MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
55.


__ADS_3

Asiaten Yun langsung menunaikan perintah sebelum bosnya berubah pikiran, dia segera menghubungi bagian HR dan kenaikan gaji Kong Mubai resmi dibatalkan. Presiden Lu sudah sangat bermurah hati dengan tidak memecatnya, gajinya tidak dipotong dan hanya membatalkan kenaikan gajinya saja.


Dia tidak bersimpati kepada rekan sejawatnya itu, jujur saja dia malah merasa senang, bukan karena dia iri dengan gaji orang lain bertambah banyak. Asisten Yun hanya merasa lega karena dia tidak perlu merangkap pekarjaan orang lain. Itu adalah sesuatu yang harus dia syukuri. Dan mengenai musibah yang menimpa sekretaris Kong, itu akibat ulahnya sendiri.


Jika itu menyangkut nona Ming, jangan berpendapat buruk tentangnya.


Ming Yue yang menjadi penyebab orang tidak jadi naik gaji, saat ini sedang berjemur di balkon sambil makan sepiring strawberry dan air madu, waktu santainya itu harus diganggu dengan sebuah telpon.


Dia belum sempat mengganti nomor, walaupun dia sudah memblokir semua nomor asing yang menghubunginya, orang itu rupanya belum menyerah.


Ming Yue mengangkat telpon itu, dia ingin tahu trik apa lagi yang mereka rencanakan. Dia meletakan telpon genggamnya di meja dan mengaktifkan mode speaker.


“Ming Yue, jangan keterlaluan! Aku ini ibumu. Apa kau tidak pernah diajari sopan santun.” Suara Mu Yan terdengar lantang dari speaker.


Ming Yue mengigit sepotong strawberry dan mengunyahnya, setelah dia telan dia meraih air madu dan meminumnya. “Bukankan ini sudah lewat tiga hari, Jena bilang mama mogok makan karena merindukanku. Kenapa masih enerjik sekali, padahal hari ini aku berniat untuk menjenguk mama.” Dia berkata, penuh dengan nada ejekan pada setiap kata mama yang keluar dari mulutnya.


Sumpah serapah langsung keluar dari mulut Mu Yan.


Ming Yue menggigit strawberry lagi, masih ingat beberapa hari lalu bagaimana wanita itu bersikap lembut kepadanya. berbicara dengan nada rendah dan enak didengar, belum ada satu minggu wanita itu sudah kembali ke sifat aslinya. Bukankan orang-orang akan meragukan kredibilitanya kalau terlalu sering berubah image?


Apa dia tidak belajar dari putrinya yang sangat pandai itu.


Ming Yue mengelengkan kepalanya dan berdecak, ck… ck, ck… kalau Mu Jena tidak memiliki wajah yang mirip dengannya, dia akan mencurigai apakah Mu Yan benar-benar ibu kandung dari anak itu.


Biasanya orang tua yang mengajari anaknya, kalau Mu Jena tidak belajar dari Mu Yan, apakah… dia belajar dari ayahnya?

__ADS_1


Ming Yue terkikik, dia membayangkan seorang pria yang tinggi dan kekar tapi letoi. Waktu dia keluar dari restoran Prancis saat itu, ada seorang pria barat yang tinggi dan kekar duduk bersama Mu Yan, Ming Yue tebak, pria itu pasti ayahnya Mu Jena.


“… apa kau sedang tertawa, kau…”


“Sudah, katakan saja apa maumu tidak usah buang-buang waktu.” Ming Yue menyela, dia malas jika harus menghabiskan sore yang indah ini untuk mendengarkan orang berteriak kepadanya.


“Kau!” Ada jeda dari sebrang, mungkin Mu Yan sedang mengatur nafas atau dia sedang menyusun pidato. “Ming Yue…” suara Mu Yan tiba-tiba berubah menjadi lembut.


“Mama tidak bermaksud untuk marah, mama benar merindukanmu. Kalau Yueyue mau datang ke rumah, mama akan sangat senang.” Mu Yan melanjutkan. “Sekarang mama akan menyuruh sopir untuk menjemputmu.”


