MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
22.


__ADS_3

Ming Yue merasakan sesuatu yang berat menindih pinggangnya. Dia ingin menyinkikannya tapi benda itu tidak mau pindah. Ming Yue menggulingkan badannya ke samping untuk menghindarinya tapi tetap tidak bisa. Tubuhnya tidak bisa bergerak, benda itu melingkar di pingganngya dan menahannya di tempat.


Ming Yue membuka matanya. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Lu Ming yang tertidur. Lu Ming yang tertidur telihat berbeda dari Lu Ming di hari kerja, dia terlihat lebih lembut dan tidak garang. Ming Yue tersenyum, mimpi macam apa ini?


Dia mengulurkan tangan dan menusuk pipi Lu Ming dengan jari telunjuknya. Rasakan ini! Siapa suruh datang kemimpinya. Ming Yue mengulanginya lagi dan lagi dan lagi. Sampai akhirnya Lu Ming menbuka mata dan mencekal tangannya.


Ming Yue tersenyum dan menatap Lu Ming. Dia mengdipkan matanya dua kali. Bahkan di dalam mimpi Lu Ming masih memasang wajah Angry Bird. Ming Yue tidak puas. Ini adalah mimpinya, kenapa dia masih harus menghadapi Golem Es bahkan saat tertidur. Ming Yue mengulurkan kedua tnagannya dan mencubit pipi Lu Ming lalu menariknya ke atas hingga membentuk sebuah lengkungan senyum.


Lu Ming adalah orang yang mudah terjaga, dia sudah bangun sejak pertama kali Ming Yue bergerak. Dia hanya pura-pura tidur untuk melihat bagaimana Ming Yue akan bereaksi. Dia kira Ming Yue akan menendangnya atau meneriakinya, sehingga Lu Ming tidak perlu mencari alasan kenapa dia tidur di sampingnya. Tapi yang Ming Yue lakukan jauh dari perkiraaanya.


Masih belum puas dengan membuat Lu Ming tersenyum, Ming Yue mengacak rambut Lu Ming. “Hei jangan menatapku seperti itu.” Ming Yue bergumam. Dia memenutup mata Lu Ming dengan telapak tangannya.


Lu Ming menelan ludahnya. Ketika indra penglihatan tertutup, indra yang lainnya menjadi lebih sensitive. Kalau tadi dia tidak terlalu terganggu dengan sentuhan Ming Yue, sekarang Lu Ming merasakannya. Itu bertambah buruk ketika indra penciumannya ikut aktif, aroma yang tercium dari tubuh Ming Yue membuat Lu Ming menegang.


Satu detik berlalu, dua detik berlalu, Lu Ming tidak merasakan pergerakan Ming Yue. Dia menjadi gelisah mengantisipasi apa yang akan Ming Yue lakukan selanjutnya. “Ming Yue.” Lu Ming berkata. Suaranya serak dan berat.


Ming Yue mencibir. Dia sudah sadar jika dirinya tidak sedang bermimpi. “Lu Ming.” Dia balas memanggilnya.


Ming Yue mengingkirkan tangannya dari wajah Lu Ming dan mereka saling menatap.


“Lu Ming.” Ming Yue mendekatkan wajahnya kepada Lu Ming. Dia menyeringai ketika Lu Ming menutup matanya. Jadi ini yang dia inginkan. Ming Yue akan berikan!


Ming Yue bukan gadis naïve, dia tahu hubungan antara pria dan wanita. Tempo hari dia berlagak bodoh dan mengeluarkan omong kosong karena dia shock. Dia tidak terima jika dirinya yang sudah bersumpah untuk hidup seperti Budha, jauh dari nafsu duniawi dan maksiat, bisa khilaf dengan sebuah ciuman.

__ADS_1


Meski bukan sepenuhnya karena itu, Ming Yue cukup tahu diri dan sadar tempat. Dia, hanyalah seorang tokoh antagonis, alat yang digunakan untuk menyatukan tokoh protagonist, hubungannya dengan Lu Ming hanyalah sementara. Meskipun netizen mengatakan jika sekarang mereka seperti pasangan betulan, Ming Yue tidak terlena. Tokoh antagonis wanita tidak akan pernah mendapatkan tokoh protagonist pria. Akhir yang menunggunya hanyalah kematian.


Ming Yue tahu, semakin dirinya dekat dengan Lu Ming semakin dekat pula dia dengan bahanya.


