
Malam ini, hari dimana salju turun untuk pertama kali setiap tahunnya merupakan hari ulang tahun kakek Lu. Seperti tahun sebelum-sebelumnya, sebuah pesta diselenggarakan untuk merayakannya. Tahun ini juga tidak berbeda.
Ming Yue datang bersama dengan Lu Ming. Kehadiran mereka mencuri banyak perhatian, pasalnya ini di tahun sebelunya mereka tidak datang bersama. Begitu memasuki hall semua mata tertuju kepada mereka. Expresi orang-orang yang menghadiri acara itu macam-macam. Kebanyakan dari mereka merasa kaget dan tidak menyangka.
Bisik-bisik mulai terdengar dan sampai ke telinga Ming Yue.
“Jadi rumor itu benar.”
“Mereka terlihat cocok.”
“Tunggu sampai nona Ming berulah.”
“Aku yakin nona Ming akan menjadi bahan tertawaan lagi tahun ini.”
“Haha… aku menantinya.”
Tangan Ming Yue yang melingkar pada lengan Lu Ming mengendur, dia ingin melepasnya.
“Ming Yue kakek ada di sebelah sana.” Lu Ming berkata. Dia membenahi letak tangan Ming Yue dan mengapitnya agar tidak lepas.
Ming Yue melihat kakek Lu dan ibu Lu Ming, Fu Yao, juga sedang melihat ke arah mereka. Fu Yao mengiriminya senyum dan Ming Yue membalasnya. Begitu juga dengan kakek Lu, dia terlihat sangat senang hingga melambai kepada mereka.
Lu Ming membimbing Ming Yue menyebrangi ruangan.
“Kakek selamat ulang tahun.” Ming Yue berkata, dia memeluk kakek Lu.
“Terima kasih Yueyue, kakek merasa lengkap setelah kau datang.” Kakek Lu membalas pelukannya.
__ADS_1
Seperti biasa kakek Lu akan melupakan sekeliling jika dia sudah bersama dengan Ming Yue, membuat orang lain yang ingin menyapanya harus menunggu. Termasuk Lu Ming.
“Son, sakit matamu sudah sembuh rupanya…” Fu Yao menyikut putranya, dia menaikan alisnya dengan menggoda. Lihat, putranya bahkan sampai tidak memberinya salam. Tapi Fu Yao merasa bahagia. Fu Yao sudah menasehati Lu Ming untuk memperlakukan Ming Yue dengan baik, tapi putranya itu tidak pernah mendengarkannya.
Fu Yao melirik Ming Yue yang masih asik berbicara dengan ayah mertuanya. Dia merasa lega, lalu berkata kepada Lu Ming. “Mama lihat sekarang kalian bertukar posisi.”
Lu Ming menghela nafas dengan berat sebelum menoleh dan menatap ibunya. “Mama ada disisiku, bukan?”
Fu Yao berdecak. “Son, mama bisa menjawab dengan lantang kalau mama akan selalu berada di sismu jika itu menyangkut hal lain. Tapi untuk hal ini…” Dia mendesah, menepuk bahu Lu Ming dan melanjutkan. “Mama ingin melihat kau terkena karma.” Fu Yao mengakhirinya dengan seringaian.
Di ujung ruangan, sepasang mata mengawasi Ming Yue dengan penuh dengki.
Selain rekan bisnis dan kolega, ada beberapa orang dari perusahaan yang datang ke pesta itu. Contohnya seperti orang dari depatemen secretariat yang bertugas untuk memastikan acara berlangsung dengan lancar.
Gu Anran yang datang bersama dengan rombongan itu harus mengertakan giginya. Dia tidak melapaskan pandangannya dari Ming Yue sejak Wanita itu masuk dengan merangkul Lu Ming. Amarahnya bertambah Ketika melihatnya tersenyum Bahagia di tengah-tengah keluarga Lu dan mendapatkan tatapan iri dari gadis-gadis yang datang. Tepat itu adalah miliknya, dalam cerita yang dia lihat, Gu Anran adalah orang yang menjadi partner Lu Ming di pesta ini.
Dia menggengam tas tangannya dengan erat. Dia menatap Ming Yue penuh dengan tekat lalu mengambil dua gelas sampanye dari pelayan dan berjalan ke tempat Ming Yue yang sekarang sedang tidak bersama Lu Ming.
“Nona Ming.” Dia menyapanya.
Ming Yue menoleh. Dahinya langsung berkerut dengan sebal Ketika dia melihat wajah Gu Anran. satu kali lagi dia harus mengatakan, musuh ditakdirkan untuk sering bertemu.
