MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
77.


__ADS_3

"Jadi itu yang terjadi." Ming Yue berkata.


Saat ini dia sedang membantu Lu Ming mengganti perban. Setelah perban itu dibuka, luka sepanjang dua inci yang sudah di jahit itu terbuka lagi dan mengeluarkan darah. Ming Yue membersihkan luka itu menggunakan alkohol, membuat Lu Ming sedikit meringis. "Tapi kau juga bodoh, Lu Ming."


Walaupun mengatainya bodoh Lu Ming bisa merasakan jika gerakan tangan Ming Yue menjadi lebih lembut. Karena itulah dia mengangguk. Lu Ming juga mengaku jika dirinya memang sedikit bodoh.


Bersimpati kepada musuh berarti berbuat jahat kepada diri sendiri.


Andaikan dia langsung mengeksekusi Dong Chen seperti dia mengeksekusi dua orang sebelumnya. Hal seperti ini tidak akan terjadi.


Tiga puluh menit kemudian mobil berhenti di pelataran rumah sakit.


Ketika Ming Yue hendak turun, Lu Ming mencekal tangannya. "Ada apa? Cepat turun."


Lu Ming tertawa sumbang dan berkata. "Aku sudah baikan, ayo pulang saja."


Ming Yue menaikan alisnya, menatap Lu Ming dengan menyelidik. Melihat bagaimana pria itu menggenggam tangannya dengan erat dan wajahnya yang terlihat canggung serta matanya yang menghindari tatapannya. Sebuah pikiran melintas di kepalanya. "Kenapa? Kau takut dengan rumah sakit?"


Lu Ming tidak menjawab. Tapi dia melepaskan tangan Ming Yue dan segera turun dari mobil lalu melenggang masuk ke rumah sakit tanpa menunggu Ming Yue.


"Beneran takut?" Ming Yue mengejarnya. "Seorang presiden Lu.. ck,ck!" Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, melirik Lu Ming dengan tatapan mencemooh.


"Mana mungkin." Lu Ming berseru.


Tapi Ming Yue tidak menggubrisnya. Dia terlanjur percaya jika Lu Ming takut dengan rumah sakit. Dia mulai menasehati pria itu untuk tidak takut dan berjanji untuk memberinya permen jika Lu Ming menurut.


Memperlakukannya seperti bayi!


Lu Ming hanya bisa mempercepat langkahnya, berharap Ming Yue kecapean dan berhenti berbicara. Tapi tidak seperti yang diharapkan, Ming Yue memang sedikit tertinggal di belakangnya tapi dia tidak berhenti berbicara, gadis itu malah menambah volume suaranya menjadi lebih keras. Membuat orang-orang disekitar ikut mendengar memberikan tatapan aneh kepada mereka. Bahkan ada beberapa yang terang-terangan tertawa.


Lu Ming berhenti, dia berbalik badan lalu membekap mulut Ming Yue kemudian menyeretnya menuju tangga darurat.

__ADS_1


"Hei, mau kemana? untuk apa kesini? Lukamu harus segera dijahit ulang." Begitu Lu Ming melepaskannya, Ming Yue langsung berbicara. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mempermalukan Lu Ming. Kapan lagi hari seperti ini datang. "Tidak usah takut, nanti aku akan meminta dokter untuk memberimu anestesi. Ayo." Dia hendak membuka pintu tangga darurat tapi Lu Ming menahannya dengan memposisikan tangannya diatas kepala Ming Yue. Memperangkapnya.


"Ming Yue." Lu Ming berkata dengan serius.


"Mm?" Dia menaikan alisnya, meniru sikap tuan muda yang tidak tahu diri. Tapi karena perbedaan tinggi badan dia harus mendongakkan kepalanya dan membuatnya kehilangan momentum. "Kenapa?" Dia masih belum menyerah namun suaranya mengecil ketika dia melihat perubahan pada mata pria itu.


Lu Ming marah. Astaga, apa aku melewati batas. Ohh... "Kalau kau tidak mau berobat, ayo pulang. Aku tidak akan memaksa lagi." Dia berkata.


Lu Ming menyeringai. Dia tidak masalah Ming Yue mempermalukannya, hanya saja jangan melakukannya di tempat umum. Dia masih ingin menjaga image! "Apakah semudah itu?"


"Ugh... Baiklah aku bersalah. Aku tidak akan melakukannya lagi, sumpah." Ming Yue mengangkat tangannya, menyerah dan meminta berdamai.


Tapi Lu Ming tidak melepaskannya dengan mudah. Kalau tidak diberi pelajaran mana mungkin Ming Yue kapok. Gadis itu pasti akan mengulanginya lagi. "Bagaimana bisa aku percaya jika tidak ada jaminan."


