
Setelah Lu Ming menghilang dari pandangan matanya, perasan Ming Yue kembali netral.
Ketika dia masuk ke dalam rumah semua orang berkumpul di ruang tengah. Tampaknya kakek Lu dan nenek Fu sedang bertanding kaligrafi. Dua orang itu terus berdebat mengenai teknik siapa yang menghasilkan karya yang lebih bagus. Mereka mendesak orang-orang yang menonton untuk memberikan penilaian mereka. Tentu saja mereka hanya bisa mengatakan jika kaligrafi keduanya sama bagusnya.
Kakek Lu dan nenek Fu tidak puas dengan jawaban yang tidak objektif itu dan terus berdebat. Membuat semua orang pusing melihatnya.
Ming Yue berniat untuk menyelinap masuk secara diam-diam.
Sayangnya nenek Fu melihatnya dan memanggilnya.
“Yueyue.” Ming Yue berhenti dan tersenyum. Dia dengan terpaksa menyeret kakinya untuk mendekat.
“Yueyue diantara dua kaligrafi ini mana yang paling bagus?” nenek Fu bertanya.
Ming Yue mengamati dua karya itu dengan seksama. Ming Yue tidak memahami seni kaligrafi jadi dia tidak bisa menilai mana yang lebih bagus. Sebagai orang awam, jawaban keduanya sama bagusnya, sudah benar. Tapi tentu itu tidak akan memuaskan ego kedua orang itu. Namun dia juga tidak bisa asal memutuskan. Jawaban yang asal bisa saja malah menyinggung mereka.
Karena itu Ming Yue memutuskan untuk menjawab dengan cara yang berbeda.
Dia mengambil kertas kosong dan meletakannya di meja. Kemudian dia meraih kuas dan memcelupkannya ke dalam cairan tinta.
Semua orang penasaran dengan apa yang akan dia lakukan. Beberapa orang mengira jika Ming Yue menguasai seni kaligrafi lebih baik dari kakek Lu dan nenek Fu, sehingga dia akan memperlihatkan karya seni kaligrafi yang sesunggunya.
Semua mata dengan antusias menanti Ming Yue untuk mengerakkan kuasnya.
Hanya Lu Ming yang tetap tenang dan mengamati dari samping. Dia tahu apa yang akan Ming Yue lakukan.
Lima menit kemudian…
“Ming Yue yang terbaik.” Semua orang dengan bersamaan berkata, lebih tepatnya membaca tulisan cakar ayam yang Ming Yue buat.
“Aku juga setuju.” Ming Yue meletakan kuasnya, dengan bangga dia menepuk dadanya.
Sepontan semua orang tertawa, perdebatan mengenai karya siapa yang paling bagus dengan mudahnya terlupakan.
Tahun baru di keluarga Fu dirayakan dengan sederhana.
Setelah makan malam bersama semua orang bebas untuk melakukan apa saja.
Ming Yue diajak oleh Fu Yu dan Fu Qing untuk pergi menonton festival lampion. Kali ini Ming Yue memberitahu Lu Ming terlebih dahulu. Alhasil pria yang tidak pernah tertarik dengan hal begituan, ikut serta dengan alasan keamanan.
Fu Yu dan Fu Qing tentu tidak percaya begitu saja, mereka diam-diam mencibir di belakang.
“Kalau kau memberitahuku jika dia adalah kembaran kakak Ming aku bakal percaya.” Fu Yu berkata. seumur-umur dia baru melihat sekarang. Kemana perginya pesona Lu Ming sebagai seorang presiden penguasa yang suka mendominasi. Lu Ming yang ada di depan mereka, lebih terlihat seperti anak anjing yang sedang mencari perhatian pemiliknya.
Fu Qing hanya mengangguk-angguk saja. Dia tidak mau melihat.
__ADS_1
Bagi Fu Qing, Lu Ming merupakan panutannya, dia ingin menjadi seperti Lu Ming jika besar nanti. Sukses, berkarisma dan berwibawa. Tapi image Lu Ming sudah hancur belakangan ini. Dia tidak tahu jika seorang pria bisa berubah menjadi seperti itu karena seorang wanita. Fu Qing merinding, dia tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti dirinya juga akan menjadi seperti Lu Ming. Padahal saat ini, dihadapan Fu Yu, Fu Qing tidak jauh berbeda dengan Lu Ming.
Tapi dia masih bisa beralasan, sikapnya kepada Fu Yu itu wajar karena mereka saudara, kakak beradik. Sebagai seorang kakak sangatlah lumrah jika dia ingin memanjakan adiknya.
Ketika Fu Yu ingin mencibir lagi, Lu Ming tiba-tiba menoleh ke belakang dan menatap mereka dengan tajam.
Sontak mereka terdiam.
Fu Yu dan Fu Qing akhirnya memutuskan berpisah.
Ming Yue dan Lu Ming sudah sampai di tepi danau yang katanya adalah tempat paling strategis.
“Eh, dimana mereka?” Ming Yue menoleh ke belakang dan tidak mendapati Fu Yu dan Fu Qing, di belakang mereka hanya ada wajah-wajah orang yang tidak dia kenal.
Lu Ming pura-pura tidak tahu dan mengalihkan perhatian Ming Yue. “Sebentar lagi akan dimulai.” Lu Ming melihat jam tangannya.
