
Ming Yue melemparkan tasnya ke dalam mobil dengan sembarang, dia mengeluarkan dua botol obat pemberian Ming Weyan dan menimangnya di tangannya.
Ck.
Ming Weyan benar-benar menuruti sarannya, selain memberinya obat penyubur kandungan, dia juga memberinya aphrodisiac.
Ron melirik botol obat yang di pegang oleh Ming Yue. Tadi memang dia hanya menunggu di luar pintu dan tidak ikut masuk, tapi Ron memiliki pendengaran yang tajam. Sebagian besar dari penbicaraan nona Ming dan ayahnya, dia mendengarnya. Jadi dia tahu obat apa yang ada di dalam botol itu.
Sekarang Ron bertanya-tanya apakah nona Ming akan menggunakan obat-obat itu seperti intruksi ayahnya. Dia tahu jika nona Ming yang terlihat seperti seorang penurut itu sebenarnya adalah pembangkang. Tapi tidak menutup kemungkinan nona Ming benar-benar memberikan aphrodisiac itu kepada tuan muda Lu mengingat usaha-usaha nona Ming di masa lalu.
“Apa Tim sudah berhasil menakhlukkan Weiwei?” Ming Yue bertanya lagi.
“Belum nona, Tim baru saja ditolak lagi kemarin.” Ron kemudian menceritakan detail bagaimana Tim kembali di tolak oleh Weiwei.
Setelah mendengar narasi dari Ron, Ming Yue tidak bisa menahan tawanya. Tim dan Weiwei adalah sepasang Siberian Husky yang baru saja di adopsi olehnya dan Lu Ming. Tapi karena Ming Yue dan Lu Ming sama-sama tidak suka tinggal dengan hewan piaraan, kedua anjing itu dipelihara di asrama Ron.
Ming Yue berpikir mungkin Tim membutuhkannya. Dia berniat untuk memberikan obat itu kepada Tim dari pada membuangnya dengan mubazir. Tapi setelah dipikir kembali, apakah obat untuk manusia bisa diberikan untuk hewan?
Daripada nanti mereka keracunan, lebih baik urungkan saja niatnya.
Ming Yue membuka botol air mineral dan meminumnya hingga setengah, setelah itu dia memuka botol obat itu dan memasukan semua pill yang ada di dalamnya. Mengocoknya hingga larut kemudian membuang botol itu ketempat sampah.
Ron yang melihat semua itu merasa malu karena telah berperasangka yang tidak-tidak. Bagaimana dia bisa berpikir jika nona Ming akan mengunakan obat itu untuk tuan muda Lu. Dengan hubungan mereka yang sekarang, apakah masih perlu obat-obatan seperti itu?
Ming Yue tidak tahu jika di kepala Ron telah terjadi berbagai drama, dia merebahkan kepalanya dan memberitahu Ron untuk membangunkannya jika sudah sampai.
__ADS_1
Ketika Ming Yue sedang minum teh di sebuah tea house, tiba-tiba seseorang duduk di depannya. “Nona muda Ming”
Mendengar orang itu memanggil, Ming Yue meletakan cangkir tehnya. Dia mendongkak, mengangkat dagunya kemudian dia mengangkat tangan dan menggunakan jemarinya yang ramping untuk menyibakan rambutnya ke belakang telinga. “Tuan muda Mu.” Dia berkata, lalu tersenyum standar kepada tamu dadakannya.
“Nona Ming tidak keberatan bukan kalau saya bergabung?” Mu Qing bertanya sambil tersenyum.
Ming Yue tidak langsung menjawab, dia meraih sebuah garpu lalu menusukkannya pada cheesecake di piring. Dia menyendok potongan kecil kemudian memasukannya ke dalam mulut. “Tentu saja keberatan, tapi… tuan muda Mu tidak akan berdiri lalu pergi bukan?” setelah menelan potongan kue itu barulah dia berbicara.
“Haha… bercandamu lucu juga nona Ming.” Mu Qing tidak menghiraukan tatapan tidak suka dari Ming Yue, dia dengan tanpa malu menuangkan teh untuk dirinya sendiri.
“Baguslah kalau itu bisa membuatmu terhibur.” Ming Yue tidak mau kalah. Kalau mau saling sindir, dia akan meladeninya. “Oh, dengar-dengar nona Lin pergi mengunjungi dokter genology lagi, apakah dia kembali melakukan aborsi?” Ming Yue berbisik dengan nada menggosip. Suaranya pelan tapi cukup bagi orang di meja seberang untuk ikut mendengarnya.