"Aku sudah bersumpah, apa itu tidak cukup? Apa perlu menulis surat perjanjian?" Ming Yue mengeluarkan sticky note dan bolpen lalu menyerahkannya kepada Lu Ming agar pria itu menulis sendiri.


"Tidak perlu." Lu Ming menolaknya. "Ada cara lain agar aku percaya."


Hal itu membuatnya seperti menjadi seekor kelinci yang berhadapan dengan serigala. Tidak tahu kapan serigala itu akan menerkamnya lalu memakannya.


Tanpa sadar dia menjilat bibirnya yang terasa kering. "Apa? Bagaimana?" Lu Ming yang melihat Ming Yue terpojok jadi ingin membulinya. "Seperti kau membayar denda lebih dulu, jadi kau akan berpikir dua kali kalau ingin melakukannya lagi. Bagaimana?"


"Ha ha ha... You want to be beautiful!" Ming Yue menyipitkan matanya kearah Lu Ming, tubuhnya yang menempel pada pintu beringsut turun.


Lu Ming mengikuti gerakannya hingga akhirnya mereka berdua jongkok di lantai. "Seperti yang pernah kau katakan, pengusaha sepertiku tentu saja tidak mau merugi." Pria itu dengan santainya berkata.


Mendengar itu Ming Yue hanya mengerucutkan bibir. Dia berharap pria itu akan menyudahi pertikaian ketika melihat dirinya sudah menyerah.


"Ming Yue..."


Suara Lu Ming terdengar menggoda sehingga Ming Yue tidak berani untuk menatapnya secara langsung. Dia menundukan kepalanya dan berpura-pura mengagumi pattern lantai keramik putih bersih di bawahnya.

__ADS_1


Lalu tangan Lu Ming terulur dan jemarinya menyentuh dagu Ming Yue dan memaksanya untuk menatapnya.


Ketika mata mereka saling bertatapan, Ming Yue menyadari jika otaknya mulai memberikan peringatan.


Tapi ketika aroma mint menguasai indera penciumannya, Ming Yue sudah tidak peduli lagi.


Dia memejamkan matanya dan bibir mengerucut ke depan.


Lu Ming membiarkan hidung mereka bersentuhan sehingga nafas mereka saling bertukar, kemudian dia berbisik, "Apa yang kau pikirkan?" Dia menjauhkan kepalanya dan tangannya terjulur maju kemudian jari telunjuknya mengetok dahi Ming Yue.


Ming Yue membuka matanya dan menatap Lu Ming dengan tidak percaya. Dia berteriak, "Lu Ming!!"


Lu Ming hanya tertawa kecil. Kemudian dia membantu Ming Yue berdiri lalu menggandengnya untuk keluar dari sana. "Jangan marah, setelah sampai di rumah kita bisa melakukan apa yang kau mau." Dia berkata berbisik pada telinga Ming Yue.


Ming Yue menjawabnya dengan sebuah lirikan tajam. Kemudian dia berjalan lebih dulu dan meninggalkan Lu Ming di belakang.


Saat mereka sampai di ruangan dokter Ming Yue masih mengabaikannya.


Hingga dokter selesai menjahit ulang luka pada dada Lu Ming lalu mengganti perbannya dengan yang baru, Ming Yue masih belum mau melihat kearah Lu Ming. Dia hanya berdiri di sampingnya dengan tangan bersidekap di depan dada dengan muka yang penuh permusuhan.


"Jangan sampai terkena air selama tiga hari, jangan banyak bergerak dan jangan mengangkat beban berat." Sang dokter berkata dia bermaksud untuk membantu mencoba untuk mencairkan suasana dan membantu pasiennya membuka jalan untuk menbujuk istrinya. Tapi perkataan Ming Yue selanjutnya membuatnya tidak mampu berkata-kata. Setelah ini dia tidak akan lagi berani ikut campur urusan orang lain.


"Kalau terkena air dan infeksi apakah kau akan melakukan prosedur diamputasi?" Ming Yue berkata. Nada bicaranya seolah dia akan membuat luka itu infeksi dan datang lagi ke rumah sakit untuk meminta dokter mengamputasi dada suaminya.


Sang dokter dan Lu Ming bergidik ngeri.


"Apakah harus menunggunya membusuk terlebih dahulu sebelum mengamputasi-nya?" Dia bertanya lagi.


Sang dokter tidak bisa menjawab. Lidahnya kelu. Baru kali ini dia dihadapkan dengan masalah mengamputasi dada seseorang. Apa bisa dilakukan?


Beruntung pasiennya adalah orang baik yang tidak akan membuatnya menjadi seorang dokter psikopat.

__ADS_1


Ketika dia melihat pasiennya merangkul istrinya keluar dari ruang kerjanya dokter itu menjatuhka tubuhnya pada kursi. Menghela nafas panjang dan mengelus dadanya sambil perpikir apakah dia perlu pindah kerja agar pasangan itu tidak dapat menemukannya?


__ADS_2