MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
45


__ADS_3

Setiap tahunnya bingkisan tahun baru dari keluarga Lu selalu dikirimkan ke kediaman Ming oleh pengurus rumah tangga mereka. Hal itu sudah cukup menunjukan iktikad baik jika keluarga Lu bersungguh-sungguh ingin menjadikan Ming Yue sebagai menantu keluarga mereka.


Ming Weyan tidak menuntut banyak, dia sudah cukup puas.


Walaupun Xue Ling pernah mempunyai pikiran untuk menggantikan Ming Yue dengan putri kandungnya. Dia akan lebih senang kalau Ming Yi atau Ming Ran yang menjadi menantu keluarga Lu, tapi dia tahu diri.


Ming Weyan dan Xue Ling sama-sama tahu jika perjanjian pernikahan keluarga Lu bukan dengan keluarga Ming melainkan dengan keluarga dari pihak ibu Ming Yue. Karena itu mereka tidak pernah berusaha untuk mengganti pengantinnya.


Ming Yue sedikit bersyukur akan hal itu, setidaknya di rumah dia tidak perlu berhadapan dengan bucin Lu Ming.


Sore itu ketika dia keluar dari rumah untuk mengganti nomor baru, Ming Yue tidak tahu jika dirinya akan di hadang di tengah jalan.


Sebuah mobil sedan hitam terparkir tidak jauh dari gerbang komplek. Dari kaca yang sedikit diturunkan, Ming Yue bisa melihat jika Mu Yan dan Mu Jena duduk di dalam mobil itu.


Ming Yue menarik syalnya hingga menutupi setengah wajahnya. Dia berharap mereka tidak akan mengenalinya.


“Ming Yue.” Mu Yan keluar dari mobil dan menghalangi jalan Ming Yue.


Ming Yue ingin berbalik dan kembali saja. Tapi Mu Jena sudah berdiri dibelakangnya. Mereka memperangkapnya.


Mu Jena tersenyum manis dan menatap Ming Yue dengan penuh harap “Kakak Yue, kami ingin mengajakmu makan bersama.” kata Mu Jena.


Ming Yue ingin muntah mendengarnya.


Makan bersama?


Dua orang ini menghadangnya seperti debt collector yang ingin menagih hutang.


Dia tidak tahu sejak kapan mereka stand by di sana dan menunggunya keluar. Apakah baru hari ini atau sudah sejak hari kemarin?


Sepertinya mereka sedang sangat terburu-buru.

__ADS_1


“Kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja sekarang.” Ming Yue tidak mau melayani mereka. Hari ini dingin.


Mu Yan seolah teluka mendengar perkataan Ming Yue, dia menunjukan wajah sedih dan berkata dengan lembut. “Mama tahu, mungkin kau masih marah karena mama meninggalkanmu. Tapi sekarang mama ingin memperbaiki semuanya.”


“Kakak Yue, berikan kesempatan kepada mama. Mama sungguh sangat menyesali perbuatannya.” Mu Jena menggenggam tangan Ming Yue. Dia berkedip menatap Ming Yue dengan mata yang sayu.


Ha! Mu Jena.


Sejak bertemu di kediaman kakek Lu waktu itu, Ming Yue sudah memiliki firasat. Orang ini lebih sulit dari Gu Anran.


Waktu itu sampai sekarang aktingnya konsisten. Walaupun Ming Yue menjambak dan menabonya kemarin, tidak ada keretakan dalam expresinya. Dia tetap bermain sebagai gadis lemah lembut tanpa cela sedikitpun.


Mu Yan juga ikut mengenggam tangan Ming Yue. “Yueyue, mama mohon beri mama kesempatan.”


Ming Yue tercengang, tapi dia tidak tertarik dengan drama keluarga. “Ehm, kalian tidak perlu seperti ini.” Ming Yue menarik tangannya.


Kesempatan itu digunakan oleh Mu Jena untuk mengiring Ming Yue masuk ke dalam mobil.


“Kakak Yue, saat mama memeberitahu kalau Jena punya kakak, Jena sangat senang.” Mu Jena menatap Ming Yue dengan mata yang berbinar. “Kakak juga sangat cantik. Jena merasa seperti melihat peri setiap kali melihat kakak.” Pipi Mu Jena merona, seolah dia benar-benar mengagumi Ming Yue.


