
Ming Yue keluar dari café setelah memberitahu pelayan jika Lu Ming yang akan membayar untuknya.
Sesampainya dia luar dia menghampiri mobil Lu Ming yang terparkir di pinggir jalan.
Asiaten Yun yang melihat Ming Yue mendekat segera membukakan pintu untuknya. “Nona Ming Yue, silahkan.”
Ming Yue menoleh ke belakang, dia melihat Lu Ming keluar dari café diikuti oleh Gu Anran di sampingnya. Ming Yue mendengus. Dia mengambil tasnya yang ada di jok belakang lalu menghentikan taxi dan meninggalkan asisten Yun yang kebingungan.
“Asisten Yun kenapa tidak kau hentikan!” Lu Ming berlari kearah mereka tapi tetap tidak dapat menghentikan Ming Yue. Dia memandangi taxi yang ditumpangi Ming Yue melesat menjauh dengan muka masam.
Asisten Yun tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kalaupun dia tahu dia tetap tidak bisa mencegah nona Ming Yue. Asisten Yun hanya bisa terima disalahkan dan mengeluh di dalam hati. Nasib seorang ajundan, bosnya bertengkar dia tetap terkena imbasnya.
“Presiden Lu, apa kita akan mengejar nona Ming Yue?” asisten Yun sudah siap untuk menekan pedal gas tapi tidak tahu harus pergi kemana.
“Apa kau pikir kau bisa seenaknya membatalkan pertemuan dengan Jendral Besar Negara ini?” Lu Ming memberikan tatapan seakan dia mempertanyakan kewarasan asisten Yun.
Asisten menelan ludah. Dia hanya bisa mengomel dalam hati. Tapi asisten Yun tidak berani membantah dan melajukan mobil menuju Paradise Hotel.
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil terasa membeku. Asisten Yun mengigil kedinginan meskipun dia sudah mamatikan pendinginnya.
Ketika mereka sampai di depan Paradise Hotel, Lu Ming melakukan hal yang tidak terduga.
“Berikan kuncinya.” Lu Ming berkata.
Asisten Yun mendelik. Dia tidak salah dengarkan?
__ADS_1
“Sekarang.” Lu Ming menambahkan.
Asisten Yun segera memberika kuncinya kepada presiden Lu. Dia menyaksikan presiden Lu masuk ke dalam kemudi hingga meniggalkan pelantaran hotel. Asisten Yun bisa menebak kemana presiden Lu pergi.
Kalau dia tidak pergi untuk menyusul nona Ming Yue dan membujuknya, kemana lagi presiden Lu pergi. Asisten Yun menggelengkan kepalanya, dia tahu dimana posisi presiden Lu di dalam hubungannya dengan nona Ming Yue.
Asisten Yun kemudian dia mengeluarkan ponselnya dan mengirim e-mail kepada ajundan Jendral Besar untuk memberitahukan jika petemuannya di batalkan, setelah itu dia mulai menjadwal ulang jadwal presiden Lu untuk mengosongkan kegiatan sore ini.
Gu Anran yang berdiri di samping Asisten Yun mengepalkan tangannya hingga terasa sakit akibat kukunya yang menusuk ke kulit telapak tangan. Dia tidak percaya jika Lu Ming membatalkan pertemuan penting karena Ming Yue. Gu Anran menyakinkan dirinya jika Lu Ming pergi karena ada urusan lain. Dia terus mengatakan itu kepada dirinya tapi dia tahu betul akan kebenarannya.
“Asisten Yun apakah tidak apa-apa pertemuannya dibatalkan begitu saja?” dia tidak tahan lagi dan harus mencari pembenaran untuk dirinya.
Asisten Yun
menatap Gu Anran dan tersenyum. Sekretaris baru ini pasti kaget, dia merasa
akan marah.” Asisten Yun berharap alasannya itu bisa membantu menenangkannya.
Memang benar Jendral Besar itu tidak akan marah. Lebih tepatnya tidak bisa marah, selain karena Jendral Besar itu adalah paman presiden Lu, dia sendiri yang merengek untuk bertemu dan mengatakan akan menunggu tidak peduli presiden Li datang atau tidak.
