
“Semalam…” semalam apa yang dia lakukan?
“Hmm?” Lu Ming mendesak, mengangkat alisnya penuh tanda tanya.
Ming Yue menatap Lu Ming dengan linglung. Dia mengerucutkan bibirnya, jika Lu Ming bertanya kepadanya, kepada siapa dia harus bertanya? Dia juga ingin tahu apa yang terjadi semalam.
“Presiden Lu, orang itu sudah bersaksi. Sudah jelas apa yang terjadi semalam.” Gu Anran menyela. Dia melirik pria sewaannya yang masih terbaring dilantai dan memegangi perutnya yang direndang oleh Lu Ming tadi, dia mengodenya untuk menyelesaikan tugas.
“Diam kau!” Ming Yue membentak. Dia sedang berpikir, jangan mengganggunya!
Gu Anran masih ingin membantah tapi Lu Ming menatapnya tajam dan dia menciut.
Plop.
Ming Yue menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi semalam. Yang jelas kemeja ini…” Ming Yue menarik kemejanya dan… ada sesuatu pada kancingnya. “Hei, Lu Ming apa yang terjadi semalam?” Ming Yue menatap Lu Ming dengan berbinar seperti penjelejah gurun yang menemukan oasis.
“Bagaimana aku bisa tahu?” Lu Ming balik bertanya.
“Aku tahu LM ini inisial milikmu, cepat jelaskan.” Dia menunjuk pada kancing kemejanya.
Tidak perlu menunggu penjelasan dari Lu Ming, para wartawan itu bisa menyimpulkan sendiri-sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Seperti menerima siyal darurat, mereka diam-diam ingin mudur.
Tepat pada saat itu pintu diketuk. Dua orang berseragam polisi masuk. Mereka memberi salam kepada Lu Ming lalu menghampiri Gu Anran.
“Nona Gu Anran anda ditangkap atas tuduhan memberi, mengedarkan dan mengunakan obat terlarang.” Polisi itu berkata, menunjuka surat izin penangkapan kepada Gu Anran.
Polisi yang satunya, mengeluarkan borgol dan memasangkannya pada pergelangan tangan Gu Anran.
“Apa yang kalian lakukan. Kalian salah tangkap.” Gu Anran berteriak. “Presiden Lu tolong, saya tidak melakukannya.” Dia memberontak tapi dua polisi itu menyeretnya dengan paksa.
“Presiden Lu maaf atas ketidak nyamanannya.”
Para wartawan itu seperti ikan yang diberi makan. Karena gagal mendapatkan berita hot, kasus kecil juga tidak boleh disia-siakan. Apalagi skandal obat-obatan terlarang, walapun bukan artis atau pejabat yang ditangkap jika itu menyangkut nama besar seperti presiden Lu Grup, kasus itu akan menjadi hot. Apa lagi jika dibumbuhi dengan cinta segitiga.
“Kalian tahu apa saja yang harus ditulis jika tidak ingin mendapatkan surat panggilan dari pengadilan.” Lu Ming berkata.
Para wartawan yang tadinya bersemangat mendadak loyo. Berita itu tidak memiliki bobot jika disuguhkan mentah-mentah. Tapi mereka tidak berani protes.
__ADS_1
Setelah para wartawan itu pergi, tinggal Lu Ming dan Ming Yue di dalam ruangan itu.
Ming Yue menguap, dia naik ke tempat tidur dan bersiap untuk melanjutkan tidurnya yang tadi teranggu. “Lu Ming apa yang sebenarnya terjadi semalam?” Ming Yue bertanya.
“Kau tidak ingat?” Lu Ming balik bertanya.
Ming Yue mengangguk, dia tidak ingat.
“Sungguh tidak ingat?” Lu Ming memincingkan mata, apa benar Ming Yue tidak ingat sama sekali.
“Tidak mau kasih tahu ya sudah.” Ming Yue memperbaiki posisinya dan menarik selimut hingga menutupi lehernya.
“Tidak penasaran dengan apa yang kita lakukan semalam?” Lu Ming mengungkit.
Ming Yue menjawab dengan mengedikkan bahu. Dia yakin Lu Ming tidak melakukan hal aneh-aneh kepadanya. Dugaannya itu didukung dengan keadaan tubuhnya yang baik-baik saja. Katanya jika Wanita melakukan hubungan intim pertama, badan mereka akan sakit.
“Ming Yue tanda lahir pada pangkal pahamu itu bentuknya seperti kelinci.” Lu Ming berkata.
Apa! Ming Yue mendelik. Bagaimana Lu Ming bisa tahu. Tapi dia yakin tidak merasa ada yang aneh pada bagian itu…
“Kalau hati-hati tidak akan sakit.” Lu Ming seperti tahu apa yang ada dalam pikiran Ming Yue.
Ming Yue turun dari tempat tidur dan menyibakan selimut. Linen dibawahnya putih bersih tanpa noda.
“Aku mengganti spreinya.” Kata Lu Ming.
