MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR

MINGGIR! WANITA ANTAGONIS INGIN KABUR
36.


__ADS_3

Ibu?


Ah! Ming Yue teringat dengan telpon salah sambung beberapa bulan lalu. Dia tidak menyangka jika telpon yang dia kira prank itu ternyata sungguhan dari ibunya. Ming Yue tidak tahu harus berkata apa kepada ibu yang selama dua puluh tahun tidak dia temui.


Apakah dia harus memeluknya? Sepertinya tidak. Ming Yue tidak mau melakukannya dan orang itu pasti juga tidak mau. Dari pada seorang ibu, orang itu terlihat seperti seorang musuh bagi Ming Yue.


Lu Ming sudah menduga jika Ming Yue tidak mengenali rupa ibunya. Dia tidak menyangka jika wanita itu yang akan lebih dulu memperkenalkan diri. Lu Ming menatap Ming Yue dengan seksama, mengamati perubahan ekspresinya.


“Hi… mom?” Ming Yue berkata. “Dan apakah dia adik tiriku, dimana ayahnya? kau tidak hamil tanpa suami bukan? Apa kau kembali karena bercerai?” Ming Yue mencecar.


Ming Yue berhasil membuat Mu Yan marah, orang yang mengaku sebagai ibunya itu menatap Ming Yue dengan penuh kemarahan. Tapi bukan Ming Yue jika dia tidak membuatnya tambah marah. “Kau tidak menghubungiku waktu itu karena kau sakit parah dan hidupmu tinggal sebentar kan? Kalau kau ingin menitipkan adik kepadaku sebelum pergi dari dunia ini, kumohon jangan. Ekonomi ku juga sulit.” Lanjutnya.


“Ka..”


“Jangan berteriak mom, darah tinggi mu bisa naik. Waktu itu aku mematikan sambungan karena kukira kau ingin menawariku asuransi. Maaf... aku tidak punya nomor telpon mu sih… Lu Ming mengajariku untuk tidak menjawab telpon orang asing.” Ming Yue memotong, dia tidak membiarkan wanita itu membuka mulutnya. Entah kotoran apa yang akan keluar kalau sampai dia membuka mulutnya.


“Kakak Yue…” kali ini Mu Jena yang maju. Tapi Ming Yue juga membungkamnya.


“Dear sister. Walaupun kita berbeda ayah, kau tetaplah adikku. Katakan kepada kakak apa yang bisa kakak bantu? Tapi jangan minta uang, aku tidak punya itu. Oh, berapa umurmu ngomong-ngomong?” Ming Yue memeluk Mu Jena dan menepuk-nepuk punggungnya.


Mu Jena hanya bisa diam dan menerima pelukan Ming Yue. Dia masih harus menjaga mukanya dihadapan pria yang ingin dia ambil hatinya. Tapi semakin lama tepukan pada punggungnya semakin keras. “Kakak…” dia ingin berbicara, tapi Ming Yue memotongnya.

__ADS_1


“Oh sayang, kau pasti sangat terharu. Cup… cup… jangan sedih, kakakmu ini memanglah orang yang sangat baik hati.” Dia sengaja melilitkan jari kepada rambut Mu Jena sehingga dia akan terjambak saat Ming Yue mengerakkan tangannya.


Ming Yue mendengus di dalam hati. Mau bermain play house? Siap. Ming Yue layani.


Fu Yao tidak bisa menahan tawa dan menutupinya dengan pura-pura batuk. Sungguh tidak ada gunanya dia menghawatirkan Ming Yue tadi. Dia melirik Mu Yan dari ujung matanya. Benar, orang yang tidak ditemui selama dua puluh tahun, ibu atau bukan, dia tidaklah lebih dari orang asing untuk Ming Yue yang sudah wanita itu tinggalkan saat masih lima tahun. Sekarang dia datang untuk merebut tempat milik putri yang dia campakkan dan ingin memberikannya kepada putri barunya. Wanita itu sangat egois. Fu Yao menghela nafas. Dia berjanji akan menyayangi Ming Yue lebih dari hari ini dan membuatnya tidak membutuhkan ibu lain selain dirinya.


Kakek Lu sedang mendiskusikan hadiah yang dia terima dengan paman Ahn, padahal di balik gulungan kertas kaligrafi itu mereka cekikikan tanpa suara. Kakek Lu sudah menduga akan begini jadinya. Kepribadian Ming Yue memang seperti itu, kalau berada pada posisi yang tidak menguntungkan dia akan mulai berbicara omong kosong. Tapi dia bersyukur hal ini terjadi setelah cucu bodohnya itu membuka mata.


“Mama, adik, bukankan ini sudah malam. Dimana kalian tinggal, biar aku suruh sopir untuk mengantar kalian pulang.” Ming Yue berkata.


