
Ketika Lu Ming sedang berpikir di dalam kamarnya. Ming Yue bersama si kembar Fu Yu dan Fu Qing sudah sampai di kebun buah. Malam sebelumnya Fu Yu dan Fu Qing sudah membuat janji kepada Ming Yue untuk menjadi tour guide-nya.
Angin pedesaan sangat dingin di pagi hari, apalagi jika mereka naik motor, kaki dan tangan Ming Yue terasa beku. Hidunggya mengeluarkan air dan dia menggigil. Tapi Fu Yu dan Fu Qing terlihat baik-baik saja. Angin dingin pagi hari sepertinya tidak berpengaruh untuk mereka.
Udara menjadi semakin dingin saat tiba-tiba hujan gerimis turun.
“Yueyue pakai ini lebih dulu, Fu Qing akan menyalakan api sebentar lagi.” Fu Yu melepas jaketnya dan memberikannya kepada Ming Yue. Mereka berteduh berada di gubuk kecil yang biasa digunakan untuk istirahat para pekerja kebun.
Fu Qing kesulitan menyalakan api karena ranting yang dia kumpulkan basah oleh embun pagi, ditambah angin yang berhembus kencang membuat api yang dia nyalakan terus-menerus mati.
Walaupun Fu Yu dan Fu Qing sudah memberikan jaket mereka, Ming Yue masih tetap kedinginan. Gigi Ming Yue bergemeletuk saking dinginnya. Dia duduk seperti bola dan memeluk lututnya agar panas di dalam dirinya tidak keluar.
Hujan bertambah deras dan angin semakin kencang. Setiap kali angin berhembus, atap gubuk seperti akan terbang. Angin yang datang membawa air dan membuat udara semakin dingin.
“Koreknya sudah habis.” Fu Qing berkata dengan lesu. Dia tidak tahu kenapa hari ini susah sekali membuat api. Padahal biasanya dia selalu berhasil pada percobaan pertama.
“Bagaimana ini, tidak ada sinyal lagi...” Fu Yu semakin frustrasi. Dia sudah mengangkat ponselnya tinggi-tinggi tapi tidak juga mendapatkan sinyal. Begitu juga dengan ponsel Ming Yue dan Fu Qing.
Jeder! Kilat dan petir menyambar bersamaan.
Fu Yu menjerit dan ponselnya terlempar ke tanah.
Ming Yue sebagai satu-satunya orang dewasa disitu juga tidak tahu harus bagaimana. Dulu dia selalu absen saat ada acara berkemah. Dia juga belum sempat mempelajari cara bertahan di alam liar. Dia clueless. “Biasanya hujan deras tidak akan berlangsung lama.” Hanya itu yang bisa dia katakan.
__ADS_1
“Ini salahku. Seharusnya aku menuruti kata-kata Qing dan pergi saat sudah siang.” Fu Yu berkata. dia mendekat kepada Ming Yue dan memeluknya, berharap bisa membuatnya sedikit hangat. Dia dan Fu Qing sudah terbiasa dan mereka kebal terhadap udara dingin, karena itu mereka tidak memperhitungkan kemungkinan jika Ming Yue berbeda dari mereka.
“Kalian pasti juga kedinginan.” Ming Yue ingin mengembalikan jaket mereka. Bagaimanapun bukan hanya dirinya yang bisa merasa dingin.
“Tidak dingin, kau saja yang pakai.” Fu Yu dan Fu Qing dengan kompak menolak meskipun tubuh mereka mulai mengigil. Mereka merasa bersalah telah menyeret Ming Yue ke dalam situasi ini. Ming Yue tidak tega dan tetap mengembalikan jaket mereka.
Tiga orang itu duduk bedekatan menunggu hujan berhenti. Tapi setelah satu jam lamanya menunggu, hujan tidak juga reda. Hujan malah semakin deras dengan disertai kilat dan petir. Mereka terjebak di situ.
Fu Qing tidak berani menerobos hujan. Kabut yang tebal membuat jarak pandang mereka terbatasi, terlebih lagi jalan di perkebunan ini masih tanah dan akan sangat licin saat hujan begini. Kalu nekat, mereka bisa jadi malah tergelincir dan resiko terjadi kecelakaan sangatlah tinggi. Semoga saja ayah mereka ada di dekat sini dan melihat mereka. Tapi kemungkinan itu sangatkah kecil karena gubuk yang mereka tempati berada di tengah-tengah perkebunan sedangkan ayah mereka hanya berpatroli di bagian luar perkebunan. Saat gerimis tadi, ayahnya juga pasti sudah pulang.
Mengharapkan orang rumah mengirimkan bantuan juga tidak mungkin. Keluarga Fu tidak memiliki kebiasan berkumpul pada pagi hari sehingga tidak akan ada yang menyadari mereka tidak berada di rumah. Yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah menunggu.
Ming Yue yang sudah membayangkan akan makan buah persik langsung dari pohonnya kini hanya bisa berdoa dia bisa melalui hari ini dan tidak mati kedinginan. Hawa dingin membuatnya lelah dan mengantuk. Matanya sudah sangat berat dan ingin tidur saja, tapi dia tahu jika dirinya tertidur saat ini suhu tubuhnya akan semakin turun dan bisa menyebabkan koma. Dia mencubit perutnya agar tetap terjaga.
