
Mau bagaimanapun melihatnya, Zhou Yinan memang terlihat seperti penipu.
Lu Ming berpikir, kenapa dia tidak menyadarinya sejak dulu. Bibit-bibit penipu pada diri Zhou Yinan pasti sudah tumbuh pada waktu itu, absurd sekali dia mencarinya dan ingin memberikan kompensasi. Kalau sampai diketahui oleh Ming Yue bisa-bisa dia ditertawakan.
Zhou Yinan tanpa sadar beringsut mundur, dia masih ingat dengan Lu Ming sembilan tahun lalu. Lu Ming yang ada didepannya sekarang masih sama, dingin dan tidak banyak bicara. Namun, aura mengintimidasi yang disebarkan oleh pria itu berkali-kali lipat besarnya, Zhou Yinan merasakan sangat tertekan berdiri berhadapan dengannya, pria itu menatapnya seperti predator yang sedang menunggu waktu yang tepat untuk menerkam mangsanya.
Membuatnya merasa terancam dan terpojokkan.
Zhou Yinan menelan ludah dan berusaha untuk tetap mempertahankan expresi wajahnya, seekor rusa tidak boleh menunjukan rasa takut jika sedang berada di depan singa, niscaya singa itu akan berbelas kasih kepadanya lalu tidak jadi memangsanya.
Dia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ming Yue yang berdiri di sampaing Lu Ming. Gadis itu kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang lebih cantik dan lebih anggun dari terakhir kalinya dia lihat. Sejak awal Ming Yue memang memiliki wajah yang cantik, maka Zhou Yinan tidaklah terlalu heran. Tapi melihatnya secara langsung begini, hatinya berdesir.
Dia merasa seperti kembali menjadi dirinya saat remaja, hatinya berdebar dan perasaannya menggebu-gebu ketika dia berada di sekitar Ming Yue. Ada Pelangi dan kupu-kupu. Berkilau dan indah.
Namun, apa yang dia lihat sekarang ini hanyalah sebuah fatamorgana. Sesuatu yangtidak nyata, wanita itu hanya indah pada kulit bagian luarnya saja. “Preman pasar, aku sarankan kau lebih baik taubat dan menjadi biksu saja, dengan begitu mungkin kau akan masuk surga setelah mati.” Tapi mulutnya yang berbisa itu membuat Zhou Yinan tidak tahan dan ingin merobeknya.
“Lu Ming, bagaimana menurutmu kalau kita deportasi dia ke Mars?” Ming Yue menoleh kepada Lu Ming. Dia bersungguh-sungguh ingin membuang pria sampah itu ke Mars. Dari pada menjadi limbah di muka bumi, mungkin dia bisa menjadi lebih berguna di sana, misalnya… tumbalkan saja dia kepada para alien agar mereka tidak jadi menyerang bumi. Atau, kalau NASA sudah bosan dengan simpanse experiment mereka dan ingin beralih pada subjek yang otaknya lebih besar, ambil saja pria sampah itu.
Mendengar itu, Zhao Yinan panik, dia mengamati Lu Ming dan Ming Yue secara bergantian. Mendadak lutunya lemas.
Pasangan gila!
Kalau tiket ke Mars dijual, dia yakin jika besok pagi, dia akan benar-benar segera meninggalkan bumi!
Beruntungnya, papa Elon belum menjual tiket perjalan ke Mars. Zhou Yinan merasa lega akan hal itu, selama dia masih berada di bumi, sekalipun itu gurun pasir atau gurun es, dia masih bisa bertahan hidup.
__ADS_1
Dua orang di depannya, Lu Ming dan Ming Yue, sejak dulu dia sudah punya firasat akan seperti apa jadinya jika mereka bersatu. Maka dari itu, ketika dia diberi pekerjaan baru oleh bos, dia merasa lucu sampai ingin tertawa terbak-bahak. Tapi dia tidak berani melakukannya, bisa-bisa dia digamprat oleh bosnya.
Zhou Yinan bisa memberikan jaminan seratus persen keberhasilan kepada customer-nya, misi apapun, termasuk menghancukan rumah tangga pasangan suami istri yang saling mencintai yang sudah membina rumah tangga bersama selama lima puluh tahun dan sudah memiliki cicit sekalipun, dia berani memberikan jaminan. Tapi, untuk dua orang yang katanya tidak rukun itu, dia memilih untuk menolaknya dan memberikan kesempatan kepada rekan kerjanya yang lain.
Dari mana orang-orang bisa menyimpulkan jika pasangan dua orang itu tidak rukun? Bosnya bahkan bilang jika dia tidak perlu kerja keras dalam misi ini, memisahkan dua orang itu sangat mudah.
