
Lu Ming tahu jika Ming Yue tidak akan terlalu suka jika bertemu terlalu sering dia saat jam kerja, karena itulah dia memberikan proyek yang tidak dia tangani secara langsung. Mereka paling sering hanya akan bertemu satu kali dalam satu minggu dalam meeting.
Tapi sekarang dia menyesal telah melakukannya.
Yang Lu Ming bayangkan, selain berangkat dan pulang bersama. Dia juga menginginkan makan siang bersama dengan Ming Yue.
Tapi jangankan makan siang bersama, sekarang ingin bertemu dengan Ming Yue rasanya lebih sulit daripada ingin bertemu dengan Perdana menteri.
Jika Ming Yue sudah membuka diri dan mau menerima orang lain masuk dalam hidupnya. Dia akan beradaptasi dengan sangan baik. Hanya dalam waktu satu minggu saja dia sudah mendapatkan teman yang mengundangnya untuk makan siang bersama.
"Huh," Lu Ming menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.
Dia dan Ming Yue hanya terpisah oleh kaca pembatas, dia bisa menghampiri gadis itu kapan saja. Tapi Lu Ming merasa jarak antara dirinya dan Ming Yue lebih jauh daripada Mars ke Bumi.
"Huh," Lagi-lagi Lu Ming menghela nafasnya. Menu makan siang yang disimpan oleh kantin terasa sangat hambar untuknya. Dia melirik ke tempat dimana Ming
Yue duduk dikelilingi oleh beberapa orang, entah apa yang mereka bicarakan. Lu Ming menghitung Ming Yue sudah tersenyum sebanyak lima kali dalam setengah jam.
Walaupun para karyawan pria tahu diri dan menjaga jarak dengan Ming Yue, Lu Ming pikir jika dia tidak akan cemburu. Tapi nyatanya hal itu tidak berpengaruh karena sekarang dia juga cemburu kepada para karyawan wanita itu.
Bagaimana bisa Ming Yue tersenyum lebih banyak kepada mereka dibandingkan dengan dirinya!
Lu Ming menjepit irisan daging sapi dengan sumpitnya, dia sudah membuka mulutnya dan siap untuk memasukan daging sapi yang dimasak asam manis itu ke dalam mulutnya saat Ming Yue tiba-tiba menyentuh poni seseorang.
Daging sapi itu jatuh beserta sumpitnya. Mengagetkan Asisten Yun yang makan satu meja dengannya.
Asisten Yun mengikuti arah pandangan presiden Lu dan hal yang sama terjadi dengannya, dia tidak sengaja mengigit lidahnya sendiri. "Ah," dia memekik.
Nona Ming tolong jangan melukai orang disekitar anda.
Lihatlah, bahkan dari jauh saja dia bisa melihat jika pipi gadis yang poninya baru saja disentuh oleh nona Ming merona.
Ini gawat!
Pesona nona Ming lebih besar dari presiden Lu. Jika dibiarkan kaum hawa di perusahaan ini bisa belok semua. Pria jomblo akan semakin merana.
Tidak bisa dibiarkan. Dia harus bertindak!
__ADS_1
Asisten Yun melirik Lu Ming yang masih belum sadar jika saat ini dia telah mematahkan sumpitnya lagi. "Presiden Lu, bagaimana kalau mulai besok pesan makan siang dari Paradise Hotel saja?" Walaupun beresiko ketahuan, asisten Yun nekan memanfaatkan presiden Lu.
Ini semua demi kalian para jomblo. Kalau sampai aku dipecat tolong bayarkan tagihan listrik dan air.
Lu Ming menoleh dan berpikir sejenak. Dia merasa jika ada udang di balik batu dari saran asisten Yun yang menggiurkan itu. Tapi setelah memikirkan pro dan kontra, dia akhirnya menyetujuinya juga.
Demi makan siang bersama dengan Ming Yue.
Setelah rencana itu di finalisasi. Asisten Yun segera menghubungi pihak catering Paradise Hotel dan memilih menu untuk satu minggu ke depan.
Bisa dikatakan jika Ming Yue berhasil mengambil hati semua orang. Selama satu minggu ini dia selalu mendapatkan bantuan dan bantuan dari orang-orang sekitar.
Ming Yue yang belum pernah mengalami hal seperti ini merasa sangat tersentuh dan memutuskan untuk mentraktir semua karyawan di departemen perencanaan malam ini.
Dia tidak pergi ke restoran mahal atau reservasi di Paradise Hotel seperti biasanya. Dia menyerahkan masalah memilih restoran kepada semua orang.
Setelah voting, semua orang setuju untuk pergi ke restoran hotpot di dekat stasiun kereta.
Karena Ming Yue tidak mau merusak suasana, dia tentu saja tidak mengajak Lu Ming dan meninggalkan pria itu untuk bekerja lembur.
Tentu saja dengan kompensasi!
Setelah pulang kerja mereka berangkat ke restoran hotpot bersama.
Acara makan malam itu berlangsung sesuai ekspektasi.
Tapi diantara telur yang dikeluarkan oleh ayam di peternakan akan selalu ada satu atau dua yang busuk.