Itu pasti Mu Jena yang menyuruhnya untuk berkata begitu, entah apa yang mereka rencanakan. Kalau sampai Ming Yue berkunjung ke rumah mereka, dia akan masuk ke dalam perangkap yang telah mereka siapakan.


Mu Jena menguping pembicaraan ibunya dengan Ming Yue, lebih tepatnya dia yang mendekte perkataan Mu Yan.


“Bagaimana ya…” Ming Yue berpura-pura goyah. Bermain dengan boneka porselin sebelum membantingnya ke lantai sedikit membuatnya senang.


“Yueyue, mama sudah meyuruh sopir untuk stand by, kapanpun kau mau datang, mama akan menunggu.” Suara Mu Yan terdengar semakin natural dan tulus.


“Mama…aku…” Ming Yue terbata. Dia kemudian diam sejenak.


“Mama akan menunggu.” Mu Yan berkata dengan sabar.


Mu Jena menyeringai licik, dia bertukar pandang dengan ibunya, sebantar lagi Ming Yue akan masuk ke dalam perangkap. Akan dia buat Ming Yue menyesal bertemu dengannya.


“Mama…ng… aku akan…” Ming Yue menyeret kalimatnya.

__ADS_1


“Yueyue, mama akan selalu menunggu.” Tinggal satu dorongan terakhir dan Ming Yue akan mengantarkan diri kepada mereka. “Mama sangat merindukanmu.”


Mu Jena sudah yakin umpannya dimakan.


Kemudian…


“Apa aku harus membawa polisi dan pengacara sekalian?” dia dengan sarkastik. “Katakan kepada Mu Jena yang ada di sampingmu, apapun yang kalian rencanakan, aku sudah tahu. Jadi jangan buang-buang tenaga. Enyahlah!” Ming Yue tidak menutup telponnya, dia ingin tahu bagaimana reaksi mereka setelah tahu jika mereka telah dipermainkan.


“Ming Yue jangan terlalu percaya diri, dengan sikapmu yang sombong itu Lu Ming akan membuangmu sebentar lagi.” Mu Jena yang memang berbeda di samping ibunya, mendesis.


Ming Yue dengan santai mengunyah strawberrynya. Sudah sejak sepuluh menit lalu Lu Ming berdiri di sampingnya, air muka pria itu menghitam setiap detiknya. Dan kalimat Mu Jena yang terakhir membuatnya lepas kendali. Dia mengambil ponsel Ming Yue dan berkata dengan dingin. “Heh! Sebelum itu terjadi, kau yang akan lenyap lebih dulu.”


Lu Ming mematikan ponsel Ming Yue, dia tidak mengembalikan ponsel itu kepada Ming Yue tapi menukarnya dengan ponsel miliknya.


“Kau tidak takut aku mencuri dokumen rahasia grup Lu?” Ming Yue melirik ponsel Lu Ming. Posel itu pasti terhubung dengna e-mail pribadinya. Banyak dokumen penting yang dikirimkan melalui e-mail. Ming Yue bisa dengan mudah mengaksesenya, kalau dia berniat jahat, dia bisa menjual dokumen-dokumen itu ke perusahaan rival.


Lu Ming terlalu mempercayainya.


Apa dia tidak tahu jika hati manusia mudah sekali berubah, apalagi jika dihadapkan dengan materi duniawi. Bahkan seorang pendeta yang sudah bersumpah untuk mengabdikan hidupnya hanya kepada Tuhan, jika dihadapkan dengan uang, pendeta itu akan tergoda.


Kekuatan yang dimiliki oleh uang mampu mengubah orang baik menjadi jahat, malaikat menjadi setan.


“Kalau kau mau memiliki suami yang miskin, lakukan saja.” Lu Ming berpindah ke belakang Ming Yue, lalu dia menyisir rambut Ming Yue yang diterbangkan oleh angin menggunakan jari-jarinya. Terkadang dia akan menijit kulit kepalanya.


“Hmm…” Ming Yue memejamkan matanya. Sudah lama dia tidak pergi ke salon atau spa. Pijatan yang Lu Ming berikan kepadanya, membuatnya teringat dengan janjinya untuk menemani ibu Lu Ming ke salon.

__ADS_1


__ADS_2