
"What the hell is this!" Ming Yue berteriak. Bersamaan dengan itu tiga kancing teratas kemeja Lu Ming terlepas dan jatuh berhamburan ke lantai lalu menggelinding entah kemana.
Mata Ming Yue menyipit dengan tajam, alisnya naik dan dia menatap Lu Ming dengan sengit. Meminta penjelasan.
Lu Ming tertegun. Dia menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Ming Yue..." Dia menggenggam tangan Ming Yue yang mencengkram kerah kemejanya. Lalu menepuknya dua kali, memberikan pesan isyarat kepada Ming Yue untuk tenang.
Tapi Ming Yue yang sudah terlanjur terbakar oleh emosi tidak bisa ditenangkan. "Jelaskan!" Dia berkata. Nada bicaranya jelas tidak mau menerima penolakan. Dia dengan tidak sabar menarik kerah kemeja Lu Ming sekuat tenaga. Mendesaknya untuk segera membuka mulut.
Lu Ming membungkukkan badannya mengikuti arah tarikan Ming Yue. Dia menatap Ming Yue dengan pasrah.
Bukannya dia tidak mampu untuk melepaskan diri dari Ming Yue. Kalau dia mau, dengan mengeluarkan sedikit tenaga dia bisa terlepas. Tapi dia tidak mau.
Mungkin dia sudah gila. Saat melihat tatapan mata Ming Yue yang berapi-api dan penuh dengan intimidasi, anehnya Lu Ming merasa senang. Saat ini dia bisa merasakan jika Ming Yue benar-benar peduli dengannya.
"Ahh!" Seseorang memekik dengan nada tinggi membuat Ming Yue dan Lu Ming menoleh.
Rupanya mereka telah berhasil menarik perhatian.
Beberapa orang berhenti dan berkerumun. Melihat kearah mereka dengan gelagat ingin menonton pertunjukan.
"OMG! Bukankan itu Lu Ming. Buka lebih lebar lagi, aku ingin melihat abs-nya!" Seorang gadis berseru kegirangan. Dia mengacungkan ponselnya bersiap-siap untuk merekam.
"Ahh!! Husband."
"Aku ingin pingsan. Presiden Lu tampan sekali."
"Putuskan Ming Yue!"
"Astaga, apa yang sedang mereka lakukan di tempat umum begini. Dasar tidak tahu malu!" Seorang ibu-ibu mengomel. Dia menutup mata putrinya yang masih sepuluh tahun menggunakan tangannya lalu menyeretnya menjauh dari tempat kejadian tidak senonoh itu.
Ming Yue dan Lu Ming saling tatap. Kemudian mata Ming Yue jatuh pada kemeja Lu Ming yang terbuka dan memperlihatkan dada bidang pria itu.
Lalu dia kembali menoleh kerumunan, dan mereka seperti sekawanan piranha yang tengah kelaparan menemukan sepotong daging segar. Berpasang-pasang mata di dalam kerumunan itu bersiap untuk menerkam dan mencabik.
"Berikan kami fans service. Buka lebih lebar!" Seseorang berseru.
__ADS_1
Mendengar kalimat itu Ming Yue menarik kembali kemeja itu hingga tertutup. Membuat Lu Ming hampir tercekik. Tapi bukannya marah dia malah terkekeh.
Tentu saja saat pemirsa melihat Lu Ming tersenyum, mereka bertambah gaduh. Walaupun saat ini Lu Ming cenderung lebih seperti suami-suami takut istri, tapi dia adalah seorang suami yang tampan. Dan hal itu mampu membuat jiwa-jiwa fans-girling para penonton meronta-ronta.
Mereka menjadi semakin halu dan membayangkan jika saat ini mereka-lah yang sedang berada diposisi Ming Yue dan mendominasi Lu Ming.
Ming Yue yang melihat Lu Ming tersenyum, tidak tahan lagi. Dia meraih topi yang dia pakai lalu menggunakannya untuk menutup wajah Lu Ming. "Tidak usah tebar pesona!" Ming Yue mendesis ketus. Kemudian dia menarik Lu Ming dan membawanya keluar dari kerumunan.
"Apa yang terjadi? Bagaimana kau bisa terluka?" Ketika mereka bedua sudah berada di dalam mobil Ming Yue mengulangi pertanyaannya.
"Hanya kecelakaan kecil." Lu Ming menjawab. Dia tidak berani menatap Ming Yue karena tahu jika menatap mata gadis itu, dia pasti akan mengatakan yang sejujurnya. Dan Lu Ming tidak ingin Ming Yue mengetahuinya.
Ming Yue menatap kasa putih dengan darah yang merembes hampir mengotori sebagai besar perban yang melilit bahu kanan pria itu. Dia memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam-dalam mencoba menahan jari telunjuknya yang sudah bersiap-siap untuk menambah cidera Lu Ming.
Sabar. Kalau salah perhitungan bisa-bisa dia menusuk luka itu sampai ke jantung dan Lu Ming bisa mati.
