MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
46.


__ADS_3

Ming Yue melihat ke sekeliling, berdasarkan google maps dia hanya perlu berjalan lima menit untuk sampai ke Plaza Wonder Island. Ming Yue sudah berjalan lebih dari sepuluh menit tapi dia tidak kunjung sampai.


Dia Kembali mengecek navigasi pada google map, “What the…” Ming Yue memaki. Bagaimana dia bisa salah membaca antara lima menit dan lima puluh menit.


Ming Yue berhenti pada sebuah halte bis dan berencana untuk memesan taxi online. Tapi aplikasi taxi online-nya menolak untuk mencarikannya driver karena lokasi yang sangat jauh dari keramaian dan tidak ada driver yang mangkal di sekitar tempatnya. Kalaupun ada yang mau menerima order darinya, Ming Yue harus menunggu kurang lebih satu jam.


Dia mengecek jadwal keberangkatan bus yang ada pada papan informasi dibelakangnya.


Ada satu bus yang akan datang lima menit lagi, tapi rute bus itu tidak langsung ke Plaza Wonder Island, dia harus transit tiga kali. Suhu udara turun lagi dan disertai dengan angin kencang. Ming Yue tidak bisa pilih-pilih lagi dan segera naik bus begitu bus itu datang.


Di dalam bus tidak ada tempat duduk yang kosong, Ming Yue terpaksa harus berdiri.


Penderitaanya bertambah lagi. Ketika bus berhenti pada halte selanjutnya, segerombolan orang berbondong-bondong masuk dan memenuhi ruang bus sehingga mereka harus berdesakkan. Dia terhimpit dari depan, belakang dan samping. Saat bus tiba-tiba mengerem atau mempercepat laju, Ming Yue tergencet oleh orang-orang sekitarnya.


Pada pemberhentian berikutnya Ming Yue terdorong keluar dari bus dan tertinggal.


Wush…


Angin bertiup dan selembar daun jatuh di atas kepalanya.


Lu Ming sedang mendengarkan laporan dari asisten Yun.


Matanya tidak sengaja melihat keluar. “Berhenti.” dia berkata.


Lu Ming keluar dari mobil dan menyebrang jalan.


Asisten Yun melongok keluar jendela.


Ada seseorang yang jongkok di halte sebrang jalan, kepalanya dibenamkan diantara kedua lututnya. Orang itu memakai pakaian yang sangat tebal dan tidak kelihatan apakah dia laki-laki atau perempuan. Beberapa koin dan uang kertas berserakan di sekitar kakinya.


Ming Yue melihat sepasang sepatu kulit berhenti di depannya, “Aku tidak butuh santunan.” Ming Yue berkata tanpa melihat pemilik sepatu kulit itu.


Setiap ada orang yang lewat, mereka akan meleparkan uang. Apa dia terlihat seperti gelandangan? Dia tidak sedang mengemis. Dia hanya sedang menunggu taxi.


Ming Yue tidak mau naik bus lagi, dia sudah trauma.


Orang itu tidak kunjung pergi, Ming Yue jadi dongkol. Apakah ada pengemis yang berpakaian seperti dirinya. Apa pengemis sekarang kaya-kaya, baju yang dia pakai adalah keluaran terbaru dari brand terkenal! Lihat baik-baik, dari kaki sampai kepala, dia dibalut dengan uang.

__ADS_1


Lu Ming tidak mengalihkan pandangannya, Lu Ming merasa sesuatu di dalam tubuhnya bergejolak. Apa yang Ming Yue lakukan di sini? Apa dia ingin kabur dan tidak meninggalkan jejak?


Bepergian menggunakan bus adalah pilihan paling bagus, Lu Ming akan sulit melacaknya.


Tangan Lu Ming mengepal.


Dia mengontrol emosinya dan menekan amarah yang ingin keluar. Saat ini dia hanya ingin segera membawa Ming Yue pulang lalu mengurungnya di dalam rumah dan memberinya penjagaan dua puluh empat jam.


Ming Yue mendongkak dan…


Ming Yue yang awalnya hanya kedinginan dan kelaparan, ketika melihat Lu Ming, matanya menjadi pedih. “Lu Ming…” suara Ming Yue sedikit serak.


Ketika mendengar Ming Yue memanggil namanya dan menatapanya dengan mata besar yang berkilau, Lu Ming tersentak.


“Kau bisa berdiri?”


Ming Yue mengangguk dan mengulurkan tangannya.


Lu Ming meraih tangan Ming Yue dan membantunya berdiri.