Keesokan paginya ketika Ming Yue datang terlambat karena bangun kesiangan, saat dia masuk semua orang yang berpapasan dengannya akan menghindar darinya.
Resepsionis yang biasanya menyambut kedatangannya dengan antusias, hari ini dia menundukan kepalanya di depan komputer. Entah dia memang sedang sibuk atau pura-pura tidak menyadari kedatangannya, dia sama sekali tidak menggerakkan kepalanya.
Ming Yue tidak memikirkannya dan masuk ke dalam lift pribadi yang dikhususkan untuk Lu Ming seperti biasanya.
Tapi ketika dia mendapat perlakuan yang sama, dia langsung tahu jika semuanya bukan hanya perasaanya saja atau sebuah kebetulan.
Ada yang salah dengan orang-orang ini.
__ADS_1
Ming Yue terlalu malas untuk mengurusnya dan masuk ke dalam ruangannya tanpa peduli dengan mereka. Begitu Ming Yue sudah berada di dalam ruangannya dan melihat pesan yang dari Lu Ming dia memutar bola matanya.
Baiklah. Jika ini yang kalian inginkan.
Ming Yue membuka berkas di atas mejanya dan mulai mengerjakan sesuatu di dalam komputernya.
Tidak ada lagi orang yang mengetup pintu kantor untuk memberikan milk tea, kopi atau kue-kue kecil seperti hari-hari yang lalu. Ming Yue juga tidak memperdulikannya, dia sibuk membuat laporan hingga jam makan siang tiba. Dia menyimpan dokumennya dan mematikan komputer. Setelah itu dia berdiri dan melakukan perenggangan lalu berjalan ke luar.
Seperti yang dia duga, di luar sudah tidak ada satupun orang yang menunggunya seperti hari kemarin. Ming Yue mendengus dan berjalan ke eskalator.
Siapa juga yang mau makan bersama kalaian. Hari ini aku akan makan lunch box dari Paradise Hotel. Paradise Hotel. Dengar itu. Kalian tidak akan bisa mencicipi air kobokannya sekalipun bekerja seumur hidup. Itu bedanya Ming Yue dan kalian, orang-orang biasa!
Teman, apa itu teman. Dia tidak butuh!
Sampai di kantor Lu Ming, Ming Yue masih memasang wajah jutek.
"Siapa Cui Xiaomi? Dari namanya saja sudah terdengar tidak meyakinkan!" Dia mengerutu. Kesal karena tidak bisa makan bersama dengan para gadis muda dan cantik. Dia juga jadi tidak bia meng goda Meng Meng lagi. Padahal pipi gadis itu sangat lucu jika sudah merona.
"Huft!" Ming Yue dengan kesal duduk pada kursi yang sudah ditarik oleh Lu Ming. Ketika dia melihat kotak makan siang dengan logo Paradise Hotel yang diletakan di hadapannya, matanya berbinar dan lupa dengan emosinya barusan. "Apa menu makan siang kita..."
Tangannya dengan tidak sabar membuka penutup kotak makan itu. Ketika Ming Yue melihat makanan kesukaannya, dirinya sudah tidak lagi memikirkan hal lain.
Lu Ming tertawa kecil melihat perubahan sikap Ming Yue yang begitu cepat. Cara menaklukkan seorang foodie tidak sulit, dia hanya perlu makanan yang enak dan orangnya akan menjadi miliknya.
Setelah makan siang dan Ming Yue sedikit kekenyangan, dia rebahan di sofa sambil mengusap perutnya. Memang Lu Ming yang terbaik.
Hari-hari kemarin dia tidak puas dengan makan siangnya. Menu makanan di kantin tidak buruk, dia menikmatinya. Hanya saja porsinya terlalu sedikit. Saat dia ingin mambah, para gadis-gadis kecil korban doktrin beauty standard itu sudah keburu menariknya pergi.
"Apa kau mau aku mengurusnya." Lu Ming berkata. Sebenarnya dari tadi pagi asisten Yun sudah ribut ingin menangkap Cui Xiaomi dan mengadilinya. Tapi Lu Ming menghentikannya, dia yakin pasti Ming Yue akan lebih senang jika dia tidak ikut campur.
"Tidak perlu, aku ingin tahu tujuan si Cai Xiaosan itu." Untuk masalah kecil seperti ini dia tidak butuh Lu Ming untuk turun tangan. Anggap saja itu iklan lewat, mungkin dia bisa terhibur. (Disini Ming Yue memelesetkan nama Xiaomi menjadi Xiaosan, nama yang biasa dipakai untuk menyebut orang ketiga/pelakor/pembinor.)
"Baiklah, tapi kalau terjadi sesuatu jangan lupa untuk menghubunguku." Walaupun Lu Ming tahu tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Cai Xiaomi. Tapi dia tetap akan mengawasinya dari belakang.
Lu Ming melihat Yue mengangguk. Tapi tidak yakin apakah Ming Yue mendengarkannya lalu mengangguk karena mengerti atau asal mengangguk saja. Gadis itu sudah pulas tertidur saat ini.
Lu Ming menghela nafas pendek dan mengambil selimut dari bawah meja kopi dan menyelimuti tubuh Ming Yue. Lalu dia kembali meneruskan pekerjaannya
__ADS_1