
Sore hari H-3 sebelum tahun baru imlek, Lu Ming menjemput Ming Yue untuk menginap di kediaman Lu karena besok pagi mereka akan langsung berangkat ke kampung halaman ibu Lu Ming. Dibutuhkan waktu sepuluh jam berkendara dengan mobil untuk sampai ke sana sehingga mereka akan berangkat setelah sarapan agar sampai sebelum petang.
Setelah mereka sampai di kediaman Lu, Ming Yue masuk lebih dulu dan Lu Ming menyusulnya di belakang setelah mengeluarkan koper Ming Yue dari bagasi. Ketika membuka pintu Ming Yue mendengar suara percakapan dari ruang tamu, Ming Yue pikir ada kerbat Lu Ming yang sedang berkunjung. Ming Yue memutuskan untuk menuggu Lu Ming saja.
Lu Ming yang melihat Ming Yue menunggunya, mempercepat langkahnya. Saat mereka sampai di depan pintu, dari dalam paman Ahn membukanya.
“Ada tamu?” Lu Ming bertanya. Dia tadi melihat mobil asing yang di parkir di halaman. Dia melepas mantel luar yang di pakai dan membeikannya kepada paman Ahn sebelum membantu Ming Yue mengambil sandal rumah dan meletakannya di samping kaki gadis itu.
Sandal rumah miliknya dan milik Ming Yue adalah sepasang kelinci hitam dan putih. Fu Yao yang sengaja membelikan untuk mereka, Lu Ming awalnya menganggap itu kekanak-kanakan dan tidak mau memakainya. Tapi Fu Yao membuang semua sandal lama milik Lu Ming dan tidak membeli sandal lain dengan ukuran yang dipakai Lu Ming. Jika Lu Ming berinisiatif membeli sendiri, ke esokan harinya sandal itu sudah musnah. Sehingga mau tidak mau dia harus memakainya. Siapa sangka jika suatu hari dia akan mengkui jika sandal pasangannya dengan Ming Yue itu sebagai sesuatu yang imut dan dia bertetimakasih kepada ibunya.
Walaupun sudah berada di dalam, Ming Yue masih merasa kedinginan sehingga dia sedikit tidak rela untuk melepas mantelnya. Dia menghangatkan diri di dekat perapian begitu mantelnya dilepas.
Paman Ahn berbisik kepada Lu Ming, memberitahu siapa tamu yang datang. Udara yang dingin menjadi semakin dingin. Paman Ahn ikut bergabung dengan Ming Yue untuk menghangatkan diri. Dia sudah tua dan tidak kuat jika harus berlama-lama terpapar udara dingin. Dia mengerti mood tuan mudanya saat ini.
Lu Ming menautkan alisnya. Tidak terlalu suka dengan berita yang dia dengar dari paman Ahn.
Fu Yao semakin lama semakin emosi menghadapi tamunya. Tiba-tiba datang dan mengaku sebagai calon besannya. Lebih parahnya lagi tamunya itu memanglah ibu Ming Yue. Dia datang bersama anak perempuannya.
“Apa kau sudah membicarakannya dengan Ming Yue?” Fu Yao menyela omongan Wanita itu. Kalau saja dia tidak ingat jika ayah mertuanya sangat menghormati persahabatan dengan ayah Wanita itu, dia sudah menendangnya sekarang juga.
“Semua itu tergantung kepada kita.” Kata Wanita itu.
Fu Yao sudah kesusahan mempertahankan kesabarannya dan sudah akan membuang sikap lady-like-nya. Beruntung ayah mertuanya ada di situ, kalau tidak wanita itu sudah dia siram dengan teh panas. Datang-datang berbicara seenaknya. Mau mengganti calon menantunya? Dia pikir mereka sedang bermain boneka berbie.
__ADS_1
Yang Mu Jena tidak suka dari ibunya, dia selalu tergesa-gesa dan tidak pandai berbicara. Padahal dia sudah memperingatkannya untuk tidak membicarakan hal ini pada pertemuan. Tapi seperti biasa, ibunya itu tidak mendengarkannya dan lihat, sekarang mereka harus mundur dua langkah setelah maju satu langkah.
Mu Jena harus segera mengontrol situasi ini agar tidak merugikannya lebih banyak lagi. “Ma, bibi Fu benar. Kita harus membicaraknnya dengan kakak Yue lebih dulu.” Mu Jena menarik lengan baju ibunya. Tidak ada gunanya membujuk Fu Yao, tapi mereka tidak boleh membuatnya marah. Dia bukan orang yang akan mengambil keputusan. Yang harus mereka ambil hatinya adalah kakek Lu.
Dia harus membuat mereka menyukainya lebih dulu.
Mu Jena memasang senyum manisnya, “Jena dengar kakek sangat menyukai kaligrafi, Jena mendapatkan kaligrafi Master Liu dan membwanya sebagai hadiah dari Jena untuk kakek.” Dia meyuruh pelayan untuk membuka kotak hadiah yang dia bawa.