“Ah!” Lu Ming memekik. Dia melompat dari tempat tidur sambil memegangi pipinya.


Ming Yue menggigitnya!


“Apa kau anjing?” Lu Ming menggerutu. Dia melirik Ming Yue dari pantulan di kaca sambil mengoleskan iodin pada pipinya yang digigit oleh Ming Yue.


Ming Yue balas meliriknya dan berkata dengan tidak acuh. “Suruh siapa tidur di kasurku.” Dia mencibir dan memberikan gigitan besar pada apel yang dia pegang seolah apel itu adalah Lu Ming.


“Kau juga sering tidur di kasurku.” Lu Ming tidak mau kalah.


“Kau juga


Lu Ming mendesah dia mengelengkan kepalanya dengan tidak berdaya. Sudahlah, dia tidak akan menang dari Ming Yue.


Saat Ming Yue sudah menghabiskan apelnya, Lu Ming sudah selesai memplester pipinya. Dia kemudian bergabung dengan Ming Yue di sofa dan menandangi senja.


Lu Ming menyandarkan tubuhnya pada bantalan sofa, sudah lama dia tidak bersantai seperti ini. kapan terakhir kali dia menyempatkan diri untuk berhenti bekerja dan menikmati hal kecil seperti ini. Lima tahun lalu? Atau tujuh tahun lalu? Lu Ming tidak ingat.


Dia menoleh kepada Ming Yue yang ada di sampingnya. Cahaya matahari sore meneranginya. Wajah Ming Yue yang lembut menjadi semakin lembut. Lu Ming tidak bisa mengalihkan penadangannya. Dia jadi teringat pada dirinya bertahu-tahun lalu, saat itu Lu Ming masih bocah dan belum mengerti tentang dunia. Jika dia menyukai sesuatu dia akan terobsesi tidak perduli itu benda mati atau makhluk hidup.

__ADS_1


Waktu SD, sekolahnya berdekatan dengan sebuah playgroup. Lu Ming suka nenguntit seorang gadis kecil di sana. Sebelumnya Lu Ming tidak pernah merasa tertarik dengan anak perempuan, dia bahkan sedikit menghindari mereka. Tapi saat melihat gadis itu, Lu Ming merasa jika saat itu dia ingin memilikinyanya. Lu Ming tidak tahu kenapa dia merasa seperti itu. Yang dia tahu gadis kecil itu memiliki suara yang sangat indah. Ketika gadis kecil itu tertawa Lu Ming merasa seperti dirinya sedang berada di bawah sinar matahari musim semi, hangat dan sejuk.


Awalnya Lu Ming tidak terlalu memikirkannya, tapi setelah mendengar suaranya sekali, Lu Ming jadi terus mendengarnya. Matanya akan selalu menemukan gadis itu. Tidak peduli itu di tempat yang ramai atau sepi Lu Ming selalu bisa menemukannya.


Lu Ming mulai mencari tahu gadis itu.


Suatu hari Lu Ming memberanikan diri untuk berkenalan dengannya. Dia menghadang gadis kecil itu di depan gerbang, dia dengan percaya diri memperkenalkan dirinya. Tapi belum sempat dia menyebutkan Namanya, gadis kecil itu menyiram Lu Ming dengan air dan menyuruhnya untuk berhenti mengikutinya.


Ternyata gadis itu tahu jika selama ini Lu Ming menguntitnya.


Tapi bukan Lu Ming jika dia langsung menyerah. Setelah hari itu, Lu Ming menjadi terang-terangan menguntitnya. Setiap pagi dia kan menghadangnya dan memaksanya untuk berteman dengannya. Sampai akhirnya gadis kecil itu melaporkannya pada kepala sekolah dan Lu Ming di skorsing dua minggu.


Saat kembali masuk sekolah gadis kecil itu sudah pindah playgroup.


“Pulang sana.” Suara Ming Yue menghentikan lamunannya.


Lu Ming melihat jam. Ternyata sudah jam lima, waktunya untuk pulang kerja. Tapi dia belum ingin pulang.


“Kalau kau tidak pulang sekarang, kau akan betemu dengan Ming Weyan. Kau mau mendengarnya berbicara omong kosong.” Ming Yue mengambil jas Lu Ming yang dilipat rapi diatas nakas dan melemparkannya pada pria itu.


“Kau mengusirku?” Lu Ming berkata.


Tapi dia setuju untuk pulang. Mendengarkan Ming Weyan menjilatnya akan merusak hari ini.

__ADS_1


__ADS_2