Ming Yue mengeliat dari duduknya, dia tidak memiliki penyakit mabuk darat. Tapi perutnya terasa mual sekarang.


Niatnya hanya ingin menumpang mobil mereka untuk menghemat biaya taxi.


“Kakak ayo bertukar nomor Wechat.” Mu Jena menyodorkan ponselnya dan siap untuk men-scane barcode Id Wechat Ming Yue.


Ming Yue setuju untuk saling menambahkan Wechat Id. Toh sebentar lagi dia akan mengganti nomor ponselnya. Atau sebaiknya dia membeli ponsel baru sekalian.


Mereka berhenti di depan sebuah restoran Prancis.


Ming Yue ingin kabur dengan berpura-pura pergi ke toilet, lalu dia akan menyelinap keluar secara diam-diam. Tapi Mu Jena membuntutinya sampai ke toilet.

__ADS_1


Sepertinya mereka niat sekali untuk mengajaknya makan.


Mu Jena mengulurkan kertas tissue kepada Ming Yue. Dia terlihat ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya dia katakan juga. “Kakak Yue, untuk yang kemarin, mama tidak berniat begitu. Tolong maafkan mama ya.” Suaranya lirih dan tidak berani menatap Ming Yue.


Ming Yue melirik Mu Jena dari kaca. Menunggu Mu Jena untuk melanjutkan.


“Itu semua karena mama ingin membantu papa. Tapi kakak Yue tidak perlu khawatir dengan itu, Jena juga tidak mau merebut posisi kakak.” kepala Mu Jena semakin menunduk.


Ming Yue takut leher adik tirinya itu akan patah kalau dia menunduk lebih dalam lagi.


Mu Jena tidak berhenti di situ, di mulai terisak. Dia dengan terbata-bata melanjutkan perkataannya. “Kakak Yue sungguh kami tidak bermaksud seperti itu. Itu… itu… karena kami tidak tahu lagi, papa bangkrut dan terlilit hutang. Jadi… mama pikir itu jalan satu-satunya.” Mu Jena menyeka air matanya. Mu Jena menatap Ming Yue dengan mata yang memerah dan berair.


Di mata Ming Yue, mereka seperti sedang memainkan drama kolosal. Dimana Ming Yue berperan sebagai ratu keji yang sedang menghardik seorang selir. Sang ratu marah karena raja bermalam di tempat selir itu dan melupakan jika semalam adalah jatah raja untuk menunjungi ratu. Ratu murka lalu membully sang selir.


Drama ini akan selesai saat sang raja mengetahui ratu membully selir kesayangannya. Raja akan mencopot gelar ratu dan mengirimnya ke istana dingin.


Sayangnya mereka berada di toilet wanita, raja tidak bisa masuk ke dalam wilayah ini.


Drama ini tidak bisa berakhir dan harus bersambung…


“Kalau kakak mau Jena akan menjelaskannya kepada kakak Ming.” Mu Jena menatap Ming Yue, matanya bergetar dan dia mengigit bibir bawahnya.


Ming Yue terdiam sejenak, Dia menyeka air ditangannya lalu meremat tissue yang dia pakai menjadi gumpalan bulat dan melemparnya ke tong sampah. Dia menatap Mu Jena. “Kau yakin tidak mau, walaupun aku mau memberikannya dengan suka rela?”


Pupil mata Mu Jena membesar, jari tangannya bertaut dan saling meremas. “Kakak…” hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia tidak tahu apakah Ming Yue sungguh-sungguh atau hanya sedang mengetesnya saja, pertanyaan Ming Yue membuatnya terkejut.


Ming Yue menghela nafas lalu meletakan kedua tangannya pada bahu Mu Jena dan memutarnya menghadap kaca. Ming Yue berdiri di belakang Mu Jena, “Aku tahu apa yang sedang kalian rencanakan. Kalau kau berpikir rencanamu akan berhasil, pulanglah dan revisi.”


Ming Yue melepaska Mu Jena dan mengambil disenfektan lalu mengosokkannya keseluruh permukaan tangannya. Dia memberikan tatapan terakhir kepada Mu Jena sebelum melangkah keluar.


Setelah Ming Yue meniggalkan toilet, Mu Jena berteriak. “Sialan.”

__ADS_1


__ADS_2