Kakek Lu adalah seorang kolektor, ketika dia melihat tulisan tangan di dalam gulungan itu dia tahu itu karya autentik. Master Liu memiliki cara teknik menulis yang unik dan sulit untuk dipalsukan, kolektor yang sudah berpengalaman seperti kakek Lu akan langsung jika itu adalah barang asli atau tiruan.
Fu Yao mengangkat cangkir tehnya, Mu Jena, gadis ini pintar memanfaatkan kelemahan orang. Dia pasti sudah melakukan banyak persiapan sebelum datang ke sini. Dia tahu jika ayah mertuanya sangat mengagumi karya Master Liu, dan membawa satu ke hadapannya sebagai hadiah.
Fu Yao harus memperingatkan Lu Ming mengenai hal ini.
Dia menatap Ming Yue yang masih berdiri di depan perapian bersama paman Ahn. Ming Yue tersenyum kepada entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Dia menatapnya lama sampai suara Ming Yue memanggilnya, Lu Ming tersentak dari lamunannya.
“Lu Ming.” Ming Yue mengibaskan tangannya di depan muka Lu Ming. Sepertinya akhir-akhir ini dia sering mendapati pria itu melamun saat bersamanya. Ming Yue takut dia kesambet setan.
“Ayo masuk.” Lu Ming melepaskan jasnya dan menyampirkannya pada bahu Ming Yue. Dia tidak tahu apakah Ming Yue tahu jika ibunya kembali. Dia juga tidak tahu bagaimana hubungan mereka berdua, Ming Yue tidak pernah menceritakan masalah pribadi kepadanya. Tapi dari pembicaraan yang dia dengar, hubungan mereka jelas tidak baik. Kalau bisa Lu Ming tidak mau Ming Yue bertemu dengannya. Tapi berhubung mereka sudah datang ke sini, Lu Ming akan membuat jelas ke hadapan mereka.
Ming Yue tahu jika kakek Lu sedang menerima tamu, dia tidak terlalu prnasaran siapa yang datang. Menjelang tahun baru begini banyak kerabat yang akan saling berkunjung, dan Ming Yue tidak memiliki hubungan yang baik dengan kerabat Lu Ming. Dia hanya akan menyapa mereka sebentar. Lagi pula mereka juga pasti tidak ingin menghabiskan waktu dengannya.
Jika itu adalah dirinya yang dulu, Ming Yue akan tetap bersabar menghadapi mereka. Tapi tidak sekarang, dia sudah tidak lagi mengejar Lu Ming maka dia sudah tidak membutuhkan restu dari mereka.
__ADS_1
Hanya saja ketika melewati ruang tamu, Ming Yue mendadak merasa lelah. Rupanya yang datang adalah bucin Lu Ming.
Tamu itu adalah seorang gadis muda itu terlihat seumuran dengannya. Ming Yue sudah tidak suka ketika melihatnya, dan dia merinding saat gadis itu tersenyum kepadanya. Dan wanita paruh baya yang duduk di gadis itu, Ming Yue seperti pernah melihatnya, tapi dia tidak ingat dimana dan kapan mereka pernah bertemu. Mungkin bibi itu seorang tokoh terkenal dan Ming Yue melihatnya pada sampul majalah atau koran.
Tapi dugaannya yang simple itu salah dan Ming Yue lebih pusing lagi ketika mengetahui identitas dua orang itu.
“Kakak Yue, kau juga datang untuk mengunjungi kakek Lu?” gadis itu berdiri dan melangkah mendekatinya.
Ming Yue mencoba mengingat apakah dia mengenali mereka karena gadis itu bersikat sangnat akrab kepadanya. Tapi dia tidak mendapatkan informasi dari otaknya, orang itu tidak ada di dalam daftar.
Ming Yue hanya menjawab dengan senyuman. Dia mencoba untuk berinteraksi sesedikit mungkin dengan mereka. Ming Yue ingin segera pergi dari sana.
“Lu Ming sepertinya Yueyue lelah, kau antar ke kamar sana.” Fu Yao berkata, dan Ming Yue sangat bersyukur dengan petolongan itu.
“Ming Yue kau sudah besar sekarang. Mungkin kau tidak ingat tapi aku adalah ibumu.” Wanita paruh baya itu berkata.
Note: Hari ini Chuchu ketiduran dan tidur seperti kerbau. Chuchu baru bangun setelah matahari terbit di atas atap, itu pun setelah dibangunkan dengan kekuatan super dari mamak (ditepuk pakai panci).
Sebagai penebusan dosa kerena Chuchu sudah mengingkari janji yang Chuchu buat di kenarin hari, hari ini Chuchu tebus dengan double up.
Once again, jangan kabur ya dear.....
Love, Chuchu
__ADS_1