Karena tea house ini berada di kawasan elit dan merupakan tempat nongkrong bagi crazy rich generasi kedua. Orang-orang yang datang kemari adalah orang-orang yang berada dalam satu circle dengan mereka, jadi begitu mereka mendengar perkataan Ming Yue, mereka tahu apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan.
Meskipun mereka sangat kepo dan ingin menguping, mereka tidak berani.
Hubungan percintaan Mu Qing dan Lin Jing adalah topik hangat yang sering menjadi bahan pembicaraan saat mereka berkumpul. Jiwa menggunjing para pemuda kurang kerjaan itu meronta, tapi mengingat latar belakang yang dimiliki oleh tuan muda Mu, mereka tidak berani menyinggungnya di depan pria itu.
Ming Yue pura-pura tidak tahu jika saat ini wajah tuan muda Mu sudah sama hitamnya dengan pantat kuali. Dia dengan santai memambahkan dua biji gula batu ke dalam tehnya dan mengaduknya dengan sendok. Dia melanjutkan perkataanya kemudian menyesap tehnya. Manis. “Kurasa tuan muda Mu harus menghentikannya, jika dia terus-terusan melakukan itu… Ah, Sudah berapa kali nona Lin melakukannya…” Ming Yue mengerutkan dahinya, mengingat-ingat berapa kali nona Lin melakukan aborsi. “Aku takut terjadi apa-apa dengan rahimnya.” Ming Yue melanjutkan, dia menatap Mu Qing dengan penuh keprihatinan.
Pria mana yang harga dirinya tidak terinjak jika pasangan mereka membuatnya memakai topi hijau. (memakai topi hijau: kiasan yang biasanya digunakan untuk menyebut orang yang diselingkuhi oleh pasangannya.)
“Kau!...” Mu Qing berdiri, dia mengacungkan jari telunjuknya dengan geram kepada Ming Yue. Tatapannya membunuh, dia tidak tahan ingin mencekik leher wanita itu.
Ming Yue melihat Mu Qing yang mulai hilang kendali tersenyum, dengan santai dia berkata. “Membesarkan satu atau dua anak orang lain bukanlah hal yang buruk, kalau beruntung mereka akan memanggilmu papa dan mengurusmu di hari tua nanti.” Tidak hanya sampai di situ, Ming Yue menambahkan lagi. “Tapi mana mungkin tuan muda Mu bisa berbesar hati. Saranku sih, segera putuskan nona Lin… Ops…” Ming Yue membekap mulutnya. Melirik Mu Qing dengan tatapan mengejek.
__ADS_1
“Aku lupa kalau tuan muda Mu tidak punya wenang.” Ming Yue menaikan sebelah alisnya, nada bicaranya penuh dengan provokasi.
Kalau tadi Mu Qing masih memberikan muka kepada Lu Ming, setelah mendengar kalimat terakhir yang Ming Yue ucapkan, emosinya meledak.
Dia mengankat cangkir tehnya yang masih penuh dan berniat untuk menyiram wajah menyebalkan Ming Yue.
Sayangnya Ming Yue yang sudah mengantisipasi semua itu, dengan gesit dia menghindar. Air itu gagal mengenainya, membuat emosi Mu Qing semakin meletup. Dia kalap dan meraih teko.
Namun Ming Yue tidak diam saja, dia mendahului Mu Qing dan merebut teko itu. Lalu…
Byur.
Air tumpah dan mengenai wajah tuan muda Mu.
“Ming Yue!” dia berteriak. Tulang rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. Matanya beringas penuh dengan amarah.
“Apa?” Ming Yue menaikan sebelah alisnya, “Aku berbaik hati memberimu saran dan kau malah menyerangku. Tuan muda Mu ternyata tidak tahu terimakasih dan berpikiran sempit. Ck,ck,ck…” Ming Yue mencibir, dia mengelap tangannya terkena sedikit percikan air dengan tissue.
Dia menatap Mu Qing sambil menggeleng-gelengkan kepala, seolah dia sedang berhadapan dengan seorang murid bebal dari suku pedalaman yang susah diberi tahu jika dia harus cebok setelah buang air.
“Kau…” Mu Qing berteriak. tidak bisa mengumpat karena Ming Yue sudah pergi. Dia hanya bisa memandangi punggung wanita rubah itu menjauh dengan perasaan yang bersungut-sungut dan sumpah untuk membalas dendam pada pertemuan selanjutnya.
Ketika Ming Yue sampai di depan pintu dia menoleh ke belakang lalu tersenyum.
“Sepertinya kita sudah ketahuan.”
__ADS_1