Lu Ming merasakan adanya ancamannya bahaya. Di meraih jari telunjuk Ming Yue dan menggenggamnya. Walaupun dia tahu dan sangat yakin jika Ming Yue tidak akan melukainya, bulu kuduknya tetap berdiri. Ngeri kalau-kalau setan memelesetkan jari telunjuk itu dan menusuk lukanya.
"Benar-benar tidak mau mengatakannya?" Ming Yue berkata, menarik jari telunjuknya dari genggaman Lu Ming.
Melihat Ming Yue yang tidak lagi menuntut ingin tahu, bukannya Lu Ming merasa lega. Hatinya malah terasa serat. "Ming Yue." Dia memanggilnya. Tapi Ming Yue tidak menyahut. Dia mengabaikan Lu Ming dan pura-pura tidak dengar. Memperlakukan Lu Ming seolah dia adalah udara.
Perang dingin antara dua orang itu resmi di mulai.
Paman Bo dan A Tai yang duduk di depan saling bertukar pandang. Tidak tahu harus memihak siapa. Akhirnya karena takut menginjak ranjau, paman Bo dengan bijak memutuskan menaikan partisi ditengah yang akan memisahkan bagin depan mobil dan bagian belakang mobil.
Setelah pembatasnya terpasang, dua orang yang duduk di depan itu akhirnya bisa berbafas dengan lega.
Perang dingin yang terjadi di belakang tidak berlangsung lama karena Lu Ming tidak dapat menahannya. Pada menit kelima, dia menyerah kalah dan menceritakan kronologi kejadiannya kepada Ming Yue.
Malam itu hujan turun dengan lebat.
Lima belas orang berpakaian taktis lengkap dengan persenjataannya mengepung sebuah gedung kosong di pinggir kota. Mereka mendapatkan informasi jika buronan yang mereka incar bersembunyi di tempat itu.
Empat orang pengintai ditempatkan pada empat arah mata angin, timur, barat, utara dan selatan.
__ADS_1
Meskipun malam itu gelap dan berkabut, pandangan mereka—dengan menggunakan kacamata thermal goggles—tidak terhalangi. Diluar dugaan, gedung itu tidak memiliki penjagaan yang ketat. Hanya ada dua orang yang menjaga pintu masuk. Dua orang itupun bukan profesional dan tidak dilengkapi dengan senjata.
Empat pengintai itu sekali lagi memeriksa keadaan sekitar. Setelah memastikan tidak ada yang terlewatkan, mereka satu-persatu melaporkan situasinya melalui komunikator dan menunggu perintah selanjutnya.
Ketika Lu Ming mendengarkan laporan dari voice transmiter yang terpasang pada telinganya.
"Jalankan formasi Z." Dia berkata dengan santai.
Ketika mendengar perintah itu—mereka sudah terlatih untuk menuruti perintah tanpa bertanya—dengan cepat bergerak membentuk formasi Z seperti yang diintruksikan oleh komandan.
Satu detik setelah formasi terbentuk. Lu Ming memberikan perintah baru. "Fire."
Di dalam gedung pesta masih berjalan dengan meriah. Tidak satupun ada yng menyadari jika tuan rumah sudah menghilang.
Huo An, Dong Chen dan Gu Anran sekarang mereka berada di ruang bawah tanah gedung, berdiri menghadap layar monitor yang menampilkan keadaan diluar gedung.
Dari CCTV terekam bagaimana atap dan dinding gedung diatas mereka roboh, lalu orang-orang berseragam taktis itu memborgol semua orang yang ada di dalamnya.
Tiga orang itu tersenyum sinis. Berjalan sesuai rencana.
Sambil menunggu saat yang tepat, fokus mereka beralih pada monitor yang berada ditengah. Pada layar itu terekam dengan jelas sesosok wajah yang sudah mereka tunggu-tunggu.
Kemudian secara bersamaan mereka menghitung mundur dari sepuluh. Pesta itu hanyalah sebuah umpan, para undangan itu akan mereka jadikan sebagai senjata. "Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, li..." Sebelum selesai hitungan ke lima mereka terdiam.
Sosok yang menjadi fokus mereka tiba-tiba berbalik badan dan menatap mereka dari camera.
Ketiga orang itu seketika merasakan benda dingin menempel pada bagian belakang kepala mereka. Pupil mata mereka membesar dan secara serempak mereka menoleh kebelakang.
Begitu menoleh dahi mereka langsung berhadapan dengan moncong pistol.
"Fire." Suara itu terdengar dingin keluar dari handie-talkie yang dibawa oleh masing-masing pemegang pistol itu.
Sebelum jempol mereka sempat menekan tombol merah pada remote kontrol, kepala mereka sudah berlubang dan darah segar muncrat seperti kembang api.
"Mission complete."
__ADS_1
Tiga orang itu mengeluarkan kantung jenazah, memasukan jasad itu ke dalamnya lalu memanggulnya seperti kantung beras dan berjalan keluar dari ruang bawah tanah.