Bagaimana bisa begitu?
Tapi sayangnya, rekan kerjanya yang akhirnya menerima misi tersebut, tiba-tiba mengambil cuti karena hari perkiraan lahirnya putri yang sedang dikandung oleh istrinya maju dua minggu dari HPL. Rekan kerjanya itu harus menjadi suami siaga dan menemani istrinya melahirkan di rumah sakit. Karena tidak ada orang lain yang sedang senggang dan hanya dia seorang yang sedang tidak ada kerjaan, maka bos memaksanya untuk mengambil alih.
Dia sudah mencoba untuk menyakinkan bos jika misi kali ini mustahil, tidak akan berhasil, dia memohon kepada bosnya untuk menolak saja dan jangan tergiur dengan bayaran besar yang dijanjikan oleh customer. Tapi bos menolak permintaannya mentah-mentah dan malah menyemprotnya. Mengatainya pecundang dan menendang bokongnya.
Begitulah kronologi bagaimana dia sekarang bisa berdiri di hadapan dua orang ini dan terancam menjadi penduduk planet lain.
“Huft! Kalian berdua lebih baik berhati-hati, banyak orang yang ingin hubungan kalian kandas.” Zhou Yinan memberitahu, sedikit menasehati. Karena dia sudah yakin jika misinya akan gagal, maka lebih baik dia mundur sekarang saja.
“Bukan urusanmu.” Lu Ming dan Ming Yue kompak menyahut.
Nah, banarkan. Dua orang ini, mereka ini setali tiga uang, mereka selalu kompak. Apa lagi jika itu mengenai masalah yang menyangkut pem-bully-an. Cara kerja dan cara berpikir yang mereka miliki kurang lebih sama.
Zhou Yinan mengedikan bahu.
Untuk apa dia menghawatirkan mereka, sekarang ini dirinya sendiri sedang berada di posisi yang lebih menghawatirkan. Bagaimana caranya agar dia bisa lepas dari dua orang ini.
Ming Yue sudah hilang ketertarikan. Dia pikir akan terjadi sesuatu yang menantang, yang menyebabkan jantungnya berdebar karena antusias dan memacu adrenalin, dia pikir preman pasar itu upgrade menjadi ketua gangster atau bos mafia dan datang untuk balas dendam, ternyata tidak.
__ADS_1
Dia menguap. Dimana adrenalinnya? “Lu Ming ayo pulang.” Dia berkata, berbalik badan dan pergi.
Lu Ming mengangguk. Sebelum mengikuti Ming Yue, dia mengisyatarkan kepada para mengawalnya untuk menyelidiki masalah ini sampai tuntas. Meskipun sepertinya Zhou Yinan tidak berbahanya, Lu Ming tidak bisa melepaskannya begitu saja. Bagaimana kalau Zhou Yinan ternyata pandai berakting dan berhasil mengelabuhi mereka, dia tidak mau mengambil resiko.
Yang tidak mereka sadari dan luput dari perhatian mereka, di dalam sebuah sedan hitam yang terparkir di sebrang jalan, seorang wanita sedang mengamati mereka. Bibirnya yang dipulas merah darah tersenyum sinis menatap punggung Ming Yue. Dia kemudian menekan sesuatu pada layar ponselnya.
Bang.
Ming Yue membeku.
Sebuah tiang lampu tiba-tiba tumbang.
“Ming Yue.” Lu Ming berteriak.
Lu Ming memeluk tubuh Ming Yue dengan erat, jantungnya berpacu tidak karuan dan tubuhnya gemetar. Hanya satu langkah, satu langkah, tiang lampu itu jatuh tepat satu langkah di depan Ming Yue, kalau Ming Yue berjalan satu langkah lebih cepat…
Lu Ming tidak berani membayangkan.
Dia bisa gila kalau sampai sesuatu terjadi kepada Ming Yue.
Ming Yue tertegun. Tubuhnya kaku dan mulai berkeringat dingin, bayangan-bayangan hitam putih berkelebat didalam ingatannya, wanita yang jatuh dari atap gedung, teriakan, darah dan sepadang mata menerikan yang melotot menatapnya. Ming Yue lemas dan kemudian dia jatuh pinsan.
Wanita yang berada di dalam mobil sedan itu memukul kemudi dengan tangannya, bibirnya bertaut dan terlihat sangat kesal.
Lagi-lagi gagal.
__ADS_1
“Lucky *****!” dia mengomel, memutar kunci kontak lalu melesat pergi.