Suara lonceng berbunyi dan lampion pertama dilepas ke langit. Disusul lampion-lampion yang lainnya.
Ming Yue juga tidak ingin ketinggalan, dia mengeluarkan lampion yang dia beli tadi, sebelum menyulut apinya dia menuliskan sesuatu pada salah satu sisi lampionnya.
“Lu Ming, kau juga tulis di sisi sana.” Dia menyonyodorkan spidolnya kepada Lu Ming.
Lu Min menerimanya dan mulai menulis.
Hal kekanak-kanakan seperti ini belum pernah dia lakukan.
“Apa yang kau tulis.” Ming Yue bertanya. Dia sedikit penasaran karena Lu Ming sepertinya menuliskan kalimat yang sangat panjang.
“Kalau diberitahukan kepada orang lain, tidak akan terkabul.” Lu Ming menjawab pendek. Dia masih memandangi lampionnya yang semakin tinggi.
Ming Yue tertawa. Yang benar saja, Lu Ming percaya dengan hal konyol semacam ini.
Lu Ming sebenarnya tidak satu gram pun percaya, tapi karena terlanjur melakukannya dia tidak boleh melakukannya setengah-setengah. Siapa tahu keajaiban benar-benar tejadi dan harapan yang dia titipkan pada lampion bisa terkabulkan. Tidak ada ruginya bukan.
Puncak acara pada fetival lampion itu diakhiri dengan pelepasan kembang api.
Ketika lampion-lampion kecil itu sudah tinggi di langit, ditambah dengan kembang api, pemandangannya menjadi semakin menabjubkan.
Ming Yue sampai tidak bisa mengalihkan matanya.
Sedangkan Lu Ming yang ada disamapingnya, sejak tadi hanya memandangi Ming Yue dan tidak peduli dengan apa yang terjadi disekitarnya.
Segerombolan tiga gadis muda dari tadi terus melihat ke arah mereka.
“Lihat pria itu sangat tampan.” Seorang gadis berbisik kepada temannya.
__ADS_1
“Dia melihat ke sini.” Gadis satunya lagi berkata.
“Bagaimana kalau kita kenalan, sepertinya dia masih single.” Gadis yang lainnya lagi mengusulkan. Dia merasa jika pria tampan itu memang melihat ke arahnya. Dia sudah melihat pria tampan itu berdiri di sana sejak tadi. Tapi karena dia pemalu dia tidak berani mendekatinya dan hanya menunggu sampai teman-temannya yang lebih pemberani menyadari keberadaan pria itu.
“Lu Ming apa kau yakin tidak menyemprotkan sesuatu yang bisa menarik kumbang.” Ming Yue mencibir ketika melihat tiga gadis muda berjalan ke arah mereka.
Lu Ming hanya menedikan bahu. Dia tidak melakukan apa-apa, kalau mereka terpesona, itu bukan salahnya. Dia tidak mungkin pergi dengan memakai helm anggar untuk menghindari hal semacam itu. Lagi pula kalau dia tidak mempedulikannya, mereka akan menyerah sendiri.
Tapi itu dulu, sekarang Lu Ming benar-benar mempertimbangkan helm anggar itu.
Sebelum tiga gadis muda itu semakin dekat, Lu Ming menarik Ming Yue ke dalam pelukannya.
Ming Yue yang tahu jika dirinya hanya dijadikan sebagai tameng, tersenyum kecut.
Para gadis muda yang melihat pria tampan yang ingin mereka dekati ternyata sudah ada yang punya, mendesah kecewa dan merbalik pergi dengan lesu.
Sepertinya tidak ada pria tampan yang single. Kalau ada mereka pasti tidak berminat dengan lawan jenis, alias belok. Mungkin karena itu para wanita tidak punya pilihan selain menjadi jomblo sampai tua.
“Mereka sudah pergi, lepaskan.” Ming Yue berkata.
Lu Ming tidak menggubrisnya dan tetap memeluk Ming Yue.
Kalau seperti ini Ming Yue bisa salah paham.
Ponsel disaku Ming Yue berbunyi, dia merogohnya dan panggilan dari nomor asing muncul pada layarnya. Ming Yue menolaknya.
Berselang satu detik kemudian sebuah pesan masuk.
Ming Yue tidak perlu membukanya, dia sudah bisa membaca isi pesan itu.
Ini Ibu. Angkat telponnya.
Lu Ming juga membaca pesan itu. Tanpa dia sadari tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.
“Kau pikir kau siapa?” Ming Yue mengerutu. Dia menghapus pesan itu dan memblokir nomornya.
Kalau dia pikir serangan nomor asing hanya sampai di situ saja, Ming Yue salah. Tidak ada dua menit setelah dia memblokir nomor yang pertama, nomor yang kedua dan ketiga muncul secara berurutan.
Ming Yue tidak kesal ataupun jengkel, dia tanpa ba-bi-bu langsung mengaktifkan mode pesawat.
Berbeda dengan Lu Ming, dia tidak bisa setenang Ming Yue.
Diam-diam dia memgirim pesan kepada asisten Yun.
Nb: Chuchu tiba-tiba menghilang lagi, Wifi dirumah Chuchu sakit.
__ADS_1
kelihatan kayak bohong ya... tapi beneran, rumah Chuchu ada di pelosok dan susah signal. Kalau tanpa antena Wifi Chuchu gak bisa buka internet.
Dimaafin ya...🙏 Chuchu 4ple up ini..