MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
85.


__ADS_3

Kakek Lu, Fu Yao dan Butler Ahn mendongak dan melihat langit-langit. Bertingkah seolah mereka adalah arwah tembus pandang.


Ming Yue sudah selesai loading. Dia turun dari gendongan Lu Ming, merapikan penampilannya dan berbalik badan menghadap tiga tamu tidak diundang itu dengan senyum seratus watts terpasang di wajahnya.


"Kakek~ Yueyue merindukanmu~" dia mengabaikan Lu Ming yang tangannya masih mengambang di udara pada posisi menahan pantatnya tadi dan berlari kecil menuju tempat kakek Lu.


Lu Ming hanya bisa pasrah. Dia menurunkan tangannya, memasukannya kedalam saku lalu mengikuti Ming Yue.


Kakek Lu dan Fu Yao masih berpura-pura menjadi kasat mata. Tapi kemudian mereka tidak tahan dan tiga orang itu berbincang dengan harmonis seperti kejadian yang barusan tidak pernah terjadi.


Lu Ming duduk di sofa dan mengganti channel TV untuk mencari hiburan karena sekarang dialah yang menjadi manusia kasat mata.


Butler Ahn kembali ke dapur untuk meracik teh lagi.


Setelah mereka berbicara dari timur ke barat, selatan ke utara, membicarakan keripik nangka dan kepompong sutra emas. Tiga tamu tidak diundang itu akhirnya pamit undur diri.


"Xiao Ming berusahalah lebih keras. Cucu kakek ada di tanganmu." Ketika Lu Ming mengantarkan mereka keluar, kakek Lu menyemangatinya.


"Son, fighting!" Ibunya juga ikut-ikutan menyemangati. Bahkan butler Ahn juga membuat gestur semangat dengan tangannya. Lu Ming hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.


Ketika Lu Ming masuk kembali kedalam rumah, Ming Yue sudah tidak ada di ruang tamu. Dia duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya. Pikirannya melayang kembali pada laporan yang dikirimkan oleh detektif pribadinya.


Apakah dia melakukan kesalahan. Kenapa ancaman kepada Ming Yue masih ada padahal dia sudah menyingkirkan dalangnya. Juga kejadian yang seharusnya tidak terjadi, sekarang terjadi.


Apakah ini harga yang dimaksud. Tapi tidak peduli berapa banyak jumlahnya asalkan Ming Yue masih berada disisinya, dia sanggup membayarnya.


Lu Ming menarik nafas. Dia memikirkan kalimat Ming Yue tadi siang, berikanlah kesempatan kepada orang lain untuk memperbaiki diri. Dia memejamkan mata dan merenungkannya.


Beberapa saat kemudian dia merogoh ponselnya dari dalam sakunya lalu menekan sebuah nomor dan membuat panggilan.


Setelah mengatakan beberapa kalimat dan orang yang diseberang setuju, dia menyudahi telponnya. Kemudian dia lanjut untuk mengirim pesan kepada asisten Yun.


Malam ini sepertinya banyak orang yang tidak bisa tidur.


Mu Jena berbaring terlentang di samping ibunya, dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Dia menolehkan kepalanya dan memandangi wajah ibunya yang tertidur pulas. "Kau sangat beruntung. Putri yang kau campakkan itu masih peduli denganmu." Dia bergumam lirih.


Tadi, saat dia hendak mandi, dia menemukan sebuah kartu ATM di dalam saku bajunya. Tidak perlu bertanya dia sudah tahu dari mana benda itu berasal. Pasti Ming Yue yang menyelipkannya saat mereka cekcok di pinggir jalan tadi siang.


Satu jam lalu saat ayahnya mendapatkan telpon dari bos lintah darat yang memberitahu jika tanggal jatuh tempo hutang mereka dilonggarkan menjadi satu tahun dan menurunkan bunganya menjadi sama dengan bunga di bank. Bahkan mereka bersedia untuk meminjamkan uang lagi.


