
Yang membuat Ming Yue tidak bisa menikmati dessert kesukaannya secara maksimal adalah tatap Lu Ming kepadanya. Dia yakin kalau Lu Ming terus menatapnya seperti itu wajah Ming Yue akan berlubang.
“Apa ada sesuatu di wajahku?” Ming Yue akhirnya bertanya.
“Eh, tidak.” Lu Ming menjawab, dia tidak mengalihkan pandangannya.
“Lalu kenapa melihatku seperti itu?” Ming Yue merasa jika ada yang salah dengan Lu Ming. Tatapan Lu Ming tidak terasa seperti biasanya, tatapan Lu Ming membuatnya merinding dan bulu kuduknya berdiri. Di mata Ming Yue, Lu Ming saat ini terlihat seperti orang yang salah minum obat.
“Siapa yang melihat.” Lu Ming kelabakan dan tanpa sadar suaranya keluar dengan ketus. Dia segera mengalihkan pandangannya.
Ming Yue mengerutkan bibirnya. Kalau tidak melihat, ya sudah. Santai saja! Tidak perlu sampai membentak begitu.
Ah! Ming Yue memegangi perutnya. Alisnya bertaut, perutnya terasa seperti diremas-remas dan ditusuk-tusuk secara bersamaan. Kemudian nyeri pada perutnya itu menjalar ke punggung dan seluruh tubuhnya menjadi lemas. “Ughh…” Ming Yue merintih.
Lu Ming langsung sadar dengan apa yang terjadi kepada Ming Yue, tanpa berbicara dia menggendongnya dan membawanya pergi.
Thomas hanya bisa bengong ditinggalkan begitu saja.
“Tuan muda apa yang terjadi?” paman Bo yang melihat Lu Ming keluar dengan Ming Yue berada di dalam gendongannya bertanya. Belakangan ini sering terjadi hal buruk kepada nona Ming Yue, dia jadi semakin khawatir ketika melihat wajah Ming Yue yang pucat, dan dia seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat sakit.
Lu Ming tidak menjelaskan dia hanya menyuruh paman Bo untuk segera menjalankan mobil.
Di dalam mobil Lu Ming tidak menurunkan Ming Yue. Dia mengambil obat penghilang rasa sakit yang selalu tersedia di dalam kompartemen dan memberikannya kepada Ming Yue.
Ming Yue menerima begitu saja pill yang diberika Lu Ming tanpa bertanya obat apa itu. Kalau Lu Ming memberinya racun sekalipun dia tidak akan perotes asalkan rasa sakitnya itu bisa menghilang.
“Lu Ming apa yang terjadi kepadaku? Apa aku akan mati? Apa aku terkena karma karena menyumpahimu dalam hati?” Ming Yue berkata dengan lemah, nafasnya putus-putus. Dia meremas lengan Lu Ming, berharap bisa mentrasfer rasa sakitnya kepada pria itu.
__ADS_1
“Kau hanya sedang nyeri haid.” Lu ming berkata dengan datar.
“Hah… benarkah…” Ming Yue tidak mendengar perkataan Lu Ming dengan jelas. Dia merasa semakin lemas dan sedikit mengantuk.
Ketika Ming Yue terbangun, dia menemukan dirinya terbaring di atas tempat tidur dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Rasa sakit yang dia rasakan tadi belum menghilang tapi sudah tidak sesakit tadi dan masih bisa dia tahan.
Ming Yue mengedarkan pandangannya, dia berada di kamar Lu Ming. Tapi dimana pria itu. Apa dia meninggalkannya begitu saja? Sungguh tidak berperasaan.
Ming Yue menyibakkan selimutnya, pakaiannya sudah berganti dengan kemeja milik Lu Ming. Dia juga menyadari ada sesuatu yang menempel di perutnya, Ming Yue menyentuhnya. Heatpack.
“Nona sudah bangun?” seorang wanita paruh baya masuk dengan membawa nampan.
Ming Yue menoleh, dia mengenali wanita itu. istri paman Bo. Ming Yue mengangguk, memberikan jawaban positif. Dia mengerutkan dahi ketika tidak menemukan Lu Ming.
