MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
74.


__ADS_3

"Ah!"


Ming Yue terlonjak dari tidurnya.


Dia terjatuh dari kasur ke lantai, beruntungnya lantai di penginapan itu dilapisi oleh karpet yang cukup tebal. Dan karena udara di sini lebih dingin, Ming Yue menggulung tubuhnya dengan selimut seperti kepompong, jadi jatuhnya tidak sakit.


Ming Yue tidak langsung beranjak dari lantai. Dia masih memikirkan mimpinya barusan, dia tidak begitu mengingat apa yang dia impikan. Tapi entah mengapa dia merasa senang dan itu membuatnya tersenyum.


Hari masih subuh, di luar masih gelap. Dia berniat ingin kembali tidur dan melanjutkan mimpinya.


Ditengah tidurnya dia terbangun lagi, kali ini bukan karena dia jatuh dari tempat, tapi karena hidungnya mencium bau gosong.


Ming Yue menyibakan selimut yang menutupi matanya dan sedikit kaget ketika mendapati ruangan yang terang benderang.


Apakah hari sudah pagi? Dia melirik jam di nakas, masih jam lima. Belum saatnya matahari terbit. Ketika itu dia sadar, cahaya yang masuk melalui jendela bukan cahaya matahari melainkan cahaya merah dari api yang berkobar-kobar dari luar jendela.


Dia menengok keluar dan melihat api yang melahap hampir setengah dari penginapan. Api itu menjalar dengan cepat dan hampir sampai ke tempatnya.


Ketika pintu kamarnya diketuk dengan kasar, Ming Yue segera tersadar, dia menyambar jaket dan tasnya lalu lari menuju pintu.


"Tuan muda, tuan muda Ming!" Suara Ron terdengar dari balik pintu. Tergesa dan urgent. "Kebakaran! Penginapannya terbakar! Tuan muda segera keluar!" Ron tidak berhenti menggedor pintu.


Ron yang tidak mendapat respon dari dalam, dia bersiap akan membuka pintu dengan paksa.


Kalau sampai hal buruk terjadi kepada nona Ming, dia tidak tahu harus menebusnya dengan cara apa. Nona Ming adalah orang yang sangat penting bagi tuan muda Lu.


Ikut mati sekalipun sepertinya juga tidak akan cukup untuk menebus kesalahannya.


Ketika Ron mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu. Pintu terbuka dari dalam dan nona Ming datang dengan menenteng ransel ditangannya.


Karena api terus berkobar, mereka tidak sempat menanyakan keadaan satu sama lain. Ron segera mengambil alih tas dari tangan Ming Yue dan mereka segera bergabung dengan pengunjung lain berlari ke tempat yang aman untuk menyelamatkan diri.


Setelah Ron memastikan Ming Yue berada di tempat yang aman, dia bergabung dengan orang lain untuk membantu memadamkan api.


Satu jam kemudian tim pemadam kebakaran berhasil dipadamkan api. Tapi bangunan penginapan itu sekarang hanya tinggal puing-puingnya saja.

__ADS_1


Bos pemilik penginapan berdiri dengan merana menatap bangunannya hancur dan gosong.


Kebakaran itu terjadi bukan karena arus pendek, tapi pengunjung yang tinggal di kamar tengah tidak sengaja menjatuhkan lilin dan membakar karpet. Pengunjung itu tidak segera memadamkan apinya lebih dulu tapi malah berlari keluar mencari bos penginapan untuk melapor.


Hasilnya sebelum dia bertemu dengan bos pemilik penginapan, api sudah menyebar luas. Dan kerena saat ini sedang musim kemarau, berangin dan bangunannya terbuat dari kayu, api dapat dengan cepat menjalar.


Tentu saja pelanggan yang bodoh itu harus membayar biaya ganti rugi.


Setelah pagi yang hectic, Ming Yue dan Ron check out dari penginapan dan segera bergegas munuju stasiun.


Kereta yang akan mereka naiki dijadwalkan akan berangkat pada tengah hari.


Ketika dua orang itu sudah berada di dalam kereta dan mulai meninggalkan perbatasan. Saat itulah Ron tidak lagi merasakan ada mata yang mengawasi mereka.


"Tuan muda, sebenarnya siapa yang mengawasi kita?" Ron bertanya. Dia sudah menahan rasa penasarannya itu terlalu lama dan sekarang sudah tidak tahan lagi untuk tahu sebenarnya misteri apa yang terjadi di tempat itu dan siapa gerangan yang terus mengamati


mereka.


"Tim keamanan desa." Ming Yue menjawab singkat.


Mendengar jawaban dari Ming Yue, Ron menjadi lebih tidak mengerti.


Tapi dari yang Ron ketahui, desa itu hanyalah sebuah desa penghasil karet biasa. Tidak ada harta warisan leluhur atau berlian yang pernah ditemukan di sana.