Lalu ketika dia pergi ke mesin ATM untuk mengecek kartu ATM itu, jumlah uang di dalam kartu itu cukup untuk hidup enak beberapa bulan.

__ADS_1


Mu Jena kembali memikirkan perbuatan jahat apa saja yang pernah dia perbuat kepada kakak tirinya itu. Semenjak dia kembali ke negeri ini satu tahun lalu, dirinya seperti dikuasai oleh makhluk asing yang menyetir otaknya. Dia seperti bukan dirinya, tiba-tiba dia kepincut dan tergila-gila kepada Lu Ming. Lalu mulai menargetkan Ming Yue dan melihat kakak tirinya itu seperti hama pengganggu.


Tanpa dia bisa mengontrolnya, Mu Jena meneteskan air mata. Dia meraba saku celananya dan menggenggam kartu ATM pemberian Ming Yue. Dia menyeka air mata dan hidungnya yang ber-ingus lalu bangkit dari tempat tidur.


Mu Jena mendekati tempat ayah dan adiknya yang tidur dilantai didekat pintu lalu jongkok di samping ayahnya.


Untuk sejenak dia memandangi wajah ayahnya yang terlihat lebih tua dari biasanya, lalu adiknya yang jadi kurus. Lagi-lagi dia meneteskan air mata.


Mungkin ayahnya tidak tidur dengan pulas, ketika Mu Jena menghisap hidungnya, ayahnya terbangun. "Jena kenapa menangis, beritahu ayah apa yang terjadi?"


Dengan lembut ayahnya memeluknya dan menepuk punggungnya. "Jangan takut, ayah janji semuanya akan baik-baik saja mulai besok."


Mu Jena menangis semakin menjadi, dia sesenggukan dan membangunkan adiknya. "Kakak jangan menangis. Benar kata ayah, mulai besok semuanya akan baik-baik saja." Mu Jin juga ikut memeluknya.


Mereka bertiga berpelukan sampai Mu Jena berhenti menangis.


Saat mereka melepaskan pelukannya, mereka melihat Mu Yan berdiri di samping mereka dengan nampan berisi tiga empat gelas teh yang baru diseduh dan sebungkus kukis coklat.


Mu Yan tidak mengatakan apa-apa dan membagikan teh dan kukis itu untuk mereka berempat. Dia sebenarnya juga tidak bisa tidur dan hanya pura-pura memejamkan mata. Dia mendengar apa yang putrinya katakan.


Saat Mu Jena beranjak dari tempat tidur, Mu Yan juga menangis. Dia menyesali perbuatannya selama ini.


"Kakak Yue memberikan ini." Setelah Mu Jena menghabiskan tehnya dan memakan satu keping kukis, emosinya sudah kembali stabil. Dia mengeluarkan kartu ATM pemberian Ming Yue dari sakunya dan menyerahkannya kepada ayahnya.


Mendengar ucapan ayah Mu tiga orang lainnya tidak ada yang tidak setuju. Mereka berhutang maaf kepada Ming Yue. Meskipun selama ini hanya Mu Jena dan Mu Yan yang berbuat tapi ayah Mu dan Mu Jin tidak pernah menegur, secara tidak langsung mereka juga ikut terlibat.


Malam itu mereka menikmati sebungkus kukis dan mengisi ulang tehnya dua kali hingga pagi datang.


Keesokan paginya Ming Yue mendapatkan SMS dari Mu Jena yang memberitahu jika mereka sekeluarga sudah kembali ke rumah lama ayah Mu di kota F.


Mu Jena juga memberitahunya mengenai rencana penculikan yang dia rencanakan bersama dengan pria yang memberinya info tentang keberadaan Ming Yue hari itu.


Ming Yue memberitahu Lu Ming dan Lu Ming memberitahunya jika orang yang dimaksud Mu Jena adalah ayah dari Huo An yang ingin balas dendam.


Kebetulan saat ini di televisi sedang menayangkan berita tertangkapnya kelompok sindikat mafia pengedar narkoba. Marga pimpinan mafia itu kebetulan bernama Huo. "Apa itu mereka?" Ming Yue bertanya.