Ming Yue berbohong, dia bisa berjalan. Saat ini dia merasa ingin bertingkah manja kepada Lu Ming.


Lu Ming terdiam, dia menatap Ming Yue dengan mata yang panas. Di dalam kepalanya penuh dengan kecurigaan. Ming Yue tidak bersikap seperti biasanya, apa karena rencananya gagal dan ketahuan jadi dia mencoba mengalihkan perhatian.


“Lu Ming?” Ming Yue menarik ujung lengan kemeja Lu Ming dan menatapnya.


Persetan! Satu kali ini. Satu kali ini saja. Lu Ming akan pura-pura tidak tahu, setelah hari ini akan dia pastikan tidak ada lagi kesempatan bagi Ming Yue untuk kabur darinya.


Lu Ming sedikit membungkuk lalu mengangkat tubuh Ming Yue.


Ming Yue mengalungkan kedua tangannya pada leher Lu Ming dan menyerukan kepalanya pada tengkuk Lu Ming.


Tindakannya itu berhasil melemaskan hati Lu Ming, kenyataannya Ming Yue hanya perlu sedikit membujuknya dan Lu Ming sudah luluh.


Lu Ming memunduk ke bawah, dia semakin erat memeluk Ming Yue.


Asisten Yun sudah keluar dari mobil. Dia belum bisa mengenali siapa orang yang presiden Lu gendong, tapi karena presiden Lu sampai menjemputnya secara pribadi, orang itu pasti memiliki hubungan yang dekat dengan presiden Lu.

__ADS_1


Mereka semakin mendekat, mata asisten Yu membesar.


Tentu saja orang itu adalah nona Ming Yue, bagaimana bisa dia tidak menyadarinya. Satu-satunya orang yang mendapatkan perlakuan khusus dari presiden Lu hanyalah tunangannya. Nona Ming Yue.


Asisten Yun segera membukakan pintu.


Asisten Yun kagum dengan presiden Lu, mobil yang mereka kendarai berjalan dengan kecepatan normal tapi presiden Lu masih sempat mengenali nona Ming Yue yang berada di sebrang jalan, jarak mereka cukup jauh dan sangat mudah untuk melewatkannya begitu saja tapi bahkan tanpa melihat wajahnya, presiden Lu bisa mengenalinya.


Kalau bukan karena ikatan batin, pasti presiden Lu sangat peduli dengan nona Ming Yue.


Lu Ming membawa masuk Ming Yue yang ada digendongannya, tangan Ming Yue terus memeluknya dan tidak mau melepaskannya.


“Ming Yue,”


Lu Ming ingin menjernihkan kepalanya, dia tidak bisa terus mengalah kepada Ming Yue. Dia memaksa melepaskan tangan Ming Yue dari lehernya. Tapi Ming Yue tidak membiarkannya, dia mengeratkan pelukannya.


Sebenarnya dengan menggunakan sedikit tenaga, Lu Ming bisa dengna mudah melepaskan diri dari Ming Yue. Tapi dia memilih untuk tidak melakukannya.


Dia akan berpikir nanti setelah sampai di rumah.


“Hick… hick…” Ming Yue tiba-tiba mendapatkan dorongan untuk menangis, dia tidak bisa menghentikannya, air matanya keluar begitu saja.


Ming Yue yang menangis membuat Lu Ming panik, dia mendorong Ming Yue agar bisa melihat wajahnya. “Ming Yue!” tapi Ming Yue tidak mau memperlihatkan wajahnya, dia semakin membenamkan kepalanya pada ceruk leher Lu Ming.


Lu Ming berhenti memaksanya, dengan lembut dia mengusap kepala Ming Yue dan menepuk-nepuk punggungya.


Setelah limabelas menit menangis, Ming Yue melepaskan Lu Ming dan turun dari pangkuan Lu Ming.


Lu Ming hanya melihatnya, dia tidak bertanya tapi menuggu Ming Yue untuk mengatakannya sendiri.


“Aku juga tidak tahu kenapa menangis, air matanya keluar begitu saja.” Ming Yue berkata.


Lu Ming terdiam, hal seperti itu memang bisa terjadi. Tapi pasti ada penyebabnya. “Bagaimana kau bisa berada di situ?” Lu Ming bertanya dengan lembut.


Ming Yue menceritakan dari awal sampai akhir, dari dia ke luar rumah sampai ke tempat itu.


Mendengarkan narasi dari Ming Yue, mata Lu Ming menajam. Gurat kemarahan tampak jelas di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2