“Tuan muda kembali ke kantor karena ada pekerjaan penting.” Bibi Bo berkata. “Tuan muda bilang tidak akan lama dan akan segera pulang.” Dia melanjutkan, meletakkan nampan pada nakas. Dia mengambil mengambil satu mangkuk diantara dua mangkuk yang dia bawa. Dia mengaduk isinya dengan sendok dan bersiap untuk menyuapi Ming Yue.
“Nona akan merasa lebih baik setelah meninumnya.” Bibi Bo membujuk. Lu Ming sudah memberitahunya jika Ming Yue akan menolak untuk meminumnya.
“Bibi Bo, aku sudah tidak merasa sakit lagi. Bibi saja yang minum.” Ming Yue benar-benar tidak menyukai minuman itu. Membayangkan rasa jahe yang pedas membuat lidahnya kelu. Dia tidak mau menimumnya.
Bibi Bo tersenyum mengerti, dia juga bukan orang yang menyukai rasa jahe. Tapi dia harus membuat nona Ming meminumnya karena tuan muda menyuruhnya begitu. Terlebih lagi minuman ini tuan muda sendiri yang membuatnya. Kalau nona Ming tidak meminumnya, tuan muda pasti akan kecewa.
“Nona, kalau nona tidak mau minum tuan muda bilang nona tidak diizinkan untuk makan bubur seafood yang sangat enak ini.” Bibi Bo merayunya. Dia mengangkat bubur itu ke hadapan Ming Yue.
Ming Yue menelan ludah, dari aromanya saja sudah membuat air liurnya ingin menetes. Tapi dia harus meminum minuman jahe itu, Ming Yue melirik mangkuk berisi cairan coklat pekat itu dan hidungnya kembali berkerut.
“Lu Ming tidak akan tahu kalau dia tidak diberitahu. Bibi Bo ada dipihakku kan?” Ming Yue memberikan tatapan puppy eyes kepada bibi Bo, dia mengedipkan matanya dan mengerucutkan bibirnya. Bertingkah imut biasanya akan mempan.
__ADS_1
“Maafkan bibi nona,” bibi Bo tersenyum kaku dan merogoh sakunya. Dia menghadapkan ponselnya kepada Ming Yue, layar ponselnya menyala dan tersambung dengan sebuah panggilan.
“Ming Yue jangan cepat minum dan jangan menyusahkan bibi Bo.” Suara Lu Ming terdengar melalui sepiker.
Mulut Ming Yue menganga, tidak menyangka jika Lu Ming akan bertindak sejauh itu.
“Lu Ming, Lu Ming, kau terlalu percaya diri kalau berpikir bubur bisa menyogokku.” Ming Yue berkata dengan nyinyir. Lu Ming terlalu meremehkannya. “Bubur ini kau makan saja sendiri.” Setelah berkata begitu dia menutup panggilan.
Ming Yue bangkit dari tempat tidur.
“Bibi Bo dimana pakaianku?” dia bertanya.
“Sedang dicuci nona.” Bibi Bo menjawab. Dia diam-diam memberikan jempol kepada Ming Yue, baru kali ini dia bertemu dengan orang yang bisa membangkang kepada tuan muda.
Ming Yue berdecak. “Apa ini juga siasat Lu Ming?”
Bibi Bo mengangguk.
Ming Yue memutar matanya dengan jengah. Dia keluar dari kamar dan turun ke lantai satu. Di dekat dapur ada sebuah ruangan kosong yang tidak terpakai. Dia masuk kesana dan mulai membongkar kardus-kardus yang bertumpuk di sana.
Bibi Bo yang mengikuti Ming Yue di belakangya, ingin bertanya apa yang sedang dilakukan nona Ming. Tapi mulutnya terbungkam ketika dia melihat isi di dalam kardus-kardus yang Ming Yue buka. Baju, sepatu, tas dan semua barang milik wanita isinya.
“Nona Ini…” bibi Bo berkata. Dia ingin bertanya apakah tuan muda yang membeli barang-barang itu? tapi mengingat sifat tuan muda, sepertinya mustahil.
“Ini milikku.” Ming Yue menjawab singkat. Dia sudah selesai mengambil barang yang dia butuhkan. Lalu dia kembali ke lantai atas.
Bibi Bo tersadar dan langsung menelpon Lu Ming.
__ADS_1
Note: Chuchu minta maaf kemarin tidak bisa update... Chuchu berjaji itu tidak akan terjadi lagi, para pembaca tolong jangan kabur..