
Cekrek.
Cekrek.
Cekrek.
Ming Yue merasakan ada kilatan lampu flash yang diarahkan kepadanya, diikuti oleh suara derap langkah kaki yang tergesa dan orang berbicara dengan cepat.
Mung Yue membuka matanya.
Alat perekam suara, kamera dan wajah manusia.
Ming Yue tersentak. Dia terkejut.
Situasinya sekarang ini sangat familiar. Adegan pada bab ke lima belas paragraph ke tiga. Lokasi: Kamar hotel. Waktu: Pagi hari setelah pesta ulang tahun kakek Lu. Semua deskripsinya cocok. Ini adalah kejadian dimulainya malapetaka dalam hidup Ming Yue di dalam novel. Tapi semalam dia ingat, dirinya menolak minuman dari Gu Anran. Dia juga tidak sembarang makan dan bahkan dia merelakan Romanee Conti 1990. Semuanya dia lakukan demi terhindar dari scane ini.
“Nona Ming bisa anda jelaskan apa yang terjadi saat ini.”
“Nona Ming dengan siapa anda mengahiskan malam.”
“Apakah presiden Lu tahu anda memiliki hubungan dengan pria lain.”
“Katanya dia adalah seorang gigolo, apakah itu benar."
“Nona Ming tolong katakan sesuatu.”
“…”
Terlepas dari kegaduhan yang terjadi di depan matanya, pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan dan mata penuh deskriminasi yang ditujukan kepadanya. Ming Yue lebih menghawatirkan siapa pria yang semalam bersamanya. Ming Yue menyibakakn selimutnya. Dia tidak menemukan dirinya telanjang. Sebuah kemeja putih kebesaran milik seorang pria membungkus tubuhnya. Dari fabrik yang digunakan, Ming Yue bisa tahu jika kemeja yang dia pakai adalah brand mahal yang dibuat secara khusus untuk satu orang.
__ADS_1
Ming Yue merasa sedikit lega. Dia menoleh ke samping, sisi ranjang disampingya kosong. Dari bekasnya beberapa saat lalu seseorang menempatinya. Ming Yue mengedarrkan pandangannya, kondisi kamar hotel yang dia tempati berada dalam kondisi yang rapi. Tidak ada pakaian dalam yang berserakan atau sepatu yang tidak pada tempatnya.
Para reporter itu tidak berhenti mengambil gambar dan merekam. Ming Yue yang tidak mengatakan apa-apa membuat mereka sedikit kesal dan kalimat yang mereka keluarkan semakin tidak sopan.
Ming Yue tidak menghiraukannya. Jika sesuai dengan skrip sebentar lagi Lu Ming akan muncul bersama Gu Anran untuk memutuskan pertunanngan dengannya, lalu giliran Ming Weyan setelahnya. Ming Yue akan kehilangan tunangan dan keluarga setelah ini. Tapi dia tidak merasa sedih, hanya sedikit kecewa. Dia tidak ingat apa yang terjadi semalam.
Ming Yue menjambak rambutnya dengan frustrasi. Kenyataan jika kesuciannya diambil oleh orang tanpa tahu siapa dan bagaimana tentu membuatnya tidak nyaman. Dia yakin jika orang yang menidurinya adalah orang kaya, tapi apakah dia pria muda berwajah tampan atau pria tua botak Ming Yue tidak tahu. Dan itu membuatnya stress. Pengalaman pertamanya harus dengan orang yang tampan, minimal setara dengan Lu Ming.
“Apa yang terjadi disini.” Sebuah suara penuh dengan amarah terdengar.
Focus kamera beralih dari Ming Yue kepada pemilik suara itu. Lu Ming berdiri di depan pintu dan menatap galak kepada semua orang. Reporter yang penuh dengan pertanyaan itu tidak berkutik.
“Berhenti merekam.” Lu Ming berkata dengan dingin. Setiap penekanan pada kalimat yang dia ucapkan cukup untuk membuat suhu ruangan turun menjadi nol derajat.
Ming Yue merapatkan selimutnya. Skenario telah dimulai.
Lu Ming berjalan ke arahnya. Semakin dekat jarak mereka Ming Yue bisa dengan jelas melihat badai yang mengamuk pada matanya. Tiba-tiba Ming Yue merasa takut dan tanpa sadar dia bergerak mundur. Ming Yue mencengkram selimut dengan erat. Dia belum pernah menghadapi Lu Ming semarah ini.
Ming Yue yang melihat otot-otot pada pelipis dan leher Lu Ming timbul keluar, semakin cuit nyalinya. Dia menelan ludah. “Lu Ming…” dia ingin menjelaskan, tapi dia juga tidak tahu apa akan dia katakan. Bagaimana bisa dia menjelaskan kepada orang lain jika dirinya sendiri juga tidak tahu dengan jelas situasinya.
Lu Ming membuka matanya. Amarah yang menguasainya sudah berhasil dia kendalikan.
Dia pergi tidak ada setengah jam dan pemandangan yang dia lihat saat kembali adalah Ming Yue yang ketakutan meringkuk di pojok tempat tidur dan orang-orang berkamera mengelilinginya. Saat mereka mendengar kalimat yang mereka ucapkan amarahnya meledak seperti volcano.