Ming Yue menatap Lu Ming, kemudian melihat dirinya. Lalu menatap Lu Ming lagi. Yang ditatap hanya bermuka datar seolah mereka sedang membahas tentang angin. Ming Yue jadi bertambah ragu. “Beneran kita melakukannya?” Ming Yue menatap mata Lu Ming. Bisa saja Lu Ming sedang bercanda.
“Menurutmu apa yang dilakukan dua orang dewasa di kamar hotel.” Lu Ming bertanya. Padahal dia tahu, dengan keadaan Ming Yue semalam wajar jika dia tidak ingat, tapi itu tidak menghentikannya untuk merasa sedikit kesal.
“Monopili, mungkin?” Ming Yue tahu itu tidak mungkin, Ming Yue mengigit bibirnya. “Tapi… kau harus bertanggung jawab walaupun aku tidak ingat!” tambahnya lirih.
Lu Ming melipat tangannya di depan dada dan menatap Ming Yue dengan serius. Tapi dia tetap diam.
“Kalau kau merasa sakit hati karena akau lupa, kau bisa memberi tahuku.” Ming Yue berdecit.
Ming Yue mengigit bibirnya. Menunduk dan menghindari tatapan Lu Ming. Sungguh bukan maksudnya untuk tidak ingat. Tapi kalau Lu Ming lari dari tanggung jawab gara-gara dia lupa, bukankan Lu Ming keterlaluan.
Sudut bibir Lu Ming berkedut. Dia meraih dagu Ming Yue dan mencubitnya, melepaskan bibir Ming Yue yang terperangkap oleh giginya.
__ADS_1
Mereka berdua Kembali saling menatap, Lu Ming membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Ming Yue. “Bagaimana kau ingin aku memberi tahumu, hmm?” Lu Ming menyatukan dahi mereka. “Bagaimana kalau kita reka ulang kejadian.” Hidung mereka juga bersentuhan.
“Haha…” Ming Yue melangkah mundur.
Lu Ming melangkah maju.
Ming Yue mundur lagi, dia ingin mendorong Lu Ming tapi keseimbangannya oleng. Karena reflek dia menarik Lu Ming jatuh bersamanya.
Mereka terjatuh ke Kasur. Ming Yue di bawah dan Lu Ming di atas.
“Omph!” Ming Yue memekik, dia tergencet oleh berat badan Lu Ming.
Lu Ming berguling ke samping dan posisi mereka terbalik, sekarang Ming Yue yang berada di atas. “Kau tidak papa?”
Ming Yue mengeleng. Dia ingin bangun tapi sesuatu berkelebat di kepalanya. Wajahnya memerah seketika.
Seperti banjir, setelah kata kuncinya ditemukan, ingatannya membludak.
Kejadian semalam berputar Kembali ke dalam ingatannya. “Aah!” Memalukan! Ming Yue tidak mau mengingatnya. Dia menguburkan kepalanya, tapi ketika wajahnya menyentuh dada bidang Lu Ming, ingatan itu semakin jelas.
“No.” Dia mengeram dan menutup wajahnya dengan tangan.
Lu Ming sadar jika ingatan Ming Yue sudah Kembali. Dia memaksa Ming Yue untuk menatapnya dan tersenyum mengejek. “Tidak terduga bukan? Ming Yue yang agung. Yang mulia Ming.” Dia menirukan perkataan Ming Yue semalam.
Ming Yue memelototi Lu Ming “Lupakan itu!” dia memerintah.
“Jika itu keinginan yang mulia.” Lu Ming menjawab patuh. Tapi sedetik kemudian dia tidak bisa menahan tawanya dan tertawa lepas.
“Diam! Diam! Diammm…!” Ming Yue merasa terhina. Dia memukuli dada Lu Ming. Tapi itu hanya membuat tawa Lu Ming semakin menjadi dan Ming Yue menambah kekuatannya.
“Baik, baiklan. Aku akan berhenti.” Lu Ming mencekal tangan Ming Yue.
“Hump!” Ming Yue mendengus.
Ming Yue merasa tidak adil, dia merasa sedikit capek setelah memukuli Lu Ming, tapi pria itu tidak kesakitan sama sekali. Ming Yue menumpukan semua berat badannya kepada Lu Ming dan berbaring diatasnya.
Lu Ming melingkarkan tangannya memeluk Ming Yue. Untuk beberapa saat mereka diam seperti itu.
“Presiden Lu, saya masuk karena pintunya tidak di…tutup...” Asisten Yun mendelik. Aaah! Dia menjerit tanpa suara. Dia segera menutup mata dan berbalik badan. “Saya tidak melihat apapun.” Dia menoleh kebelakang dan menutup pintu. Tapi kemudian dia Kembali lagi. “Emm… presiden Lu ada meeting dengan dewan direksi jam sepuluh. Itu saja, silahkan dilanjutkan.” Setelah itu asisten Yun benar-benar pergi.
__ADS_1