Dari awal presiden Lu sudah menolak untuk bertemu dengannya tapi karena nona Ming Yue yang suka dengan makanan di Paradise Hotel kebetulan datang ke kantor, presiden Lu berubah pikiran pada detik terakhir dan memutuskan untuk datang ke pertemuan itu.
Ming Yue sudah sampai di rumah tapi dia masih merasa sebal. Dia kehilangan kesempatan untuk makan enak. Tidak tahu kapan dia bisa mencicipi menu baru yang Lu Ming katakan itu. Ming Yue menyeka wajahnya dengan tisu basah untuk menghapus make up dari wajahnya kemudian membilasnya dengna air hangat.
Dia memandangi bayangannya di cermin. Ming Yue masih heran bagaimana wajahnya bisa sama persis dengan wajah aslinya. Apa penulis novelnya adalah orang yang mengenalnya dan menjadikan dia muse. Tapi author pasti membencinya dan dia melampiaskan kebenciannya itu ke dalam buku. Kalau tidak dia tidak mungkin memberinya setting yang tidak menguntungkan dan membuatnya terlihat bodoh, dan akhir yang mengenaskan.
__ADS_1
Ming Yue menebak-nebak siapa kira-kira author itu. Bagaimana dia bisa membencinya, Ming Yue adalah orang yang paling baik hati, dia tidak sombong dan suka menolong. Tidak ada alasan untuk membencinya. Kalaupun ada kekurangan dalam dirinya, itu hanya… Ming Yue tidak suka menabung. Tapi orang tidak bisa membencinya karena hal itu. Itu tidak adil, suka menabung atau tidak itu urusan pribandinya. Ming Yue juga tidak memakan nasi milik orang lain.
Ming Yue sudah selesai mengaplikasikan skin care pada wajahnya dan bersiap ingin tidur siang ketika bell rumahnya berbunyi. Ming Yue tidak peduli siapa yang datang dan naik ke tempat tidur. Dia sudah mengganti kasurnya sejak Ming Weyan menolak keinginanya utuk tinggal di luar, jadi sekarang dia sudah bisa tidur dengan nyaman.
Dia sudah memejamkan matanya tapi bell terus berbunyi.
Ming Yue membuka matanya kembali. Kemana sih orang-orang, apa mereka tidak dengar ada yang membunyikan bell.
Dengan sedikit mengomel Ming Yue membukakan pintu.
“Lu Ming?” Ming Yue membuka lebar-lebar matanya untuk memastikan jika dia tidak salah lihat. Orang yang di depannya masih sama, Ming Yue jadi ingin mengucek matanya tapi dia tahan karena itu bisa menimbulkan keriput.
Lu Ming yang tadinya emosi, begitu melihat wajah Ming Yue yang kebingungan seperti itik yang salah masuk ke kandang angsa. Terheran-heran dan tidak percaya dengan keindahan yang dia lihat.
Lu Ming berdehem. “Kau tidak menyuruhku masuk?”
Ming Yue menincingkan mata. Jangan-jangan ini adalah Lu Ming palsu… bukannya pria itu sedang berkencan bersama Gu Anran di Paradise Hotel dan menikmati Banquet King sambil meminum wine.
Lu Ming tidak menunggu Ming Yue untuk mempersilahkannya dan mengundang dirinya sendiri masuk ke dalam. Lu Ming datang untuk Ming Yue jadi dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk berbasa-basi dengan anggota keluarga lainnya. Dia langsung menuju kamar Ming Yue, Lu Ming sudah beberapa kali mengunjungi rumah Ming Yue dan tahu dimana letak kamarnya.
“Woi! Lu Ming mau kemana kau!” Ming Yue menghentikan Lu Ming yang satu kakinya sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia menarik kerah baju bagian belakang Lu Ming dan menariknya ke luar.
Lu Ming berbalik dan menghadap kepada Ming Yue. “Masih marah?” dia meletakkan tangannya pada kedua sisi pundak Ming Yue dan menatapnya lekat.
Marah? Siapa yang marah? Ming Yue menjadi bingung. Kenapa dia harus marah. Dia tidak marah.
__ADS_1
“Lu Ming kalau ingin main-main pulang sana. Aku ingin tidur.” Ming Yue menyingkirkan tangan Lu Ming dari pundaknya dan masuk ke dalam kamar.
Sepertinya Ming Yue masih marah. Lu Ming mendesah dan mengikuti Ming Yue.