Ming Yue menundukan wajahnya. Jika harus terjadi maka terjadilah. Apapun yang ingin Lu Ming katakan, apapun yang akan terjadi pada akhirnya, Ming Yue hanya ingin saat ini cepat berlalu. Dia tidak suka menghadapi orang yang sedang marah. Lebih tidak suka lagi jika orang itu marah kepadanya.
“Ming Yue jangan takut, aku akan membereskan semuanya.” Lu Ming berkata.
Eh? Ming Yue mendongkak. Ada yang salah dengan alurnya. Yang Lu Ming katakan barusan tidak ada di dalam script. Kemudian baru Ming Yue sadar jika dia tidak melihat Gu Anran dari tadi. Lu Ming datang sendirian.
__ADS_1
Tetapi ketika seseorang memikirkan tentang setan maka setan akan mendatanginya.
Gu Anran muncul bersama dua orang petugas keamanan dan seorang pria di dalam kawalan oleh mereka.
“Presiden Lu, pria ini terlihat mencurigakan mondar-mandir di depan lift dan saya meminta bantuan kepada petugas keamanan untuk menangkapnya. Dia yang ada dibalik kejadian ini, dia yang mengundang wartawan kemari. Dia sudah mengakui perbuatannya.” Gu Anran bekata.
“Cepat jelaskan apa yang sudah kau perbuat.” Gu Anran mengisyaratkan kepada petugas keamanan untuk melepaskannya.
Pria itu melangkah ke depan. “Yueyue maafkan aku, aku melakukan ini semua karena terpaksa. Aku merasa insecure dengan hubungan kita. Aku tahu kamu melakukan ini demi masa depan kita. Tapi aku tidak tahan ketika melihatmu bersama orang lain, jadi aku bertindak tanpa izinmu. Kupikir jika hubungan kita diketahui banyak orang aku kita tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi, tapi ternyata aku malah membuatmu ketakutan. Maafkan kekasihmu yang tidak kompeten ini Yueyue.” Pria berkata panjang kali lebar. Actingnya untuk terlihat sedih dengan perasaan bersalah sangat sempurnya. Expresi wajahnya menggambarkan semuanya dengan jelas.
Para wartawan yang tadi sempat mematikan kameranya karena perintah Lu Ming, mereka kembali merekam. Berita ini adalah menjadi berita besar yang akan mengisi kolom utama surat kabar mereka dalam satu minggu. Kekasih rahasia tuanangan CEO, sosialita kelas atas bermain di belakang. Akan menjadi headline yang paling sempurna.
“Yueyue karena semuanya sudah terlanjur begini, kita tidak perlu lagi bersembunyi. Juga semalam kita sudah melakukannya, jadi ayo kita menikah hari ini juga.” Pria itu mendekati Ming Yue.
Ming Yue sebelumnya menikmati drama itu, tapi ketika melihat tangan pria itu menjulur ke arahnya, dia melompat ke belakang Lu Ming dan bersembunyi.
“Yueyue…” Pria masih berusaha untuk meraih Ming Yue.
Ming Yue di belakang Lu Ming merinding. Dia benar-benar memuji Gu Anran dengan scenarionya.
“Lu Ming jangan biarkan paruh bebek itu menyentuhku.” Dia berteriak. Ngeri jika sampai disetuh pria itu. Dia melihat kuku-kukunya kotor dan hitam penuh dengan lumpur. Pria kumal dan wajahnya dipenuhi bopeng bekas jerawat, pendek dan hitam. Dimana Gu Anran menemukan orang seperti itu!
Lu Ming juga sadar jika waktu menikmati drama sudah habis, tanpa ampun menendang pria itu hingga terpental dua meter darinya.
Gu Anran mendelik. Bukan seperti ini yang dia harapkan.
Ini memang tidak ada di dalam rencana, orang yang dia sewa untuk menjebak Ming Yue mengingkari janji dan tidak datang semalam. Dia baru tahu pagi harinya saat mengecek ke kamar ini untuk memastikan persiapannya sesuai sebelum reporter datang, dia hanya menemukan Ming Yue seorang. Gu Anran lalu mecari preman jalanan di gang belakang dan membawanya kemari. Rencana cadangannya itu dia buat dengan matang dan memperhitungkan keberhasilannya. Dia bahkan menaruh jaket milik preman itu disamping tempat tidur. Lu Ming pasti melihatnya. Tapi kenapa hasilnya berbeda.
“Nona Ming, mungkin anda malu untuk mengakuinya, tapi semua orang pada akhirnya akan mengerti jika cinta nona Ming itu tidak memandang rupa.” Gu Anran berkata. Dia belum akan menyhrah, selama dia bisa membuat Lu Ming curiga sedikit saja rencananya akan berhasil. Dia melirik Lu Ming. Pria itu mengerutkan dahinya, bagus, sedikit lagi semuanya akan selesai. “Dia sudah mengakui semuanya, kalian juga sudah melakukannya semalam. Pasti nona Ming juga sangat mencintainya, bukan?”
__ADS_1
“Semalam aku melakukan apa?” Lu Ming bertanya. Dia menatap Ming Yue dengan seksama.
Ming Yue mengigit bibirnya. Tatapan Lu Ming terlalu intens dan menelisik. “Semalam….”