MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
Extra 2


__ADS_3

Suatu


hari setelah liburan panjang kenaikan kelas, seperti anak lain pada umumnya, Lu Ming tidak terlalu bersemangat untuk berangkat ke sekolah. Malam harinya dia sengaja tidur sangat larut agar bangun kesiangan dan bisa membolos.


Setelah ayah dan ibunya saling bergantian mencium dahinya dan mengucapkan selamat malam lalu mematikan lampu kamarnya, dia pura-pura memejamkan matanya. Tapi begitu pintu ditutup dan langkah kaki kedua orang tuanya tidak terdengar lagi, Lu Ming menyibakkan selimutnya dan mengeluarkan puzzle yang dia selundupkan di bawah bantalnya.


Lu Ming berencana untuk menunda waktu tidurnya selarut mungkin dengan bermain puzzle. Tapi dia tidak pernah tahu jika susu yang dia minum telah dicampuri obat tidur oleh ayahnya, dia tidak bertahan sampai sepuluh menit dan jatuh tertidur.


Lu Yinyuan menatap layar komputer di ruang kerjanya lalu tertawa terbahak-bahak. Fu Yao yang penasaran dengan apa yang dilihat oleh suaminya merasa penasaran dan mendekat, tapi tidak melihat ada hal yang aneh.


Semenjak kejadian percobaan penculikan yang dilakukan oleh asisten rumah tangga mereka ketika Lu Ming masih tiga bulan, Lu Yinyuan memasang kamera CCTV pada beberapa tempat di seluruh penjuru rumah, termasuk satu di kamar Lu Ming.


Saat ini layar komputer suaminya menampilkan rekaman kamera yang ada di kamar anaknya, Lu Ming tidur dengan pulas sambil menghisap jempolnya dan kadang kadang mendengkur. Fu Yao mengerutkan dahinya karena tidak melihat ada yang lucu, baru kemudian dia ikut tertawa setelah suaminya memutar mundur videonya ke beberapa menit sebelumnya.


"Dia pasti merencanakannya agar tidak pergi ke sekolah, huft... Ada-ada saja kelakuannya." Fu Yao geleng-geleng kepala setelah tawanya berhenti. Dia sedikit mengeluh dengan kecerdasan anaknya, saat dia melihat anak-anak lain yang menggemaskan dan bertingkah lucu Fu Yao hanya bisa mendesah di dalam hati mengingat jika anaknya sudah tidak lagi bertingkah seperti bocah tapi mini adult.


"Bulan depan mungkin kita sudah tidak bisa menciumnya lagi." Fu Yao mengeluh. Sekarang saja dia hanya bisa mencium dahi Lu Ming saat bocah itu hendak tidur, bocah itu tidak mengizinkannya untuk menciumnya atau memeluknya jika sedang berada di luar rumah.


"Dia sudah besar, wajar kalau dia begitu." Lu Yinyuan mengedikkan bahunya acuh dengan keluhan istrinya. Pasalnya walaupun Lu Ming adalah anaknya, dia tetap cemburu ketika melihat istrinya itu mencium anaknya. Bagus jika Lu Ming tahu diri. Mungkin dia akan memberikannya uang saku tambahan mulai besok.


"Dia tujuh tahun Yinyuan." Fu Yao melirik suaminya dan berkata dengan geram. Kadang dia bertanya-tanya siapa yang sebenarnya anak-anak diantara suami dan anaknya. Anaknya terlalu dewasa sedangkan suaminya selalu bertingkah seperti bocah, tidak bisakah mereka bertingkah sesuai dengan umurnya.


Lu Yinyuan yang merasakan jika istrinya mulai ngambek langsung mengambil posisi berlutut meminta pengampunan. "Beauty Yaoyao, suamimu bersalah." Ucapnya dengan sesedih dan semenyesal mungkin.


"Sudahlah." Fu Yao mengibaskan tangannya dengan jengah. Bagaimana dia bisa tetap ngambek kalau suaminya sudah begitu. Diantara dua orang harus ada satu yang waras.


Keesokan paginya Lu Ming berangkat ke sekolah dengan wajah jutek. Ketika dia bangun tidur dan melihat langit yang masih gelap serta matahari yang belum terbit, seketika dia tahu jika susu yang dia minum sebelum tidur telah dicampuri dengan sesuatu yang membuatnya sangat mengantuk. Karena siang hari sebelum dia sudah tidur siang dua kali lebih lama dari biasanya, harusnya dia tidak cepat mengantuk di malam harinya.


