MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
37.


__ADS_3

“Ugh…” Ming Yue mengusap wajahnya. Dia merasa menua lima tahun hari ini. Siapa tadi? Ibu dan adiknya. Drama macam apa lagi ini. Sepertinya dia harus pergi ke kuil dan mandi dengan air suci untuk membuang sial.


“Apa yang kau pikirkan?” Lu Ming menyodorkan segelas susu hangat kepada Ming Yue.


“Apa ada kuil di kampung halaman mama?” Ming Yue bertanya.


Lu Ming menempelkan gelas susu yang dibawanya ke pipi Ming Yue. Dia bisa menebak apa yang membuat seorang Ming Yue belum tidur pada jam sebelas. Kejadian sore tadi, walaupun Ming Yue menanggapinya dengan acuh tidak acuh, Lu Ming tahu jika itu mengganggunya. “Tidak usah dipikirkan, aku yang akan urus semuanya.” Lu Ming berkata.


Ming Yue mendengus. Memang gara-gara siapa masalah terus datang kepadanya. “Aku yang akan urus semuanya. Memangnya kau perusahan asuransi?” Ming Yue mengerlingkan matanya. Lalu mengambil susu dari tangan Lu Ming dan menegaknya hingga tandas.


“Kau bisa anggap begitu.” Lu Ming mengusap bibir Ming Yue, ada susu yang menempel di sana.


Ming Yue mengusap bekas yang disentuh Lu Ming dengan punggung tangannya. Dia kemudian berbaring dan memejamkan matanya. Karena Lu Ming sendiri yang bilang dia akan mengurusnya, maka Ming Yue serahkan saja kepadanya.


Lu Ming merapikan selimut Ming Yue dan mematikan lampu kamar sebelum dia keluar dan menutup pintunya.


Saat dia pergi ke dapur untuk mengembalikan gelas, dia berpapasan dengan ibunya.


“Bagaimana Ming Yue?” Fu Yao bertanya.


“Dia sudah tidur.” Lu Ming mengambil air dingin dari kulkas dan meminumnya.


“Gadis itu, dia selalu diam dan pura-pura baik-baik saja.” Fu Yao mendesah, tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat gadis itu lebih terbuka kepadanya. Walaupun Ming Yue sudah mau memanggilnya mama dan mereka jauh lebih dekat sekarang, Fu Yao bisa merasakan jika masih ada jarak diantara mereka.


“Ma, tidak usah khawatir.” Lu Ming berkata. Dia tidak tahu apa yang membuat Fu Yao bisa begitu menyayangi Ming Yue. Awalnya dia kira jika itu semua karena mamanya menginginkan anak perempuan. Tapi kalau itu alasannya, dia memiliki banyak sepupu perempuan dan tidak ada satupun dari mereka yang Fu Yao perlakuan seperti Ming Yue.


“Mama tidak akan khawatir kalau kau sedikit lebih pintar.” Fu Yao memukul bahu Lu Ming.

__ADS_1


“Ma.. sebenarnya siapa yang anak kandung mama?” Lu Ming mengusap bahunya. Ibunya itu memukulnya sangat


keras.


“Kalau Ming Yue mau ditukar denganmu, mama akan senang.” Fu Yao berkata.


Lu Ming menggelengkan kepanya dan menatapi ibunya meninggalkan dapur. “Bukankah lebih baik kalau memiliki kedua-duanya.” Dia bergumam dan kemudian tersenyum pada dirinya sendiri. Dia menuangkan air putih ke dalam gelas dan membawanya kembali ke kamar.


Ketika esok hari datang, semua orang sudah kembali normal seakan kejadian kemarin tidak pernah terjadi.


Setelah sarapan mereka berempat berangkat.


Ming Yue dan kakek Lu duduk di kursi belakang, mereka berdua yang paling menikmati perjalanan ini. Mereka seperti orang yang akan pergi piknik, bernyanyi dan bersiul di sepanjang jalan. Mereka menggunakan botol minuman sebagai mic dan instrument mereka. Fu Yao yang duduk di kursi depan sibuk membuat video documenter perjalanan mereka. Lu Ming kebagian untuk menyetir.


Ini adalah perjalanan terberisik yang pernah dia lakukan. Tapi Lu Ming sangat menikmatinya. Dia mengelengkan kepalaya saat melihat ke belakang melalui kaca sepion. Bibirnya tanpa dia sadari melengkung ke atas.


