakan juga bagai mana perkasanya suamimu dan ternyata kau sangat benar aku sangat puas dengan belalai milik nya." ucap Fitri yang semangkin membuat Wati menggeram.
"KAAUU??? dasar JALAANG... jadi selama ini kau memang telah mengincar bang Toni ya dasar binata*ng, aku mau kau pergi menjauh dari kehidupan bang Toni sekaraang!!!." teriak Wati.
"Wati sudah lah, jangan begitu malu, nanti orang bisa berdatangan." ucap Toni memperingatkan.
"Biarkan saja mereka semua datang, biar mereka sekalian tau kalau kalian berdua adalah pasanga selingkuh.
Dan benar saja Kinan dan bu Retno datang saat mendengar teriakan Wati
Kinan menatap Fitri yang saat itu masih terduduk dilantai bersama dengan Toni yang tak jauh darinya.
"Kenapa pelakor ini ada disini?? tanya Kinan yang juga tidak bisa mengontrol emosinya saat melihat Fitri, membuat Wati menatap kearahnya.
" Kinan-Kinan,, sebaiknya kamu gk usah ikut campur dalam masalah kami, asal kamu tau, dulu kakak iparmu ini ingin sekali menjodohkan aku dengan suamimu karna memang aku juga menginginkannya, tapi ternyata iman suamimu cukup kuat hingga tak bisa kutakhlukan, tapi kau tenang saja aku gk akan mengganggu suamimu lagi, karna sekarang aku sudah mendapatkan lelaki yang jauh lebih berharga bagiku." ucap Fitri sambil melirik kearah Toni yang saat ini hanya diam tak tau harus berbuat apa.
Sedangkan bu Retno ia terlihat hanya diam, karna dulu ia juga pernah berniat untuk menjodohkan Aldi dengan Fitri.Dan ternyata sekarang Fitri malah berhubungan dengan Toni.Hal yang tak pernah dibayangkan oleh nya.
__ADS_1
"Sebaiknya kau diam pelakor! dasar wanita ******, akan ku bunuh kau!" ucap Wati sambil berlari kearah Fitri dan langsung menarik rambut panjang nya.
"Aww,, lepasin Wati!" aahh!! ringisnya sambil menahan rasa sakit akibat rambut nya yang ditarik oleh Wati.
Wati sangat kalap, ia menampar, menjambak dan memukul wajah Fitri hingga babak belur, sedangkan bu Retno dan Toni berusaha memisahkan mereka.
" Wati sudah! dia bisa mati." ucap bu Retno sambil terus melerai keduanya.
" Toni sebaiknya kamu bawa dia keluar dari sini!" ucap bu Retno setelah keduanya berhasil dilerai
Tanpa bicara Toni segera membawa Fitri keluar dari rumahnya.
"HEEH,, MAU KEMANA KAU PELAKOR,, KEMBALI KAAUU!!! teriak Wati mencoba unruk mengejar Fitri yang keluar dari rumahnya.
" Wati tenanglah! kau harus tahan emosimu, jangan seperti ini." ucap bu Retno.
''Buk,kenapa semua ini terjadi buk! kenapa Fitri tega melakukannya dia temanku tapi dia mengkhianatiku,aku gk akan pernah memaafkannya!" ucap nya dengan nafas yang memburu menahan amarah.
''Mba, mba Wati yang sabar ya,aku yakin Fitri tidak akan bahagia,dia akan mendapat ganjarannya nanti, percayalah!" jelas Kinan.
Wati hanya diam,tanpa ingin menjawab ucapan Kinan.
Sedangkan saat ini Toni dan Fitri sudah berada dikosannya,Fitri duduk didepan sebuah kaca besar yang ada dikamarnya ia terus memperhatikan wajahnya yang memar, bukan itu saja bahkan bekas cakaran kuku Wati juga terlihat dibagian wajah dan juga lehernya dengan rambut yang masih acak-acakan.