Dia sungguh penasaran tapi sepertinya nona Ming tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Ron pun hanya bisa menyimpan kembali rasa penasarannya.


Mungkin desa itu menyimpan sebuah rahasia yang lebih baik tidak dia ketahui. Lagi pula mereka hanya diawasi dan tidak diserang.


Setelah menghabiskan satu hari satu malam di dalam kereta akhirnya mereka sampai di kota J pada jam sepuluh pagi. Mereka turun di stasiun kereta yang berbeda di dekat bandara lalu mereka langsung mengambil penerbangan paling cepat menuju kota S.


Sebelum pesawat mereka lepas landas, Ron sudah memberitahu Lu Ming mengenai kepulangan mereka.


Karena itu lah begitu mereka tiba di kota S, Lu Ming sudah menunggu mereka di bandara.


Ketika Ming Yue melihat Lu Ming berdiri dia antara orang yang berlalu-lalang di bandara, dia merasa dadanya memanas, setengah bulan tidak bertemu membuatnya merindukan pria itu. Ming Yue tanpa memperdulikan sekitar berlari ke arah Lu Ming dan memeluk pria itu.

__ADS_1


"Welcome home." Lu Ming menyambut pelukan Ming Yue dan berbisik di telinganya.


A Tai yang melihat kaki nona Ming melingkar pada pinggang bos-nya ingin mengatakan sesuatu. Tapi dia dihentikan oleh Lu Ming melalui tatapan mata yang penuh dengan peringatan.


Pada akhirnya dia hanya bisa menutup mulut dan menelan kembali kalimat yang ingin dia katakan. Tidak banyak yang bisa dia perbuat sebagai seorang ajudan. Jika bos berkata tidak, dia hanya bisa patuh.


Ming Yue memeluk Lu Ming untuk beberapa saat kemudian dia melepaskan pelukannya dengan hidung yang berkerut. "Apa kau dari rumah sakit." Ketika memeluknya tadi dia mencium bau antiseptik dari tubuh Lu Ming.


"Tidak." Lu Ming bergumam.


Ming Yue menyipitkan matanya, tidak percaya. Aroma antiseptik yang menempel pada tubuh Lu Ming terlalu pekat. Jika bukan dari rumah sakit, dari mana dia mendapatkan bau itu mengingat jika pria itu tidak menggunakan sabun atau wangi-wangian yang memiliki aroma antiseptik.


Lu Ming menghindari tatapan menyelidik Ming Yue. Dia menjulurkan tangannya untuk merapikan rambut Ming Yue yang sedikit berantakan lalu mengusapnya dengan lembut. "Mau makan apa malam nanti." Dia mengganti topik.


Ming Yue semakin yakin jika ada yang disembunyikan oleh Lu Ming. "Apa terjadi sesuatu ketika aku pergi?" Ming Yue tidak bertanya kepada Lu Ming karena tahu jika dia tidak akan memberinya jawaban yang memuaskan. Jadi dia mengalihkan pertanyaan itu kepada A Tai.


A Tai berada dalam dilema. Dia sangat ingin memberi tahu nona Ming apa yang telah terjadi, tapi sepertinya tuan muda Lu tidak ingin nona Ming tahu.


Dia melirik bos-nya untuk mencari bantuan. Dia tidak tahu harus mematuhi perintah siapa.


Melihat A Tai yang tetap tutup mulut, firasatnya mengatakan jika sesuatu yang besar telah terjadi.


Ming Yue kembali menatap Lu Ming dan meminta jawaban. Tetapi Lu Ming kembali mengalihkan topik. "Aku baru ingat, kakek memintaku membawamu pulang untuk makan malam bersama akhir pekan ini. Bagaimana kalau kita pergi hari ini saja?" Dia kembali menghindar.


Hal itu membuat Ming Yue sedikit jengkel."Kau mau mengatakannya atau akan mencari tahu sendiri?" Ming Yue berkata dengan nada mengancam kepada Lu Ming.


Lu Ming diam-diam menelan ludah tapi tetap bersikukuh untuk tidak memberitahu Ming Yue.


Ming Yue ingin berpaling kepada A Tai dan berniat ingin memaksanya agar mau buka suara. Tapi ujung Ming Yue melihat noda pada bagian dada di baju Lu Ming.


Ming Yue menyentuh noda itu menggunakan jari telunjuknya dengan sedikit memberikan penekanan.


Dia melirik wajah Lu Ming.


Pria itu menggertakan rahangnya, alisnya tegang dan bertaut.

__ADS_1


Ming Yue mendapatkan firasat buruk. Dia segera menarik jarinya lalu mencium noda merah yang melekat di sana.


Bola mata Ming Yue membesar. Tanpa pikir panjang dia menarik kemeja Lu Ming dan membuat kancing kemejanya terlepas. "What the hell is this!" Dia berteriak dengan marah


__ADS_2