"Tuan kecil, sudah sampai." Paman Bo menghentikan mobil di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


Lu Ming mendengus, tapi dia tetap mengucapkan terimakasih kepada paman Bo yang telah mengantarkan dirinya sebelum turun dari mobil dan masuk ke barisan anak-anak lain untuk menyalami para guru yang berbaris di depan gerbang pada hari pertama sekolah setelah liburan panjang.


Lu Ming menunduk kepalanya dan mengabaikan anak-anak perempuan yang ingin berbicara dengannya dan memberikan hadiah. Menurutnya berinteraksi dengan mereka sangat merepotkan.


"Kubilang lepaskan." Teriakan seseorang mengalihkan perhatiannya dati tanah, Lu Ming menoleh untuk mencari sumber suara yang terdengar seperti gulali itu.


Ketika dia melihat seorang anak perempuan dengan rambut dikuncir dua menggunakan pita berwarna pink dan dua anak laki-laki sedang berebut sesuatu tidak jauh dari tempatnya berdiri, Lu Ming segera menghampirinya. Setelah dia cukup dekat, Lu Ming bisa melihat jika bocah laki-laki itu sedang menarik telinga kelinci yang ada pada tas ransel si anak perempuan.


"Apa yang kalian lakukan, membully gadis kecil. Pengecut." Lu Ming berseru. Dia mengenali dua anak laki-laki itu. Mereka adalah dua kembar pembuat onar dari kelasnya.


Ketika melihat Lu Ming si kembar Min Jun dan Min Yun melepaskan tangan mereka dan berlari menjauh.


"Tidak usah takut, kakak akan melindungi mu." Lu Ming berkata dengan lembut sebelum dia menjulurkan tangannya untuk menyentuh pipi gadis kecil itu yang mengingatkannya kepada mapao yang dia makan ketika sarapan tadi pagi. Tapi gadis kecil itu dengan cepat menghindar. Dia memincingkan matanya dan melirik Lu Ming dengan sengit.


"Siapa yang takut dan siapa yang butuh perlindunganmu." Sungut gadis itu sebelum pergi meninggalkan Lu Ming dengan tangan yang menggantung di udara dan ekspresi wajah yang bingung.


Lu Ming berdiri seperti itu dan menatap rambut gadis kecil itu yang bergoyang setiap kali dia melangkah, dan senyum simpul terbit pada bibirnya. "Siapapun yang mengganggunya akan berurusan denganku." Lu Ming berseru dan menirukan kalimat ayahnya.


"Hi, aku Lu Ming. Siapa namamu?" Lu Ming mengikuti langkah kecil gadis itu sambil berceloteh. Walaupun gadis itu selalu mengabaikannya dan tidak pernah menjawab satupun pertanyaannya, dia tetap tidak berhenti berbicara.


"Ibuku membuat bento yang enak, hari ini ada udang goreng dan ayam kecap." Lu Ming mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya dan memamerkannya pada gadis itu.


Gadis itu meliriknya sebentar kemudian mengelus perutnya, Lu Ming tahu jika triknya akan bekerja, dia terus menarasikan betapa enaknya bento buatan itunya. Saat dia pikir dia sudah berhasil menarik perhatian gadis kecil itu, tanpa dia duga yang dia dapatkan adalah air.


Benar, wajah Lu Ming telah disiram dengan air. Gadis itu yang menyiramnya dengan semua air di dalam botol minumnya.


Lu Ming basah kuyup dari kepala hingga ke sepatunya, tapi dia tidak marah. Lu Ming mengangkat kotak bekalnya tinggi-tinggi agar tidak basah sambil tersenyum lebar sebelum menyerahkan bekalnya ke tangan si gadis sebelum dia lari.


Pada siang hari saat pulang sekolah dia sudah menunggu di depan pintu kelas gadis gulali, Lu Ming memutuskan untuk menamai gadis itu gulali untuk sementara waktu sebelum dia mengetahui siapa namanya. Ketika dia melihat gulali keluar dari kelas, gulali juga melihatnya. Lu Ming langsung melambaikan tangan kearahnya penuh bersemangat. Dia berlari kecil menghampirinya dan seperti pagi tadi berjalan di sampingnya lalu melakukan monolog karena gulali belum juga mau berbicara dengannya.

__ADS_1


Ketika mereka melihat mobil jemputan gulali sudah datang. Gadis itu berhenti dan memutar badannya menghadap Lu Ming, Lu Ming pikir gadis itu akan menyiramnya lagi dengan air minum dan sudah bersiap untuk menghindar tapi gadis kecil itu hanya memberikan kotak bekalnya kembali lalu masuk ke dalam mobil jemputan.