''Fitri.'' panggil Toni karna melihat Fitri yang sejak tadi hanya diam saja.
''Kenapa abang gk bilang sama aku kalau Wati sudah tau?kalau tau begini,aku gk akan datang kerumah kalian tadi.'' ucap nya kesal sambil mengobati luka dibagian wajahnya.
''Ya abang mana tau kalau kamu mau datang kerumah.'' jawab Toni
''Aku tuh datang,karna nomor abang gk bisa dihubungi,makanya aku kesana, tapi siapa sangka kalau aku akan mendapat hadiah kejutan seperti ini,,aaww...'' ringisnya saat merasakan perih diwajahnya.
''Biar abang bantu,'' ucap Toni sambil mengambil alih salep yang ada ditangan Fitri kemudian mengoleskannya.
''Aawww,, pelan-pelan dong bang sakit tau.'' pekik Fitri,sambil memukul pelan tangan Toni
''Iya-iya ini kan sudah pelan.'' jawabnya.
*
*
Jadi tadi mba Wati menghajar Fitri habis-habisan?'' tanya Aldi sambil mengancing kemejanya.
''Iya,aku kasihan liatnya bang, ya walaupun selama ini mba Wati tidak pernah menyukaiku,tapi sebagai seorang wanita aku merasa iba dengannya.
''Bang,tadi aku sempat dengar kalau bang Toni mencintai Fitri,apa menurut abang, bang Toni akan menikahi perempuan itu?'' tanya Kinan sambil mendongakan kepalanya menatap wajah suaminya.
''Abang gk tau dek,abang merasa bang Toni hanya cinta sesaat dengan Fitri.'' jawab Aldi
''Abang yakin? tapi sepertinya mereka sudah sangat intim,eemm,,menurut bang Aldi apa mereka sudah melakukan itu...'' ucap Kinan sambil menyatukan kedua telunjuknya.
''Ya mana abang tau dek,kalau mau tau tanya aja sama Fitri langsung.'' ucap Aldi membuat Kinan mendengus kesal.
DITEMPAT LAIN...
Wati termenung diteras rumahnya,memikirkan kembali nasip rumah tangganya, sebenarnya bisa saja ia pergi meninggalkan suaminya,namun itu tak dilakukannya, karna jika itu ia lakukan sama saja ia memberi jalan bagi Fitri untuk menguasai semua yang sudah ia miliki selama ini, dan Wati tidak akan membiarkan semua itu terjadi.
''Bu Wati kenapa kelihatannya kok sedih sekali?'' tanya Ningsih,pada ibu mertuanya.
Ningsih dan Tejo baru pulang dari luar daerah untuk menghadiri acara nikahan dari keluarga ayahnya,mereka menginap disana selama tiga hari,makanya Ningsih sama sekali tidak tau apa masalah yang menimpa Wati saat ini.
Dan akhirnya bu Retno pun menceritakan tentang masalah yang telah menimpa rumah tangga anak dan menatunya itu.
''Masa sih buk?bukankah Fitri itu sahabatnya Wati ya?kok tega-tega nya dia merusak rumah tangga temannya.'' ucap Ningsih sedikit tak percaya.
''Sebaiknya kamu hibur dia Ning,biar dia tidak kepikiran terus sama masalahnya.'' ucap bu Retno.
''Baiklah bu,aku akan kerumahnya sekarang.'' jawab Ningsih sambil beranjak dari duduknya.
''Wati,'' panggil Ningsih.
''Mba Ning,sudah pulang?'' ucap Wati
''Iya,tadi siang pulangnya.'' jawab Ningsih
''Mba,mba Ning pasti udah dengar masalahku dari ibu kan?
__ADS_1
''Iya,mba tau, dan mba ingin kamu kuat, karna mba yakin perselingkuhan yang mereka lakukan tidak akan bertahan lama, sekarang mba tanya apa kamu masih ingin bersama suami mu???
NEXT