Fu Yao yang menjadi pengamat tidak melawatkan itu. Lu Ming tidak pernah tersenyum selebar itu, putranya itut sejak kecil sudah berwajah datar. Lu Ming memang putra yang sempurna, dari kecil dia sudah berprestasi dan sangat mandiri, Fu Yao menerima banyak pujian karena itu. Tapi bagi seorang ibu yang menginginkan anak yang imut dan bisa diajak bermain, jiwa keibuannya tidak terpenuhi. Dia ingin memiliki anak lagi tapi tuhan tidak mengabulkannya.


“Party pooper!” Tiga orang itu menyahut bersamaan. Ming Yue dan kakek Lu melemparinya dengan botol kosong.


Lu Ming tidak memperdulikannya dan melihat ke depan dengan datar hingga dia merasa seseorang menyentuh kepalanya. Bandana bercorak telinga kelinci dari bulu-bulu berwarna putih dan berlampu yang Ming Yue pakai sudah beralih di kepalanya.


Semua orang di dalam mobil tertawa. Lu Ming ingin melepasnya, tapi Ming Yue memelototinya lewat kaca sepion. Lu Ming hanya bisa pasrah.


Ming Yue merasa puas dan dia mengambil banyak foto dengan camera ponselnya. Dia bisa mengunakan foto itu suatu hari nanti. “Lu Ming tersenyumlah. Tampakan semua gigi.. hii… seperti ini.” Ming Yue memberinya contoh.


Lu Ming tetap cuek sampai akhirnya Ming Yue mencubit pipinya dan memaksanya untuk tersenyum. “Ming Yue.” dia memperingatkan Ming Yue untuk berhenti, tapi kapan Ming Yue pernah mendengarnya.

__ADS_1


Ming Yue meletakan dagunya di atas kepala Lu Ming dan membuat expresi seperti bebek lalu memotretnya. “Kalau berani kau jadikan ini sebagai foto profil.” Ming Yue berganti beberapa pose.


Lu Ming tiba-tiba tersenyum dengan inisiatifnya sendiri dan membuat symbol peace mengunakan satu tangannya. Ming Yue menjatuhkan ponselnya dan terbatuk.


Lu Ming mengambil ponsel Ming Yue yang jatuh dan mengirim semua hasil jepretan Ming Yue ke akun wechatnya.


“Wei, Lu Ming, kenapa mengirim semuanya.” Ming Yue merebut ponselnya. Lu Ming tidak hanya mengirim foto hari ini, tapi seluruh isi galeri di ponselnya.


Lu Ming pura-pura tidak dengar.


Beberapa jam kemuadian mereka berhenti untuk makan siang. Setelah makan dan beristirahat sejenak mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Perjalanan selanjutnya dilalui dengan tenang dan sepi. Kakek Lu dan Ming Yue tertidur sedangkan Fu Yao tidak memiliki topik yang bisa dia bicarakan dengan Lu Ming. Dua orang yang terjaga itu saling diam. Hingga akhirnya Fu Yao juga tertidur.


Beberapa saat kemudian Ming Yue terbangun karena kebelet ingin buang air. Dia membuka matanya dan yang terlihat oleh matanya hanyalah pohon dan hutan yang lebat. “Lu Ming, apa masih jauh?” dia tidak ingin kencing di alam terbuka.


“Sebentar lagi sampai. Tidurlah lagi.” Lu Ming menjawab.


“Lama tidak?” Ming Yue bertanya lagi.


“Setengah jam lagi.”


Ming Yue menguap, kalau setengah jam lagi mungkin dia masih bisa menahannya. Tapi dia tidak ingin membali tidur, Ming Yue takut jika dia tidur lagi dia akan bermimpi kencing dan mengompol. Dia mengambil ponselnnya dan bermain game untuk menghabiskan waktu.


“Ming Yue.” Lu Ming memanggilnya, dia melihat Ming Yue melalui kaca sepion. Setelah mendapatkan perhatian dari Ming Yue dia melanjutkan. “Alasanmu mau ikut, apa itu hanya kerena kau tergoda dengan buah persik?” Dia melirik Ming Yue.


“Hmm.” Ming Yue bergumam. Sebenarnya bukan hanya itu alasannya, tapi dia tidak mau memberi tahu Lu Ming.

__ADS_1


Lu Ming bertanya lagi.


Ming Yue yang melihat mata Lu Ming redup, memalingkan mukanya dan memandang ke luar. Lagi-lagi Lu Ming menunjukan expresi itu.


__ADS_2