
Namaku adalah Lu Yunxi. Berjenis kelamin perempuan, tulen, ingat itu dan jangan salah paham hanya karena aku tidak memakai gaun princess. Don't judge book by it's cover.
Dan tentu saja aku memiliki tinggi yang ideal bagi anak seumuranku yang itu delapan puluh lima centimeter.
Apa? Kalian mau tahu berapa berat badanku?
Hmm....
Aku tahu kalian ingin tahu berapa berat badanku, tapi ayolah, kalian pasti pernah diberitahu kalau menanyakan berat badan kepada orang lain itu lebih sensitif daripada bertanya berapa umurnya.
Seperti yang kalian tahu ayahku adalah Lu Ming—si pria biasa saja. Dan ibuku, tentu saja dia adalah Dewi yang turun dari khayangan—Ming Yue.
Hari ini aku sedang berbaik hati, jadi akan kuberitahu berapa umurku hari ini. Hari ini umurku adalah lima tahun kurang empat bulan dua minggu empat hari tujuh jam empat puluh tiga menit dan eman detik. Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana aku bisa mengatakannya dengan begitu tepat, bukan?
Benar sekali. Saat ini aku sedang bosan. Maksudnya, kau tahu, berada di kelas bersama para balita itu membosankan. Sangat membosankan. Aku benci setiap hari harus menghitung berapa jumlah satu tambah satu, semua orang tahu jawabannya adalah DUA!!
__ADS_1
Lalu pagi ini sebenarnya kau tidak mau berangkat ke sekolah tapi grandpa membohongiku, dia bilang di sekolah hari ini akan ada bagi-bagi angpao. Tapi aku sudah menunggunya sangat lama dan Bu guru di podium tidak kunjung membagikan amplop merah yang ku nanti-nanti. Saat itulah aku mulai curiga dan diam-diam memeriksa di internet apakah hari ini ada alasan untuk membagikan angpao karena aku ingat jika Bu guru tidak sedang berulang tahun, selain itu Bu gur juga tidak bagi-bagi angpao saat ulang tahunnya tahun kemarin, dia hanya membagikan sepotong kue dan tiga bungkus permen pada masing-masing kami muridnya.
Ah, permen itu rasanya sangat enak. Aku ingin membelinya lagi tapi Dad bilang permen itu tidak dijual di supermarket karena Bu guru membuatnya sendiri. Aku berharap Bu guru berlulamg tahu seriap hari agar aku bisa makan permen yang enak itu seriap hari, tapi, tidak boleh. Mom melarangku makan permen setiap hari, dia hanya mengizinkanku untuk makan tiga setiap tiga hari sekali agar gigiku tidak rusak. Huft...
Tapi aku tidak keberatan karena apa yang dikatakan oleh Mom selalu benar.
Aku tidak berbohong, apa yang aku katakan ada buktinya. Coba kalian lihat, setiap kali Dad dan Mom berdebat pasti Mom yang akan menang. Pasti itu disebabkan karena Mom yang lebih pintar dari Dad sehingga Mom selalu benar.
Aku juga tidak mengada-ada tentang hal itu karena Dad juga setuju dengan pendapatku.
Jangan pedulikan bagaimana dia di luar sana, mungkin dia menjadi bos tapi kau harus selalu ingat jika Dad—pria itu tidak punya kelebihan lain selain tampangnya yang memang lumayan tapi aku yakin setelah ini dia akan dikalahkan oleh adikku. Jadi kelebihan Dad sebenarnya tidak ada. Dia memang pandai memasak tapi apa kabar para koki bersertifikat bintang lima yang diperkerjakan di dapur grandpa. Lu Ming kalah, KO.
Sudahlah, aku memang tidak bisa memuji Lu Ming karena dia memang tidak punya hal bisa dipuji.
Lain halnya dengan Mom, dia adalah goddess.
__ADS_1
Aku, Lu Yunxi tidak mengatakannya hanya karena aku berterimakasih sudah dilahirkan atau karena Ming Yue adalah ibuku tapi kerena dia lah yang menyelamatkan ku dari nasib menjadi bahan tertawaan karena mengenban nama pemberian Dad!
Bayangkan jika aku memiliki nama Lu Mingyue Junior sedangkan kalian tahu siapa nama kedua orang tuaku. Kalian pasti akan tertawa. Aku saja saat ini tertawa ketika menulisnya. Bukan karena nama itu jelek, tapi, kau tahu lah...
Akh sudah melantur kesana kemari tapi kenapa bell pulang sekolah tidak kunjung berbunyi. Kertas esay ini sudah hampir penuh. Kau hanya ingin pulang.
Tidak ada alasan lain selain hari ini adik laki-laki yang selama ini kunantikan hampir satu tahun akan lahir dan aku malah terjebak di dalam ruang kelas bersama para balita dan menulis esay membosankan.
Aku ingin menjadi orang pertama yang dilihat oleh adikku.
Ketika aku hampir teridur karena bosan, pintu ruang kelas diketuk lalu dibuka dari luar oleh Bapak kepala sekolah. Aku ingin kembali meletakan kepalaku ke meja ketika mataku melihat paman Bo menyembul dari belakang Bapak kepala sekolah. Sepontan kantukku hilang, aku langsung berdiri, mengambil ranselku lalu berjalan ke depan untuk berpamitan kepada Bu guru dan mengucapkan sampai jumpa pada para balita lain, kemudian menggandeng tangan paman Bo dan setengah menyeretnya keluar ruang kelas.
Akhirnya aku bisa bebas, bukan, aku akan segera bertemu dengan adikku!
Lu Yunxi, 23rd Mei 20XX
__ADS_1