Lu Ming mengangguk mengiyakan.


Ketika jam menunjukan jam tujuh pagi, Lu Ming berangkat ke kantor seperti biasa. Hanya saja kali ini Ming Yue ikut bersamanya.


Ketika karyawan grup Lu melihat bos mereka berjalan lewat lobi utama bersama dengan tunangannya, mereka sudah terbiasa tetapi grup chatt rahasia perusahaan tetap ramai bergosip.

__ADS_1


Dulu ketika bos mereka pelit senyum dan seperti robot, mereka mengeluh. Sekarang ketika bos mereka sudah berubah dan tidak lagi pelit senyum, mereka juga mengeluh.


"Pagi ini bos sangat tampan. Tapi Nona Ming sangat cantik." Seperti biasa, resepsionis lobi utama yang memulai chatting pagi ini. Dia mengirim pesan pendek disertai dengan foto HD Lu Ming Dan Ming Yue berjalan di lobi. Entah skill dewa apa yang resepsionis itu miliki, Setiap kali dia curi-curi foto hasilnya selalu saja jelas dan bagus.


"Bos memang tampan apa lagi kalau tersenyum. Tapi kumohon jangan sering tersenyum. Hatiku tidak tahan!!" Lagi-lagi seseorang menjerit dalam bentuk tulisan.


"Blouse yang dipakai nona Ming pagi ini adalah keluaran terbaru dari brand XXX. Kudengar itu limited edition."


"Sepatunya juga edisi terbatas brand YYY. Harganya sembilan digit."


"Presiden Lu tetap yang paling tampan."


"Nona Ming yang paling cantik."


Dan begitu seterusnya. Mereka sangat antusias jika membicarakan kehidupan pribadi bos. Katanya lebih menarik dari gosip entertainment.


Selain resepsionis di lobi depan, orang yang paling sering menyertakan foto di grup chatt adalah asisten Yun. Kali ini dia mengirimkan foto saat nona Ming mencium pipi presiden Lu. Hasilnya grup chatt yang baru saja mereda kembali memanas.


"Ack... Aku tidak sabar untuk menyaksikan pernikahan mereka."


"Aku juga +1"


...


"Aku juga +12345"


...


"Bagaimana kalau kita ajukan proposal untuk mempercepat pernikahan mereka. Siapa yang setuju angkat jari!"


Saat para karyawan itu sibuk meng-gosip. Tanpa mereka ketahui jika orang yang mereka gosip-kan juga tergabung ke dalam grup chatt itu.


Lu Ming menyusup masuk ke dalam grup menggunakan nama samaran. Dia mengecek ponselnya sekilas dan tersenyum.


Dia juga ingin pernikahannya dengan Ming Yue diajukan tapi hal itu tidak bisa. Pernikahan mereka tidak boleh terburu-buru dan harus disiapkan dengan sempurna sehingga ketika orang-orang mengingat hari itu, mereka akan merasa iri.


"Apa yang kau baca?" Ming Yue tiba-tiba muncul dari belakang Lu Ming. Kalau saja refleksnya sedikit terlambat ponselnya bisa jatuh ke lantai.


"Grup chatt para karyawan." Lu Ming tidak menyembunyikannya dari Ming Yue dan menjawab jujur. Dia juga memberikan ponselnya kepada Ming Yue untuk diperlihatkan.


Ming Yue tertawa geli ketika membaca isi grup chatt itu. "Bagaimana kalau kita beri mereka kejutan." Setelah berkata begitu Ming Yue membuka kamera dan berfoto selfie bersama dengan Lu Ming lalu mengirimnya ke grup chatt dengan caption: Permohonan pengajuan tanggal pernikahan ditolak karena bos Lu menginginkan pernikahan yang bisa dipamerkan.

__ADS_1


Satu menit setelah pesan itu terkirim, semua anggota grup chatt keluar dari grup secara serentak.


"Sepertinya kejutannya terlalu mengejutkan." Ming Yue berkata.


__ADS_2