“Nona Ming saya menyadari perbuatan yang saya lakukan kemarin tidak pantas. Saya ingin minta maaf kepada anda.” Dia berkata. Expresinya rendah hati dan nada bicaranya sangat sopan.
Ming Yue membatin, kalau dia sungguh-sungguh ingin minta maaf kenapa dia melakukannya disaat dia sedang tempat ramai. Bukankah itu sama saja dengan memaksanya untuk menerima permintaan maafnya. Kalau dia menolaknya, orang-orang yang memiliki mulut seperti piranha yang siap untuk mengoyak daging itu mengecamnya karena telah bersikap tidak rasional. Di mata mereka, orang meminta maaf lebih dulu adalah orang yang berhati mulia, tanpa perlu mereka tahu kesalahan apa yang membuat orang itu meminta maaf.
Ming Yue tersenyum. “Sudah aku maafkan.” Dia berkata dan berniat untuk pergi.
__ADS_1
“Saya akan merasa lega dan yakin jika nona Ming sudah memaafkan saya.” Gu Anran menghalangi Ming Yue, dia menyodorkan gelas sampanye yang dia bawa ke hadapan Ming Yue.
Ming Yue ingin menolak, tapi mata orang-orang mengawasinya. Bahkan sudah ada yang mulai menggunjingnya. Ming Yue terpaksa menerimanya.
Ketika gelas itu sudah menyentuh tangannya dan Gu Anran sudah melepas pegangannya, disaat itulah Ming Yue menarik tangannya. Gelas itu jatuh dan pecah ketika menghantam lantai. Cairan yang ada di dalamnya tumpah mengenai ujung gaun Gu Anran.
“Gasp!” orang-orang terkesiap.
“Maaf tanganku licin.” Ming Yue pura-pura kaget, menutup mulutnya dengan tangan dan berkata dengan penuh penyesalan.
Kau pikir hanya kau yang bisa berakting! Ming Yue menutar matanya di dalam hati.
Minuman itu, Ming Yue yakin jika Gu Anran sudah mencemarinya dengan sesuatu. Melihat sifat asli yang dimiliki Gu Anran, dia jadi ragu jika kejadian yang terjadi di dalam novel adalah murni karena karma. Pasti ada campur tangan dari Gu Anran.
“Sekretaris Gu, tidak usah khawatir, Lu Ming menyiapakan gaun cadangan untukku. Kau bisa mengunakannya.” Mign Yue memanggil pelayan dan mengintruksinya untuk membawa Gu Anran pergi ke ruang ganti.
Di sepanjang jalan menuju ruang ganti Gu Anran mengutuk Ming Yue. Gaun itu mahal dan harganya setara dengan uang sewa apartemen satu bulan, dia membeli gaun itu dengan rencana untuk direfund setelah dia pakai malam ini. Uang tabungannya sudah menipis gara-gara membayar ganti rugi yang tidak masuk akal kepada Ming Yue waktu itu. Sedangkan gaji yang dia terima jumlahnya sedikit karena dia masih magag dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Gu Anran menatap gaun tergantung di depannya. Gaun ini dan gaun yang dipakai oleh Ming Yue adalah rancangan dari desain ternama yang katanya butuh satu tahun untuk memesannya. Tidak terbayangkan berapa harga persatuannya, dan Ming Yue memiliki dua sekaligus. Kebenciannya semakin bertambah.
“Nona, bukan yang itu.” Pelayan yang menganratnya berkata. Dia kemudian menunjukan gaun lain yang tidak dilihat oleh Gu Anran dan menyerahkan kepadanya.
Tentu Gu Anran tidak menyadari jika ada gaun lain karena gaun itu kalah bersinar dibandingkan dengan yang ada di depannya. Walaupun dia yakin jika harganya tidak kalah mahal. Tapi Gu Anran tetap tidak menyukainya, gaun itu terlalu simple dan dia akan menjadi wallflower jika memakainya.
Gu Anran menerima gaun itu dengna berat hati dan masuk ke dalm kamar mandi untuk berganti.
“Yang benar saja, dia ingin memakai gaun ini. dia pikir dia pantas apa?” Pelayan itu mengelengkan kepalanya. Dia awalnya berniat untuk meninggalkan tamu itu setelah memberikan gaunnya. Tapi melihat wanita itu menginginkan sesuatu yang bukan miliknya, dia memutuskan untuk menunggunya.
__ADS_1