“Kakak, aku…”


“Sshh! Kakak tahu kalian pasti lelah. Kalian membutuhkan istirahat yang cukup.” Ming Yue memotong lagi. Dia melepaskan pelukannya kepada Mu Jena, kalau dia memeluknya lebih lama lagi Ming Yue takut dia akan membalas. Sapi kalau diganggu terus-terusan akan mendepak juga. Selain itu Ming Yue tidak tahan dengan bau parfum yang Mu Jena pakai. Terlalu wangi sehingga membuat hidungnya sakit.


Seperti ayahnya, pria manapun yang dia tatap begitu akan bersedia melakukan semua permintaannya. Walau mengambil bintang sekali pun mereka akan lakukan.


Dia dengar jika Lu Ming terpaksa bertunangan dengan Ming Yue. Kalau dari awal dirinya yang ditunangkan dengannya, Lu Ming pasti tidak akan menolak. Secara, dia lebih baik dari Ming Yue. Dari rupa, fisik, Pendidikan dan latar belakang sempurna yang Mu Jena miliki tidak ada alasan bagi Lu Ming untuk menolak. Sayangnya dia tidak tahu kalau ada perjanjian menikah antara keluarga kakeknya dan keluarga Lu. saat dia tahu, Ming Yue sudah menempati posisi itu.


“Kakak Ming.” Mu Jena memanggil.


Bukan Lu Ming yang mengernyitkan dahi, tapi Ming Yue. Sesuai dugaannya, adik dadakannya itu merupakan salah satu bucin Lu Ming. Ming Yue menghela nafas dan menggelengkan kepala. Dia pikir hidupnya sudah tidak terancam lagi setelah Gu Anran di tangkap polisi. Dia kira dia tidak perlu melarikan diri, tapi ternyata Lu Ming ini seperti bunga yang menarik para kumbang.

__ADS_1


Pergi satu datang yang lainnya.


 Ming Yue melirik Lu Ming. Lu Ming kurang lebih tahu isi kepala Ming Yue saat ini. “Yang mulia Ming jangan salah paham.”


“Hentikan itu.” Ming Yue melempar tatapan tajam kepada Lu Ming. Pria itu tersenyum mengejeknya.


Karena Lu Ming tidak memberitahu orang lain tentang kejadian saat Ming Yue mabuk malam itu, kakek Lu, Fu Yao dan paman Ahn menatap mereka dengan heran saat pertama kali mendengar Lu Ming memanggil Ming Yue seperti itu. Tapi sekarang itu menjadi humor diantara mereka. Paman Ahn pernah keceplosan satu kali dan memanggil Ming Yue dengan sebutan yang mulia Ming. Hari itu Lu Ming langsung menjadi samsak hidup Ming Yue. mereka bergulat di lantai seperti bocah rebutan mainan.


Tapi karena pertengkaran itu berakhir dengan Lu Ming mencium Ming Yue, kakek Lu mencobanya satu kali lagi. Sayangnya triknya tidak berhasil.


“Paman Ahn tolong antarkan mereka keluar.” Lu Ming berkata.


“Paman Lu apa seperti kalian memperlakukan benefactor kalian?” Mu Yan berkata.


Kakek Lu menoleh. Ming Yue yang baru pertama kali melihat kakek Lu melepas sosok kakek penyayang yang selama ini dia tahu. Dia sedikit kaget walaupun dia tahu jika wajah yang kakek Lu tunjukan kepadanya bukan wajah asli kakek Lu. Kisah kekejaman kakek Lu ketika masih muda sagat terkenal. Dia adalah panglima tentara yang maju ke garis depan pada peperangan melawan penjajah sebelum menjadi pebisnis. Jadi tidak heran jika ada yang bilang lawan bisnisnya gemetaran saat bertemu.


“Rupanya Mu tidak menceritakan kepada anaknya.” Kakek Lu berkata dengan kecut. Dia menghela nafas dan berdiri dari duduknya. “Persahabatan antara Lu dan Mu sudah berakhir saat Mu Wang mendirikan perusahaannya sendiri.” Dia melanjutkan. Kakek Lu meminta paman Ahn menuntunnya untuk istirahat.


“Lalu kenapa perjodohan ini masih di lanjutkan?” Mu Yan sebenarnya sudah tahu akan hal itu. Tapi ketika dia mendengar berita pertunangan Lu Ming dan Ming Yue enam bulan lalu, harapannya tumbuh lagi. Terlebih investasi suaminya gagal, dia menjadikan keluarga Lu sebagai jalan keluar.


“Itu karena dia Ming Yue.” Kakek Lu menjawab. Dia tidak menoleh lagi.

__ADS_1


Lu Huang tidak pernah bermimpi jika suatu hari Lu kembali berhutang nyawa kepada seorang Mu. Awalnya dia ingin memberikan uang sebagai kompensasi, tapi ketika dia melihat mata jernih milik gadis remaja itu, dia berubah pikiran. Dia mengungkit kembali perjanjian lawas yang sudah tidak valid untuk mengikat keturunan penghianat menjadi keluarganya.


Note: Nanti malam Chuchu akan up seperti biasa...


__ADS_2