“Kakak Ming? Tidak Mungkin!” Fu Yu berseru. Dia meringis mengingat kakak sepupunya itu. Pria es batu itu mana mungkin peduli dengan orang lain. Sukur-sukur dia tidak sedang menyumpahi mereka saat ini.
Ming Yue mengangguk setuju. Harapannya yang baru saja tumbuh langsung mati. Benar kata Fu Yu, tidak mungkin. Ming Yue tidak memberitahu Lu Ming jika dia pergi. Apa lagi semalam pria itu tampaknya marah kepadanya. Ming Yue mengunyah bibirnya dengan lesu.
“Sepertinya itu mungkin.” Fu Qing yang sejak tadi diam berkata. Dia menyalakan senter ponselnya dan melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
Suara lokomotif motor terdengar disela-sela derasnya hujan. Dari balik kabut samar-samar lampu menyorot ke arah mereka. Fu Yu dan Ming Yue mengikuti apa yang dilakukan Fu Qing. Memberikan sinyal keberadaan mereka.
Tidak lama kemudian Lu Ming dengan mengendarai tractor berhenti di depan gubuk. Dia turun dari tractor dan masuk ke dalam gubuk. Lu Ming menatap tiga orang itu dengan wajah murka. “Kalian tahu tidak ini bisa
__ADS_1
menjadi sangat berbahanya? Kenapa pergi tanpa orang dewasa? Bagaimana kalau kalian tidak menemukan gubuk, bagainama kalu kalian masih ditengah jalan saat hujan? Fu Yu kalau ingin membuat onar jangan mengajak orang lain!” Lu Ming berteriak. Dia membanting helm ke tanah. “Kau juga Fu Qing, jangan selalu mengalah kepda adikmu.” Dia menunjuk Fu Qing, melepas jas hujannya dan melemparkannya ke kepala Fu Qing. “Dan kau Ming Yue, bisa tidak jangan membuat orang khawatir? Jangan asal ikut saja dengan mereka.” sekarang giliran Ming Yue.
Ketiga orang itu hanya bisa menundukan kepala dan membiarkan Lu Ming memarahi mereka.
Lu Ming membuka ransel yang dia bawa dan mengeluarkan selimut serta botol berisi air hangat dan melemparkannya kepada mereka. Tiga orang itu langsung menggulung diri dengan selimut dan memeluk botol masing-masing. Lu Ming masih ingin marah tapi tidak bisa. Dia berdecak. Kemudian jongkok dan mulai menyalakan api.
Saat petir menyambar pertama kali dan dia belum bisa menemukan mereka, Lu Ming sudah panik dan berpikiran yang tidak-tidak. Saat hujan, medan di perkebunan ini bisa menjadi sangat berbahaya, apalagi mereka mengendarai motor, sangat mudah untuk mengalami kecelakaan. Lu Ming sudah hampir gila mencari selama satu jam dan tidak ada tanda-tanda keberadaan mereka.
“Hachii!” Ming Yue tiba-tiba bersin.
Lu Ming menoleh dan menatap Ming Yue dengan tajam. Ming Yue menutup hidungnya dan menahan bersin selanjutnya, tatapan Lu Ming sangat menakutkan. Dia yakin Lu Ming akan mengomel lagi kalau sampai dia bersin yang kedua kalinya.
Lu Ming, sebenarnya dia panik tapi karena terlalu emosi jadinya expresi yang dia keluarkan salah. “Kau teruskan.” Lu Ming memberikan pematik elektriknya kepada Fu Qing. Dia melepas jaketnya dan membungkus tubuh Ming Yue. Dia kemudian mengambil tangan Ming Yue, seperti dugaannya, tangan Ming Yue sedingin es. Dia menggosok tangan mereka dan meniupnya.
Fu Yu yang ada di sebelah Ming Yue tercengang. Dia mengucek matanya. Apa benar jika yang ada di depannya ini adalah sepupunya? Mustahil. Lu Ming tidak jomblo sejak lahir tanpa alasan. Walaupun sepupunya itu sangat tampan dan wanita yang mengantre ingin menjadi pacarnya bisa dibariskan sepanjang tembok besar Cina, dia alergi wanita. Kalau bukan karena dijodohkan, sampai saat ini dia pasti masih jomblo. Lalu dengan karakternya yang dingin dan cuek, membuatnya tidak bisa membayangkan Lu Ming bisa bersikap lembut kepada seseorang.
Tapi yang dia lihat di depan matanya ini nyata. Lebih parahnya lagi, interaksi dua orang itu sepertinya bukan yang pertama kali.
“Yueyue apa kau menyukai buah persik?” Fu Yu bertanya.
Ming Yue baru akan menjawab, tapi Lu Ming sudah mendahuluinya. “Kau bantu Fu Qing sana.” Dia mengusir Fu Yu.
Fu Yu tidak perlu jawaban dari Ming Yue. Lu Ming sudah menjawabnya dengan jelas. Pantas saja, Lu Ming, orang yang alergi buah persik meminta ayahnya untuk menanam pohon buah persik. Ternyata oh ternyata, itu untuk sang pujaan hati. Fu Yu menjulurkan lidahnya dan langsung mendapatkan lirikan tajam dari Lu Ming. Fu Yu menutup mulutnya dan bergerak untuk membantu Fu Qing.
__ADS_1