"Dia suka makanan enak." Lu Ming menggoyangkan kotak bekalnya yang kosong sambil berjalan dan kadang meloncat kembali ke kelas karena sekarang belum waktunya untuk pulang dan dia tadi berbohong kepada guru dengan mengatakan ingin pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil.


Keesokan harinya, setelah mengantarkan gadis itu sampai ke kelasnya dan memberikan bekalnya, dia tidak langsung pergi tapi memutuskan untuk tinggal dan mengintip kelas gulali demi untuk mengetahui siapa namanya saat guru mengabsen. Lu Ming memanjat kursi dan menempelkan telinganya pada jendela.


"Ming Yue." Ketika guru di depan memanggil nama yang ke sepuluh akhirnya gadis itu mengangkat tangannya.


Lu Ming yang telah berhasil menjalankan misinya melompat turun dari kursi dan segera berlari menuju kelasnya karena sebentar lagi guru akan berpatroli. "Ming Yue, Ming... Yue... Bulan yang terang. Ah, kenapa cocok sekali." Dia terus bergumam di sepanjang jalan.


"Ming Yue." Lu Ming berseru dia berdiri pada pintu masuk kelas Ming Yue sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi. Setelah mengetahui namanya dia semakin sering menemuinya, saat istirahat, karena kebetulan jam istirahat pertamanya sama dengan jam istirahat Ming Yue, begitu bel berbunyi dia akan langsung berlari menuju kelas Ming Yue.


Ming Yue hanya melirik Lu Ming sekilas sebelum dia kembali menundukkan kepalanya dan melanjutkan menulis sesuatu pada bukunya.


"Apa yang sedang kau kerjakan. Kakak Lu Ming akan membantumu." Lu Ming sudah berdiri di depan meja Ming Yue. Ketika dia melihat coretan tidak berbentuk yang Ming Yue buat, dia tidak tahu apakah gadis itu sedang menulis atau menggambar. Tapi dari yang dia pelajari dari ayah dan ibunya, apa pun yang dibuat oleh ibunya adalah sesuatu yang bagus dan harus di rawat dengan baik. Maka dia tidak segan-segan Ingin melontarkan pujian, namun dia didahului oleh suara perut Ming Yue yang berbunyi.


Dua pasang mata saling bertukar pandang kemudian mereka tertawa.


"Aku lapar." Itu adalah kedua kalinya Lu Ming mendengar Ming Yue berbicara kepadanya sejak pertemuan pertama mereka.


Lu Ming lalu mengeluarkan roti dari saku celananya dan memberikannya kepada Ming Yue. "Makan ini dulu, setelah baru kita pergi ke kantin." Dia berkata. Lu Ming melihat ke sekeliling dan baru menyadari jika di ruang kelas sudah tidak ada anak lain kecuali mereka berdua. Dia kembali menatap Ming Yue sebelum dia memeluk gadis kecil itu secara tiba-tiba.


"Yueyue," Lu Ming ingin mengatakan sesuatu tapi Ming Yue yang mendapatkan pelukan secara mendadak mendorongnya dengan sekuat tenaga dan membuatnya terjengkang.


Ming Yue membeku ketika melihat bocah laki-laki pengganggu yang selalu memberinya makanan itu telah dia dorong sampai jatuh. Dia segera menghampirinya dan jongkok di samping Lu Ming yang tergeletak di lantai dengan sedikit khawatir karena bocah itu tidak bergerak dan malah menutup matanya. "Apa kau baik-baik saja?" Ming Yue menusuk lengan Lu Ming dengan jari telunjuknya.


Mendengar nada bersalah yang Ming Yue gunakan saat berbicara, Lu Ming jadi mengurungkan niatnya untuk mengerjai gadis itu. Di segera duduk lalu berkata, "Aku baik-baik saja tapi jangan melakukannya lagi." ucapnya sambil meraih tangan Ming Yue dan menariknya untuk berdiri bersama kemudian mereka berdua berjalan keluar kelas untuk pergi ke kantin.


Setelah Lu Ming tahu jika Ming Yue tidak memiliki teman dia menjadi semakin sering membolos dari kelas hanya untuk menemaninya. Hingga suatu hari tiba-tiba Ming Yue mengatakan kepada untuk berhenti menemuinya. Awalnya Lu Ming bersikeras untuk datang kepadanya sampai Ming Yue melaporkannya kepada kepala sekolah dan membuatnya mendapatkan hukuman skorsing.

__ADS_1


Satu minggu setelah hukumannya berakhir, hal pertama yang dia lakukan ketika tiba di sekolah ada mencari gadis itu, tapi pagi itu Lu Ming tidak pernah bertemu lagi dengan bulan terangnya.


__ADS_2